Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
YUNIS ABU JISH


__ADS_3

YUNIS ABU JISH bangun Sebelum matahari terbit, setelah beberapa jam tidur tak nyenyak. Setelah membersihkan diri di keran di luar rumah mereka yang terbuat dari blok sinder sementara, dia kembali ke rumahnya dan mulai melaksanakan shalat subuh, mencoba menekan suaranya agar tak membangunkan empat saudara laki-lakinya yang berbagi kamar dengannya.


Sudah tiga hari setelah ia menerima panggilan telepon dari Al - Mulatham, dan selama waktu itu mereka yang dekat dengannya telah menangkap adanya perubahan dramatis dalam diri pemuda ini. Wajahnya yang sudah kurus kering dan cekung, tampak menyusut jauh menjadi seperti tengkorak, seolah terisap ke dalam dari belakang. Sementara kelopak matanya yang berat semakin gelap, mengasumsikan kegelapan yang berubah warna dan tak dapat diduga, seperti air yang ternoda tanah. Tindak tanduknya juga telah berubah hingga tak bisa diketahui. Sebelumnya ia adalah seorang yang banyak bicara, suka berteman dan terbuka, tetapi kini menarik diri, menghindari ditemani orang lain, menghabiskan banyak waktunya menyendiri, hanyut dalam beribadah dan merenung sendiri.


“Ada apa denganmu, Yunis?” ibunya telah memohon padanya lebih dari satu kesempatan, sadar atas perubahan mendadak dalam penampilan dan tindak-tanduk anak laki-lakinya. “Kau sakit? Perlu kami panggilkan dokter?” Ia ingin sekali menjelaskan, membagi sedikit beban yang sedang ditanggungnya. Namun, dia sudah dilarang mendiskusikan masalah ini, dan karenanya ia sekadar meyakinkan ibunya, dan siapa saja yang bertanya, bahwa dirinya baik-baik saja, bahwa memang sedang banyak pikiran tapi mereka tak perlu cemas. Pada waktunya nanti mereka pasti akan mengerti.


Yunis menyelesaikan sembahyangnya, mengulang rakaat dan syahadat terakhir, lalu berdiri sejenak, menatap adik bontotnya Muhammad yang berusia enam tahun, tertidur lelap di kasurnya di lantai. Napasnya lembut dan pasrah, lengannya yang kurus terentang di sisinya seolah ia sedang menggapai sesuatu. Bukan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir ini ia tertombak oleh hantaman tajam kengerian yang sangat terhadap apa yang ia diminta untuk melakukannya, terhadap kenyataan bahwa hal itu akan menjauhkan dia selamanya dari orang-orang yang dicintainya. Hal itu hanya berlangsung beberapa detik saja, dan serta-merta memberinya jalan kepada sebuah pendirian bahwa memang karena ia sangat mencintai dan mengasihi orang-orang itulah maka ia menerima tawaran yang kini akan dijalaninya.


Yunis membungkuk dan membelai rambut bocah kecil itu, berbisik padanya betapa ia sangat menyayanginya, betapa ia merasa menyesal atas semua kesusahan atau kepedihan yang disebabkan olehnya. Kemudian, dia berdiri tegak dan mengambil Al - Quran dari rak di sebelah tempat tidurnya, pergi keluar rumah dalam udara subuh yang dingin dan kelabu untuk meneruskan persiapannya.

__ADS_1


***


PENANGKAPAN LAYLA AL-MADANI


Sudah lebih dari jam sebelas pagi ketika Layla akhirnya kembali ke flatnya di Yerusalem Timur. Pagi yang panas tidak biasanya dalam setahun ini dengan langit berawan dan atmosfer berat yang membuat mengantuk membungkus kota seperti kabut tipis yang menempel. Ia melemparkan telepon genggam dan tas ranselnya ke sofa, mendengarkan beberapa pesan dalam mesin penjawab penghinaan yang seperti biasanya, ancaman kematian dan permintaan tentang kopi yang terakhir kemudian melepas bajunya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Apa yang aku lakukan sekarang? pikirnya, sementara air memerciki kepala dan wajahnya. harus ke mana aku setelah ini? Apa pun yang telah ditemukan Hoth di Castelombres dan terlepas dari keraguan perempuan Prancis tua dengan keranjang jamurnya itu, Layla merasa pasti bahwa Hoth telah menemukan sesuatu sepertinya telah menghilang lagi selama kekacauan pada akhir Perang Dunia II. Bila ada catatan yang telah ditinggalkannya mengenai asal-usulnya, pastilah itu belum dipublikasikan. Dan walaupun ada, menurut Jean-michel Dupont, masih ada ribuan halaman berkas dan dokumen tentang Nazi yang belum diteliti dengan saksama puluhan ribu sehingga akan memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menggali informasi yang sedang dicarinya. Andainya memang informasi itu benar-benar ada, yang belum tentu kepastiannya.


Lagi-lagi, kedua pilihan itu seperti tak ada gunanya. Bapak Sergius telah bersikukuh bahwa tidak ada bukti tentang apa yang telah ditemukan De Relincourt, sementara mencoba menemukan anak Palestina akan seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

__ADS_1


Dalam lapangan jerami. Negeri ini penuh oleh benda sialan.


Dengan cara apa pun ia melihat pada kasus ini, ia seperti sedang menghadapi jalan buntu. Dengan ******* sedih Layla mematikan keran air panas dan memutar yang dingin sampai yang paling maksimal, membiarkan air sedingin es membasuh kepala dan dadanya. Saat ia tengah melakukan itu, sesuatu melintas di bagian tepi pikirannya, sekilas pintas, sebuah kenangan, sesuatu yang dalam beberapa hal relevan dengan masalah yang sedang dihadapinya. hal itu terjadi begitu tiba-tiba, seperti bintang jatuh yang menghilang segera setelah ia muncul, meninggalkannya dengan perasaan frustrasi karena telah kehilangan sesuatu yang penting, seberkas sinar yang sesaat. Ia mematikan kran air dan menutup matanya, mencoba mengikuti jalan pikirannya ke belakang: anak Palestina, Bapak Sergius, gereja, lantai batu. Lantai, ya itu dia. Lantai batu di dalam gereja. mengapa begitu penting? Apa yang sedang diingatnya?


“Yalla,” ia bergumam pada dirinya sendiri. “Ayo. Apa yang sedang aku pikirkan? Apa sih? Apa?”


Untuk sesaat lamanya pikirannya tetap kosong. Kemudian, sangat perlahan, ia mendengar suara. Detak. Detak yang terdengar aneh, seperti sesuatu yang mengetuk-ngetuk pada batu. Klak, klak, klak. Suara apa itu? Palu? Pahat? Ia tidak dapat mengenalinya. Ia membuka matanya, menutupnya kembali, memaksa dirinya mengingat hal ini, kemudian memutar pikirannya kembali, seolah mencoba mengintip suara itu dari belakang, menangkapnya sebelum ia melarikan diri. Berhasil. Tentu saja. Itu suara tongkat, yang dimiliki laki-laki tua Yahudi seperti yang dikatakan Bapak Sergius. Setiap hari dia datang ke sini, rutin seperti jam kerja.


Percaya bahwa De Relincourt telah menemukan Sepuluh Perintah Tuhan, atau Ark of the Covenant, atau pedang Raja Daud aku lupa yang mana. Semacam benda Yahudi kuno.

__ADS_1


Saat itu dia dengan enteng melupakan laki-laki itu karena sekelompok orang aneh yang terpedaya tampak mengelilingi dongeng De Relincourt seperti laron di sekitar api lilin. Kemungkinannya, adalah bahwa ini adalah dia adanya. Setelah apa yang ia temukan tentang Rahasia Castelombres, dan khususnya bagaimana ia kelihatannya terkait dengan kisah Judaisme dan Yahudi, sebagian dari dirinya tidak tahan untuk bertanya apa mungkin laki-laki itu mengetahui sesuatu yang dapat membantunya? Ini bagaikan usaha keras untuk menemukan sesuatu yang belum tentu ada. Dengan keadaan bahwa setiap pertanyaan tampak semakin lama semakin melemah, maka kemauan adalah apa yang tertinggal darinya.


__ADS_2