
Khalifa bercerita tentang semua yang ia temukan dalam beberapa hari terakhir, yang tidak begitu banyak.
Milan mendengarkan dalam diam, dengan mata yang tidak pernah lepas darinya. Ketika ia selesai, si Israel perlahan berdiri dan, mendekati termos, menuangkan sendiri secangkir teh, melirik ke api lampu kerosin yang berkedip, sinarnya menambahkan sentuhan lain pada warna oranye rokok cerutunya sehingga terlihat seolah ia terbungkus oleh selimut api yang menyala. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Lalu, Milan angkat bicara. Suaranya, bariton yang rendah, terdengar semakin dalam dan serak, nyaris tak terdengar.
“Setiap keimanan, inspektur, memiliki sesuatu objek, symbol yang sakral di atas benda lain, yang lebih daripada bentuk ibadah lain untuk meringkas esensi keimanan itu. Seperti salib bagi pemeluk Kristen, Ka’bah di Mekkah bagi muslim. Untuk orang Yahudi, orang-orangku, Lampu Suci. ‘Dan Tuhan akan menjaga cahaya abadi’ inilah yang dikatakan Nabi Isaiah pada kami, dan inilah, bagi kami, yang selalu direpresentasikan oleh Lampu itu: sinar penciptaan, keimanan, dan keberadaan. Itulah sebabnya, dari semua objek yang ada di Kuil kuno, menorah adalah yang paling mulia dan paling dicintai; itulah sebabnya, di zaman kami, lampu dipilih sebagai emblem negara Israel. Karena tidak ada yang lebih berharga bagi kami, tidak ada yang lebih suci, tidak ada symbol yang lebih murni tentang kami dan berjuang untuk menjadi manusia. Karena, singkatnya, dalam cahaya menorah Suci terungkap tidak satu pun kecuali wajah Tuhan itu sendiri. Aku jelas dan pasti tidak dapat terlalu keras menekankan kekuatan dan signifikansinya.” Ia mengisap rokoknya secara perlahan dan lama, sambil membiarkan kalimat terakhir ini mengambang sesaat, dan wajahnya pun menghilang di balik tirai asap yang tebal.
“Dan sekarang, inspektur” ia menoleh kepada Khalifa, perlahan, bayangannya terlihat dan bergeser di dinding di belakangnya
“Berkat Anda, menorah asli, menorah pertama, menorah dari menorah yang dibuat Bezael dahulu dalam kabut waktu dan yang telah dianggap hilang untuk selamanya kini, tiba-tiba saja, setelah sekian abad, kembali. Lagi-lagi, aku tak dapat lebih menekankan lagi signifikansi dari ini semua. Tidak juga, yang paling penting, bahayanya.” Suaranya sedikit menaik pada kata terakhir tadi, silabelnya membahana dan bergetar, mengisi ruangan. Perasaan takut yang telah mengganggu Khalifa selama sepuluh menit terakhir, perasaan bahwa, bertentangan dengan kemauannya, ia menjadi lebih terlibat dalam sesuatu yang berada jauh melampaui pemahamannya, tiba-tiba tumbuh semakin intens.
“Ini bukan....” Lagi-lagi tangan Gulami menyentuh lengan Khalifa, memberi tanda padanya untuk diam, mendengarkan. Milan mengisap rokoknya, dengan mata yang tidak pernah terlepas dari wajah Khalifa.
“Ada kebiasaan khusus yang menarik di wilayah yang kita diami, inspektur, bahwa simbol selalu diperhitungkan sebagai sesuatu yang lebih daripada kehidupan manusia. Kematian seseorang boleh jadi tragis, tetapi pada waktunya kesedihan akan berlalu. Sebaliknya, penodaan terhadap sesuatu yang suci takkan pernah terlupakan, juga tak termaafkan. Bayangkan reaksi masyarakat Anda bila, katakanlah, Ka’bah Suci diserang oleh jet Israel. Sama juga bagi kami bila itu terjadi pada Menorah. Bila objek yang sangat ikonis seperti itu jatuh ke tangan yang salah, tangan seseorang seperti Al - Mulatham, dirusak olehnya, hancur pegang kata-kataku: luka kolektif seperti pelanggaran terhadap hal keramat jauh lebih dalam daripada luka akibat ribuan bom bunuh diri. Sepuluh ribu. hilangnya manusia dapat dibayar lunas. Tapi hilangnya sesuatu yang suci rasa sakit itu tidak pernah akan berkurang. Tidak dalam satu generasi, dua atau tiga. Tidak akan pernah. Dan tidak juga kemarahan yang menyertainya.” Ia menjentikkan abu pada ujung rokoknya dan, sembari mengangkat tangan ia menggosok matanya. Wajahnya tiba-tiba tampak kurus dan cekung, bahunya melorot seolah sesuatu sedang menekannya dari atas.
“Dua rakyat kami sedang berada di ambang jurang yang dalam sekali, inspektur. Sa’eb dan aku, kami yakin kami dapat menyelamatkan mereka, bahkan sekarang, setelah begitu banyak darah tertumpah. Tetapi bila menorah asli ditemukan oleh Al - Mulatham, atau sebaliknya oleh para fundamentalis fanatik di pihak kami yang ternyata banyak, aku dapat meyakinkan Anda bahwa semuanya hanya menunggu bendera seperti ini yang di belakangnya mereka bisa menjalankan kekuatan fanatisme” di sudut ruang Ben-Roi bergeser tak nyaman, jari-jarinya memainkan liontin yang tergantung di lehernya “bila itu yang terjadi, percayalah, kita akan langsung terjerumus ke dalam jurang kehampaan, dan tidak ada proses perdamaian di bumi ini yang dapat menarik kita kembali.” Rokok Khalifa telah nyaris terbakar habis di tangannya, meninggalkan abu yang lemah bergantung pada ujungnya. Ada sesuatu yang akan datang, dia dapat merasakannya. Sesuatu yang tidak ingin didengarnya.
“Al - Mulatham tidak tahu tentang menorah,” dia bergumam lemah. “Hoth mati sebelum dia menceritakannya.” Marsudi menggelengkan kepala. “Kita tidak bisa memastikan itu. Kita tahu Hoth melakukan apa pun yang dia bisa untuk mengontak Al - Mulatham. mungkin dia gagal; tapi mungkin juga tidak. Barangkali Al - Mulatham sedang mencari menorah bahkan saat kita membicarakannya. mungkin yang lain juga sedang mencarinya. Kita tidak bisa mengambil risiko itu.” Rongga dada Khalifa kering, perutnya mengencang. Dirinya sedang dimanuver, dia dapat merasakannya; dipojokkan, seperti ketika dia masih seorang bocah dan sekelompok anak laki-laki yang lebih besar mengejarnya di jalan belakang Giza, yang pada akhirnya selalu berhasil menangkapnya, dan menghajarnya.
“Mengapa Anda mengatakan semua ini padaku?” ia mengulang. Terdengar suara seseorang mendengus dari sisi jauh ruangan itu.
“Mengapa kau pikir mereka mengatakannya padamu?” Itu pertama kalinya Ben-Roi berbicara.
“Andalah yang memulai semua ini. Sekarang bantu kami menyelesaikannya.” Khalifa melihat ke sekeliling, keningnya berkeringat, seolah-olah ada sesuatu yang hidup di dalamnya, mendera sisi dalam pelipisnya.
“Apa yang dia maksud dengan, ’membantu menyelesaikannya’? mengapa Anda membawaku ke sini?”
Ia terdengar putus asa. Gulami melepas kacamatanya, memeriksanya, dan mengenakannya kembali.
Seperti Milan, wajahnya juga tiba-tiba kelihatan letih dan terpukul.
“Menorah itu harus ditemukan, inspektur,” ia berkata perlahan.
“Ia harus cepat ditemukan. Dan ia harus ditemukan tanpa satu pun pihak lain mengetahui di mana keberadaannya selanjutnya.” Ada jeda sesaat untuk membuat kata-kata itu bisa dicerna, lalu Khalifa berdiri.
“Tidak.” Ia akhirnya buka suara, terkejut akan semangatnya yang berapi-api tapi tak dapat menghentikan dirinya, bahkan di depan seseorang yang berkuasa seperti Gulami. Ia tidak ingin menjadi bagian dari proyek ini. Tidak ingin tahu tentang Israel, Judaisme, menorah apa pun. Tidak pernah ingin tahu, sejak awal, apa pun yang pernah dikatakan Zenab tentang mencari apa yang tidak kau mengerti, tumbuh dan menjadi orang yang lebih baik. Satu-satunya yang dia inginkan, satu-satunya yang pernah dia inginkan, adalah menjalani kehidupan yang sederhana, normal, dan reguler, berada bersama keluarganya, menunaikan pekerjaannya, naik tingkat. Tetapi ini terlalu besar. Terlalu besar baginya.
“Tidak,” ia mengulang, sambil menggelengkan kepala.
“Apa maksudmu tidak?” Ben-Roi melangkah maju, matanya berkilat. Khalifa tak mengacuhkannya, kemudian berkata kepada Gulami.
__ADS_1
“Aku seorang polisi. Ini semua ... tidak ada sangkut-pautnya denganku!”
“Ini semua berkaitan denganmu,” desis Ben-Roi. “Tidakkah kau dengar?”
Khalifa tetap mengabaikannya. “Ini bukan tanggung jawabku. Aku tidak ingin menjadi bagian dari ini. Aku tidak ingin terlibat.”
“Tolong, Arieh.” Milan mencoba menyentuh bahu Ben-Roi untuk menenangkan, tetapi ditepisnya.
“Dia pikir dia siapa?!”
“Arieh!”
“Aku tak ingin terlibat. Pikirnya dia siapa, Muslim geblek!” Khalifa menoleh, tangannya mengepal kuat. Dua, mungkin tiga kali dalam seluruh hidupnya ia benar-benar kehilangan kontrol, hilang tak terkendali, dan ini adalah salah satunya.
“Beraninya kau!” Ia mendesis, tidak lagi peduli di mana dan dengan siapa dia berada. “Beraninya kau, Yahudi sombong bajingan!”
“Khalifa!” Gulami dan Marsudi kini sama-sama berdiri.
“Ben-zohna!” teriak Ben-Roi, sambil mendesak maju dan tangan terayun. “Wanita Sialan! Aku akan membunuhnya!” Akhirnya Milan berhasil meraih jaket Ben-Roi dan menariknya kembali. Marsudi melangkah ke depan Khalifa, yang juga sudah bergerak maju, meraih bahunya dan menahannya.
“Lech tiezdayen, zayin!” umpat Ben-Roi, mengacungkan jari tengahnya pada si mesir. “Kparat kau, tolol!”
Berbagai hinaan dan makian terlontar, keduanya saling menegang maju, sebelum akhirnya Gulami membentak, “Khalas! Cukup!” dan keduanya pun terdiam, menarik napas berat. Gulami, Marsudi dan Milan saling melempar pandang, kemudian Menteri luar negeri ini memerintahkan Khalifa meninggalkan ruangan untuk menenangkan diri dahulu. Sembari melempar tatapan tajam meremukkan pada Ben-Roi, Detektif Khalifa berjalan menuju pintu, membukanya dan melangkah keluar, dan menutup pintu itu kembali. Ia bernapas dalam-dalam bersih, tenang, menyegarkan kemudian melangkah ke arah barisan batu hitam bergerigi yang terlihat tiga puluh meter jauhnya. Ia duduk dan menyalakan rokok.
Beberapa menit berlalu, dunia begitu hening. Yang ada hanya bisikan lembut suara angin, langit di atas dihiasi taburan bintang yang tak terhitung, seperti bias cat biru-putih. Sesaat kemudian terdengar suara derit pintu yang dibuka, dan derap langkah kaki di atas jalan berbatu. Seseorang menghampirinya. Marsudi.
“Ezayek?” tanya si Palestina, sambil menyentuh bahu Khalifa.
“Kau baik-baik saja?”
Detektif itu mengangguk “Ana asif,” ia bergumam. “Maafkan aku. mestinya aku tidak....” Tangan Marsudi meremas bahunya untuk menenangkan. “Percayalah padaku, itu belum apa-apa dibanding sejumlah hal yang telah didengar oleh tempat ini selama empat belas bulan terakhir. Ini masa yang sulit. Tak bisa dielakkan pasti akan ada kata-kata kasar.” Marsudi kembali meremaskan tangannya kemudian duduk di samping Khalifa. Mereka terdiam untuk beberapa saat, dunia di sekitar mereka benar-benar tenang ketenangan yang sempurna dan murni yang hanya kau temukan di padang pasir dan puncak gunung yang tinggi kemudian, sambil mengangkat tangannya, Marsudi menunjuk ke langit.
“Kau lihat di sana?” Ia bertanya. “Konstelasi dengan empat bintang bercahaya. Tidak, tiga. Ya, itu dia. Ini yang kita sebut tank. Garis bintang yang ada di bawah, itu adalah jalur lipan, lalu menara kecil, dan di sana, senjata.”
Khalifa mengikuti gerakan jari si Palestina ini, mengamati sembari secara perlahan menyusuri bentuknya, yang, sekarang dia lihat, memang mirip garis kasar sebuah tank.”
“Dan di sana” Marsudi mengayunkan tangannya ke arah konstelasi lain “Kalashnikov. Lihat, ujungnya, gagangnya dan di sebelah sana” ia meraih sikut Khalifa dan memutarnya “Granat: tubuh, lengan, jarum. Di mana pun di dunia ini, jika orang mendongak ke atas maka akan melihat keindahan. Hanya di Palestina kita menengadah ke langit dan melihat objek perang.” Di sisi lain dari padang pasir itu seekor serigala mulai melolong, suaranya berangsur hilang secepat ketika datang. Khalifa mengisap rokoknya dan merapatkan jaket di tubuhnya untuk menahan dingin.
“Aku tidak bisa melakukannya,” ia berbisik. “Maafkan aku, tetapi aku tidak bisa bekerja dengan mereka.” Marsudi tersenyum sedih, sembari menjatuhkan kepalanya ke belakang, menatap malam.
__ADS_1
“Kau pikir aku tak merasakan hal yang sama? Ayahku, ia tewas di penjara Israel. Saat aku berusia sembilan tahun aku menyaksikan saudara laki-lakiku sendiri digilas tank, tepat di depanku. Kau pikir setelah itu aku mau bicara dengan mereka, ke sini dan bernegosiasi? Percayalah, aku punya lebih banyak alasan untuk membenci mereka daripada kau.” Ia terus menatap ke atas, wajahnya pucat seperti mayat dalam cahaya bulan.
“Tapi aku tetap datang ke sini,” ia berkata pelan. “Dan aku tetap bicara dengan mereka. Dan kau tahu? Selama empat belas bulan terakhir ini, Yehuda dan aku, kami telah menjadi sahabat. Kami, yang telah menghabiskan seluruh hidup dengan bermusuhan. Teman baik.”
Khalifa menuntaskan rokoknya dan membuangnya ke dalam kegelapan. Bagian ujung rokoknya masih menyala untuk sesaat seperti ekor cacing sebelum akhirnya menghilang dalam gelap.
“Si Ben-Roi itu,” gumamnya. “Andai saja seseorang yang lain ... Tetapi Ben-Roi ... dia bahaya. Bisa kulihat dari matanya. Semua tentang dia. Aku tidak bisa bekerja bersamanya.” Marsudi memasukkan tangannya ke saku celana.
“Anda punya istri, Inspektur?” Khalifa mengangguk membenarkan.
“Sebenarnya dulu Ben-Roi akan menikah.”
“Terus?”
“Sebulan sebelum pernikahan, tunangannya terbunuh. Dalam bom bunuh diri. Al - Mulatham.”
“Allahu Akbar.” Khalifa menggantungkan kepalanya. “Aku tak tahu itu.” Marsudi mengangkat bahu dan, sambil menarik tangannya keluar dari saku celana, mengangkat jari telunjuk dan jari tengah dan menyentuhkannya pada bibirnya, meminta rokok dari Khalifa.
Si orang mesir ini pun mengeluarkan sebatang dari kotak rokok dan menyulutkannya. Wajah tampan Palestina dan kurus ini sesaat disinari oleh bias pemantik api sebelum tenggelam lagi dalam bayangan.
“Dalam waktu enam hari akan ada pertemuan besar di Yerusalem pusat,” katanya perlahan. “Yehuda dan aku telah memilih pertemuan itu sebagai tempat untuk mempublikasikan apa yang telah kita buat di sini tahun lalu. Kami akan membuat rencana proposal, mengumumkan formasi partai politik baru, partai kerja sama perdamaian gabungan Israel-Palestina, yang akan bekerja agar proposal kita dapat diimplementasikan. Sebagaimana dikatakan Yehuda, ini akan memakan waktu tahunan, generasi demi generasi, dan mengubah segala hal, tapi aku rasa kita bisa melakukannya, aku murni berpikir kita bisa melakukannya. Tapi tidak, jika menorah jatuh ke tangan orang yang salah. Bila itu terjadi, semua yang telah kita kerjakan, semua yang kita harapkan, semua yang kita impikan....” Ia mengisap rokoknya lagi dengan isapan yang lama, dan menatap tanah.
“Bantu kami, inspektur. Dari satu muslim ke yang lain, satu orang ke yang lain, satu manusia ke manusia lain tolong bantu kami.” Apa yang bisa dikatakan Khalifa? Tidak ada. Ia mengeluarkan ******* yang dalam, menggores-gores tanah dengan kakinya, mengangguk tanda setuju. Marsudi kembali menyentuh bahu Khalifa dan melingkarkan lengannya pada bahunya, membimbingnya kembali ke dalam bangunan.
*****_____*****
Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
By the way, Enjoy it
Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta
Thanks in Advanced
Best Regards
__ADS_1
*****