
Laki-laki muda itu memilih jalannya secara hati-hati halaman gedung. Sebuah tas kulit besar yang berat menggantung di tangan kanannya. Ia berhenti beberapa kali untuk memastikan dirinya tidak sedang diamati atau diikuti. Sikap hati-hati yang tidak perlu karena daerah itu telah ditinggalkan sejak lima bulan lalu, lagipula ia merupakan jalan keluar di tepi kota, yang jauh dari area permukiman penduduk mana pun. Ia melewati tumpukan balok, melewati jaringan parit fondasi remuk yang darinya barisan batang besi berkarat diberdirikan seperti pohon muda yang tertiup angin, sebelum akhirnya menjadi kontainer perkapalan besi yang besar pada pusat situs, pintunya diamankan dengan kunci gembok.
Setelah sekali lagi memerhatikan sekeliling, ia mengeluarkan alat pemotong dari tas besarnya, mencongkel gembok untuk membuka pintu, lalu masuk ke dalam. Udaranya panas dan pengap, penuh bau debu dan aspal. Pada sisi sebelah yang lain teronggok setumpuk kain terpal lusuh satu-satunya isi ruangan itu lalu, sembari mendekat ke arahnya, dengan hati-hati dia menyembunyikan tas besar itu di bawahnya, mengatur kembali material itu ke bentuk awalnya sebelum ia keluar lagi dan mengamankan pintu itu kembali dengan kunci gembok yang baru. Ia melemparkan pandangan terakhir ke sekeliling, lalu mengeluarkan satu kunci dari sakunya. Kemudian dia menggali dan menguburkan kunci itu di pasir pada sudut kiri depan kontainer, sebelum menegakkan badan dan kembali dengan tergesa-gesa menuju situs. Ujung tali ikatannya melambai-lambai dari bawah kemeja seperti tentakel anenome melambai di arus yang kuat.
TAKTIK PENYADAPAN
Har - Zion berada di sebelah telepon ketika benda itu berdering, menatap keluar melalui jendela apartemennya sambil mengoleskan salep pada lengan dan dadanya. Ia membungkuk dan mengangkat gagang telepon, sembari agak mengernyit sebagaimana biasanya bahkan setelah diolesi krim pun kulitnya terlihat seperti semakin kencang dalam beberapa bulan terakhir ini menjawabnya dengan “Ken” singkat dan kemudian mendengarkan dengan tenang suara di ujung sana. Secara perlahan dan bertahap ekspresi rasa sakit yang telah membuat mulutnya berkerut ketika ia membungkuk tadi berangsur berubah dengan sendirinya, pertama menjadi tarikan yang terkonsentrasi, kemudian sebuah senyuman.
“Siapkan Cessna,” katanya akhirnya. “Dan katakan pada orang-orang di bandara, kita perlu menanam alat pelacak, hanya untuk memastikan. Tunggu aku di bawah dalam dua puluh menit. oh ya, Avi, aku ikut. Aku pasti ikut.”
__ADS_1
Ia menutup telepon, menuangkan lebih banyak salep ketangannya kemudian secara perlahan mengoleskannya dengan memutar pada perutnya, sembari menatap Kota Tua di bawah sana, dengan sejumlah kubah dan menaranya, serta terlihat juga, Dinding Barat yang panjang. Untuk sesaat, sangat sebentar, ia membiarkan dirinya melamun: tentara, tentara besar, semua anak-anak Tuhan, Israel bergabung menjadi satu, berbaris melewati Dinding dengan Menorah di kepala mereka sebelum mendekati Bukit Kuil dan merobek wilayah Arab. Kemudian, sembari menutup botol itu kembali, ia berjalan memasuki kamar tidurnya untuk bersiap-siap.
*****_____*****
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua, Di Terlantarkan, Penghianatan dan balas dendam serta Ambisius, pertualangan berskala besar….”
“Pertualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) Agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri.”
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
__ADS_1
By the way, Enjoy it
Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta
Thanks in Advanced
Best Regards
*****
__ADS_1