
Begitu tiba di rumah malam itulah Khalifa baru teringat bahwa mereka akan kedatangan tamu untuk makan malam.
“Mereka akan datang beberapa menit lagi!” kata istrinya Zenab saat ia masuk dari pintu depan, mengantarkan padanya nampan berisi Torshi dan Babaghanoush, kemudian menghilang di ruang tengah apartemen mereka yang kecil dan sesak.
“Dari mana saja kau selama ini?”
“Dari Karnak,” jawab Khalifa, sambil menyalakan rokok.
“Urusan pekerjaan.” Ada suara denting piring dan Zenab muncul kembali, mencabut rokok dari mulutnya, menciumnya lembut pada bibirnya dan menyelipkan rokok itu lagi di bibirnya. Zenab mengenakan katun kaftan berbordir, tiga kancing teratas sengaja dibuka untuk memperlihatkan ujung dadanya yang besar. Ia telah menjalin rambut hitamnya yang seperti arang tergerat di punggungnya hampir sebatas pinggang.
“Kau kelihatan cantik,” katanya.
“Dan kau,” balasnya sambil tersenyum, menggelitik kupingnya,
“kelihatan mengerikan. Kenapa kau tidak bercukur dulu sementara aku menyelesaikan semua ini bersama Batah? Dan jangan membangunkan bayi kita. Aku baru saja menidurkannya.” Ia menciumnya lagi, kali ini di pipi, lalu kembali ke dapur.
“Di mana Ali?” ia bertanya pada istrinya.
“Bersama teman-temannya. Dan kenakan baju bersih ya, semua kerahnya sangat kotor.” Ia berjalan menuju kamar mandi, melepas kancing kemejanya dan berdiri di depan cermin di atas wastafel, menatap bayangannya sendiri. Zenab benar tampangnya memang kelihatan mengerikan. matanya kuyu dan sembab, tulang pipinya menonjol seperti tulang iga keledai yang kurang makan dan kulitnya berwarna kelabu tidak sehat, seperti permukaan kanal yang mampet.
Ia melempar rokoknya keluar jendela, memutar kran air dingin dan membungkuk, membasuh wajahnya dengan air, kemudian tegak kembali dan melihat matanya.
“Apa yang akan kau lakukan, eh?” ia bertanya pada bayangannya.
“Apa yang akan kau lakukan?” Ia menatap bayangan itu di cermin beberapa lama lagi, menggelengkan kepalanya seolah melihat sesuatu di sana yang tidak disukainya, kemudian dengan cepat bercukur dan menuju kamar tidur. Kemudian, ia meneteskan cologne pada wajah dan mengganti kemejanya. Ia baru saja mengancing kancing teratas, membungkuk untuk mencium bayi Yusuf yang sedang tidur dalam ayunan, ketika bel pintu berdering.
“Kami di sini!” Suara abang iparnya husni terdengar dari luar pintu depan. Khalifa mendesah.
“Apa pun yang kau lakukan dalam hidup,” ia berbisik pada bayinya, menggesek-gesekkan hidungnya di atas kening yang lembut dan halus, “berjanjilah padaku kau tidak akan menjadi seperti pamanmu!”
“Ayo, kalian berdua!” kata suara yang menggelegar itu. “Apa yang kalian lakukan di sana? Atau tak usah kutanya?” Terdengar dengusan parau begitu istri husni, Sama, kakak Zenab, tertawa karena lelucon suaminya, yang selalu dikatakan husni setiap kali bel pintu tidak dijawab dalam waktu nanosekon setelah ia pencet.
“Tuhan, tolonglah kami,” kata Khalifa, menuju ruang tamu untuk menyambut tamu mereka. Semuanya ada enam orang: Khalifa, Zenab, Sama, husni, dan dua orang teman Zenab dari Kairo; Nawal, perempuan mungil dan bersemangat yang mengajar Arab klasik di Universitas Kairo; dan Taufiq, Mashrabiya, penghubung yang dirujuk oleh setiap orang sebagai si mata Google karena matanya yang berbentuk penggorengan besar dan tidak biasa. mereka mengelilingi meja kecil di ruang keluarga, dan Batah, anak perempuan Khalifa, menyediakan makanan, yang senang dilakukannya karena itu membuatnya tampak dewasa. Seperti ibunya, ia juga mengenakan kaftan berbordir dan membiarkan rambut panjangnya tergerai sampai punggung.
“Aku harus katakan, Batah, kau kelihatan tambah cantik saja setiap kali aku melihatmu,” kata Sama ketika gadis itu meletakkan mangkuk masakan ayam.
“Aku senang dengan kaftan itu. Aku membeli satu seperti itu untuk Ama. Tiga ratus pound, percaya tidak?” Tidak seperti Batah, anak perempuan Sama dan husni pendek, montok dan malas. Perbedaan yang dibuat ibunya agar ia terlihat lebih baik adalah dengan memastikan bahwa gadis itu selalu mengenakan pakaian yang lebih mahal dari sepupunya.
“Ia kelihatan sama seperti kau pada usia yang sama,” kata Nawal, tersenyum pada Zenab. Aku kira para laki-laki mengejarmu terus ya, Batah?”
“Kalau aku sedikit lebih muda, aku juga akan mengejarmu!” kata Taufiq, sambil tertawa.
Batah tersenyum malu dan meninggalkan ruangan. “Sudah waktunya kamu mulai berpikir tentang suami untuknya,” kata husni sambil menyeruput sup.
“Demi Tuhan!” kata Zenab. “Ia baru empat belas tahun.”
“Tidak pernah terlalu dini untuk memikirkan hal ini. Rencana ke depan itu kuncinya. Selalu melihat ke masa depan. Ambil minyak yang dapat dimakan.” husni bekerja di bisnis minyak yang dapat dimakan, dan tidak pernah kehilangan kesempatan untuk membawa percakapan ke arah itu.
“Ketika kami meluncurkan kembali rentang bunga matahari kita tahun lalu, itu hanya dengan 18 bulan persiapan yang cermat dan hati-hati. Dan hasilnya? Delapan persen kenaikan penjualan dan penghargaan Best Domestik oil. Kau tidak akan mungkin meraih sukses itu tanpa berpikir ke depan.”
Ia menyeruput lagi supnya. “Kami juga mendapatkan pujian untuk minyak kacang. Laris manis di toko-toko seperti kacang goreng.”
Setiap orang di situ mencoba kelihatan terkesan, menghabiskan supnya dan mulai menikmati menu utama, tarly kambing yang disajikan dengan kacang polong, okra, nasi dan kentang. Percakapan beralih ke pertemanan yang saling menguntungkan, kemudian sepakbola Kairo baru-baru ini antara Zamelak dan al-Ahli, kemudian politik. husni dan Nawal berdebat panas tentang perang Amerika terhadap terorisme yang terus berjalan.
“Jadi apa maksudmu?” kata Husni. “mereka tidak berbuat apa-apa setelah 11 September? hanya membiarkan mereka lepas begitu saja?”
“Aku bilang bahwa sebelum mereka mulai membom negara lain, mereka harus memeriksa rumah mereka sendiri. maksudku, mengapa ketika ada negara lain di dunia mendukung terorisme mereka diserang, tetapi ketika Amerika melakukannya, mereka membenarkan hal itu sebagai ‘kebijakan luar negeri?’” Khalifa diam mendengar semua percakapan ini, menikmati makanannya, kadangkala menyela dengan komentar aneh. Tetapi sebagian besarnya ia hanyut dalam pikirannya sendiri. mayat di Malqata, koleksi barang antik milik Jansen, pertemuan dengan hasani, pertemuan yang membuat penasaran di Karnak semua berdesakan dalam benaknya seperti bayangan di ruang penuh cermin.
Dan di belakang semuanya, seperti bagian belakang pada panggung, selalu sama bahkan ketika peristiwa sebelum itu berubah, dan tato pada lengan jasad perempuan itu, segitiga dan lima angka. Seperti tanda-tanda yang kau dapatkan pada daging untuk menunjukkan asalnya.
“Ingin daging kambing lagi?” Suara Zenab terngiang di telinganya. Ia sedang memegang mangkuk Torly.
__ADS_1
“Apa? oh tidak, terima kasih.”
“Jadi, apa pendapatmu tentang dia, Yusuf?” Taufiq sedang melihat ke arahnya dengan penuh harap.
“maaf?” kata Khalifa.
“Dia sedang berada bermil-mil dari sini,” kata Nawal sambal tertawa.
“Barangkali sedang berpikir tentang makam dan Hieroglif!”
“Atau perempuan?” kata husni menggoda, sambil menerima cubitan tangan dari sang istri pada pinggangnya.
“Al-mulatham,” kata Taufiq. “Bagaimana pendapatmu tentang bom bunuh diri?” Khalifa meminum Coca-colanya sebagai muslim yang taat ia tidak minum alcohol dan mendorong kursinya kembali lalu menyalakan rokok.
“Aku kira siapa pun yang membunuh rakyat sipil tak berdosa dengan penuh ketenangan adalah menjijikkan.”
“Orang Israel juga membunuh orang-orang Palestina secara dingin, namun tidak ada satu pun yang mengeluh tentang itu,” kata Nawal. “Lihat, apa yang terjadi hari-hari kemarin? Dua anak tewas oleh helikopter Israel.”
“Itu masih belum dapat membenarkannya!” jawab Khalifa.
“Apa artinya mencari pembalasan dengan cara membunuhi lebih banyak anak-anak?”
“Tetapi cara apa lagi yang mereka miliki untuk mempertahankan diri mereka sendiri?” balas Taufiq.
“mereka menghadapi tentara paling kuat di Timur Tengah, tentara terkuat nomor empat didunia. Apalagi yang mesti mereka lakukan?” “Aku setuju bahwa ini mengerikan, tetapi itulah yang dilakukan orang ketika mereka telah secara sistematis diperlakukan brutal selama 50 tahun!”
“Seperti capaian otoritas Palestina dalam rekor hak asasi manusia,” kata Zenab. “Seperti kita yang mendapatkan rekor besar itu.”
“Itu bukan esensinya,” kata Taufiq. “esensinya adalah orang tidak menempelkan bahan peledak di pinggang dan meledakkannya sendiri hanya demi ledakan itu saja. mereka melakukan itu karena putus asa.”
“Aku tidak membela Israel,” kata Khalifa, sambil memegang pemantik api untuk menyulut rokoknya Nawal. “Aku hanya berpikir ... yahh, seperti yang dikatakan Zenab, hal itu tidak membantu situasi.”
“Kau sedang mengatakan padaku bahwa kau tidak merasa sedikit bergembira saat mendengar sebuah bom kembali meledak?” tanya Taufiq. “Itu bagian dari kau yang tidak merasakan sudah sepantasnya’.” Khalifa menatap meja, asap rokoknya bergulung ke atas.
“Akan kukatakan apa yang kurasakan,” katanya. “Dan itu ada puding. Apa itu Umm ali yang aku cium baunya, Zenab? Aku mau membantu Batah mempersiapkan makanan. Ini benar-benar makan malam yang mengasyikkan.” Ketika itu lewat tengah malam sebelum mereka akhirnya tidur. Zenab tertidur lelap tak lama setelah itu. Khalifa membalikkan badan ke kiri dan kanan, lalu berbalik, mendengarkan napas bayi Yusuf dalam ayunan di sisinya, mengamati sinar lampu parallel yang menyelinap pada langit-langit yang dipantulkan lampu mobil yang lewat di bawah, sambil merasakan degup jantungnya sendiri.
Setelah dua puluh menit, ia bangkit dan berjalan ke ruang depan dan menyalakan kontak lampu di dinding. Air mancur mini di tengah lantai berbunyi gemericik. Ia memencet kontak lain, menyinari serangkaian sinar aneka warna yang diatur di sekeliling kolam plastik yang di dalamnya ada air mancur itu, dan duduk di lantai dengan punggung bersandar pada dinding, menggosok-gosok matanya. Ia membangun air mancur itu sendiri, untuk menambah sedikit warna pada apartemen mereka yang sesak. Itu memang bukan karya seni terbesar di dunia airnya tidak terpompa dengan baik dan ubin di sekeliling kolamnya tidak tertata dengan sejajar tetapi ia tetap merasakan kenyamanan saat memandangnya, mendengar ritmis jatuhnya air dan melihat sinar yang terpecah di permukaannya.
Untuk beberapa lamanya ia duduk dalam diam, kemudian memiringkan badan ke kanan dan memencet tombol “play” pada sebuah alat perekam di atas meja kayu. Suara merdu Umm Kultsum menyelimutinya, menyenandungkan lagu tentang cinta dan kehilangan:
Pandangan matamu membawaku pada hari-hari yang telah berlalu mereka mengajarkanku menyesali kepedihan masa lalu Semua yang kulihat sebelum mataku melihatmu
Apakah itu hanya kehidupan yang sia-sia. Bagaimana tidak, Saat engkau adalah hidupku, cahayamu adalah fajar hatiku?
Sebelum berjumpa denganmu hatiku tak mengenal kebahagiaan tidak ada yang terasa selain rasa derita dan kepedihan Sesuatu bergerak di belakang Khalifa, ternyata Zenab yang datang mendekat ke arahnya. matanya masih muram dan kakinya yang panjang serta ramping menyembul dari lipatan bawah kemeja Khalifa yang dikenakannya untuk tidur. Zenab merunduk dan mencium kening Khalifa. Blus itu hanya sampai di pahanya sehingga Khalifa dapat melihat bayangan dari rambut pubisnya. Zenab kemudian duduk di lantai di samping Khalifa dengan menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu, rambut hitamnya jatuh di dadanya seperti air terjun yang gelap.
“Kau tidak menikmati malam ini, ‘kan?” kata Zenab sembari masih mengantuk.
“Aku menikmatinya,” protesnya. “malam yang....”
“membosankan,” katanya. “Aku dapat melihat itu di matamu. Aku tahu kau, Yusuf.” Ia membelai rambutnya.
“maafkan aku,” katanya. “Banyak hal yang sedang kupikirkan.”
“Pekerjaan?” Ia mengangguk, menikmati gesekan payudara perempuan itu di lengannya. “Kau mau membicarakannya denganku?” Ia mengangkat, tapi tidak berkata apa-apa. Pita perak suara Umm Kultsum menggema di antara mereka. Kau lebih berharga dari hari-hariku Kau sangat berharga bagiku melebihi mimpi-mimpiku Bawalah aku pada kebaikanmu Jauh dari dunia ini Jauh, jauh, hanya kau dan aku Jauh, jauh, hanya kita berdua “Kau tahu ini mengingatkanku pada apa?” kata Zenab, menggoyang tangannya dan mengusap-usapkan jarinya pada bekas luka di pergelangan tangan Khalifa akibat digigit anjing semasa ia anak-anak dulu.
“hari tatkala kita pergi ke Jabal Al-Silsilla. Ketika kau menangkap ikan untuk makan siang kita, dan kita berenang di sungai Nil. Kau masih ingat?”
Khalifa tersenyum. “Bagaimana mungkin aku lupa? Kakimu terjerat rumput laut dan kau menganggapnya sedang diserang buaya, ya ’kan?”
“Dan kau terperosok ke dalam lumpur dan merusak celana barumu. Aku tak pernah mendengar sumpah seperti itu.” Khalifa tertawa dan mencium pipinya. Zenab semakin mendekatkan dirinya pada Khalifa, dan melingkarkan lengannya di pinggang laki-laki itu.
__ADS_1
“Ada masalah apa, Yusuf? Kau begitu jauh malam ini. Dan juga malam kemarin. Apa yang mengganggumu?” Ia mendesah dan membelai rambutnya.
“Tak ada apa-apa. hanya masalah kantor.”
“Ceritakan padaku,” katanya. “mungkin aku dapat membantu.” Khalifa diam untuk beberapa waktu lamanya, sambil menatap pada percikan air mancur, kemudian menyandarkan kembali kepalanya ke dinding, dengan mata bergerak kian kemari pada langit-langit.
“Aku telah melakukan sesuatu yang mengerikan, Zenab,” katanya pelan. “Dan aku tak tahu bagaimana memperbaikinya. Atau sebenarnya aku tahu, tetapi aku takut.”
“Tidak ada satu pun yang kau lakukan dengan buruk, Yusuf,” bisiknya, melepaskan pelukannya dan memegang pipi suaminya.
“Kau laki-laki yang baik. Aku tahu ini, anak-anak kita juga tahu ini, Tuhan pun tahu ini.”
“Tidak, Zenab. Aku orang yang lemah dan takut, dan telah mengecewakanmu. Aku pun telah mengecewakan diriku sendiri.” Ia mengangkat tangannya dan mengusap pelipisnya. Kemudian diam untuk beberapa waktu lamanya, terpecah oleh suara tape dan gelembung lembut air pancuran. Kemudian ia mulai bicara lagi, mulanya secara perlahan, lalu makin cepat, menceritakan seluruh kisah, Piet Jansen, hannah Schlegel, muhammad Jamal, pertemuan di Karnak, semuanya. Zenab duduk dan mendengarkan, tidak berkata apa pun, tangannya membelai wajah dan leher suaminya. Napasnya yang lembut menyentuh bahu suaminya.
“Aku begitu takut untuk mengatakan apa pun saat itu,” katanya begitu selesai bercerita. “Aku masih muda, staf baru di stasiun itu. Aku tak ingin menggoyang perahu. Aku biarkan mereka menuduh orang tak bersalah karena aku tak punya cukup nyali untuk bicara.
Dan kini ... aku masih takut. Takut akan apa yang bakal terjadi kalau aku mulai menggali lagi, kalau aku kembali ke kasus itu. Banyak ketidakberesan di sini, Zenab. Aku bisa merasakannya. Dan aku tak tahu apakah memang itu risiko yang layak bagi pekerjaanku untuk....” Ia berhenti, menggelengkan kepalanya.
“Untuk apa? Seorang laki-laki seperti muhammad Jamal?”
“Itu, ya, dan ... yahh, seperti kata Chief hasani, Jansen sudah mati. Tidak akan membuat perbedaan praktis apa pun pada hasil penyelidikan.” Zenab menatap mata laki-laki itu.
“Ada sesuatu yang lain,” katanya. “Aku dapat melihatnya dalam dirimu. Aku dapat merasakannya. Apa yang sedang kau pikirkan, Yusuf?”
“Tidak ada, Zenab. Tidak ada. hanya....” Ia menekuk kedua kakinya ke dada dan menyorongkan tubuhnya ke depan, meletakkan keningnya pada lutut.
“Perempuan itu orang Israel,” bisiknya. “Yahudi. Lihatlah apa yang tengah mereka lakukan, Zenab. Apakah layak, aku bertanya pada diriku sendiri. Apa semua masalah menjadi sesuatu yang layak diterima oleh seseorang seperti itu?” Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa ia sadari dan pikirkan betul. Namun, ketika ia telah mengungkapkannya, ia menyadari bahwa jauh di dalam ternyata hal inilah yang benar-benar telah mengganggunya selama ini; tidak hanya sekarang, tetapi juga lima belas tahun yang lalu, ketika ia duduk menyaksikan Muhammad Jamal sedang diperiksa oleh hasani dan Chief mahfuz. Bahwa untuk berbicara tidak saja akan berarti mempertaruhkan karirnya demi seorang penjahat kelas bawah, tetapi juga inilah yang membuatnya berhenti cukup lama untuk berpikir, sampai sekarang demi seseorang dari suatu negeri dengan keimanan yang selama ini ia dididik untuk memandang rendah terhadapnya. hal ini telah membuatnya malu, kefanatikan yang sangat memalukannya, karena ia telah mencoba menjadi orang yang toleran, menilai setiap orang karena perbuatannya dan bukan latar belakang, kebangsaan atau keimanannya. Tetapi sangat sulit. Sejak awal-awal tahun kehidupannya ia telah diajari bahwa Israel adalah setan, bahwa orang Yahudi sedang mencoba mengambil alih dunia, bahwa mereka kasar, suka berkelahi, arogan, serakah, yang telah melakukan kekejaman tak terungkapkan terhadap saudara muslimnya.
“mereka itu jahat,” kata ayahnya dulu ketika ia masih kecil, “mereka semua. mereka mengusir orang keluar dari tanahnya dan mencuri tanah itu dari mereka. mereka menjegal perempuan dan anak-anak. mereka ingin merusak umat. hati-hati terhadap mereka, Yusuf. Selalu waspadalah terhadap orang Yahudi.” Ketika ia tumbuh dewasa dan lingkaran pengalamannya meluas, ia kemudian melihat bahwa hal tersebut tentu saja tidak sehitam-putih seperti yang dikatakan. Tidak semua orang Yahudi mendukung penindasan terhadap bangsa Palestina; menjadi orang Israel tidak serta-merta membuatmu menjadi monster; bangsa Yahudi sendiri telah menderita luar biasa sebagai sebuah bangsa.
Namun, terlepas dari melunaknya pandangannya, ia tidak dapat benar-benar menghapus hal yang sudah mendarah daging di dalam dirinya sejak awal kehidupannya. Dalam diskusi dengan teman dan kolega, begitu subjek pembicaraan sudah beralih ke sana ia akan mencoba mengambil sikap moderat, seperti yang dilakukannya pada makan malam bersama tadi. Bagaimana pun, jauh di lubuk hatinya, di tempat yang hanya dia saja yang tahu, kefanatikan lama masih tetap ada, sebuah noda gelap yang bagaimanapun kuatnya ia mencoba, ia tetap tidak dapat benar-benar menghapuskannya. Ini bukan sesuatu yang ia banggakan. Ia tahu bahwa hal ini mengurangi dirinya sebagai manusia. Tetapi ia tidak dapat lagi membuangnya seperti yang bisa dia lakukan terhadap tulang sumsumnya sendiri. hal itulah yang telah mendikte tindakannya lima belas tahun lalu, dan sepertinya akan sama saja sekarang ini.
“Ketika Taufik bertanya padaku malam ini apakah aku merasa senang ketika sebuah bom meledak di Israel,” katanya perlahan, “apakah sebagian diriku tidak berpikir, ‘itu yang pantas kau terima’ Yahh, yang benar adalah bahwa ya, aku juga berpikir demikian, Zenab. Aku memang tidak mengatakannya tetapi aku berpikir begitu. Aku tidak dapat menahan diriku sendiri.” Ia menggelengkan kepala, merasa malu menceritakan hal seperti itu pada istrinya, mengungkapkan banyak hal tentang rahasia dirinya.
“Dalam kasus ini, aku merasa seolah aku adalah dua pribadi dalam satu tubuh. Yang satu mengetahui bahwa ada keadilan yang gugur secara mengenaskan, bahwa seorang perempuan tewas terbunuh dan tuduhan dijatuhkan pada orang yang salah, dan tugaskulah untuk berusaha menemukan kebenaran. Tetapi kemudian, pribadi yang lain masa bodoh terhadapnya. Siapa peduli bahwa ada seorang Yahudi tua yang tewas? mengapa mesti melibatkan diri pada semua masalah? Aku benci diriku sendiri karena hal ini, tetapi seperti inilah keadaannya.” Zenab menggeser tubuhnya ke belakang secara perlahan, sambil menatapnya, matanya mengecil, wajahnya terbungkus bayangan seolah tertutupi selendang tipis.
“Kita semua memiliki pikiran yang buruk,” katanya pelan. “Perilaku kitalah yang paling penting.”
“Tetapi itulah esensinya, Zenab. Aku tak tahu apakah aku bisa bertindak. Pikiranku itu ... seolah mereka sedang menahanku. Ini lebih mudah bagimu. Kau datang dari keluarga yang cerdas dan pembaca yang baik. orangtuamu sudah pernah bepergian kemana-mana, melihat banyak hal lain di dunia ini. Kau tidak tumbuh dengan segala prasangka ini. Sementara, saat dikatakan padamu bahwa orang Yahudi dan Israel adalah setan jahat, bahwa tugas kitalah sebagai muslim untuk membenci mereka, bahwa bila kita tidak membunuh mereka maka merekalah yang membunuh kita sulit sekali untuk bisa beralih dari hal itu. Di sini ia menunjuk dahinya aku tahu bahwa ini semua salah. Dan di sini juga,” sambil ia menyentuh dadanya. “Tetapi di sini” ia menggerakkan tangannya ke perut “jauh di dalam sini, aku tidak dapat berhenti membenci mereka. Sepertinya, aku tidak dapat mengendalikan emosiku sendiri. Benar-benar menakutkan bagiku.” Zenab meraih kepalanya dan membelai rambutnya serta bagian belakang lehernya. Khalifa merasakan kehangatan paha Zenab di atas pahanya. mereka diam untuk beberapa lama.
“Ingatkah kau pada nenekku?” akhirnya Zenab berkata, sambal memijat leher dan bahu Khalifa.
“Nenek Jamila.” Khalifa tersenyum. Ada kesenjangan sosial yang cukup lebar antara keluarga Zenab yang berbisnis dengan sukses dari bagian mewah Kairo dan keluarganya, buruh tani dari jalan Giza yang miskin. Nenek Jamila adalah satu-satunya yang mau mengambil risiko dengan membuatnya merasa diterima, selalu menempatkan Khalifa di sebelahnya ketika mereka berkeliling ke rumah keluarga yang lain dan menanyakan padanya semua jenis pertanyaan yang berkaitan dengan minatnya pada sejarah mesir, subjek yang benar-benar sangat ia kuasai. Ketika nenek Jamila wafat beberapa tahun lalu, Khalifa merasa sedih bukan kepalang seperti kesedihan karena kehilangan ibunya sendiri.
“Tentu saja aku masih mengingatnya.”
“Ada sesuatu yang pernah ia katakan padaku, bertahun-tahun lalu ketika aku masih anak-anak. Aku bahkan tak mengingat konteksnya, tetapi kata-katanya terus terngiang dalam benakku, hadapi selalu apa yang kau takuti, Zenab. Dan selalulah mencari apa yang tidak kau mengerti. Karena dengan begitulah kau tumbuh dan menjadi orang yang lebih baik.’ Aku tak pernah mengatakan padamu apa yang harus kau lakukan dalam pekerjaanmu, Yusuf, tetapi itulah yang kupikir harus kau lakukan dalam hal ini.”
“Tapi bagaimana?” desahnya. “Aku tak dapat melanjutkan penyelidikan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Chief Hasani.” Zenab menggamit tangan Khalifa, dan menciumnya.
“Aku tidak tahu bagaimana, Yusuf. Yang kutahu adalah bahwa kasus ini mungkin saja memang dikirim kepadamu untuk mengujimu, dan kau tak boleh mundur darinya.”
“Tapi ini dapat menyebabkan banyak masalah.”
“Kita akan mengatasinya bersama. Sebagaimana yang selalu kita lakukan.” Khalifa menatap istrinya. Ia begitu cantik, begitu kuat.
“Tidak ada laki-laki lain yang memiliki istri lebih baik dari ini,” katanya.
“Dan tidak ada perempuan yang memiliki suami lebih baik dari dirimu. Aku mencintaimu, Yusuf.” mereka saling menatap mesra dan kemudian, saling berpelukan, berciuman, secara lembut awalnya dan selanjutnya penuh hasrat. Dadanya terdorong ke depan ke dada Khalifa dan kakinya melingkar di kaki Khalifa.
“Ingatkah kau apa yang kita lakukan pada hari itu di Jabal Al-Silsilla,” bisiknya di telinga suaminya, “Setelah kau jatuh ke dalam lumpur dan harus melepas seluruh celanamu untuk dicuci?” Khalifa tidak menjawab, segera berdiri, menggendong Zenab dalam pelukannya, membawanya ke kamar tidur, meninggalkan Umm Kultsum menyanyi sendiri.
__ADS_1
Pagutan bibir semakin menggelora, dan mulai melepaskan pakaian masing-masing. terlihat jelas body ramping mulus. Khalifa mulai menggerayangkan ke seluruh inchi tubuh Zenab, yang sepertinya memejamkan mata menikmati setiap sentuhan dari suaminya.