
Di jantung wilayah Yahudi di Kota Tua, di bagian selatan Cardo, dalam pameran untuk umum, di dalam lemari kaca berjalin yang tebal, tersimpan menorah Emas Enam Cabang lengan yang melengkung ke atas dari batang tengahnya, tiga pada sisi yang satu dan tiga pada sisi yang lain, semuanya menjulur, seperti pohon, dari dasar segi enam yang bertingkat. Inskripsi yang tertera menjelaskan bahwa ini adalah replika yang paling persis dengan menorah asli, menorah yang sebenarnya, menorah yang dibuat oleh si pengrajin emas yang hebat, Bezalel, yang replika pertamanya dibuat sejak runtuhnya Kuil dua ribu tahun lalu.
Dengan bergantinya siang dan malam mulai turun di sekitarnya, Baruch Har - Zion berdiri di depan reproduksi ini dan, sambil melemparkan kepalanya ke belakang, tertawa-tawa kebahagiaan dan kegembiraan yang dalam, panjang, dan bergetar, seakan ia telah berpikir bahwa ia tidak akan membuka rahasia lagi. Baru tadi malam ia bersembahyang untuk memohon sebuah tanda, sejenis dukungan bahwa apa yang telah dia lakukan adalah sesuatu yang benar, bahwa semua darah dan kengerian memang diperlukan.
Dan sekarang saatnya sudah datang. Jelas, tajam, tidak ambigu. Menorah yang sejati. Setelah berabad-abad ini. Dan baginya sudah terungkap, baginya, bagi semua orang. Ia tidak dapat berhenti tertawa. Di belakangnya, Avi pengawal pribadinya melangkah mendekati.
“Apa yang akan kita lakukan?” Har - Zion mengangkat tangannya yang tertutup sarung dan menyentuhkan jarinya ke layar kaca, tawanya secara bertahap meredup.
“Tidak ada,” jawabnya. “Belum ada. Kita tunggu, kita lihat. Mereka pasti tidak tahu apa yang kita tahu. Belum.” Avi menggelengkan kepalanya. “Aku sukar percaya. Aku masih tidak percaya.”
“Itulah yang dikatakan mereka semua, Avi semua yang dipanggil oleh Tuhan. Ibrahim, Musa, Ilyas, Yunus mereka semua awalnya ragu. Tetapi ini suara-Nya. Tuhan telah mengungkapkan hal besar ini. Dan Ia tidak akan mengungkapkan ini kalau saja Ia tidak mengizinkan hal itu terjadi pada kita. Ini adalah tanda, isyarat. Inilah waktunya. Kita diberkahi, karena di masa kita sekarang ini kita akan melihat Kuil itu bangkit lagi.” Ia memutar bahunya, kulitnya mengencang di balik bajunya, dan bangkit mendekati layar. Siapa yang pernah memikirkan hal ini? Siapa yang pernah membayangkannya? entah bagaimana ia selalu tahu. Ia adalah dia yang telah dipilih. Penyelamat rakyatnya.
Dan kini yang harus dilakukannya hanyalah menunggu dan melihat. Biarkan Ben-Roi menelusurinya. Dan kemudian, ketika itu ditemukan ...
“Terima kasih, Tuhan,” ia berbisik. “Aku tak akan gagal. Ani Mavtiach. Aku berjanji. Aku tidak akan gagal."
*****
__ADS_1
PENYEKAPAN DETEKTIF KHALIFA
“Kau berutang padaku lima belas pound. Kau mau yang lain?” Sebagai jawaban, Khalifa menghabiskan sisa teh dan berdiri, menutup kotak backgammon, memberi tanda bahwa tidak, ia tidak ingin permainan yang lain.”
“Penakut,” kata Ginger, sambil mengisap pipa shishanya.
“Selalu begitu, dan akan selalu begitu,” jawab Khalifa, sambil membuka dompetnya dan menghitung kekalahannya. “Walaupun sekarang aku tidak kalah darimu, aku khawatir sudah terlambat pulang untuk Zenab. Dia sedang memasak dan aku berjanji padanya akan sampai di rumah jam delapan.”
Temannya mengembuskan asap tembakau dengan aroma apel dan, sembari menjulurkan ibu jarinya lalu membalikkan dan memutarnya di permukaan meja, mengindikasikan bahwa Khalifa berada “di bawah kendali seseorang”. Terdengar gelak tawa keras dari teman-teman lain yang sedang duduk di sekitarnya.
Pengabdian detektif ini pada istrinya sudah menjadi pengetahuan umum, dan ’hiburan’ yang umum.
“Khalifa si penakut,” sambung yang lain.
“Kalau siang si anjing galak,” kata yang ketiga, “kalau malam....”
“Tikusnya Zenab!” semua menjawab serempak, dibarengi dengungan kata-kata yang berseliweran.
__ADS_1
Khalifa tertawa. hal seperti itu tidak pernah mengganggunya, ledekan yang alamiah ini, dan sebenarnya ia agak menikmati dan menyenangi malam ini, yang menjadi tanda bahwa ia sudah kembali ke kehidupan normal setelah semua kehebohan selama dua minggu terakhir. Ia menyerahkan uang pada Ginger untuk kemenangannya ia tidak ingat terakhir kali ia bermain backgammon dengan temannya dan menang dan, sambil mengatakan pada setiap orang agar menenggelamkan diri mereka di Sungai Nil, Khalifa mengambil dua tas plastik yang ia sandarkan di kaki kursinya dan meninggalkan kafe, serentetan ledekan mengikutinya sejauh dua puluh meter setelah di jalan sebelum larut ke dalam hiruk-pikuk pasar malam.
Perasaannya enteng dan senang. Asyik. Lebih baik daripada apa yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun, seolah beban berat telah terangkat dari bahunya. Ia menyerahkan laporan terakhirnya kepada Chief Hasani, mengirim semua barang tentang menorah ke si Israel, yang dapat menggunakannya untuk apa pun keperluannya, dan kini ia sedang menuju Zenab dan anak-anak dengan tas penuh berisi brosur penginapan Laut merah di hurghada. hanya ada satu catatan penuh pertentangan: ketika ia meminta Hasani mengantarkan salinan laporan kasus itu ke Chief Mahfudz, atasannya ini memberi tahu bahwa laki-laki tua itu sudah meninggal dunia larut malam lalu. Kabar itu membuat Khalifa sedih, walaupun tidak begitu terlihat. Seperti yang dikatakan Mahfudz itu sendiri, paling tidak dia akan mati dengan pengetahuan bahwa ia telah melakukan hal yang benar pada akhirnya.
Khalifa berhenti untuk menyapa mandur si penjual Kaos, seorang laki-laki sintal dengan penglihatan tidak sempurna yang kebiasannya mengejar pelanggan ke sana-sini di jalan itu memuji kebaikan barang jualannya hampir menjadi atraksi turis tersendiri, kemudian melanjutkan perjalanannya, sambil mengayun tas di sisinya, dan berpikir tentang pantai, ombak, dan yang paling asyik, Zenab dalam pakaian renang Tuhan, alangkah serunya. Sebelum ia sadar dirinya sudah berdiri di luar blok apartemen abu-abu, tempat tinggalnya, satu dari barisan blok yang sama sepanjang tepi kota bagian utara seperti sebuah garis batu monolit berbintik- bintik.
Ia berhenti sejenak untuk menyelesaikan rokoknya, kemudian menaiki tangga menuju lantai empat dan, setenang yang ia bisa, memasukkan kunci ke pintu apartemennya. Ia tidak membuka pintu itu segera.
Malah, ia tetap meninggalkan kunci tergantung, ia membuka sepatunya, berjongkok dan, merogoh salah satu tas plastik, mengeluarkan sepasang flippers karet murah, yang ia masukkan ke kakinya, kemudian masker diving dan snorkel, dan mengenakan nya di wajah dan mulutnya. Kemudian ia masuk ke apartemennya, hampir tidak dapat mengendalikan diri dari kegembiraannya membuat lelucon yang sedang ia mainkan.
“Tsonly ee,” ia berkata, kata-katanya terganggu oleh benda karet yang terselip di bibirnya. “Aku iba!” Tidak ada jawaban. Ia melangkah ke ruang tengah, sambal bertanya-tanya ke mana penghuni rumah.
“Aku iba!” ia mengulang, lebih keras.
“Penyelam laut dalam sudah naik ke permukaan!” masih belum ada jawaban. Ia melongok ke ruang dapur kosong kemudian menuju ke air mancur di tengah lantai dan berjalan seperti bebek, menuju ruang keluarga di bagian dalam flat, tersentak oleh pikiran tiba-tiba bahwa barangkali mereka sedang mempermainkan dirinya. Lucu sekali! Pintu menuju ruang tengah terbuka sedikit dan, berhenti sesaat untuk membersihkan maskernya yang berembun, ia mendorongnya dan melangkah masuk, membuat gerakan dengan tangannya yang ia harapkan akan terlihat seperti perenang laut dalam.
“Wow, sungguh luar biasa di bawah sini dengan semua ikan dan....”
__ADS_1
Kata-katanya terhenti. Zenab, Ali dan Batah semuanya sedang duduk di sofa, wajah mereka pucat, ketakutan. Di seberangnya, dua orang pria, yang satu duduk, yang lain berdiri, dalam setelah abu-abu. Jaket yang berdiri agak terbuka sedikit memperlihatkan, tidak salah lagi, pistol heckler dan Koch. Jihad Amn al-Daulah.