Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PADANG PASIR LAUT MATI


__ADS_3

Seorang Laki-laki berjalan kian kemarin di sisi Helikpter, mengembuskan asap rokok. matanya bergantian melihat ke jalan kosong di depannya dan ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Saat itu gelap satu-satunya cahaya berasal dari bulan tiga perempat yang tersembul menyinari padang pasir dalam kemilau kuning dan juga sunyi, sehingga langkah kaki terdengar keras tak wajar, membuat lubang dalam di udara malam yang tenang. Bayangan terlalu pekat membuatnya tampak jelas, kecuali hanya memperlihatkan bahwa tinggi badannya sedang dan sangat kurus, dengan hidung yang membengkok, yarmulke putih pada kepalanya dan codet kecil pucat menggores pipi kanannya.


“Kau tahu berapa lama?” kata sebuah suara dari dalam kokpit helikopter.


“Segera,” jawab laki-laki itu. “Dia akan segera datang.” Ia terus mondar-mandir, menepuk-nepukkan tangan dengan gugup pada pahanya, berhenti sewaktu-waktu untuk mendongakkan kepala dan mendengarkan. Lima menit berlalu, kemudian sepuluh menit, lalu suara deru mesin di kejauhan memecah malam, dibarengi derit ban pada tanah berkerikil. Laki-laki itu bergerak ketengah jalan, memerhatikan mobil yang semakin jelas tak berbayang mendekati mereka, bergerak perlahan kemudian lampu utama mati.


Mobil itu berhenti 10 meter dari mereka lalu sang pengemudi pun keluar. Laki-laki itu bergabung dengannya dan bersama-sama mereka pergi ke bagian belakang kendaraan, tempat si pengemudi membuka kap belakang. Terdengar rintihan dan *******, kemudian seseorang merangkak berdiri keluar menemui malam sembari berpegangan pada tangan si pengemudi yang membantunya. Lagi-lagi, saat itu terlalu gelap untuk mengetahui banyak tentangnya, selain fakta bahwa ia lebih muda dari laki-laki yang merokok, dengan rambut gelap yang berantakan dan keffiyeh membungkus lehernya.


“Kau terlambat,” kata si laki-laki yang lebih tua. “Aku tadi khawatir.” Si pendatang baru sedang menarik udara dalam-dalam, mengangkat tangan di atas kepalanya untuk melemaskan ketegangan.


“Aku harus berhati-hati. Kalau beberapa orang-orangku mengetahui hal ini....”


Ia menarik telunjuknya ke tenggorokan, membuat gerakan diiringi suara mendesis yang tajam, seperti pisau mengiris daging.


Si perokok mengangguk dan melingkarkan lengannya pada bahu si pendatang baru dan membawanya menuju helikopter.


“Aku tahu,” katanya tenang. “Kita berusaha menyelamatkan diri di sini.”


“Aku harap kita dapat segera mencapai sisi lain. Demi diri kita sendiri. Kalau tidak....” Ia menggoyangkan rokoknya tanpa daya dan keduanya menghilang ke dalam helikopter. Padang pasir menggemakan suara mesinnya begitu baling-baling mulai berputar, mengempas kegelapan.


Investigasi Piet Jansen


Dua orang Polisi itu menyebrangi sungai Nil dengan Feri setempat, sebuah kapal besar serta berkarat yang merayap di air dengan kepulan asap diesel membubung di belakangnya dan peluit yang terus melengking. Sariya mengemil sebungkus kacang termous kuning; Khalifa terus menatap selubung kuil Luxor yang terang, hanyut dalam pikirannya sendiri. Jaket kulit imitasi dikancingkan sampai ke dagu untuk menahan dinginnya malam. Di tepi timur, mereka menaiki beberapa anak tangga menuju Corniche, dan Khalifa meminta pada deputinya kunci rumah laki-laki yang sudah meninggal dunia itu.


“Kau mau ke sana malam ini?” tanya Sariya, terkejut.


“Meski hanya sekejap. Siapa tahu ada hal yang ... tidak biasa.” mata Sariya menyipit. “maksudmu?”


“Yah..., tidak biasa. Ayo, mana kuncinya?” Dengan mengangkat bahu, Sariya merogoh sakunya dan memberikan tas plastik berisi kunci milik Tuan Jansen. Ia kemudian mengambil buku catatannya, merobek halaman yang berisi coretannya tentang alamat Jansen dan menyerahkannya pada Khalifa.


“Mau kutemani?”


“Tidak, kau pulang saja,” jawab Khalifa, sambil melihat alamatnya sebelum melipat dan menyimpannya dalam saku. “Aku tidak akan lama. Cuma perlu memeriksa beberapa hal. Kita ketemu lagi besok di kantor.”

__ADS_1


Ia menepuk bahu deputinya, dan mengantarkannya sepanjang Corniche lalu berbelok dan menghentikan taksi yang lewat. Taksi itu berhenti di tepi trotoar. Sang sopir, seorang laki-laki tegap dengan imma terikat pada kepalanya dan rokok terselip di ujung bibir, meraih ke belakangnya dan membukakan pintu belakang taksi.


“Ke mana, inspektur?” tanyanya. Seperti kebanyakan sopir taksi, ia mengenal Khalifa secara pribadi, pernah ditahan olehnya paling tidak satu kali karena mengendarai taksi tanpa dokumen lengkap.


“Karnak,” kata Khalifa. “Jalan terus di sepanjang Corniche. Aku akan katakan tempat akan berhenti.” mereka melaju, menuju utara melewati hotel mercure, museum Luxor, rumah sakit tua dan Chicago house, menyelusup di antara kepadatan lalu lintas. Bangunan dalam kota secara bertahap terpecah menjadi serakan rumah bobrok dikelilingi sekumpulan lahan semak belukar. Setelah lima ratus meter terlewati dari batas kota di bagian utara, Khalifa memberi tanda pada sopir untuk berhenti. Di seberang jalan besar, pepohonan laurel dan eucalyptus yang mengarahkan jalan ke kanan menuju tiang kuil Karnak yang tersorot lampu terang benderang.


“Apa aku harus menunggu?” tanya sopir ketika Khalifa keluar.


“Jangan khawatir. Aku akan berjalan saja.”


Ia merogoh saku, tetapi sopir menggerakkan tangan.


“Tak perlu inspektur. Aku berutang padamu.”


“Bagaimana kau menyelesaikan hal itu, mahmud? Terakhir kali kita bertemu, aku menahanmu karena asuransinya sudah kadaluarsa.”


“Benar,” aku sopir. “Tapi kemudian aku tidak membayar pajak jalan raya juga, jadi aku mendapatkan keringanan.” Ia menyeringai, memperlihatkan dua baris gigi berwarna cokelat yang tidak rapi. Dengan membunyikan klaksonnya, ia segera menjalankan mobil dan menghilang ke jalan yang tadi dilaluinya.


Khalifa berdiri sejenak menatap sungai Nil, permukaannya berkilau dalam cahaya bulan seperti selembar kain sutra abu-abu berimpel, kemudian membelok dan menuju pintu masuk kuil.


Khalifa mengamati melalui pagar yang ada di dekat kumpulan bunga yang tertata rapi, jendela berdaun berat, tanda KHASS! MAMNU’ AL-DUKHUUL! PRIBADI! DILARANG MASUK! dipasang pada jarak interval yang teratur di sekeliling pagar, kemudian melangkah ke bagian gerbang depan dan memutar handel.


Terkunci. Ia menarik kunci milik laki-laki yang tewas itu dari sakunya dan, di bawah sinar bulan yang pucat, mencoba anak kunci itu satu per satu sampai ia temukan satu yang pas, membuka pintu dan berjalan di jalur batu kerikil. Ketika ia memasuki teras depan gedung, sejenis hewan, kucing atau serigala, menyalak dari balik kegelapan di sebelah kanannya, menjatuhkan alat penggaruk tanah lalu menghilang di balik semak belukar di seputar rumah.


“Sialan!” desisnya, terkejut.


Ia menyalakan rokok dan memegang kuncinya, membuka tiga kunci pintu yang berat lalu melangkah masuk ke ruang dalam yang gelap. Ia meraba kontak lampu pada dinding dan menyalakan lampu. Ia berada di ruang yang luas, berlantai kayu yang sangat rapi dan cermat, dengan empat kursi berlengan di seputar meja sudut berbentuk lingkaran di bagian tengah ruangan, meja pinggir dengan televisi dan telepon di atasnya. Di hadapannya, memanjang koridor gelap yang mengarah ke bagian belakang rumah.


Ia menatap sekelilingnya beberapa lama, membiasakan dirinya dengan sekeliling, dan mengamati dinding sebelah kiri tempat tergantung lukisan cat minyak gunung tertutup salju di atas rak surat kabar dan majalah. Ia mengamati lukisan, mengaguminya ia belum pernah melihat salju sebelumnya, salju sesungguhnya kemudian membungkuk dan menyelidik isi rak. Ada dua al Ahrams, majalah egyptian horticultural Society dan buletin dari egyptian museum di Berlin. Di belakang ada salinan majalah Time, dengan sampul depannya bergambar dua lelaki; yang satu gemuk, garang dan berjenggot, yang lain kurus dan berwajah seperti elang dengan codet pucat pada pipi kanannya hampir sampai ke dagu. Khalifa menariknya dan membaca judul berita utama: HAR-ZION DAN MILAN: YANG MANA YANG UNTUK ISRAEL? oleh Layla al-madani. Ia kenal nama penulis itu. Kemudian ia membuka majalah itu, halaman berisi artikel tersebut yang bagian atasnya dihiasi foto seorang perempuan muda, cantik, dengan rambut hitam pendek dan mata hijau besar. Ia mengamati gambar itu, terpaksa ingin tahu dan dengan menggoyangkan kepalanya ia menutup majalah, me nempatkan kembali dalam rak dan menyelidik hal lain di dalam rumah itu.


Ada lima ruangan lain: dua kamar tidur, kamar mandi, ruang kerja dan, di bagian belakang gedung, dapur besar. Semuanya apik dan tertata rapi, tidak natural sehingga tampak seperti tidak ada yang pernah tinggal di sana. Dan sebagai tambahan pada semua daun jendela yang tebal, ada gembok braso pengaman yang berat.


Khalifa memasuki ruangan itu satu per satu, memeriksa dan menggeledah tapi tidak benar-benar mencari apa pun secara khusus, hanya mencoba mendapatkan “rasa” dalam tiap ruang untuk orang yang pernah tinggal di situ.

__ADS_1


Ia memasuki ruang kerja terlebih dahulu. Sebuah kamar besar dengan sepasang lemari arsip metal di satu sudutnya, rak buku yang berdiri dari lantai sampai langit-langit sepanjang dua sisi dinding dan meja besar di bawah jendela. Lemari arsip keduanya terkunci, tetapi ia menemukan kunci pada gantungan kunci milik korban dan membuka keduanya secara bergantian. Lemari pertama berisi amplop plastik berisi dokumen bisnis dan legal. Lemari kedua adalah perpustakaan kecil berisi slide fotografi, ratusan jumlahnya dan semua ditempeli label yang rapi dan teratur dalam kemasan plastik yang menggambarkan sejauh yang dapat diperkirakannya hampir semua situs bersejarah penting di mesir, mulai dari Tel al fara’in di Delta di bawah sampai ke Wadi halfa di sudut utara.


Ia mengambil dua lembar gambar secara acak dan mengangkat nya, menerawangkannya pada lampu, menutup satu matanya untuk mengenali Kuil Seti I di Abydos, makam batu di Beni hasan, halaman Khonsu di Karnak. Ia mengamati slide terakhir ini beberapa menit, menggerakkannya, mendekat dan menjauh dari cahaya serta menajamkan fokus, alisnya berkernyit sebelum ia mengembalikan slide itu ke dalam mapnya, menutup dan mengunci kembali lemari dan beralih ke satu rak buku.


Volume buku ditata alfabetis menurut nama penulisnya dan, dengan pengecualian untuk beberapa kamus serta bagian kecil tentang tumbuhan dan kebun, hampir seluruhnya berisi secara ekslusif karya bersejarah, sebagian sejarah popular, yang lebih banyak adalah sejarah akademik. Pada punggung buku tertulis judul dalam bahasa Latin, Prancis, Inggris, Jerman, Arab dan yang membuat- nya terkejut, mengingat apa yang dikatakan Shaw tentang sikap Jansen terhadap orang Yahudi - Ibrani. Apa pun Jansen, ia benar-benar sangat berpendidikan dan membaca dengan baik.


“Bagaimana bisa orang seperti Anda berakhir dengan pekerjaan menjalankan bisnis hotel murahan di Luxor?” Khalifa bergumam pada dirinya sendiri. “Bagaimana ceritanya, Tuan Jansen? Dan ada apa dengan semua sistem keamanan ini? Apa yang Anda takuti? Apa yang sedang Anda sembunyikan?” Ia tetap berada di ruang kerja tersebut beberapa saat lamanya, meneliti buku dan seluruh laci meja, kemudian berjalan menuju kamar mandi, lalu ke dua kamar tidur. Pada kamar yang pertama terdapat lemari kecil di samping tempat tidur. Ia menarik beberapa majalah Jerman, pornografis, dengan beberapa laki-laki muda berpose telanjang di halaman depan. Ia mengamatinya, terheran dan jijik, kemudian melemparnya ke dalam lemari dan menutupnya.


Akhirnya, ia merambah ke dapur. Dua pintu terbuka. Yang satu diamankan dengan dua kunci baja berat, yang menuju beranda kayu di bagian belakang vila. Pintu kedua, yang juga harus dibuka dengan kunci dari gantungan kunci milik korban, memperlihatkan anak tangga menurun ke kegelapan. Dengan hati-hati sang inspektur menuruni tangga. Anak tangganya yang terbuat dari kayu berderik di bawah kakinya. Kegelapan secara perlahan menyelimuti dan membuatnya hilang arah sehingga ia terpaksa menempelkan tangan kanannya pada dinding batu yang dingin untuk mempertahankan keseimbangan. Di bagian bawah jari tangannya mencari kontak lampu dan menyalakannya.


Perlu waktu beberapa detik untuk memastikan apa yang sedang dilihatnya. Kemudian ia begitu terperanjat.


“Ya, Tuhan!” Barang-barang antik. Di mana-mana terdapat barang antik. Pada meja-meja besi yang ditata di tengah ruang, pada rak di sekeliling dinding, dalam kotak dan kotak catur di sudut ruang. Ratusan objek, masing-masing terbungkus rapat dalam tas plastik, masing-masing disertai kartu nama berisi tulisan tangan yang rapi tentang apa, di mana, dan kapan ditemukan serta tanggal estimasi.


“Seperti museum,” Khalifa berbisik heran. “museum pribadi miliknya.” Untuk sesaat ia berdiri terpaku di tempatnya. Kemudian melangkah maju ke meja terdekat, mengambil tas yang berisi figure kayu kecil di dalamnya. ’Shabti, KV3a, koridor timur’ terbaca pada kartunya. ‘Kayu. Tidak ada teks atau dekorasi. Dinasti 18, mungkin Amenhotep I (1525-1504 Sm). Ditemukan 3 maret 1982’. KV 39 adalah makam besar yang berisi batu pada lipatan bukit di atas Lembah Para Raja, yang dianggap banyak orang sebagai tempat peristirahatan terakhir firaun Amenhotep I Dinasti 18. makam itu tidak pernah digali secara layak. Jansen jelas-jelas pernah berada di sana melakukan penggalian pribadi untuk dirinya sendiri.


Khalifa meletakkan kembali figur itu dan mengambil objek lain.


’Ubin lantai berlapis pecahan, Amarna (Akhetaten), istana Utara.


Desain Papirus dalam warna hijau, kuning dan biru. Dinasti 18, pemerintahan Akhenaten (1353-1335 Sm). Ditemukan 12 November 1963’. Benda yang indah, bila pecah warnanya kaya dan membias, buluh papirus yang digambari agak condong seolah ditiup angin sepoi-sepoi. Lagi-lagi, tampaknya ini digali oleh Jansen sendiri. Khalifa membalikkan benda itu, menggelengkan kepala, meletakkannya dan beralih mengelilingi bagian lain gudang tersebut.


Koleksi yang luar biasa dan mengguncang pikiran, hasilnya, jika dinilai dari kartu keterangan yang ada pada tiap benda, diperoleh dari pencarian rahasia dan illegal selama lebih dari lima dekade.


Sebagian dari objek kudanil kecil; ostracon yang memuat cerita tentang Tiga Serangkai Theban; Amun, mut dan Khonsu sangat tak ternilai. Namun, kebanyakan koleksi itu rusak atau begitu umum sehingga seperti tidak berarti apa-apa. Prinsip dasarnya sepertinya tidak atas kehendak mengumpulkan objek langka atau indah, tapi lebih pada kesenangan semata dalam menggali, menemukan, dan menandai serpihan kecil tentang masa lalu. Koleksi seperti ini, pikir Khalifa, adalah koleksi yang dia sendiri begitu ingin memilikinya. Koleksi pecinta sejarah. Koleksi para arkeolog.


Di sudut yang agak jauh, ia menemukan sebuah peti besi, teronggok dan kokoh, dengan pemutar dan tuas pada bagian depan. Ia mencoba memutar tuas itu tetapi pintu tetap tertutup rapat.


Setelah beberapa menit, ia berhenti dan melihat benda lain lagi. Akhirnya ia melihat jam tangannya.


“Astaga!” Ia telah berjanji pada istrinya, zenab, bahwa ia akan tiba di rumah pukul 9 malam sehingga ia dapat membacakan dongeng untuk anak-anaknya. Kini sudah lewat 10 menit. Sambil merutuk dirinya sendiri, ia pun melihat sekeliling untuk terakhir kali, dan kemudian kembali menaiki anak tangga dan mematikan kontak lampu. Ketika ia melakukan itu, ia perhatikan bahwa pintu di atasnya, yang membuka ke dalam, telah terayun separuh tertutup sehingga ia dapat melihat bagian belakangnya. Di sana pada pengait, tergantung topi hijau dengan bulu-bulu muncul dari bagian tepinya. Ia berhenti, kemudian menaiki anak tangga, perlahan, seolah enggan melakukannya. Lalu ia melepaskan benda itu dari gantungannya, membawanya ke hadapannya, dan mengamati nya secara saksama.


“Sepertinya dia punya burung di kepalanya,” gumamnya, suara tiba-tiba keluar, seolah sesuatu telah didorong masuk ke dadanya.

__ADS_1


“Burung kecil yang lucu.” Ia menatap topi itu, dan kemudian dengan penuh kemarahan, memukulkan tangannya pada bagian belakang pintu, sehingga membuat pintu itu terempas.


“Sialan!” desisnya. “Ini pasti sebuah kebetulan! Pasti.”


__ADS_2