Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
OTOPSI JENASAH


__ADS_3

DR IBRAHIM ANWAR, Kepala Ahli Penyakit di Rumah Sakit Luxor, memiliki banyak kebiasaan buruk, belum termasuk penolakannya untuk diganggu oleh urusan pekerjaan di tengah-tengah permainan seru domino. hasrat Anwar terhadap apa yang ia sebut “papan permainan para dewa” itu telah menunda banyak investigasi selama bertahun-tahun dan ini terjadi juga pada kasus Jansen. Ia telah melakukan pemeriksaan awal terhadap mayat yang ditemukan di Malqata itu dan mengirimkannya kembali lewat sungai ke Morque di luar Luxor General. Alih-alih melakukan otopsi pada sore yang sama, seperti yang diharapkan Khalifa, sang ahli penyakit ini malah menundanya agar dia tidak ketinggalan berpartisipasi dalam kompetisi domino antardepartemen. Walhasil, sudah hampir siang bolong pada keesokan harinya saat dia akhirnya menelepon kantor kepolisian dan mengabarkan sudah ada hasil otopsi.


“Urusan waktu,” kata detektif, sambil mematikan rokok kelima belas dengan marah ke dalam asbak yang sudah penuh.


“Sebenarnya aku berharap mendapatkan hasil ini tadi malam.”


“Semua hal baik diberikan bagi mereka yang sabar menunggu,” kata Anwar dengan muka ceria, tertawa geli. “Bagaimanapun juga, ini kasus yang menarik. Sangat ... menggelitik pikiran. Tapi sekretarisku baru saja menyelesaikan pengetikan laporan ini. Aku bisa mengirimkannya padamu atau kau yang datang ke sini dan mengambilnya sendiri. Terserah kau.”


“Aku akan datang,” kata Khalifa, karena maklum bahwa bila diserahkan pada Anwar, ia mungkin harus menunggu lagi berhari-hari sampai laporan itu ada di tangannya.


“Tolong katakan saja apakah itu kecelakaan atau perbuatan jahat.”


“Oh, jelas-jelas perbuatan jahat,” jawab si ahli penyakit ini.


“Benar-benar curang dan keji, walaupun barangkali tidak seperti yang kaubayangkan.”


“Apa pula maksudnya itu?”


“Katakan saja ini seperti sebuah cerita yang rumit, dan sebuah kisah dengan sedikit sengatan di bagian akhirnya. Cepatlah kemari dan semua akan terungkap. menurutku nanti kau akan menganggap ku telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam kasus ini, Khalifa. Benar-benar hebat.” Detektif itu mengeluarkan ******* jengkel dan mengatakan pada Anwar bahwa ia akan sampai di rumah sakit dalam dua puluh menit, tunggu saja. muhammad Sariya masuk ke dalam kantornya.


“Si ahli penyakit sialan itu,” gerutu Khalifa. “Sialan betul.”


“Sudah selesai dengan otopsinya?”


“Baru saja. Laki-laki itu tidak bisa bergerak lebih lambat lagi jika ia adalah seekor kura-kura sialan. Aku akan mengambil laporan itu sekarang. Ada kemajuan?” Ketika Khalifa berada di kantornya menunggu panggilan telepon dari Anwar, Sariya telah menghabiskan pagi harinya melanjutkan apa yang telah ditemukan atasannya di rumah korban pada malam sebelumnya.


“Tidak banyak,” jawabnya, sambil mendatangi meja Khalifa dan duduk di kursi kerja. “Bank mesir telah mengirim faksimili salin an pernyataannya selama satu jam terakhir dan aku telah pergi ke perusahaan telepon untuk mendapatkan rincian sambungan telepon yang dilakukannya dalam periode yang sama. Aku juga telah berusaha menelusuri pengurus rumah tangganya.”


“Ada sesuatu?”


“Tentang cara terbaik memasukkan molochia lebih daripada yang dapat kau ketahui. Tentang Jansen, hampir tidak ada. Pengurus itu datang selama beberapa jam, dua kali seminggu, bersih-bersih, belanja untuk tuannya. Jansen memasak sendiri. Ternyata dia tidak pernah pergi ke gudang. Tidak diperbolehkan.”


“Wasiatnya?” tanya Khalifa. “Apa kau berbicara dengan para pengumpul dermanya?”


Sariya mengangguk. “Dia secara pasti telah melakukannya karena para pengumpul dermanya menyaksikan. meskipun demikian, dia tidak punya salinannya. Katanya Jansen memegang satu untuk dirinya sendiri dan memberi yang lain untuk temannya di Kairo.” Khalifa mendesah dan berdiri, meraih jaketnya dari sandaran kursi.


“Baiklah. Kita mulai mempelajari latar belakang Jansen, bagaimana? Berapa lama dia telah menetap di mesir, sebelumnya dari mana dia berasal, apa yang dia lakukan ketika menetap di Iskandaria. Apa pun yang dapat kau gali. Ada sesuatu yang salah dengan laki-laki ini. Paling tidak, ada sesuatu yang tidak benar. Aku dapat merasakannya.”


Ia mengenakan jaketnya dan berjalan. Begitu sampai di pintu, ia berbalik.


“Ngomong-ngomong, kau belum menemukan dari mana asal nama Arminius itu, ’kan?”


“Sebenarnya sudah,” kata Sariya, tampak senang. “Aku melakukan pencarian melalui internet.”


“Dan?”


“Sebenarnya itu adalah seorang laki-laki Jerman kuno. Pahlawan nasional, sebenarnya.” Khalifa menjentikkan jari-jarinya tanda mengenali informasi tersebut.


“Aku tahu. Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Kerja bagus, muhammad. Sangat bagus.” Ia melangkah menuju pintu dan menuruni koridor, tangan dimasukkan ke dalam saku celana, sembari bertanya-tanya mengapa di bumi ini ada seseorang dari Belanda mau menamakan anjingnya pahlawan nasional Jerman.


Benar saja, Anwar tidak ada di kantornya begitu Khalifa tiba lima belas menit kemudian. Ketika seorang suster berseragam hijau pergi mencarinya, detektif itu berdiri di dekat jendela memandangi halaman rumah sakit di bawah, tempat sekelompok pekerja sedang menggali parit di sepanjang halaman rumput. Ritme suara cangkul menggema sampai ke telinga. Paru-parunya sakit karena rokok, tapi itu masih bisa dia tahan. Anwar benar-benar anti-rokok. Dan sakit paru-paru, betapapun tak nyamannya, jauh lebih baik daripada salah satu kuliahnya, “Bila Anda ingin meracuni diri Anda sendiri silakan saja tapi jangan lakukan itu di dekatku”. Ia malahan menggigiti kukunya dan membuka jendela, bertopang dagu dengan sikutnya pada kusen jendela, sembari mengamati seorang bocah sedang mengejar kupu-kupu di seputar area parker mobil rumah sakit.


Ada yang salah di sini. Ia mencoba berkata pada dirinya sendiri bahwa ia sedang membayangkan banyak hal, membaca situasi terlalu banyak, tetapi tidak ada perbedaan. Setiap elemen kecil, masing-masing pecahan gambar tongkat korban, kebenciannya pada bangsa Yahudi, rumah di sisi Kuil Karnak, topi berbulu yang aneh semuanya menambah kegelisahan dalam dirinya, sehingga apa yang awalnya berupa rangsangan samar tentang ketidakpastian kini telah berkembang menjadi kepanikan korosif yang terasa menyakitkan bagian dalam lambungnya.


Memang, ia selalu mengalami dorongan adrenalin pada permulaan kasus, kerja pikiran yang terlalu berat karena berjuang menguasai semua elemen masalah dan menatanya menjadi pola- pola yang dikenal. Namun, hal ini berbeda, karena apa yang menjadi masalah baginya bukanlah semata penyelidikan yang sedang ia lakukan, melainkan lebih pada hal sebelumnya, bertahun-tahun lalu, tepat pada awal karier kepolisiannya. Sebuah pembunuhan, yang pertama ia tangani, urusan yang mengerikan dan brutal. Schlegel.


Demikian nama perempuan itu. hannah Schlegel. Seorang Israel.


Yahudi. Kasus yang mengerikan. Dan kini, tiba-tiba saja, entah dari mana ... bergema kembali. Tidak ada yang konkret. Tidak ada yang dapat ia pegang dengan segala kepastian. hanya kebetulan, kilas sementara dalam kegelapan masa lalu. Tongkat, pembeci Yahudi, Karnak, bulu-bulu—kata-kata itu terus ber dengung di telinganya seperti mantra, membor, masuk ke dalam tengkoraknya.


“Ini gila,” ia berkata pada dirinya sendiri, sambil menggigiti kuku ibu jarinya. “Saat itu, lima belas tahun yang lalu, demi Tuhan. Selesai sudah!”

__ADS_1


Namun, bahkan ketika ia menyatakannya, ia merasa bahwa ini belum selesai sama sekali. Sebaliknya, ia memiliki perasaan tak menyenangkan bahwa sesuatu baru saja dimulai.


“Sialan kau, Jansen,” gumamnya. “Sial kau mati dengan cara seperti ini.”


“Sentimenku pastinya,” kata suara di belakangnya. “Walaupun bila dia tidak mati aku tidak akan memiliki kepuasan membongkar kasus ini untukmu.”


Khalifa berbalik, kesal karena pikirannya terganggu. Anwar sudah berdiri di pintu memegang gelas beruap.


“Aku tidak mendengarmu.”


“Aku tidak heran,” kata si ahli penyakit. “Kau seolah berada bermil-mil jauhnya dari sini.” Ia menyeruput minumannya dan mengangkat gelas, sembari melihat warna cairan kuning pucat di dalamnya.


“Yansoon,” katanya sambil tersenyum. “Yang terbaik di Luxor. Salah satu ibu asrama membuatkannya untukku. zat yang luar biasa. Sangat menenangkan. Kau harus mencobanya.” Ia berkedip pada Khalifa, kemudian menuju mejanya dan duduk. Seraya meletakkan gelas pada satu sisi, ia mulai menangani tumpukan pekerjaan kertas di depannya.


“Sekarang, di mana aku meletakkan benda itu? Aku sudah ... ah, ini dia!” Ia duduk kembali, sembari mengacungkan dokumen ketik yang tipis.


“Laporan temuan otopsi Tuan Piet Jansen,” katanya, membaca judul pada bagian atas dokumen. Kemenangan lain Anwar. Ia melihat ke arah Khalifa, sembari tersenyum menyeringai. Detektif itu merogoh sakunya untuk mengambil beberapa batang rokok, tetapi ia menghentikan gerakan tangannya, dan malah meletakkan tangannya pada pinggiran jendela.


“Lanjutkan,” katanya. “Ceritakan seluruhnya padaku.”


“Dengan senang hati,” kata Anwar, duduk di kursinya. “Untuk memulainya, aku bisa mengatakan bahwa laki-laki ini dibunuh.” Khalifa agak memajukan tubuhnya.


“Aku juga dapat mengatakan padamu bahwa aku cukup pasti mengetahui identitas pihak yang bersalah. mereka, aku curiga, bertindak untuk mempertahankan diri, walaupun itu sama sekali tidak mereduksi besarnya kejahatan, juga kenyataan bahwa Jansen mati dalam kematian yang tak menyenangkan dan sangat menyakitkan.” Anwar berhenti sejenak untuk memberi efek dramatis. Dia telah mempelajari hal ini, pikir Khalifa.


“Sebelum aku mengungkapkan nama pembunuhnya, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali bagaimana tepatnya keadaan saat jasad Jansen ditemukan.” Khalifa membuka mulutnya untuk mengatakan bahwa ia mengingat keadaan dengan sangat baik dan sempurna, tetapi urung karena pengalaman panjang bahwa Anwar akan melakukan sesuatu dengan caranya sendiri. Betapapun banyaknya keluhan dilontarkan Khalifa, itu tidak akan dapat mengubahnya.


“Terserah kau,” gumamnya, sambil menggerakkan tangannya, pasrah.


“Terima kasih. menurutku kau tidak akan kecewa.” Si ahli penyakit ini meneguk minumannya kembali dan menurunkan gelasnya.


“Jadi,” lanjutnya, “kejadiannya begini. Jasad laki-laki ini, kau pasti ingat, ditemukan terbaring dengan wajah tertelungkup ke lantai dalam keadaan yang agak tidak enak dipandang, sebuah paku besi menghunjam kantong mata kirinya. Seperti juga trauma yang kuat pada tulang zygomatic, sphenoid dan lachrymal, dan ke seluruh sisi kiri otak cerebrumnya, terus terang saja, seperti semangkuk terong yang dilumatkan ia juga menderita luka gores cukup besar pada bagian kanan tengkorak kepala, sedikit di atas


Ia menyeruput sisa terakhir yansoon-nya dan, dengan sedikit bersendawa, meletakkan gelas itu di pinggir meja.


“Tiga meter dari jasad itu,” lanjutnya, “terlihat tanda adanya gangguan pada permukaan padang pasir, seperti telah berlangsung adegan perkelahian tertentu, dan juga batu dengan bekas darah pada satu ujungnya. Dua ratus meter dari situ, tas dan tongkat korban ditemukan di samping bagian dinding berbata lumpur yang dipenuhi gambar, sehingga ia terbukti sedang dalam proses membongkar. Untuk mencapai ini tampaknya ia melepaskan balok batubata dengan palu dan pahat, kemudian berusaha menariknya dengan tangannya, maka ada bekas lumpur pada kukunya.” Anwar kemudian meletakkan kedua sikunya di atas meja dan menyatukan tangan di depannya.


“Cukup banyak setting kejadian tadi. Pertanyaannya adalah bagaimana semua bagian yang berbeda dari gambar ini sebenarnya berhubungan satu dengan yang lain?” Lagi-lagi, tangan Khalifa, seolah bagian yang terbebas dari bagian tubuh lain, merogoh rokoknya. Dan kembali ia menahannya pada menit terakhir, lalu memasukkannya lagi ke saku pantalonnya.


“Ya, katakan saja.”


“Tentu saja akan kuungkapkan,” jawab Anwar. “Mari kita lihat masing-masing potongan gambar ini secara terpisah, bagaimana? Pertama, paku logam. Luka yang disebabkan olehnya tentu saja fatal. Namun, ini bukan penyebab kematian. Atau, Jansen pasti akan mati bagaimanapun juga, terlepas dari apakah ia telah jatuh atau tidak di atasnya.” Mata Khalifa menyipit. Terlepas dari keinginannya, ia mulai tertarik.


“Teruskan.”


“Luka gores pada sisi kepala seperti ikan haring merah. Ini pasti disebabkan batu dengan noda darah. Namun ini tidak mungkin membahayakan bahkan pada orang setua dan selemah Jansen. Tidak ada luka atau kerusakan pada tengkorak di bawahnya, dan tidak ada luka memar yang signifikan. Itu hanya luka pada daging saja, tidak lebih.


“Jadi, bila dia tidak mati karena ada hantaman pada kepala, dan dia juga tidak mati karena otaknya tertancap paku, lalu bagaimana dia mati?” Anwar menepuk dadanya.


“Myocardial infarction....”


“Apa?”


“Serangan jantung. Laki-laki ini mengalami trombosis coroner yang masif dan serangan jantung lanjutannya. Bisa jadi dia sudah mati sebelum tertancap paku.” Khalifa maju selangkah.


“Jadi apa yang hendak kau katakan? Seseorang mengetuk kepalanya dengan batu dan jantungnya menyerah?” Si ahli penyakit ini menyeringai, menikmati permainan.


“Tidak ada yang mengetuk kepalanya dengan batu. Luka gores itu hanyalah kecelakaan.”


“Tapi kau bilang dia dibunuh.”


“Ya memang.”

__ADS_1


“Lalu bagaimana?”


“Dia diracun.” Khalifa menghantamkan tangannya pada dinding dengan rasa marah.


“Sialan, Anwar, apa yang sebenarnya mau kau katakan?”


“Persis seperti apa yang telah kukatakan. Pembunuh Piet Jansen meracuni dia, dan racun itu, secara langsung atau tidak, menjadi pemicu terjadinya serangan jantung yang kemudian mematikan laki-laki malang ini. Aku tak dapat menguraikan persoalan ini lebih jelas lagi. Apa yang masih belum kau mengerti?” Khalifa menggertakkan giginya, memutuskan tidak terprovokasi nada menggurui si ahli penyakit ini.


“Dan siapa persisnya yang berperan sebagai pemberi racun misterius ini?” tanyanya, sambil mencoba mempertahankan suaranya.


“Kau bilang kau tahu siapa dia.”


“Oh, tentu saja,” kata Anwar, dengan menahan tawa. “Aku yakin sekali.” Lagi-lagi, ia berhenti sejenak untuk memberi efek dramatis.


Kemudian, sambil menyorongkan tubuhnya, ia menghadapkan telapak tangannya ke atas. Ia melipatnya menjadi sebuah kepalan, meluruskan jari telunjuk dan, dengan gerakan mengentak tajam, ia menarik jarinya lagi.


“Nama penjahatnya,” ia menyebutkannya dengan penuh isyarat, “adalah Tuan Akarab.” Ia mengulang gerakan mengentak yang aneh, menancapkan jari tengahnya ke permukaan telapak tangan.


“Akarab,” ulang Khalifa, sambil melongo. “maksudmu....” Si ahli penyakit tersenyum. “Tepat sekali. Teman kita Jansen ini disengat akarab. Kalajengking.” Ia meliuk-liukkan jarinya, meniru gerakan ekor kalajengking dan terjatuh ke belakang kursinya, sambil tertawa terbahak-bahak.


“Sudah kubilang ini kisah tentang sengatan di ekor,” katanya.


“Tunggu saja sampai aku mengatakan pada anak-anak tentang hal ini. Kisah tentang Peracun malqata! Atau harus kah itu ekor dari Peracun malqata? ha, ha, ha!”


“Lucu sekali,” Khalifa menggerutu, menyunggingkan senyum yang dipaksakan. “Aku menduga pembengkakan pada bagian bawah ibu jarinya adalah....”


“Tempat ia disengat,” kata Anwar, sambil mencoba mengatur napasnya. “Tepat sekali. menilai dari warna dan luas sengatannya, tampaknya ini sengatan yang cukup kuat. Kalajengking dewasa, bukan anaknya. Sakit bukan kepalang.” Ia kemudian berdiri dan, masih tetap tertawa, berjalan menuju tempat cuci tangan di sudut ruangan, memutar tombol air dingin dan menuangkan air minum ke dalam cangkir.


“Dugaanku, secara kasar kejadiannya seperti ini. Jansen pergi ke malqata untuk mencuri beberapa batu lumpur yang sudah dihias. Ia melonggarkan satu batu lumpur dengan palu dan pahatnya, kemudian merogoh ke dalam lubang untuk mencopotnya dan... bang! Tersengat Tuan Kalajengking. Saking sakitnya, dia tidak sempat memukirkan tas serta palunya dan terhuyung-huyung melangkah ke mobilnya. mungkin untuk mencari pertolongan.


Setelah beberapa ratus yard, sengatan itu menyebabkan serangan jantung yang mematikan. Ia pun tersungkur, tangan dan lutut serta kepalanya menghantam batu. Walaupun, bisa juga dia baru mengalami serangan jantung setelah jatuh. Atau, dia tertatih-tatih dan akhirnya berhasil berdiri, meneruskan berjalan beberapa meter lalu tersungkur lagi. Kali ini bola matanya menghunjam pasak dan... selamat tinggal Tuan Jansen!” Khalifa mencerna urutan peristiwa itu dalam kepalanya. Ia merasa terganggu dengan keentengan Anwar dalam menyelesaikan kasus ini. meskipun demikian, melegakan juga. Tidak ada pembunuhan berarti tidak ada investigasi kriminal, dan walaupun barang antik di dalam gudang milik Jansen jelas-jelas perlu dilihat lebih jauh, rasanya tidak ada perlunya mengurusi terlalu dalam masa lalu laki-laki itu. Ini merupakan kabar baik, karena bila ia jujur dengan dirinya sendiri, Khalifa merasa takut dengan apa yang


mungkin akan ia temui dalam masa lalu itu.


“oh, baiklah,” katanya, sambil mengeluarkan keluhan yang dalam, “paling tidak sudah cukup menjelaskan.”


“Ya, memang seperti itu,” kata Anwar, seraya menghabiskan isi gelasnya dan kembali ke mejanya, tempat ia mengambil laporan otopsi dan menyerahkannya pada Khalifa. “Semua ada di situ, bersama beberapa observasi kecil lain, siapa tahu kau tertarik.” Khalifa membalik-balikkan halaman.


“Observasi macam apa?”


“Oh, hanya pemeriksaan medis umum. Di satu sisi, ia menderita kanker prostat yang sudah lanjut. mungkin hanya bisa bertahan hidup beberapa bulan lagi. Dan ada banyak jaringan tua yang rusak pada lutut kirinya, yang mungkin menerangkan mengapa dia menggunakan tongkat. Ia juga berbohong tentang usianya. Paling tidak pada kartu identitasnya.” Khalifa memandangnya penuh tanda tanya.


“Aku akui, aku memang tidak ahli dalam hal ini,” kata Anwar.


“Tetapi menurut KTP, ia lahir pada 1925, yang artinya sekarang dia berusia 80 tahun. Kalau melihat keadaan gigi dan gusinya, aku bertaruh dia paling tidak sepuluh tahun lebih tua dari itu. memang tak mengubah apa pun, tapi kupikir aku harus menyatakan ini.” Khalifa mempertimbangkan hal ini untuk sesaat, kemudian dengan anggukan, menyelipkan laporan ke saku jaketnya dan menuju pintu.


“Kerja bagus, Anwar,” katanya. “Aku benci mengatakan ini, tetapi aku benar-benar terkesan.” Ia tiba di muka pintu, dan baru hendak melangkah ke dalam gang ketika Anwar memanggilnya.


“Satu hal yang lucu!” Khalifa membalikkan tubuhnya.


“Aku tidak mau repot menuliskan ini di dalam catatan, juga rasanya tidak relevan terhadap apa pun, tetapi teman kita satu ini menderita syndactylisme pada kaki.” Detektif itu kembali beberapa langkah. Wajahnya tampak bingung.


“Apa artinya?”


“Pada dasarnya, ini adalah penggabungan bawaan dari jari-jari kakinya. Sangat jarang. Dalam istilah orang awam, laki-laki itu memiliki kaki yang seperti jaring. Ia seperti....”


“Katak.” Tidak ada rona apa pun pada wajah Khalifa. mukanya pucat.


“Kau baik-baik saja?” tanya Anwar. “Tampangmu seperti baru saja melihat hantu!”


“Memang,” bisik detektif itu. “Namanya hannah Schlegel dan aku sudah melakukan sesuatu yang mengerikan. Benar-benar mengerikan.”

__ADS_1


__ADS_2