
Saat meninggalkan Labirin yang kacau di kota tua, lewat dibawah dindingnya dan kembali ke dunia luar, pertemuan di sinagog tampak surut dalam pikiran Khalifa seperti kabut dini hari yang terhapus sinar hangat mentari. Begitu ia sampai di stasiun metro, ia sudah harus bergulat untuk mengingat detail interior sinagog dan penampilan laki-laki yang ia temui di sana; dan ketika ia kembali ke Al-Maadi berjalan perlahan di sepanjang jalan yang dipagari pohon di kiri dan kanannya, menuju blok apartemen suami-istri Gratz, ia secara murni mulai bertanya-tanya apakah semua hal itu bukan sekadar mimpi atau lamunan yang terelaborasi. hanya mata sebiru safir yang tembus pandang dan lampu bercabang tujuh yang membuat penasaran, yang tetap hidup dalam ingatannya dengan sisa-sisa kejelasan. Bahkan, semua itu terlempar jauh ke lubuk kesadarannya ketika, di sudut jalan ia melihat mobil polisi dan ambulans berkumpul di depan gedung apartemen milik Gratz.
Sudah barang tentu ada lusinan penghuni lain di blok itu, tetapi ia serta-merta tahu, secara insting Detektif, bahwa teman Piet Jansenlah yang menjadi fokus bagi kerumunan ini. Ia menerobos kerumunan itu.
“Ada apa?” ia bertanya sambil mendekati polisi dan memperlihatkan identitasnya pada penjaga berseragam di sana.
“Penembakan,” jawab laki-laki itu. “Dua orang tewas.”
“Oh Tuhan! Kapan?”
“Beberapa jam lalu, mungkin lebih. Aku tak tahu pasti. Aku juga baru tiba di sini.” Merutuki dirinya sendiri karena tidak mengantisipasi hal seperti ini, Khalifa pun menyelusup masuk lewat bagian bawah pita polisi dan, dengan patung horus kayu masih dalam genggamannya, ia bergegas memasuki gedung dan naik ke lantai tiga.
Flat Gratz penuh orang pejabat dengan pakaian sehari-hari. fotografer, petugas forensik dalam setelan putih dan sarung tangan karet udara dipenuhi suara omongan yang terputus-putus pelan yang selalu hadir dalam suasana seperti ini, sebagian ingin tahu, sebagian gugup. Ia bertanya siapa polisi yang bertugas memimpin penyelidikan, lalu ditunjuki jalan ke arah pintu sekitar separuh jalan sepanjang ruang yang kabur karena sinar kamera yang hidup mati. Ia mendesak masuk, dan setelah keraguan kedua “Ini salahku,” pikirnya, “Aku yang menyebabkan ini,” ia masuk ke dalam.
Laki-laki itu sedang di kamar tidur dengan tempat tidur besar di sudut ruangan, dinding di belakangnya terkena bercak darah kental. Tempat tidur itu sendiri ditutupi sesuatu yang awalnya di kira Khalifa sehelai kain, tetapi sejenak kemudian ia sadari sebagai bendera merah besar dengan logo swastika tertera di bagian tengah. Bendera ini juga terperciki darah dan sesuatu yang mirip potongan daging atau kulit. Permukaannya tertekan dan kusut, seakan-akan pernah ada orang yang berbaring di atasnya. masih terasa ada bau samar peluru tak berasap di udara asam, korosif dan bau lain yang tidak dapat dikenalinya, seperti kacang kenari terbakar. Tas hitam tergeletak di sisi tempat tidur, halus, bersinar, seperti serangga raksasa.
“Siapa Anda?” Seorang laki-laki gemuk berjenggot, detektif yang memimpin penyelidikan bila dilihat dari caranya, sedang memerhatikannya dari seberang ruangan. Khalifa menghampiri dan, lagi-lagi memperlihatkan identitasnya, menjelaskan mengapa ia ada di sana. “Apa yang terjadi?”
__ADS_1
Laki-laki itu menggerutu, sembari merogoh sebatang cokelat mars dari sakunya dan membuka bungkusnya.
“Semacam bunuh diri, dilihat dari keadaannya. Seorang laki-laki menembak kepalanya,” ia menggoyangkan tas hitam dengan ujung sepatunya “Seorang perempuan meneguk separuh botol asam prussic. Para tetangga mendengar suara letusan, dan memanggil kami. Tidak ada pihak ketiga, sejauh yang dapat kami katakan.”
Ia menggigit batang cokelat itu, tampaknya tak terganggu oleh ceceran darah di dinding dan kain penutup tempat tidur.
“Tidak pernah melihat kejadian seperti ini,” ia berkata dengan mulut penuh cokelat. “Keduanya terbaring di atas tempat tidur, berpegangan tangan, tempat seperti penjagalan, yang laki-laki dengan pakaian seragam militer, yang perempuan dalam pakaian pengantin, demi Tuhan. Aneh.” Ia memasukkan sisa batang cokelatnya ke dalam mulut, dan beralih, memberi tanda dengan gerakan tubuh pada fotografer, bahwa ia ingin lebih banyak gambar dari bendera yang terkena noda darah. Khalifa menarik sebatang rokoknya, menerima pandangan tak setuju dari salah seorang petugas forensik yang sedang merangkak di lantai, dan memasukkan rokok itu kembali ke sakunya.
“Ini semacam kutukan,” ia berpikir sendiri. “Keseluruhan kasus ini. Apa pun yang aku lakukan, di mana pun aku berada, tidak ada lain kecuali berakhir dengan kematian, kematian, dan horor. Aku benci ini. Benci semua ini.”
“Di mana tubuh perempuan itu?” ia bertanya sesaat kemudian.
hanya sedetik sebelum signifikansi kata-kata itu menyentak Khalifa.
“Aku kira....” Sengatan tajam terasa pada tulang punggungnya.
“Aku diberi tahu bahwa keduanya tewas.”
__ADS_1
“Apa? Tidak, tidak, perempuan tua ini tetap hidup, walaupun kecil kemungkinan. Dua puluh menit lagi dia akan berakhir seperti suaminya.” Ia menyentakkan tas hitam itu lagi dengan kakinya.
“Untung. Atau tidak beruntung, bergantung pada dari arah mana Anda melihatnya. Ia mengenakan pakaian pengantin. hal paling aneh yang pernah aku....” Ia tidak memiliki kesempatan menyelesaikan kalimatnya, karena Khalifa telah bergegas keluar dari ruangan itu.
*****_____*****
Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
By the way, Enjoy it
Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta
Thanks in Advanced
__ADS_1
Best Regards
*****