
Mereka masih berada di Malqata sampai hampir pukul 7 malam, dan pada saat itu Anwar si ahli penyakit tetap belum datang. Daripada membuang waktu lebih lama, Khalifa merinci kelompok polisi untuk menjaga tempat kejadian perkara dan, dengan di dampingi Sariya, memutuskan mengunjungi hotel milik korban.
“Tahu sifatnya Anwar, bisa jadi kita tetap berada di sini sampai tengah malam,” gumamnya. “Lebih baik kita melakukan sesuatu yang berguna dalam waktu yang tersedia ini.” Menna-Ra berada di lokasi yang mencolok pada jantung desa Gezira, suatu area yang dipenuhi rumah bobrok dan pertokoan di sisi barat sungai Nil, berseberangan dengan Kuil Luxor. Sebuah bangun an dua lantai berwarna putih, yang dapat dicapai melalui jalan sempit dan dikepung dinding bata lumpur yang di permukaannya menempel sejenis jamur cokelat. Khalifa dan Sariya tiba lebih awal di malam hari, diterima oleh perempuan Inggris setengah baya, dalam bahasa Arab fasih dan beraksen berat, yang mengenalkan dirinya sebagai Carla Shaw, manajer hotel itu. Ia menawarkan teh dan mengajak mereka ke teras berbatu kerikil dibagian belakang gedung.
Mereka duduk di kursi anyaman di bawah kanopi yang dirambati bunga hibiskus merah. Danau kecil dan panjang terhampar di sisi kiri sampai ke kanan mereka, hitam dan suram, permukaannya bergelombang oleh sekumpulan ikan merah sungai Nil yang licin. Tepinya yang seperti telapak tangan tersumbat oleh buangan botol air Baraka. Di sisi terjauh, iklan tentang penerbang an Hod-hod Suliman Balloon dapat terlihat di antara pepohonan, tergambar pada dinding rumah. Udara dipenuhi suara salak anjing, tuter taksi dan, di kejauhan, suara ritmis pompa irigasi.
“Tidak terlalu mengejutkan,” kata perempuan itu, sambal menyilangkan kaki yang dibalut jins di bawah kaki yang lain dan menyalakan rokok merit. “Ia belum pulih sepenuhnya. Aku kira, kanker, walau ia tidak pernah mengatakannya.” Khalifa menyalakan rokoknya sendiri dan melempar pandangan pada Sariya.
“Kita akan tahu lebih banyak bila sudah diotopsi,” katanya,
“Tetapi tampaknya Tuan Jansen mungkin telah....” Khalifa berhenti, menarik rokoknya, tidak pasti bagaimana mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya.
“Ada keganjilan tertentu berkaitan dengan kematiannya,” kata sang detektif akhirnya.
Perempuan itu melihat ke arahnya, matanya melebar perlahan. Ia memakai garis mata hitam tebal yang terlihat semakin menekankan ekspresi keterkejutannya.
“Apa yang Anda maksudkan dengan keganjilan? Apakah maksud Anda bahwa ia....”
“Aku belum mengatakan apa pun,” kata Khalifa perlahan.
“Jasad ini perlu diuji secara saksama. Ada aspek yang ganjil pada kematian Tuan Jansen, dan kami perlu mengajukan beberapa pertanyaan. Semuanya hal yang rutin belaka.” Perempuan itu mengisap rokoknya dalam-dalam, mengembuskannya, dan meraba anting-anting berbentuk bulan sabit pada telinga kirinya dengan tangannya yang bebas. Rambutnya hitam tak alami, seolah baru saja dicat. Penampilannya menarik.
“Silakan,” katanya. “Walaupun aku tak tahu bisa membantu apa. Piet menyimpan banyak hal untuk dirinya sendiri.” Khalifa mengangguk pada Sariya, yang sedang mengeluarkan buku catatan dan penanya.
“Sudah berapa lama Anda bekerja untuk Tuan Jansen?” tanyanya.
“Hampir tiga tahun!” ia menaikkan sedikit kepalanya, dan menarik anting-antingnya. “Kisah yang panjang, tapi pada dasarnya aku berada di sini pada saat liburan, menjalin pertemanan dengan beberapa orang setempat, dan mereka mengatakan Piet sedang mencari seseorang untuk menjalankan hotelnya—ia terlalu tua untuk melakukan tugas harian itu sendiri dan kupikir, ‘Wow, mengapa tidak?’ Aku baru saja bercerai. Tidak ada alasan untuk kembali ke Inggris.”
“Tidakkah ia memiliki keluarga langsung?”
“Setahuku tidak.”
“Dia pernah menikah?” Perempuan itu kembali mengisap rokoknya. “Kesanku adalah Piet tidak secara khusus menaruh minat pada perempuan.” Khalifa dan Sariya saling pandang.
“Laki-laki?” tanya sang detektif.
__ADS_1
Perempuan itu menggerakkan tangannya tak beraturan. “Aku dengar ia ingin pergi ke Banana Island. Ia tidak pernah berkata apapun tentang itu, dan aku pun tidak pernah bertanya. Itu urusannya.” Terdengar suara langkah kaki pada jalan berbatu kerikil, kemudian seorang laki-laki muda muncul membawa nampan berisi tiga gelas teh dan lilin kecil. Ia menaruhnya di meja di sisi mereka dan menghilang lagi. Khalifa meraih gelas.
“Ini bukan nama mesir, Jansen,” katanya, sambil menyeruput minumannya.
“Aku rasa ia berasal dari Belanda. Datang ke mesir sekitar 50, 60 tahun lalu. Aku tak tahu secara pasti. Sudah lama sekali.”
“Apa ia selalu menetap di Luxor?”
“Sejauh yang aku tahu, ia membeli lagi hotel ini pada 1970-an. Setelah ia pensiun. Aku kira dia tinggal di Iskandaria sebelum itu. Ia tidak pernah bercerita penuh tentang masa lalunya.” Ia mengisap rokoknya dan membuang sisanya ke asbak berbentuk kumbang di sisinya. Di atas mereka beberapa bintang sore mulai tampak, biru dan besar, seperti kunang-kunang.
“Dia tidak tinggal di sini,” katanya, sambil menggeliat kebelakang dan kedua tangannya ditempelkan di belakang lehernya sehingga dadanya mendesak keluar dari bahan bajunya. “Di hotel. Dia punya rumah di sisi timur sungai. Dekat Karnak. Dia biasa mengendarai mobilnya setiap pagi.”
Alis Khalifa sedikit mengernyit, kemudian ia meminta deputinya mencatat alamatnya.
“Jadi kapan terakhir Anda melihat Jansen dalam keadaan masih hidup?” tanya Sariya begitu ia selesai menulis, matanya tertuju pada titik tempat blus perempuan itu tertarik sehingga sedikit terbuka, memperlihatkan sedikit bra merah jambunya.
“Sekitar pukul 9 pagi ini. Ia mampir jam 7 seperti biasa, mengerjakan beberapa dokumen di kantor, kemudian pergi beberapa jam setelah itu. Katanya ada urusan bisnis yang harus diselesaikan.”
“Apakah dia mengatakan bisnisnya apa?” Ini pertanyaan dari Khalifa.
“Kami temukan beberapa hal dalam tubuhnya,” kata Khalifa.
“Tongkat untuk membantunya berjalan dan tas kanvas.”
“Ya, itu miliknya. Dia selalu membawa itu ketika pergi untuk mengeksplorasi. Tongkat itu untuk kakinya. Luka lama. Kecelakaan mobil, kurasa.” Terdengar gemerisik suara percikan air dari danau. Sebuah kapal kecil sedang melintasi air, seseorang sedang mendayung, yang lain berdiri di geladak kapal sambil memegang jala. Sosoknya berbayang dan tak bergaris tegas dalam kegelapan yang pekat.
Khalifa mengisap bagian terakhir rokoknya dan mematikannya didalam asbak.
“Apa Tuan Jansen punya musuh?” tanyanya. “Siapa pun yang mengharapkannya celaka?” Perempuan itu mengangkat bahu. “Sejauh yang kutahu, tidak. Tetapi, seperti yang sudah kukatakan, dia menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri. Tidak pernah berbagi.”
“Teman-teman?” tanya Khalifa. “Siapa pun yang dekat dengannya?” Gelengan kepala lagi. “Tidak di Luxor, setahuku. Ada pasangan yang biasa ia kunjungi di Kairo. Ia baru saja dari sana minggu lalu. Anton, begitu kurasa si suami biasa dipanggil. Anton, Anders, seperti itulah. orang Swis atau Jerman. Atau mungkin Belanda.” Ia mengangkat tangan memohon maaf. “maaf, aku tidak dapat banyak membantu Anda.”
“Tidak sama sekali,” kata Khalifa. “Anda benar-benar sangat membantu.”
“Yang benar adalah, Piet memang agak penyendiri. menyimpan kehidupan pribadinya untuk dirinya sendiri. Dalam tiga tahun aku tak pernah melihat isi rumahnya. Dia … penuh rahasia. Aku hanya mengurusi hotel. Itu saja. Tidak banyak yang kami lakukan bersama di luar bisnis.” Laki-laki muda yang membawa teh datang kembali, membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telinga perempuan itu.
__ADS_1
“Baik, Taib,” katanya. “Aku akan ke sana dalam beberapa menit.” Ia kembali pada Khalifa.
“Maaf, inspektur. Kami akan mengadakan pesta pribadi malam ini dan aku harus mengatur makan malam.”
“Tentu saja,” kata Khalifa. “Saya kira kami telah mendapatkan apa yang kami perlukan.” Ketiganya kemudian berdiri dan berjalan kembali ke lobi hotel, sebuah ruangan luas berwarna putih dengan meja resepsi di satu sisi dan anak tangga sempit di sudut menuju lantai berikutnya.
Seorang laki-laki tua berpakaian djellaba kotor sedang mengepel lantai, bersenandung untuk dirinya sendiri.
“Ada foto dalam dompet Jansen,” kata Khalifa ketika mereka berhenti mengagumi barisan cetakan Gaddis yang tertera di dinding. “foto seekor anjing.”
“Arminius,” kata perempuan itu, sambil tersenyum. “hewan peliharaan di masa kanak-kanak. Piet selalu membicarakan anjing itu. Bisa dibilang, anjing itu teman setia yang pernah di milikinya. Satu-satunya yang benar-benar dia percaya. Piet membicarakannya seolah-olah dia manusia.” Ia berhenti berbicara, kemudian menambahkan, “Dia seorang penyendiri, menurutku. Tidak bahagia. Terlalu banyak cobaan.” Mereka memandang barisan cetakan pada dinding itu lebih lama dua orang laki-laki sedang mengoperasikan shaduf di sisi sungai Nil; sekelompok perempuan sedang menjual sayur-mayur di dalam pintu gerbang Bab zuwela dari markas besar Islam Kairo; seorang anak laki-laki mengenakan tarboosh, sedang menatap kamera dan tertawa kemudian menuju pintu depan dan me langkah ke jalan. Dua anak laki-laki tiba-tiba melintas, menggerakkan ban karet.
“Ada satu hal,” kata perempuan itu ketika mereka berjalan.
“Mungkin tidak relevan, tetapi Piet benar-benar anti-Semitik.” Ia mengatakan kata terakhir ini dalam bahasa Inggris. mata Khalifa menyempit.
“Apa artinya?”
“Aku tak tahu bagaimana Anda mengatakannya dalam Bahasa Arab. Ia seorang… ma habbish al-Yahudiyin, tidak suka orang Yahudi.” Bahu detektif itu agak menegang, tak terlihat, seolah ia menerima sengatan listrik kecil yang tidak cukup kuat melukainya tetapi cukup untuk membuatnya merasa tidak nyaman.
“Lanjutkan.”
“Tidak banyak memang yang dapat diceritakan. Ia tidak pernah mengatakan apa pun di depanku. Aku tidak sengaja beberapa kali mendengar ia berbicara pada orang lain, tamu, orang lokal. Hal yang mengerikan. Betapa satu-satunya masalah berkaitan dengan Holocaust adalah bahwa mereka tidak menyelesaikan pekerjaan itu. Bagaimana seharusnya mereka menjatuhkan bom nuklir di Israel. maksudku, aku membenci apa yang sedang terjadi di sana, sama seperti orang lain, tapi ini benar-benar memuakkan. Keji.” Ia mengangkat bahu, lalu memainkan anting-antingnya. “Aku kira seharusnya aku mengajaknya berdiskusi tentang ini, tapi aku anggap ia sudah tua, dan orang tua cenderung memiliki pendapat aneh. Dan ngomong-ngomong, aku tidak ingin terlibat terlalu dalam dan kehilangan pekerjaanku. Seperti kataku, hal itu mungkin tidak relevan.” Khalifa menarik sebatang rokoknya dan menyulutnya, lalu mengisapnya dalam-dalam.
“Mungkin tidak,” katanya. “Terima kasih sudah menceritakan semua itu. Kalau ada hal lain, kami akan menghubungi Anda.” Khalifa mengangguk pamit, membalikkan badan dan berjalan ke arah jalan raya, dengan tangan dimasukkan ke dalam sakunya, kening berkernyit memikirkan sesuatu. Sariya berjalan di sampingnya.
“Tidak bisa bilang tidak setuju,” katanya sambil berjalan.
“Berkaitan dengan Yahudi.” Khalifa menatapnya.
“Menurutmu, holocaust itu sesuatu yang baik?”
“Aku bahkan tidak berpikir peristiwa itu pernah terjadi,” kata Sariya. “Itu propaganda Israel. mereka menurunkan artikel tentang itu minggu ini dalam Al-Akhbar.”
“Kau percaya?” Sariya mengangkat bahu. “Semakin cepat Israel dihapuskan dari peta, semakin baik!” katanya mengalihkan pertanyaan. “Apa yang mereka lakukan pada orang Palestina… tak termaafkan. menjagal perempuan dan anak-anak.”
__ADS_1
Untuk sesaat terlihat Khalifa ingin membahas isu ini dengannya. Namun ia memutuskan menahannya, dan berbelok di sudut di ujung jalan. Keduanya terus berjalan menuju Nil dalam kesunyian. Panggilan muazin lewat pengeras suara terdengar di belakang mereka, mengajak orang bertakwa untuk salat malam.