Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
INTEROGASI SIA-SIA


__ADS_3

Pada saat keduanya berjalan di areal pusat Rehabilitasi Mental Kfar Shaul, melewati terasnya yang cantik dipenuhi bunga dan susunan bangunan berbatu yang teratur rapi, Layla tergoda untuk membuat referensi tentang sejarah tempat itu. Ia tergoda untuk bertanya pada Ben-Roi apakah dia tahu bahwa bangunan yang lebih tua itu pernah membentuk bagian desa Palestina Dar Yassin, yang pada 1948 menjadi saksi pembunuhan keji oleh para Militaris Yahudi: dua lusin laki-laki, perempuan dan anak-anak ditembak mati secara kejam. Satu tatapan sekilas saja kepada rekan yang sedang bersamanya ini matanya merah karena kurang tidur, mulutnya terlihat kering karena stres dan ketidakbahagiaan sudah cukup menyatakan bahwa informasinya tidak akan dihargai, maka Layla pun tidak mengatakan apa-apa, menyimpan seluruh ceritanya dalam diam.


Investigasi gabungan Israel-Palestina itulah yang diajukan Ben-Roi ketika ia mengunjungi sel Layla secara tiba-tiba tiga hari lalu. Keduanya bekerja sama sebagai tim untuk mencoba menelusuri keberadaan Menorah, ditambah seorang pria lain bernama Khalifa yang memimpin pencarian di mesir, semuanya disetujui secara resmi, sangat rahasia, semuanya penting. Apa sudah waktunya bagi dia? maukah dia menolong? Tentu saja, Layla terkejut, sekaligus curiga meski dialah yang pertama kali mengemukakan gagasan tentang investigasi gabungan (tidak semenit pun mempercayai bahwa Ben-Roi membawanya merealisasikan gagasannya itu). Kilatan semangat di mata laki-laki itu, usaha yang tidak sepenuhnya berhasil untuk tetap kelihatan tenang dan sewajarnya; semua tentang dia telah meneriakkan bahwa ada hal yang lebih banyak lagi di balik proposalnya daripada yang dia kemukakan, sejenis agenda tersembunyi. Terlalu besar risikonya bagi Layla untuk menolak bekerja sama, sehingga dia langsung setuju dan tanpa banyak bertanya melakukan apa saja yang diminta.


Begitu juga paksaan Ben-Roi yang sama tak terduganya bahwa selama menjalani pencarian, Layla harus pindah ke apartemen Ben-Roi di Yerusalem Barat. Lagi-lagi, setiap sistem peringatan dalam tubuh Layla berdering, memperingatkan bahwa rencana mereka sedikit saja hubungannya dengan keharusan berada ditempat yang mereka bisa bekerja bersama tanpa menimbulkan kecurigaan, seperti yang dikatakan Ben-Roi, dibanding dengan keinginannya untuk terus mengawasi Layla, mengikuti setiap gerakannya. Lagi-lagi, Layla menyimpan keresahan itu untuk dirinya sendiri. Ia mengemukakan bahwa ya, itu gagasan yang bagus untuk saat itu, menerima bahwa jika ingin tetap mengikuti perburuan Menorah maka ia harus mengikuti aturan main yang ditetapkan laki-laki itu. Dan bagaimanapun, dengan risiko tinggi seperti ini Layla begitu cemas hingga ia juga harus mengawasi laki-laki itu.


Jadi Ben-Roi telah menandatangani sejumlah formulir pembebasan Layla, mengantarnya ke apartemennya untuk mengambil laptop dan pakaian Layla langsung tahu bahwa tempat itu sudah seluruhnya diperiksa selama dia tidak ada dan kemudian kembali ke flat Ben-Roi di Romema, yang ruang tengahnya sudah berubah menjadi kantor. Dan di sanalah mereka bekerja tiga hari penuh, tegang, tidak nyaman, dan menyebabkan Claustrophobia. Setiap pagi mereka memulai dengan melakukan hal-hal seperti menelepon, mengirim e-mail, mencari informasi di internet, mengejar setiap petunjuk yang terpikirkan, melanjutkan menyelesaikan itu semua sepanjang siang dan malam, ditemani kopi, roti isi, dan bagi Ben-Roi, berbotol-botol vodka.


Di pagi buta, Layla akan tersungkur di sofa untuk tidur yang hanya beberapa jam dan Ben-Roi akan menghilang ke kamar tidurnya sendiri, walaupun ia sebenarnya juga tidak tidur karena dalam beberapa kesempatan Layla tiba-tiba terbangun di tengah malam buta karena mendengarnya berjalan kian kemari, berbisik-bisik lewat telepon genggamnya. Sekali waktu Layla pernah juga menemukan dirinya sedang berdiri di koridor memerhatikan Layla, dengan wajah pucat pasi dan bibir gemetar. Beberapa kali, di awal hari, Layla telah mencoba memecah kebekuan dan memulai percakapan, menanyakan latar belakangnya, tentang foto seorang perempuan dalam rak bukunya, tentang apa saja. Namun Ben-Roi mengelak dan berkata bahwa Layla berada di situ hanya untuk membantunya mendapatkan Menorah, tidak sedang menulis biografi dirinya. Jadi, Layla melakukan pekerjaan rutinnya saja, menelepon, menulis e-mail, mencari informasi, dan tetap fokus.


Keadaan itu pun mendesakkan atmosfer sikap saling antipati dan curiga. Kunjungan Hoth ke Dachau sejak awal hal itu telah membentuk dorongan utama pada investigasi mereka. Ada sedikit keraguan bahwa peti yang dibawanya berisi Menorah. Tetapi kemana ia membawa benda itu setelahnya? mengapa ia memerintahkan enam tahanan? Ini beberapa pertanyaan yang perlu dijawab. Dan ini pertanyaan yang biasanya mereka gagal tuntaskan.


Para ahli Dachau, para ahli Rezim Ketiga, para ahli Ahnenerbe, para ahli dalam menelusuri harta karun rampasan Nazi, bahkan para ahli infrastruktur transportasi Jerman dalam Perang Dunia II semuanya sudah dihubungi, ditanya dan diselidiki, tetapi tak menghasilkan apa-apa. Kebanyakan dari mereka tidak pernah mendengar tentang Hoth; sebagian mereka yang mendengar tentang Hoth pun tidak dapat menawarkan tanda-tanda mengapa ia mengunjungi kamp atau ke mana ia setelahnya.


Layla mengontak Magnus Toping lagi ya, ia senang dengan makan malam bersamanya ketika ia mengunjungi Inggris lagi, Melakukan hubungan badan demi menghilangkan penat dan kecurigaan yang sedang terjadi dengan si Detektif Israel itu. Juga mengontak Jean-Michel Dupont, setengah lusin teman dan relasi Dupont. Semuanya nihil. Tidak satu pun yang tahu, tak satu pun yang dapat membantu mereka.


Dalam pencarian sepanjang tiga hari yang melelahkan, hanya ada dua informasi baru yang memberikan sinar baru: tipe truk yang digunakan Hoth Opel Blitzes seberat tiga ton, alat transportasi baku Jerman. Selain itu, dari arsip di Yad Vashem diperoleh nama keenam tahanan yang diperintah oleh Hoth. mereka adalah Janek Liebermann, Avram Brichter, Yitzhak edelstein, Yitzhak Weiss, Eric Blum, dan Marc Wesser. Empat yang pertama adalah orang Yahudi, dua yang terakhir masing-masing adalah seorang komunis dan seorang Homoseksual. Tidak satu pun dari mereka kembali ke kamp. Setiap usaha untuk menelusuri jejak mereka, untuk menemukan apakah ada di antara mereka yang tetap bertahan hidup dalam perang, gagal.


Pendeknya, mereka menemui jalan buntu. Itulah sebabnya, setelah tiga hari, mereka akhirnya meninggalkan apartemen Ben-Roi dan pergi menuju Kfar Shaul. Karena satu-satunya kemungkinan lain bahwa sepanjang pencariannya untuk menemukan Hoth, Hannah Schlegel mungkin juga telah mengetahui keberadaan Menorah. Dan bahwa pada gilirannya ia pun telah mengomunikasikan hal itu pada saudara laki-lakinya, Isaac.


“Buang-buang waktu saja,” kata Ben-Roi selama perjalanan.


“Orang itu tidak berbicara selama lima belas tahun. Dia seperti rongsokan.” Tetapi itulah satu-satunya kemungkinan yang ada. Setelah segala sesuatunya diatur lewat percakapan telepon, mereka menuju Pusat Psikogeriatrik Sayap Utara dan disambut oleh Dr. Gilda Nissim, perempuan yang telah menerima Ben-Roi pada kunjungan sebelumnya. Perempuan itu memberi salam pada keduanya dengan anggukan ala kadarnya, dan melemparkan pandangan agak curiga pada Layla. Ia kemudian membawa mereka melewati pintu kaca dan koridor berpenerangan redup, sepatu mereka berderap di lantai marmer yang mengkilap, mesin pendingin mengisi gedung dengan suara berbisik seperti hantu.


Begitu mereka sampai di ruangan Schlegel, sang dokter memberikan keterangan singkat bahwa pasiennya telah sangat terganggu oleh kunjungan Ben-Roi terdahulu, sehingga ia tidak akan menolerirnya diperlakukan dalam cara seperti itu lagi, dan bahwa waktu yang tersedia untuk wawancara tidak lebih dari lima belas menit. Ia kemudian membuka pintu dan menepi untuk memberi mereka jalan. Ben-Roi masuk; Layla sedikit ragu, tetapi kemudian mengikuti. Sang dokter membuka separuh mulutnya seolah akan memberikan instruksi sebelum Ben-Roi berbalik namun, dengan mengucapkan “Terima kasih” yang agak kaku, ia pun menutup pintu kamar.


“Sok ikut campur,” gerutu Ben-Roi. Kamar itu tidak berubah sejak kunjungannya dahulu: tempat tidur, meja, lukisan krayon pada seluruh dinding dan dalam kursi berlengan dekat jendela, dalam pakaian piyama dan kurus seperti orang-orangan sawah, duduk Isaac Schlegel dengan tatapan yang terpaku pada buku yang sama dalam pangkuannya. Sebuah buku yang sudut halamannya terlipat. Ben-Roi meraih kursi kayu dan duduk di depannya. Layla tetap berdiri di tempatnya, mata memandang sekeliling dinding, memerhatikan berbagai lukisan Menorah bercabang tujuh.


“Maafkan aku telah mengganggumu lagi, Tuan Schlegel,” Detektif itu langsung memulai, “Tapi aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Tentang saudara perempuan Anda, Hannah.”

__ADS_1


Ia mencoba menjaga suaranya tetap tenang dan menenteramkan, sehingga tidak membuat takut laki-laki tua ini. Tidak berhasil, karena begitu mendengar suara sang detektif mata lelaki tua itu membelalak gelisah dan mulai mengayunkan badannya ke depan dan ke belakang, telapak tangannya menutup dan membuka di sekitar punggung buku, suara rengekan halus keluar dari mulutnya. Ben-Roi menggigit bibirnya, jelas tidak dalam suasana hati yang enak untuk mengajukan pertanyaan.


“Tak perlu takut,” katanya, memaksakan senyum yang tidak simpatik sama sekali pada wajahnya.


“Kami tidak akan menyakiti Anda. Kami hanya ingin berbicara dengan Anda. Tidak akan lama, aku janji.” Lagi-lagi usahanya untuk menenangkan malah memberikan efek yang tidak diinginkan. Suara rengekan semakin keras, goyangan tubuhnya di kursi juga semakin keras.


“Aku tahu ini sulit, Tuan Schlegel, dan maafkan aku telah menyusahkan Anda sebelum ini, tetapi ini benar-benar....” Tangan Schlegel mengepal kencang dan diarahkan ke kedua sisi kepalanya, seperti seorang petinju yang sedang berusaha menangkis serangan pukulan. Rengekannya semakin menjadi-jadi dan berubah menjadi lolongan bernada tinggi, membahana dalam ruangan itu. mulut Ben-Roi mengerut menyeringai, kepalan tangannya mengencang dalam kekecewaan.


“Dengar, Schlegel, aku tahu Anda....”


“Demi Tuhan!” Layla melangkah maju, melemparkan pandangan pada detektif seolah berkata “Ada apa denganmu?” sebelum ia berjongkok di sebelah laki-laki tua itu dan merengkuh salah satu tangannya yang mengepal ke dalam pelukan kedua tangannya.


“Ssshh,” Layla berkata dengan lembut, sambil mengusap kulit yang pucat dan menerawang. “Tak apa, tak apa. Tenanglah.” Hampir segera setelah itu gejolak pun mereda, goyangan laki-laki tua itu secara bertahap melambat, jeritannya merendah, seperti suara dengung kulkas atau komputer.


“Nah, begitu,” kata Layla lembut, sembari terus mengusap tangan laki-laki tua itu. “Tak perlu takut. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu ditakutkan.” Ben-Roi memerhatikan Layla, sorotan ketidakpastian terlintas sekejap di matanya, seolah ia tidak nyaman dengan pengungkapan kelembutan ini, dan merasa kacau. Kemudian, sambil mengambil botol minuman di pinggangnya, ia mundur dan meneguk beberapa kali. Layla meneruskan berbicara dengan laki-laki tua itu, membujuknya, menenangkannya, membuatnya rileks, melagukan ninabobo yang biasanya dinyanyikan ayahnya ketika ia masih kanak-kanak dulu, sampai akhirnya laki-laki itu benar-benar tenang, matanya yang abu-abu memandang pangkuannya, tangannya merengkuh tangan Layla. Ia membiarkan keadaan seperti itu setengah menit lagi, kemudian setelah merasa pasti bahwa ia telah memeroleh kepercayaan dari laki-laki itu, Layla menggeser posisinya sehingga ia berlutut tepat di depannya, membelakangi Ben-Roi.


“Isaac,” katanya lembut, suaranya sedikit lebih keras dari bisikan, “kami memerlukan bantuanmu. maukah kau membantu kami?” Di belakangnya, Ben-Roi mendengus tak peduli. Layla mengabaikannya, dan memusatkan perhatian pada sosok seperti orang-orangan sawah di depannya.


“Ayolah, Isaac.” Layla menggoyang tangannya, secara perlahan membujuknya untuk berbicara. “Kami sedang berusaha mendapatkan Menorah itu. Untuk melindunginya. Kau tahu ada di mana? Kau tahu apa yang terjadi dengan benda itu?” Tidak ada reaksi.


Layla terus dan terus bertanya sambil mencoba mengendalikan rasa frustrasinya, dan tetap menjaga suaranya. Kemudian, ketika masih belum juga ada jawaban, bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa ia mengerti atau terjadi hubungan komunikasi, Layla mendesah, melepaskan genggaman tangannya dari tangan laki-laki tua itu dan menjatuhkan kepalanya, mengakui bahwa Ben-Roi benar, buang-buang waktu saja.


“Kuning.” Ini bahkan tidak seperti bisikan; lebih seperti gangguan tipis pada udara di sekitar bibir Schlegel yang mungkin atau mungkin juga tidak membentuk sebuah kata. Layla tersentak, sembari berpikir bahwa ia pasti telah berimajinasi. Laki-laki tua itu masih terus memandangi buku dipangkuannya.


“Kuning.” Terdengar lebih keras kali ini, walaupun masih terlalu rendah hampir tak terdengar. Di belakangnya, Layla dapat merasakan ketegangan Ben-Roi, yang sedang mencondongkan tubuhnya ke depan. Layla meraih tangan Schlegel lagi.


“Kuning apa, Isaac? Apa yang kau maksudkan?” Dengan sangat perlahan, laki-laki itu mengangkat kepalanya. Ia menatap mata Layla sesaat, dan sorot matanya kini terlihat sedikit terang, seperti sinar terang yang terlihat dari gelas berembun. Kemudian, sambil menarik tangannya dari genggaman Layla, ia mengangkatnya dan menunjukkan jarinya yang gemetar ke sisi kanan, ke keempat gambar yang menceritakan tentang lengkung di Castelombres, yang di tengah-tengahnya ada lukisan kelima Menorah bercabang tujuh.


“Kuning,” ia berbisik untuk yang ketiga kalinya, seluruh tubuhnya gemetar seolah berusaha keras mengeluarkan kata-kata itu dari dalam dirinya.

__ADS_1


“Apa yang kau maksud dengan kuning?” Ben-Roi menyorongkan tubuhnya lagi, lututnya menyentuh dan mendorong punggung Layla. “Menorah itu berwarna kuning?” Laki-laki itu tetap menunjuk pada titik itu beberapa lama, kemudian menurunkan tangannya lagi, memegang buku itu erat-erat.


“Lihat yang kuning itu.” Layla setengah berbalik, melemparkan pandangan bingung pada Ben-Roi, kemudian menurunkan kepalanya, melihat ke wajah laki-laki itu dan memegang tangannya lagi.


“Itukah yang dikatakan Hannah padamu, Isaac? Apakah Hannah mengatakan itu?” Schlegel menggoyang-goyangkan bukunya, menekuk punggung buku itu.


“Lihat yang warna kuning,” ia mengulang.


“Tapi apa itu artinya?” Suara Ben-Roi terdengar kasar dan keras. “Kuning yang apa?” Schlegel tidak mengatakan apa-apa, terus saja memutar-mutar buku itu.


“Lukisan berwarna kuning?” desak detektif. “Itukah yang dimaksud oleh Hannah? Lihat lukisan kuning itu? Lukisan Menorah?” Kemudian diam, lalu suara berderit begitu Ben-Roi mendorong kursi kayunya dan mulai berdiri, mendekati lukisan Menorah dan menatapnya, sambil mencari makna tersembunyi di dalam gambar krayon kuning yang sederhana itu. Tidak ada apa-apa. Ia mencopot lembar gambar dari dinding dan melihat bagian belakangnya. Kosong. Ia melempar pandangan pada Layla, kemudian kesekeliling ruangan, mencari lukisan Menorah yang lain, melepasnya dari dinding, gerakannya semakin gelisah. masih tetap sama, tidak ada apa-apa. Schlegel hanya melihat ke bawah ke pangkuannya.


“Ayolah, Isaac, tolong...” bisik Layla, sambil menggenggam tangannya. “Apa yang dimaksud oleh Hannah? Apa yang ingin dia katakan kepada kami? mohon bantu kami, Isaac. Tolong.” Ia mengendur, Layla dapat merasakannya, bersandar ke belakang. Layla terus menekannya, menggoyang-goyangkan tangannya, dengan lembut meremas telapak tangannya seolah dengan begitu ia dapat mendorong keluarnya informasi lain dari dalam diri laki-laki itu. Waktu terus berlalu, kemudian dengan erangan gusar ia menyandarkan punggungnya ke belakang dan menatap langit-langit, sembari menggelengkan kepalanya. Ben-Roi menghantamkan tangannya pada dinding.


“Sialan,” ia menggerutu. Setelah itu ketika keduanya berjalan pulang dengan susah payah dalam keheningan di areal rumah sakit, dengan satu-satunya suara yang terdengar adalah cicit burung tak bernada di pepohonan pinus dan cemara serta, dari kejauhan di sisi kanan, suara tepukan sayup bola ping-pong yang dipukul kian kemari, Ben-Roi berjuang untuk memusatkan pikirannya, mencoba memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya, bagaimana caranya supaya semua yang diusahakan ini akan berhasil.


Selain beberapa menit saja di sana-sini, Ben-Roi belum tidur selama tujuh puluh dua jam. Ia pun roboh, lebih parah daripada yang dia perkirakan. Semua hal di dalam kepalanya tertutup kabut dan kacau. Dia tidak lagi sepenuhnya yakin apa sebenarnya yang sedang dilakukannya, atau mengapa dia melakukannya. Tiga hari yang lalu semuanya kelihatan begitu jelas: artikel, wawancara, minyak untuk bercukur semuanya pas, semuanya saling mengikat. mengawasi Layla, terus memerhatikan, menunggu saat yang tepat muncul. Tetapi pemicu itu tidak hadir Layla terlalu cerdas, terlalu terkontrol sehingga tanpa diinginkannya Ben-Roi mulai ragu, mulai bertanya-tanya mungkinkah seluruh hal yang dilakukannya salah (bagaimana Layla memperlakukan Schlegel tadi dapatkah seseorang seperti itu ...?). Tentu saja dia masih memiliki firasat itu Tuhan, apakah dia memiliki firasat itu! dapatkah dia memercayainya? Dapatkah dia memercayai dirinya sendiri? dia tidak tahu, dia tidak tahu lagi. Dan dia tidak akan pernah tahu kecuali mereka dapat menemukan Menorah itu. Itu ketika Layla ...


“Apa yang kita lakukan sekarang?”


“Hmm?” Dia masih dalam keadaan setengah tenggelam dalam pikirannya sendiri.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Layla mengulang.


Ben-Roi menggelengkan kepalanya, sambil mencoba menarik dirinya kembali ke masa sekarang. “Berdoalah semoga Khalifa bodoh itu menemukan sesuatu.”


“Dan bila dia tak menemukan apa-apa?”


“Maka kita kembali berkomunikasi lewat telepon. Dan tetap demikian sampai kita menemukan apa yang kita cari.” Ia memperlambat langkah dan memandang Layla. Bola matanya membesar dengan sinar kecurigaan dan antipati, sebelum mengalihkan pandangan lagi dan menuruni bukit. Layla mengikuti jejaknya. Di bawah sana mereka kembali masuk ke dalam BMW-nya dan melaju ke pintu gerbang metal rumah sakit itu, membelok ke jalan besar utama, kembali menuju Yerusalem Pusat. Saat mereka di perjalanan, hanya sesaat, Layla menangkap adanya Saab biru terparkir di halaman depan garasi yang ditinggalkan, di sudut jalan di seberang pintu rumah sakit, dengan sopirnya yang menyorongkan badan ke depan dekat kemudi sambil menatap langsung kearah keduanya. hal itu hanya berlangsung setengah detik dan kemudian mereka melaju cepat menuju kota.

__ADS_1


Di belakang mereka, Avi Steiner mulai menyalakan mesin Saab. “Ok, mereka bergerak kembali,” ia berkata melalui walkie-talkie. Ia kemudian menyalakan mesin dan menyelinap masuk ke lalu lintas jalan, melaju di antara mobil-mobil lain sampai ia tepat berada di belakang mobil yang dikendarai Ben-Roi.


__ADS_2