Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
KANTOR POLISI YERUSALEM


__ADS_3

Kembali ke Kantornya, Ben-Roi meneguk Brandi dari botol pinggangnya dan melihat laporan tiga perempat halaman di layar komputer yang ada di depannya. Dirinya telah, dia membatin, mengerjakan apa saja yang mungkin diharapkan darinya. Dia telah mewawancarai Perempuan Tua di Ohr Ha-Chaim; menelepon Kfar Shaul untuk menanyakan lebih lanjut tentang saudara kembar Schlegel (sesungguhnya masih hidup, walaupun dalam keadaan “Sangat terganggu”); bahkan menghubungi Yad Vashem untuk mengonfirmasi bahwa Schlegel benar-benar pernah menjadi pekerja di sana (dan memang ya, paruh waktu, di departemen arsip).


Baiklah, ada beberapa jalan yang seharusnya telah ia tempuh: Ia belum sepenuhnya mengarahkan dirinya ke inti persoalan. Tetapi kenapa dia harus, memangnya? “Sedikit informasi tentang latar belakang,” itulah yang diminta Khediva. Dan itulah yang ia berikan padanya. Ia akan mengetik beberapa baris tambahan, membuatnya menjadi lebih dari satu halaman dan selesai di sana. Kirim melalui email dan cuci tangan dari semua persoalan sialan ini.


Kecuali… kecuali Kebakaran rumah itu. Ia tidak dapat melepaskan hal itu dari pikirannya. Hal terakhir yang dikatakan perempuan Weinberg padanya, tentang semua harta milik Hannah Schlegel yang dirusak dalam serangan gila itu. Ia tidak dapat melepaskan hal itu dari pikirannya. mengapa, ia terus berpikir sendiri ini terlepas dari segala usaha terbaiknya untuk tidak berpikir untuk dirinya sendiri sekelompok anak-anak Arab mengambil risiko masuk ke dalam Wilayah Yahudi dan memanjat pipa air untuk satu tujuan mengguyur Flat perempuan tua itu dengan minyak dan membakarnya? Benar-benar tidak masuk akal. Ia pernah berurusan dengan para pencuri Arab sebelumnya, dan juga para Vandal Arab, tetapi ini tidak masuk dalam kategori mana pun.


Rasa sakit dalam perutnya. Itulah sebutan yang biasa diucapkan oleh mentornya, Komandan Levi. “Rasa sakit dalam perut, Arieh, adalah apa yang membuat beda antara Detektif yang baik dan Detektif yang hebat. Detektif yang baik akan melihat pada bukti dan menggunakan logika dalam upaya menemukan bahwa ada sesuatu yang salah. Tetapi, Detektif yang hebat akan merasakan ada sesuatu yang salah bahkan sebelum ia melihat bukti. Ini insting belaka. Rasa sakit dalam perut.”


Ia biasa merasakan rasa sakit itu sepanjang waktu, rasa sakit dalam perutnya itu pergolakan yang tidak pasti di dalam perutnya, indera keenam yang merasakan bahwa sesuatu itu tidaklah seperti apa yang terlihat. Ia merasakan hal itu ketika menangani kasus penipuan Rehevot, ketika setiap orang mengatakan padanya bahwa ia sedang menembaki bayangan saja sampai ahli Komputer memulihkan arsip yang telah dibuang di kotak sampah dan membuktikan kecurigaannya tepat setelahnya. Dan ia merasakan itu juga pada kasus Pembunuhan Pemukiman Saphiro, ketika semua bukti menunjuk pada seorang anak Arab, setiap hal kecil darinya, tapi ia tetap yakin bahwa anak itu tidak bersalah, bahwa masih ada sudut lain. Ia telah menerima banyak tangkisan terhadap kasus itu, tetapi ia terus menggali, dan tentu saja pada akhirnya mereka menemukan pisau besar di gudang milik seorang Rabby dan kebenaran pun terkuak. “Aku bangga padamu, Arieh,” Komandan Levi pernah mengatakan hal itu padanya ketika ia menganugerahi penghargaan pada hasil kerjanya yang memuaskan. “Kau seorang Detektif besar. Dan kau akan menjadi lebih besar lagi, asal kau terus mendengar rasa sakit itu.”


Tetapi tentu saja ia berhenti mendengarkannya tahun lalu.


Bahkan berhenti memiliki rasa sakit itu, selain semua hal tentang Al - Mulatham. Ia mengikuti gerakan, melakukan apa yang harus ia lakukan, tetapi semangat lama, hasrat untuk sampai ke dasar persoalan, kehendak untuk menjadi seperti Al Pacino di film telah pudar dan lenyap.


Ia tidak peduli lagi. Benar, salah, kebenaran, kebohongan, keadilan, ketidakadilan bukan apa-apa lagi.


Ia benar- benar tidak peduli, Sampai sekarang. Karena sekarang ia memiliki rasa sakit terkuat yang pernah ia alami dan tidak mau pergi.


Ia tidak ingin memilikinya, ia marah karena ia memilikinya, tetapi rasa itu tetap ada disana, bergerak-gerak di bagian dalam tubuhnya. Anak-anak, membakar rumah dengan sengaja, perempuan yang terbunuh, Wilayah Yahudi. Ini salah. Sepenuhnya salah.


“Sialan kau Khediva,” ia bergumam. “Kau sialan, Kparat!”


Ia berhenti beberapa menit lebih lama, nekat mencuci tangan dari semua urusan ini, tidak tertarik lebih jauh lagi. Kemudian, tidak mampu menghentikan dirinya sendiri, ia pun mengangkat telepon dan memencet nomor.


“Feldman?” katanya ketika ada jawaban. “Aku harus mendapatkan arsip tentang kasus pembakaran rumah sejak lima belas tahun lalu.... Bukan urusanmu. Katakan saja di mana harus kucari.”

__ADS_1


Perlu waktu hampir dua jam untuk menelusuri arsip, yang untuk alasan yang tidak dijelaskan tersimpan dalam Kearsipan di Moriah, salah satu Kantor Polisi Regional lain. Ia menerima berkas yang dikirim dengan sepeda, dan kini ia duduk dengan kaki menempel pada tepi meja, membaca seluruh berkas, dan sekali-kali meneguk minuman dari botolnya.


Sesuatu yang segera melompat di depannya, dan hanya memperdalam rasa was-wasnya, adalah tanggal dan jam peristiwa kebakaran itu. Nyonya Weinberg mengatakan padanya bahwa peristiwa itu terjadi sehari atau dua hari setelah kematian Hannah Schlegel; menurut catatan, hal itu sesungguhnya terjadi pada hari yang sama dengan hari pembunuhan atas dirinya, hanya beberapa jam kemudian saja, sebuah kebetulan yang luar biasa dan satu hal yang bahkan penyelidik paling bodoh sekalipun akan terdorong untuk tidak menemukan kecurigaan.


Sayangnya, dan yang membuat frustrasi, tidak ada apa-apa lagi di sisa berkas sisanya yang menjelaskan sinkronisitas bermasalah ini.


Memang ada pernyataan dari para tetangga Schlegel, termasuk Nyonya Weinberg; foto flat yang musnah; dan formulir penangkapan bagi tiga anak-anak Arab yang dianggap sebagai pelaku kejahatan, dua di antaranya dikatakan bersalah dan masing-masing dikenai delapan belas bulan penahanan untuk remaja, sementara yang ketiga, yang paling muda, diidentifikasi dalam lembar penangkapannya hanya sebagai “Ani”, dilepaskan tanpa jaminan dengan pertimbangan usianya ketika itu tujuh tahun dan kurang nya bukti yang ada padanya. mengapa mereka memilih flat tersebut untuk dibakar pada hari tertentu dan jam tertentu pula, dan apa, kalau ada, kaitan serangan tersebut dengan pembunuhan Hannah Schlegel semua adalah pertanyaan yang tetap tak terjawab. “Kami melakukan itu untuk sebuah keberanian,” hanya itulah yang dikatakan anak-anak itu, dan interogator polisi puas mendapatkan secara licik pengakuan bersalah mereka, tampak tidak berusaha menyelidik lebih dalam lagi.


Ben-Roi membaca catatan itu dua kali, kemudian menyandarkan kepalanya ke belakang dan meminum sisa vodka dari botolnya. Semua salah. Benar-benar salah. Pertanyaannya adalah apa yang dapat ia lakukan dalam hal ini? Kebakaran itu terjadi satu setengah dekade lalu, semua petunjuk sudah mati, pelakunya sangat boleh jadi sudah pindah atau berganti nama, atau mungkin juga keduanya. Ia dapat menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam mencoba mencapai dasar dari semua ini. Dan untuk apa?


Semacam pembenci Yahudi yang ambisius.


“Zoobi!” gumamnya. “Sialan. Apa pentingnya? Rasa sakit dalam perut ataupun bukan.” Ia menutup berkas itu, melemparkannya di atas meja, dan mengangkat telepon, memencet nomor Kantor Kearsipan Moriah, bermaksud mengatakan pada mereka bahwa ia telah selesai dengan semua itu. Ketika ia melakukan itu, sesuatu tertangkap oleh matanya, sebaris tulisan di balik arsip, dalam pensil yang sudah memudar. Ia tidak memerhatikan itu sebelumnya. Ia meraihnya, menarik berkas itu ke arahnya.


Tulisan itu hampir tak terbaca, dan ia harus berkedip-kedip membacanya: “Ani-Hani Al-Hajjar Hani-Jamal. Lahir 11/2/83. Kamp Al-Amari.”


Nama : Hani Al-Hajjar Hani-Jamal


Usia : 22 Tahun


Tanggal lahir : 11 februari 1983


Alamat : 14, Ginna Lane, Kamp Al-Amari, Ramallah


“Shalom, Kantor Kearsipan.” Gagang telepon penerima bergema di telinganya. matanya beralih dari catatan ke lembar penangkapan dan kembali ke catatan lagi.

__ADS_1


“Kantor Kearsipan,” ulang suara itu.


“Ya,” katanya. “Ini Ben-Roi. Di David.”


“Hai. Sudah selesai dengan berkas itu?”


Ben-Roi menggigit bibirnya, terluka.


“Belum,” katanya setelah jeda sesaat. “Aku rasa aku masih memerlukannya untuk beberapa saat lagi.”


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards

__ADS_1


*****


__ADS_2