Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
DESA QUEYERAM


__ADS_3

“RAKYAT PALESTINA ADALAH SAUDARA KITA KARENA ALLAH. Ingatlah ini selalu. Penderitaan mereka tidak berada jauh atau abstrak. Ia adalah penderitaan kita juga. Ketika rumah mereka diruntuhkan buldozer, itu sama saja rumah kita yang dibuldozer. Tatkala kaum perempuannya dianiaya, itu sama saja dengan kaum perempuan kita yang dianiaya. Ketika anak-anak mereka dibantai, itu artinya anak-anak kita tercinta yang dibantai.”


Suara Syeikh Umar Abdul Karim yang nyaring dan berapi-api bergema di seputar mesjid desa, sebuah ruangan sederhana dengan dinding bercat putih dan kubah di atapnya yang dihiasi lingkaran kaca berwarna, menyaring dan melembutkan kuatnya matahari pagi sehingga ruang di bawahnya cukup disinari dengan cahaya redup sub-aquatic, semua dalam rona biru, hijau dan abu-abu kabut. Beberapa lusin laki-laki, kebanyakan masih muda, para fel-laheen, berpakaian djellaba dan imma, bersujud di atas lantai tertutup alas memerhatikan pembicara di dalam mimbarnya, tangan mereka diletakkan di atas pangkuan, mata mereka berkobar oleh kemarahan dan kedongkolan. Khalifa menunggu di dekat pintu dibelakang ruangan, tidak di dalam tidak juga di luar, sembari jemarinya memainkan pulpen di dalam saku jaket.


“Tugas kitalah sebagai muslim untuk menentang yehudi-een dengan segala kekuatan yang kita miliki,” lanjut Syaikh, suaranya melengking tajam, jari-jemarinya yang kurus mengepal dan meninju di udara. “Karena mereka adalah bangsa yang bebal; bangsa yang serakah, pendusta, dan pembunuh, musuh Islam. Bukankah bangsa Yahudi yang telah menolak Nabi muhammad yang mulia ketika beliau datang ke Yathrib? Apakah al-quran yang suci tidak mengutuk mereka karena kejahatan dan ketidaksetiaannya? Apakah Protokol zion tidak memuat hasrat mereka untuk menguasai dunia, dan membuat kita semua menjadi budak?”


Dia seorang yang sudah tua, berjanggut lebat dan bungkuk, berpakaian dengan bahan quftan gelap dan peci kepala dengan jahitan sederhana, dengan kacamata plastik murahan bertengger pada batang hidungnya. Dia sendiri sudah lama dilarang berdakwah di Luxor mungkin lebih karena sikap antisemitnya, Khalifa menduga, daripada serangan vokalnya pada korupsi di pemerintahan dan membatasi aktivitasnya untuk desa kecil yang terpencil, melakukan perjalanan dari desa ke desa, menjajakan cap fundamentalis Islam miliknya sendiri.


“Jadi tidak perlu ada kesepakatan dengan zionis,” teriaknya, menghantamkan kepalan tangannya yang rematik pada ujung mimbar.


“Apakah kalian berbicara pada ular kobra yang mendesis?


Apakah kalian berteman dengan banteng yang menyeruduk? Lebih baik mereka dikutuk, diusir, dienyahkan dari muka bumi seperti wabah penyakit sebagaimana mereka sesungguhnya. Ini adalah tugas kita sebagai muslim. Sebagaimana dikatakan dalam al-quran yang suci, “Kami telah mempersiapkan hukuman tercela bagi para kaum kafir. Kita telah menyiapkan neraka sebagai penjara bagi orang-orang yang kafir.”


Terdengar dengungan tanda setuju dari para pendengar di hadapannya. Seorang bocah laki-laki dengan rambut halus seperti lumut di dagu dan bibir bagian atas berusia sekitar empat belas atau lima belas tahun, tidak lebih tua dari itu menonjokkan kepalan tangannya di udara dan berteriak, “Al-maut li yahudiyyi-in! matilah orang-orang Yahudi!”


Serta-merta seruannya disambut para anggota jemaah lain hingga seluruh ruangan bergetar oleh suara serempak: “mati! mati! mati!”


Khalifa memandang mereka dengan penuh perhatian, mulutnya terkunci rapat, kemudian, sambil menggelengkan kepalanya, ia berbalik menuju pelataran mesjid dan mengenakan sepatunya yang ia tinggalkan di sana bersama dengan milik jemaah lain, yang ditata rapi seperti barisan mobil dalam antrean lalu lintas berdebu.


Ia diam sesaat lebih lama, menajamkan pendengaran karena di belakangnya Syaikh mengajak para jemaah untuk berjihad, Perang Suci melawan bangsa Israel dan semua sekutunya, kemudian melangkah keluar menikmati sinar matahari pagi.


Khalifa begitu muak dengan apa yang baru saja didengarnya.


Bagaimana tidak? menggunakan ajaran Nabi Suci untuk memicu kekerasan dan kebencian, mengutip al-quran sebagai pembenaran untuk kefanatikan, prasangka, dan intoleransi inilah yang dia tentang habis-habisan, dengan setiap sel dan otot di dalam tubuhnya. Dan tetapi... kaum kafir. Kita telah menyiapkan neraka sebagai penjara bagi orang-orang yang kafir.”


Tidak adakah bagian dari dirinya yang setuju dengan hal itu?


Bagian dari dirinya yang, begitu mendengar kabar ada orang Palestina yang dibunuh Israel, keluarga lain menjadi gelandangan, kebun buah-buahan dibuldozer, juga ingin mengepalkan tinju ke udara, berteriak untuk membalas dendam dan merusak, me ngumandangkan “mati, mati, mati!” bersama saudara-saudara muslimnya? Ia mendesah dan menyalakan rokoknya, berjongkok di areal bayangan tipis di samping pintu mesjid. Tidak pernah sebelumnya ia mengalami kebingungan dan keresahan seperti itu, tentang di mana posisi dia sebenarnya, apa yang dia yakini, apa yang seharusnya dia yakini. Bahkan ketika dia berada dalam masa-masa paling menyedihkan kemiskinan di masa mudanya, kematian kedua orangtua dan abangnya, studinya di Universitas Kairo yang tertinggal selalu ada kepastian, setitik kebenaran dari soliditas dan kepastian. Tetapi kini, setiap langkah dalam penyelidikan ini, setiap jalur yang membawanya Yahudi, Israel, fundamentalis tampak semakin membuka keretakan yang lebih lebar dalam kepekaan dirinya. ‘hadapi selalu apa yang kau takuti.’ Itulah yang pernah dikatakan zenab pada dirinya. ‘Dan selalulah mencari apa yang tidak kau mengerti. Karena dengan begitulah kau tumbuh dan menjadi orang yang lebih baik.’ Tetapi dia tidak merasakan dirinya sedang berkembang. Sebaliknya, impresinya yang menolak adalah bahwa segala hal di dalam dirinya remuk dan pecah seperti kaca yang berceceran menjadi sekumpulan bagian konstituen yang bergerigi dan bertentangan. Bahkan ketika kasus itu akhirnya ditutup, dia ragu dirinya akan mampu mengembalikan hal itu bersama lagi sebagai suatu keseluruhan yang dapat dikenali.


Khalifa menarik rokoknya dan melihat jalan berdebu di depan mesjid. Desa ini hanya dua puluh kilometer di sebelah utara Luxor, tetapi seperti telah menjadi dunia yang lain, permukiman bobrok dan jorok dan penjara hewan yang bersemak-semak, gedung di belakangnya adalah satu-satunya bangunan yang mantap dan permanen. Dengan pakaian kotanya dan ciri kemesiran yang tak begitu menonjol kulit pucat, rambut lurus ia terlempar seperti ibu jari yang luka pada kulit yang lebih gelap, penduduk Saidee berpakaian tradisional, sesuatu yang hanya menambah rasa terasing dan gelisah.


“Sialan,” ia memaki dengan sedih. “Benar-benar sialan.”


Dua puluh menit berikutnya berlalu sebelum khotbah itu akhirnya sampai pada bagian penutup. Jemaah mengucapkan kalimat syahadat, lalu mengumandangkan “Assalamualaikum warahmatullah.” Dan mulai berjalan keluar ke teras depan, berdesakan dan saling dorong untuk mengambil alas kaki masing-masing. Khalifa berdiri dan, membuka sepatunya kembali, meletakkannya di dalam pelataran dan menerobos kerumunan orang menuju bagian dalam mesjid, sambil mengabaikan pandangan curiga dari beberapa orang di sekitarnya.


Syaikh kini sudah turun dari podiumnya dan sedang berdiri dibagian dalam ruang, bersandar pada tongkatnya, berbicara dengan semangat pada sekelompok kecil pengikutnya. Khalifa tahu sepenuhnya akan bahaya yang menghadang bila mengkonfrontasi dia seperti ini: beberapa tahun lalu para pendukungnya telah menghajar sepasang polisi dalam penyamaran yang mencoba menyusup dalam sebuah pertemuannya di dekat qift. Pilihannya adalah mendatanginya dengan sebuah truk yang penuh dengan orang berseragam dan secara fisik membawa si orang tua ini ke tuduhan, tindakan provokatif yang, dengan popularitas Syaikh dan sifat independen desa yang jauh dari mana-mana ini, pasti akan memancing keributan. Khalifa lebih suka mengambil pilihan yang tidak terlalu membakar, bahkan bila hal ini memang mengandung risiko pribadi.


Ia berhenti sejenak di pintu, kemudian berjalan ke tengah ruangan. Langkahnya tak bersuara pada lantai beralas karpet. Ia hampir berada di sisi kelompok itu sebelum ada orang yang memerhatikan kehadirannya. Kelompok laki-laki itu terdiam dan menengok ke arahnya.


“Syaikh omar?”


Laki-laki tua itu mendongak, melirik dari balik kacamatanya.


“Namaku Inspektur Yusuf Khalifa. Aku dari Kantor Kepolisian Luxor.”


Jemaahnya sedikit bergeser, terlihat mereka mendekati pemimpinnya, kecurigaan menyebar di antara mereka seperti panas dari tambang yang terbakar. Syaikh menatap Khalifa, tubuhnya miring sedikit, seperti pohon tertiup angin.


“Anda kemari untuk menahanku?” tanyanya, lebih terdengar senang daripada peduli.


“Aku di sini untuk berbicara dengan Anda,” ujar Khalifa.


“Tentang seorang laki-laki bernama Piet Jansen.”


Ada desisan tajam dari salah seorang dalam kelompok jemaah, seseorang dengan sosok besar dan mata separuh tertutup dengan bintik-bintik di pipi bagian atas.


“Ya kalb!” Ia mengumpat. “Kau anjing! Ini laki-laki suci! Bagaimana kau berani menghina dia seperti ini!” Laki-laki itu melangkah mendekat, bahunya membuka lebar.


Khalifa mengetahui yang lebih baik dan bijak daripada menghadapi tantangan itu, namun juga menyadari bahwa mundur akan merupakan pengakuan terhadap kelemahan yang justru sedang dia perjuangkan untuk menang. Ia berdiri, sambil secara bersamaan mengangkat tangan, telapak tangannya terjulur, untuk memperlihatkan bahwa ia tidak bermaksud membuat masalah. Ada ketegangan sesaat; kemudian, secara perlahan, Khalifa merogoh sakunya, mengeluarkan amplop dengan brosur di dalamnya. Seakan-akan menawarkan tulang pada seekor anjing, ia mengacungkan brosur itu pada Syaikh.


“Anda mengirim ini pada Tuan Jansen,” katanya.


Suasana hening menggelisahkan. Kemudian dengan anggukan samar, Syaikh menyuruh laki-laki dengan wajah berbintik-bintik itu mengambil amplop dan memberikan padanya. Ia membalik kan amplop, membaca alamatnya di halaman depan.


“Ini bukan tulisan tanganku,” katanya, sembari mendongak.


Ia sedang bermain kejar-kejaran, membuat Khalifa ingin menangkapnya.


“Aku tidak tertarik pada siapa yang menulisi amplop itu,” sela sang detektif. “Aku tertarik pada sebab mengapa ini dikirim.” Seorang yang lain dari kelompok itu, laki-laki bertubuh kecil dan sintal dengan syal putih membebat kepalanya, mengambil amplop itu dari tangan Syaikh dan mengembalikannya pada Khalifa.


“Kau tak mendengarnya? Ini bukan tulisan tangannya. Bagaimana dia tahu kenapa amplop ini dikirim?”


“Karena brosur tentang salah satu pertemuannya tidak akan terkirim pada seorang kafir seperti Jansen tanpa persetujuan darinya,” kata Khalifa, sembari menerima amplop tersebut dan menyimpannya dalam sakunya. “Seperti yang diketahuinya dengan baik.”


Nada suaranya lebih tajam dari yang dia inginkan, lebih konfrontatif, dan para pengikutnya itu tidak senang. Lagi-lagi mereka bergumam tidak setuju. Kali ini gumaman mereka seperti api yang menyentuh semak kering, membesar menjadi teriakan, mendekat pada Khalifa, meneriakinya, mendorong tubuhnya. Kemarahan mereka seperti api yang dikipasi dan mendorong kemarahan yang lain. Syaikh mengetukkan tongkatnya dengan mantap pada sisi podium. Suara kayu bertemu kayu terdengar di ruangan itu seperti letusan senjata.


“Khalas!” ia menggertak. “Cukup!” Secepat mulainya, kerumunan itu pun bubar, para lelaki mundur ke tepi, meninggalkan Khalifa dan Syaikh berhadapan.


Diam untuk beberapa saat lamanya, terpecahkan hanya oleh suara keledai di luar. Kemudian, Syaikh melambaikan tangan pada pengikutnya.

__ADS_1


“Tinggalkan kami.” Laki-laki yang berwajah bintik-bintik hendak memrotes, tetapi Syaikh mengulang perintahnya dan, dengan menggerutu, para lelaki itu keluar dari mesjid, saling bergumam satu sama lain. Begitu mereka semua tak terlihat, laki-laki tua itu mengambil al-quran dari podium dan beranjak menuju dinding tempat ia menurunkan badannya dan duduk di bantal yang tergeletak di lantai mesjid.


“Kau ini kalau tidak sangat bodoh tentu sangat berani dating seperti ini,” katanya sembari meletakkan buku dan tongkatnya di sebelahnya, lalu melipat kakinya yang panjang dan kurus menjadi posisi bersila. “Sedikit dua-duanya, barangkali. Walaupun lebih kearah bodoh daripada berani, aku kira. Dan angkuh. Seperti semua polisi.” Ia mengambil al-quran itu lagi dan mulai membuka-buka halamannya. Khalifa mendekat dan berjongkok di hadapannya, menepis lalat yang terbang di atas kepalanya dan sekarang sedang membuat angka 8 di udara. Keledai terdengar masih meringkik diluar.


“Kau tidak setuju dengan khotbahku?” tanya orang tua itu, sembari tetap membalik-balikkan halaman al-quran. Khalifa mengangkat bahu, tak menyatakan pendapat apa pun.


“Tolong jawab pertanyaanku.”


“Ya,” kata detektif. Suaranya terdengar kurang mantap daripada yang diinginkannya. “Aku pikir itu... ghair Islam. Tidak Islami.” Syaikh tersenyum. “Kau menyukai bangsa Yahudi?”


“Aku tidak datang ke sini untuk....” Syaikh mengangkat tangannya, memotong kalimat Khalifa.


Khalifa memiliki perasaan tidak enak bahwa, walaupun mata orang tua itu terpaku pada kitab suci di pangkuannya, pada saat yang bersamaan ia menatap langsung pada dirinya, melihat bukan pada bentuk fisiknya melainkan semua yang ada di dalam batinnya, pikirannya, perasaannya. Ia mengubah posisinya sedikit.


“Kau muslim?” Khalifa menggumam ya dengan tidak sabar.


“Tapi kau menyukai orang Yahudi.”


“Aku tidak berpikir kedua hal itu bertentangan.”


“Jadi, kau memang suka pada bangsa Yahudi?”


“Aku tidak ... bukan itu....” Sang detektif menepis kembali lalat itu, bingung dan sebal pada dirinya sendiri karena terpancing ke dalam percakapan yang tidak dia inginkan. Syaikh terus saja membuka-buka halaman al-quran, kertas kekuningan yang menghasilkan suara berbisik dan kering di bawah jari-jemarinya. Ia akhirnya sampai pada surat yang sedari tadi dicarinya. Dia meletakkan jarinya pada teks dan, sembari membalikkan buku, memperlihatkannya pada Khalifa.


“Tolong bacakan untukku.”


“Ini bukan apa yang aku....”


“hanya satu ayat. Ayo, bacakan.” Dengan malas Khalifa memegang kitab suci itu, menyadari bahwa bila dia menginginkan informasi apa saja dari laki-laki tua ini, maka dia tidak punya pilihan lain kecuali mematuhi aturan permainannya. Teks itu kira-kira separuh di bawah halaman, dari surat kelima Al-ma’idah, “meja”. Sang detektif memandangnya kemudian menggigit bibirnya.


“Wahai orang-orang yang beriman,” ia membaca, cepat dan tanpa nada, seakan-akan ingin sesegera mungkin menyelesaikan bacaan itu, menjauhkan dirinya sendiri dengan apa yang dikatakan al-quran, “Janganlah kalian jadikan orang-orang Yahudi atau Kristen sebagai teman; mereka saling berkawan; tetapi siapa pun di antara kalian yang menjadi teman mereka, ia tentu menjadi salah satu dari mereka.” Syaikh mengangguk setuju. “Kau dengar itu? Ini adalah kata-kata yang disampaikan Nabi muhammad yang suci. Jelas dan tidak ambigu. Berteman dengan Yahudi, dengan mereka yang berbeda agama, bersimpati pada mereka, merasakan apa pun kepada mereka selain kebencian, kemuakan, dan perampasan ini bertentangan dengan kehendak Allah yang maha Kuasa, terpujilah namaNya.


Ia mengangkat tangannya yang gemetar, dan mengambil kitab itu kembali. Sang detektif ingin membantah, mengatakan padanya bahwa itu bukanlah Islam yang dia tahu dan cintai, ingin mengutip teks lain yang berbicara dengan baik tentang ahli kitab, menghargai mereka. Tetapi entah kenapa pikirannya tiba-tiba kosong dan tidak menemukan kata yang diperlukannya. Atau barangkali tidak ingin menemukannya. Syaikh memerhatikan ekspresi wajah ber masalah pada wajah Khalifa dan tersenyum. Tidak sepenuhnya manis.


“Menjadi Seorang Muslim” adalah berserah diri pada kehendak Yang maha Kuasa,” katanya, sambil menutup al-quran dan mengusap perlahan sampul mukanya. “Inilah makna Islam. Kalau kau tidak berserah diri kau tidak bisa menjadi seorang muslim. Terima itu atau ambil yang lain. hitam atau putih, terang atau gelap. Tidak ada jalan tengah.” Ia menyentuhkan kitab suci itu pada bibirnya dan meletakkan pada pangkuannya.


“Sekarang, kau bilang kau ingin membicarakan soal sais Jansen.”


Khalifa mengangkat lengannya ke keningnya yang basah oleh keringat, sembari berusaha menyatukan pikirannya. Setelah apa yang baru dikatakan tadi, investigasi ini justru terasa semakin menjauh, menjadi bagian dari realitas yang terpisah.


“Tuan Jansen tewas dua minggu lalu,” gumamnya, lalat masih juga terbang berputar di atas kepalanya. Suara dengungnya keras tak tertahankan, memenuhi kepalanya. “Kami sedang menyelidiki keganjilan tertentu dalam gaya hidupnya. Aku menemukan brosur Anda di dalam rumahnya. Tampak aneh bagi seseorang laki-laki seperti dia menerima kiriman brosur ini. Seorang kafir. Bukan pengikut Anda.”


“Jadi?” desak Khalifa. “mengapa Anda mengirimkan ini padanya?”


Laki-laki tua itu terus memijat pergelangan kakinya, jari-jemarinya menggaruk kulit kakinya yang pecah-pecah.


“Basa-basi.”


“Basa-basi?”


“Sais Jansen sudah begitu ... murah hati. Akan tampak terhormat kalau kami memberitahukan bahwa kami memerhatikannya.” Pikiran Khalifa mulai jernih sekarang; kasus ini mulai terlihat terang kembali. Seolah terabaikan oleh fokus perhatiannya yang menajam, lalat pun terbang menjauh dan mulai menghantamkan dirinya sendiri pada jendela kecil di ujung ruangan.


“Murah Hati bagaimana?”


“Dia telah memberikan sumbangan. Ke salah satu proyek kami.”


“Proyek apa?” Syaikh berhenti memijat pergelangan kakinya, lalu melipat kedua tangan di atas pangkuannya. matanya bergerak turun sampai menatap langsung pada Khalifa.


“Untuk membantu orang-orang kami yang menderita karena penjajahan zionis,” katanya, dengan nada agak menuduh, seolah dengan kegagalan mengakui adanya kebencian yang tidak layak terhadap Yahudi, Khalifa, dalam beberapa cara, telah menyatukan diri dengan musuh Islam.


“Bantuan seperti apa?” Syaikh masih menatapnya.


“Kami mengumpulkan uang. Kami kirimkan ke Palestina. Untuk makanan, pakaian, buku-buku sekolah. Urusan sedekah. Tidak ada yang ilegal.”


“Dan Jansen adalah seorang penyumbang?”


“Dia menghubungi kami. enam minggu yang lalu, dua bulan. Untuk memberikan donasi.”


“Begitu saja dengan tiba-tiba?” Syaikh mengangkat bahu. “Kami juga sangat terkejut. Seorang kafir datang pada kami seperti itu. Dia mendekati salah seorang jamaahku di Luxor dan mengatakan dirinya ingin membantu kami. Bertanya apakah dia bisa berbicara denganku. Biasanya aku tidak akan bercampur dengan orang-orang seperti ini. Namun, dalam kasus ini dia menawarkan uang dalam jumlah sangat besar. Lima ribu pound mesir.”


Khalifa bersiul kecil. Apa gerangan maksud Jansen memberikan sejumlah uang itu pada laki-laki seperti Syaikh?


“Anda bertemu dengannya?” tanyanya.


Laki-laki tua itu mengangguk, mengangkat tangannya yang keriput dan mengelus-elus janggutnya.


“Dan?”


“Dan tidak ada apa-apa. Kami berbicara. Dia bilang dia sudah mendengar apa yang kami lakukan untuk Palestina, dia mengaguminya dan ingin membantu kami. memberikan uangnya pada kami. Tunai. Siapa aku untuk menolak hal ini?” Kaki Khalifa mulai gatal setelah bersila sekian lama. Ia menegakkan badannya, sambil meregang.

__ADS_1


“Tetapi kenapa dia datang pada Anda? Ada lusinan organisasi yang mengumpulkan dana untuk Palestina. Yang sudah mantap berdiri dan terlegitimasi. mengapa mendekati....”


Syaikh tersenyum. “orang dengan reputasi seperti aku?”


“Tepat sekali. Jansen pasti sudah tahu risikonya, bahwa terlihat bersama Anda akan membuatnya masuk dalam banyak masalah. Lalu dia tiba-tiba muncul, memberikan Anda semua uang ini, dan tidak meminta apa-apa sebagai imbalannya.”


Khalifa masih meregangkan badan sesaat lebih lama, meraba lututnya, kemudian terenyak oleh selintas pikiran yang tiba-tiba, dan berhenti.


“Apa dia menginginkan sesuatu sebagai imbalan?”


Syaikh tidak mengatakan apa-apa, hanya memandangnya. Senyum tipis mengembang di sudut mulutnya, seperti lekukan yang tertinggal pada pasir akibat arus surut. Khalifa kembali bersila dihadapannya.


“Apakah dia menginginkan sesuatu?” ia mengulang. masih tidak ada jawaban. Urat nadi detektif ini mulai terasa semakin cepat.


“Dia memang menginginkan sesuatu, ‘kan? Apa? Apa yang dia inginkan?”


Syaikh memiringkan kepalanya terlebih dahulu ke sisi kiri, kemudian ke kanan, tulang belakang lehernya mengklik seperti bunyi kunci, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Khalifa.


“Bantuanku untuk menghubungi al-mulatham.”


Mata Khalifa melebar, terperangah.


“Anda serius?”


“Untuk apa aku berbohong? Inilah yang dia minta dariku.”


Khalifa terduduk lemas di atas tumitnya, kepala menggeleng.


Setiap kali ia merasa dirinya mendekat sekian inci pada Jansen beberapa informasi baru muncul yang meninggalkannya lebih jauh lagi dari laki-laki itu daripada sebelumnya. Seperti seorang pemburu yang, setelah mengendap-endap dengan sangat hati-hati, sudah berada dalam jarak tembak terhadap buruannya, tiba-tiba terpental lagi.


“Kenapa?” tanyanya. “mengapa dia ingin menghubungi al-mulatham?”


Syaikh mengangkat bahu. “Dia bilang al-mulatham memiliki sesuatu yang bisa menolongnya. Senjata yang dapat dia gunakan untuk menyerang Yahudi. Sesuatu yang dapat membuat mereka sakit.”


Di luar terdengar suara denting yang keras karena seseorang mulai memukul-mukul metal. Khalifa hampir tidak memerhatikan suara itu.


“Senjata seperti apa?”


Syaikh mengangkat tangannya. “Yang ini tidak dia katakan. Dia mengatakan padaku dirinya sedang sekarat, dia tidak punya banyak waktu untuk hidup. Dia ingin benda itu berada di tangan seseorang yang akan menggunakannya dengan baik. menggunakan nya untuk menyakiti orang Yahudi. Itu yang dia katakan. Seseorang yang akan menggunakannya untuk menyakiti orang Yahudi.”


Suara denting berhenti sesaat, kemudian mulai lagi, bahkan lebih keras. Suara itu menggema di sekitar bagian dalam mesjid.


“Anda menolongnya?”


Syaikh mendengus. “Apa, kau pikir aku punya alamat mulatham? Nomor teleponnya? Kau kira aku bisa begitu saja dengan segera meneleponnya? Aku memang mengagumi orang itu, Inspektur; Aku bahagia setiap kali dia merenggut nyawa orang Israel; kalau kami bertemu, aku akan memeluknya dan memanggilnya saudaraku. Tetapi, siapa dia dan di manakah dia, aku tidak lebih tahu daripada kau.”


Dia melepas kacamata dan mulai menyekanya dengan hemnya yang terbuat dari quftan, sambil memutarkan bahan itu secara lembut dan perlahan pada lensa kacamata. Di luar, pukulan pada metal sudah terhenti, membuat mesjid kembali menjadi hening bagai air.


“Aku memberinya sejumlah nama orang-orang yang kukenal di Gaza,” kata laki-laki itu akhirnya, setelah selesai menyeka kacamatanya. “Itulah sedikitnya yang bisa kulakukan setelah dia memberikan sumbangan.”


“Dan? Apakah dia mengontak orang-orang itu?”


“Aku tak tahu. Aku juga tidak ingin mengetahuinya. Aku tidak ada urusan dengannya lagi setelah pertemuan pertama itu. Dan andai kau bertanya, aku tidak akan mengkhianati kawan-kawan Palestinaku dengan memberi nama mereka padamu.”


Ia menatap Khalifa, kemudian meluruskan kakinya, mengambil tongkatnya dengan satu tangan dan quran dengan tangan yang lain, kemudian berusaha berdiri. Baru separuhnya, dia berhenti, kesakitan. Sembari dia sendiri berdiri, Khalifa menggamit siku laki-laki itu dan membantunya berdiri, menghormati orang yang lebih tua darinya membantu mengurangi ketidaksukaannya pada pendapat laki-laki tua itu. Begitu ia berdiri tegak, Syaikh membersihkan quftannya dan mulai berjalan. Di pintu ia berbalik.


“Ingat, inspektur: ada terang dan ada gelap, Islam dan kekosongan. Tidak ada jalan tengah. Tidak ada kompromi. Inilah waktunya kau membuat pilihan.”


Ia menatap mata Khalifa, kemudian meninggalkan mesjid.


Wawancara itu pun berakhir.


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards


*****

__ADS_1


__ADS_2