Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
GURU SEKOLAH EKSPERIMEN


__ADS_3

Pada ujung hari, Ben-Roi mengendarai mobilnya pulang menuju rumahnya, sebuah apartemen satu kamar yang kotor dan sunyi. Ia kemudian mandi, meneteskan kolonye dan bersiap menuju apartemen saudara perempuannya Chava untuk makan malam hari Sabbath. Malam itu sejuk dan cerah, dengan langit biru dan angin sepoi bertiup dari arah utara. Begitu tenang dan hening. Jalan seperti biasanya, hanya saja sekarang kosong karena hari pelaksanaan ibadah Sabat. Ia berpapasan dengan kelompok Yahudi haredi yang bergegas pulang dari sinagog, rambut mereka yang keriting di bagian samping menyembul ke atas dan ke bawah seperti pegas bergelung. Sebaris serdadu perempuan muda sedang duduk di tempat perhentian bus di terminal bus utama egged, sambal tertawa dan merokok. M16 mereka seimbang dengan kaki mereka yang ramping dan terbalut pakaian berwarna khaki. Kalau tidak, kota itu seperti ditinggalkan. Ben-Roi menyukai hal seperti ini bersih, kosong, sunyi. Ada sesuatu yang murni dalam keadaan seperti itu, tak tercela, seolah segala sesuatu yang terjadi sebelumnya terhapus begitu saja, memunculkan kota baru, permulaan baru. Ia berharap, situasi seperti ini terjadi sepanjang waktu.


Apartemen Chava membelakangi Kota Tua, di ha-ma’alot, jalan raya yang mewah berpagar pohon di pusat Yerusalem Barat. Setelah sampai di depan gedung berbatu kuning ia meneguk vodka nya dari botol pinggangnya dan memencet intercom di samping pintu kaca. Diam sejenak, kemudian suara Chaim, keponakan laki-lakinya terdengar dari panel.


“Paman Arieh?”


“Bukan,” jawabnya, dengan aksen Amerika, “ini Spiderman.” Diam sejenak karena bocah laki-laki itu pasti sedang mempertimbangkan hal ini, kemudian gelak tawa.


“Pasti bukan Spiderman,” teriaknya. “Pasti Paman Arieh! Ayo masuk!” Ada suara mendesis dan pintu pun terbuka. Ben-Roi memasuki foyer, tersenyum pada dirinya sendiri, dan masuk ke dalam lift menuju lantai empat, sambil mengambil mentol dari sakunya dan memasukkannya ke dalam mulut untuk menutupi bau alkohol.


Ia menikmati malam Sabbath di rumah saudara perempuannya. Ini adalah satu dari sedikit acara sosial yang mungkin ia ikuti akhir-akhir ini hanya dirinya sendiri, Chava, suaminya Shimon dan kedua anak mereka, Chaim dan ezer. elemen agamis tidak terlalu penting lagi baginya sekarang ini. Sejak kematian Galia, keyakinannya, yang pernah menjadi pusat keberadaannya, tampak kacau-balau. Sejauh ini, sudah hampir satu tahun sejak ia terakhir kali menginjakkan kaki ke dalam shul. Ia bahkan melewatkan kesempatan menghadiri Liburan Paskah, Rosh hashanah, dan Yom Kippur untuk pertama kalinya.


Bukan, bukan agama yang membuat Jumat malam begitu istimewa baginya. Bukan juga kenyataan bahwa ia berada ditengah-tengah keluarganya, darahnya sendiri, walaupun tentu saja hal itu begitu penting. melainkan, ada kebahagiaan sederhana berada di antara orang-orang bahagia, yang dapat tertawa, yang melihat dunia sebagai tempat penuh cahaya terang dan harapan, bukan guncangan kepedihan dan kebingungan. mereka adalah keluarga yang puas dan bahagia, begitu hangat, begitu akrab.


Berada bersama mereka telah membantunya, kalau tidak untuk melupakannya, paling tidak untuk mengingat sedikit yang tersisa. Pintu lift terbuka dan ia melangkah keluar ke lantai koridor. Chaim yang berusia empat tahun dan kakaknya ezer beranjak dari pintu depan dan melompat ke dalam pelukannya.


“Apa kau menangkap pembunuh hari ini, Paman Arieh?”


“Apa kau bawa senjata sekarang?”


“maukah kau mengantar kami berenang minggu depan?”


“Ke kebun binatang! Ke kebun binatang!” Ia mengangkat kedua bocah laki-laki itu dengan tangannya dan membawa mereka masuk ke dalam apartemen, menutup pintu di belakangnya. Saudara iparnya Shimon, seorang laki-laki pendek dan sintal dengan rambut afro keriting sukar dipercaya bahwa ia adalah seorang penerjun payung yang memiliki tanda jasa keluar dari dapur dengan celemek terikat di pinggangnya, bau ayam panggang terasa mengikutinya.


“Kau baik-baik saja, Bung?” katanya, sambil menepuk bahu Ben-Roi.


Ben-Roi mengangguk dan mendudukkan anak-anak di lantai. Mereka berlari menuju kamar tidurnya, sambil tertawa dan membuat keributan.


“minum?” tanya Shimon.


“Apakah Chief Rabbi frumm?” tanya Ben-Roi. “mana Chava?”


“Sedang menyalakan lilin. Dengan Sarah.” Detektif itu tercengang. Ia tidak mengharapkan kehadiran orang lain di sana.


“Seorang temannya,” jelas Simon. “Ia sedang punya waktu luang malam ini, jadi kita undang saja.” Ia menatap koridor sekilas, dan kemudian merendahkan suaranya.


“Sungguh cantik. Dan masih sendiri!” Ia berkedip dan menghilang menuju dapur untuk mengambil minuman. Ben-Roi menuju koridor ke arah ruang duduk, melihat sekilas ke arah ruang makan saat ia melewatinya. Saudara perempuannya, seorang perempuan berpinggul besar, tinggi dengan potongan rambut bob, sedang membungkuk di atas meja sambal memberkati lilin Sabbath. Di sebelahnya berdiri seorang perempuan lain, lebih kecil, lebih ramping, dengan rambut pirang yang hampir sepinggang, berbusana China, sandal dan blus putih. Ia menoleh, menangkap pandangan Ben-Roi dan tersenyum. Ben-Roi menatap matanya sesaat, kemudian tanpa membalas Bahasa tubuhnya, ia menuju ke ruang tengah. Suara saudara perempuannya ini bergema di belakangnya, dalam memanjatkan doa tradisional Sabbath.


“Baruch ata Adonai, eloheinu melech ha’olam, asher kid’shanu b’mitz’votav v’tzivanu l’hadlich ner shel Shabbat.” Ia kemudian ditemani Shimon, yang memberinya segelas besar whiski. Kedua perempuan itu datang beberapa saat setelahnya, Chava menghampiri dan memeluknya.


“Aku suka sekali parfum yang kau kenakan setelah bercukur,” Kata Chava sambil mencium pipinya. “Ini Sarah.” Ia menariknya dan memberi tanda pada temannya, yang tersenyum dan mengulurkan tangannya.


“Chava sudah bercerita banyak tentangmu,” kata Sarah.


Ben-Roi menyambut tangan itu dan mengucapkan salam, berusaha untuk santun. Ia menganggap kehadiran perempuan ini tidak tepat. Ia menyukai situasi ketika hanya ada mereka berlima, keluarga dan tanpa orang luar. Dalam keadaan begitu ia bisa menjadi dirinya sendiri, tidak perlu bersusah payah. Sekarang, dengan adanya orang asing di sini, keakraban malam itu seolah terpolusi, rusak sebelum dimulai. Ia mulai berharap dirinya tadi tidak datang.


“Jangan pikirkan dia,” Canda saudara perempuannya, sambal menganggukkan kepala ke arah Ben-Roi.


“Dia itu super sabra. Biarkan saja sampai waktunya makanan penutup, dia akan berubah sangat periang dan ramah.” Perempuan muda itu tersenyum tapi tidak mengatakan apapun. Ben-Roi menghabiskan wiskinya dengan dua tegukan panjang.


Mereka bertukar kebahagiaan selama beberapa menit, dan kemudian Chava permisi untuk mempersiapkan makan malam di dapur. Ben-Roi mengikutinya karena hendak mengisi kembali gelasnya.


“Jadi bagaimana menurutmu?” tanya Chava ketika mereka hanya berdua.


“Apa maksudmu bertanya begitu?”


“Tentang Sarah, bodoh! Dia cantik sekali, ‘kan?” Ben-Roi mengangkat bahu, menuangkan wiski untuk dirinya sendiri dari botol yang ada di papan sisi.


“Belum kuperhatikan.”


“Ya,” kata saudara perempuannya dengan penuh tawa, sambal membuka oven dan memeriksa ayam besar yang sedang dipanggang di dalamnya.

__ADS_1


Ben-Roi maju ke depan dan, membuka tutupnya, membaui isi dalam pot yang tengah membara di dalam kompor. Sop kneidlach ayam. Kesukaannya.


“Sarah perempuan yang baik,” kata Chava, sambil memerciki ayam. “Lucu, pintar, baik hati. Dan masih sendiri.”


“Shimon juga sudah mengatakannya padaku,” sela Ben-Roi, sembari memasukkan sendok ke dalam pot dan menyeruput supnya.


Chava menepis tangan Ben-Roi dan membuka pintu oven.


“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Arieh. Aku tidak bermaksud mengatur hidupmu.”


“Kau pasti telah mengolokku.”


“Kotak sedekah! Kau tahu kita tidak menggunakan kata-kata kasar di rumah ini.” Ben-Roi menggerutu memohon maaf, merogoh sakunya dan mengeluarkan uang receh lima shekel yang ia masukkan ke dalam kotak amal pada tepi jendela.


“Aku tidak sedang mencoba mengatur hidupmu,” ulang Chava.


“Aku hanya berpikir....”


“Apa? Bahwa ini saatnya aku mulai mengencani seseorang?” Ia menggigit bibirnya, mengeluarkan uang logam lain, sepuluh shekel kali ini, dan memasukkannya ke dalam kotak.


“Maaf.” Chava tersenyum dan, sambil melangkah maju, melingkarkan lengannya pada leher saudara laki-lakinya.


“Ayo, Ari. Yaa. Cerialah sedikit. Aku tak tahan melihatmu seperti ini terus. Tidak satu pun dari kita bisa tahan. Begitu tak bahagia. Begitu ... tersiksa. Galia juga pasti tidak menginginkannya. Aku tahu itu. Ia menginginkan kau memulai hidup baru. menjadi bahagia.” Ben-Roi membiarkan Chava memeluk dirinya untuk beberapa saat, kemudian mendorongnya, dan kembali meminum whiski.


“Biarkan aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri, adikku. Aku hanya butuh waktu, itu saja.”


“Kau tidak bisa terus-menerus berkabung untuknya seperti ini, Arieh. Kau harus melangkah maju. Kau pasti tahu ini, jauh di dalam hatimu.” Ia menghabiskan sisa wiski yang ada, sesuatu mengeras di dalam dirinya.


“Aku akan berkabung untuknya selama waktu yang kuinginkan, Chava. Ini bukan urusan siapa pun selain diriku.” Kali ini tidak memohon maaf untuk ungkapan ekspletinya, juga tidak memasukkan uang receh ke dalam kotak. Ia mengisi lagi gelasnya dan menuju pintu dapur. Saudara perempuannya meraih tangannya.


“Paling tidak berusahalah dan bersikap sopan, Arieh. Tolong. Paling tidak mencoba dan bersikap manislah.” Arieh menatapnya. mata perempuan itu lembab, memohon dengan sangat, kemudian mengangguk dan keluar menuju koridor.


“Paman Arieh kami tahan,” seru ezer menjelaskan. “Dan kami adalah penjaga paman.” Dengan lebih banyak lagi minum, suasana hati Ben-Roi sedikit bercahaya.


“Baiklah,” katanya. “Tetapi ingat, kalau kalian adalah penjaga yang baik kalian harus mengawasi paman sepanjang waktu. Sepanjang waktu. Yang artinya kalian tidak boleh makan malam karena ini akan mengganggu kalian.” Kedua anak laki-laki itu menerima tantangannya dan, berputar-putar pada kursi mereka, menatap Arieh. mereka berusaha melakukan ini sampai sup disajikan, yang pada titik itu mereka sudah kehilangan minat. Shimon mengangguk pada Ben-Roi, yang berdiri dan pergi ke papan sisi tempat ia membuka botol anggur.


“Beberapa penjaga telah kau lumpuhkan,” kata Sarah sambal tersenyum. “Lihat paman kalian baru saja melarikan diri. Dan kalian bahkan tidak memerhatikannya.”


“Dia tidak lari,” ezer menangkis, sambil menyeruput supnya.


“Ada penjaga lain, tetapi mereka tidak terlihat.” Semua orang tertawa. mata Ben-Roi menangkap mata Sarah dalam waktu yang sangat singkat, kemudian melengos lagi. Ia kembali ke meja dengan botol terbuka.


“Jadi, apa kegiatanmu?” ia bertanya, sembari menuangkan anggur.


“Dia seorang guru,” kata Chava.


“Sejak kapan ia bisu?” kata Shimon. “Biarkan dia menjawabnya sendiri.”


“Maaf,” kata Chava. “Lanjutkan Sarah, ceritakan saja padanya mengenai aktivitasmu.” Perempuan muda ini mengangkat bahu.


“Aku seorang guru.” meskipun enggan, Ben-Roi tersenyum.


“Di mana?”


“Di Silwan.”


“Silwan?”


“Ini proyek khusus. eksperimen.” Ben-Roi mengangkat alisnya penuh pertanyaan.


“Kami mengajar anak-anak Israel dan Palestina bersama-sama, dalam sekolah yang sama,” jelasnya. “mencoba mengintegrasikan mereka. merobohkan pembatas.” Ben-Roi menatapnya beberapa saat, kemudian merendahkan pandangannya. Senyumnya memudar. Shimon mengambil hallah dan menghancurkannya dalam mangkuk supnya yang sudah kosong.

__ADS_1


“Apa kau mendapatkan dana yang kau cari?” Arieh bertanya. Sarah menggeleng. “mereka berusaha mendapatkan uang untuk para pemukim, tetapi untuk pengajaran ... semuanya berjalan sebagaimana adanya sekarang bahkan kami tidak mampu mengusahakan pemberian buku mewarnai dan pulpen.”


Ben-Roi sedang mempermainkan kneidl dalam mangkuknya.


“Aku tak melihat esensi pentingnya,” ia bergumam.


“Tentang buku mewarnai?”


“Tentang mencoba menyatukan anak-anak Arab dan Israel.” Sarah melihat ke arahnya, matanya berbinar.


“Kau tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang patut dicoba?” Ben-Roi menggerakkan sendoknya tak beraturan.


“Beda dunia, beda nilai. Tidak ada manfaatnya memikirkan mereka akan dapat bersanding bersama. Naif.”


“Sebenarnya, kami telah banyak berhasil,” Sarah menangkis.


“Anak-anak bermain bersama, berbagi pengalaman, membangun persahabatan. Betapa menakjubkan bagaimana mereka berpikiran terbuka sejauh yang mereka mampu.”


“Dalam beberapa tahun, mereka akan menggorok tenggorokan,” Kata Ben-Roi. “Begitulah semua biasa berjalan. Tak ada gunanya mencoba berpura-pura ada perbedaan.” Untuk sesaat tampaknya ia akan bertengkar dengan Arieh.


Namun Sarah hanya tersenyum dan mengangkat bahu dengan ringan.


“Kami akan biarkan ini berjalan apa adanya. Kau tidak pernah tahu, ini akan memberikan hasil baik. Lebih baik daripada mendorong mereka untuk tumbuh sambil membenci sesamanya, pastinya.” Ada keheningan sejenak, tidak mudah, dipecahkan oleh Chaim, yang mulai bercerita tentang bagaimana mereka menemukan tikus dalam toilet di kolam renang lokal dan penjaga kolam membunuhnya dengan sapu.


“Bagus itu,” kata Ben-Roi, sambil menghabiskan supnya dan melempar pandangan pada Sarah. “Itu satu-satunya cara untuk berurusan dengan pengganggu. hancurkan si keparat.” Arieh tidak banyak bicara setelahnya, makan sambil diam sementara yang lain berbincang di antara mereka sendiri, terutama, tak dapat dihindari, tentang ha-matzav, situasi politik saat ini.


Begitu mereka selesai makan, mereka menyanyikan lagu zemirot, Ben-Roi bersenandung tanpa nada, kemudian menarik diri ke ruang tengah untuk minum kopi. Pada pukul sepuluh, ia mengatakan dirinya harus pergi.


“Aku juga,” kata Sarah, sambil berdiri. “malam yang sangat menyenangkan, Chava. Terima kasih banyak.”


Keduanya berpamitan. Ben-Roi kesal karena dia tidak bisa pergi sendiri, dan turun dengan lift bersamanya dalam keheningan yang canggung. Begitu mereka melangkah keluar lift, Arieh bertanya kearah mana Sarah akan berjalan.


“Ke kanan,” katanya. “Kau?” Ia seharusnya juga ke kanan.


“Ke kiri,” katanya.


Ada jeda yang agak aneh.


“oh, baiklah,” Sarah akhirnya berkata. “Senang bertemu denganmu.”


Ia tersenyum dan mengulurkan tangan. Arieh melihat ke arahnya, mengangguk, berbalik dan mulai melangkah pergi. Setelah ia melangkah beberapa meter, Sarah memanggilnya.


“Aku menyesal tentang apa yang terjadi, Arieh. Chava menceritakannya padaku. Aku begitu prihatin. Ini pasti sangat tidak enak bagimu.” Ia memperlambat langkah. “Kau tidak menyesal,” Arieh ingin berteriak padanya.


“Kau pencinta Arab yang kotor. mereka membunuh satu-satunya perempuan yang pernah kucintai dan kini kau berpura-pura menyembunyikan sesuatu. Kau zonah goblok keparat. Pelacur ******.”


Arieh tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat sedikit tangannya untuk pamitan, dan melangkah lagi, terus berjalan sampai di ujung jalan, kemudian menghilang di sudut menuju Ha-Melekh George.


Setelahnya, jauh setelahnya, seusai menghabiskan tiga jam lamanya untuk minum seorang diri di Champs Pub di Jalan Jaffa, Ben-Roi beranjak menuju flatnya, hanyut dengan CDnya Schlomo Artzi dan jatuh ke sofanya, tertidur.


Ada seorang pelacur di bar itu, muda, pirang, seorang Rusia, dengan mata bermaskara dan lengan berlubang transparan dari pengguna pukulan reguler. Arieh berpikiran untuk membawa serta perempuan itu, melupakan kemarahan dan kesepiannya barang sejenak, tetapi kemudian memutuskan yang sebaliknya. Ia terlalu takut, tidak akan mungkin bisa ereksi, pada akhirnya akan merendahkan dirinya sendiri lebih daripada yang telah ia lakukan, bila hal seperti itu dimungkinkan. Perempuan itu sudah menggoda dan melayaninya, tetapi Arieh mengatakan padanya untuk pergi dan terus minum seorang diri, sambil menatap bayangannya di cermin belakang bar, wajahnya yang besar dan tulang menonjol yang dibagi dua oleh sendi vertikal antara dua panel kaca sehingga terlihat seperti tulang tengkoraknya sudah dibelah dua dan keduanya terpisah, meninggalkan garis hitam tebal yang ada di bagian tengah nya.


Ia bersandar pada sofa dan memejamkan mata, tetapi terjaga oleh gelombang rasa mual dan membuka matanya kembali hampir segera, tatapannya menuju ke sekeliling ruang, mencoba mendapatkan sesuatu untuk diperhatikannya. Ia melihat CD-playernya, retak-retak di langit-langit, Batya Gur, sebelum akhirnya matanya terhenti pada barisan foto berbingkai di dalam rak di seberang.


Sambil menarik napas dalam-dalam, ia berjalan di sepanjang lajur, menggunakan imej untuk memantapkan dirinya sendiri, seolah matanya adalah tangan dan foto-foto itu adalah rel besi yang kokoh yang membuatnya tetap berdiri tegak: ia dan saudara perempuannya bergantung terbalik dari pokok pohon aprikot; kakek buyutnya, ezekiel Ben-Roi tua, seorang Rusia yang keras, berjanggut lebat yang telah beremigrasi ke Palestina yang dikuasai ottoman pada 1882, membuat keluarga Ben-Rio menjadi salah satu dari keluarga Yahudi yang tinggal paling lama di wilayah tersebut; ia dalam acara wisuda kelulusan dari sekolah polisi; ia dan Alpacino, yang filmnya Serpico telah memberi inspirasi baginya untuk menjadi polisi. Dan tentu saja, yang terakhir dari semuanya, di ujung kanan barisan itu, foto terbesar dari semuanya, dia dan Galia, sedang tertawa menatap kamera, ombak keperakan Laut Galilee ada di belakang mereka, di Ginosar, pada malam ulang tahunnya yang ketigapuluh, saat Galia memberinya botol pinggang perak dan bandul berbentuk menorah yang tetap ia kenakan pada rantai di lehernya.


Ia menatap foto itu lamat-lamat. Jari-jari di tangan kirinya memainkan bandul tanpa daya, kemudian, dengan mengangkat tubuhnya untuk berdiri, ia jalan sempoyongan ke ruang tidur.


Tertempel pada dinding di sisi tempat tidurnya adalah fotokopi artikel surat kabar, yang diperbesar tiga kali dari ukuran sesungguhnya, tinta merah tebal melingkari kata dan frasa tertentu Jericho dan Dataran Laut mati; manio; laki-laki kurus tinggi; jalan terlalu canggih untuk menuju sel pengkhianat Palestina; daya pendorong harus sesuatu yang eksternal. Ia bersandar pada dinding dengan satu tangan pada artikel dan teks yang dipindai, sambil membaca keseluruhan artikel tersebut, seperti yang telah ia lakukan ribuan kali tahun lalu, sebelum akhirnya tersungkur di tempat tidurnya, tempat ia berbaring sambil melihat pada sebuah botol untuk digunakan setelah bercukur yang ada pada lemari sisi tempat tidur.


“Sakit perut,” ia menggerutu dalam mabuk: “Kau membuatku sakit perut.” Kemudian matanya tertutup dan ia terjatuh tidur, mendengus keras, tangan kanannya mengepal seolah sedang menggenggam pegangan parasut.

__ADS_1


__ADS_2