
Mereka berhenti di toko kecil tepi jalan yang menjual perkakas sekitar lima kilometer dari Berchtesgaden untuk membeli lampu senter dan pakaian musim dingin, kemudian berbelok kiri ke jalan bebas hambatan utama dan naik ke bukit. Walaupun kini hari sudah malam, langit di atas begitu bersih dan jernih, dihiasi bintang senja di sana-sini dan bulan purnama berwarna es yang menghujani apa saja di sekitarnya dengan sinar redup keperakan, seolah lanskap itu terbuat dari timah. Di sana-sini kerumunan sinar terang menandai desa dan daerah pertanian yang terisolasi, sementara di dataran yang lebih rendah di belakang, lampu utama mobil menapaki jalan mereka menerobos kegelapan sepanjang jalan raya utama antara Berchtesgaden dan Salzburg. Namun begitu tidak ada mobil lain di jalan yang mereka lintasi, dan ketika mereka telah melewati desa Oberau, dengan deretan rumah alpin beratap merah dan hijau, lampu-lampunya sudah mulai padam, membiarkan dunia begitu hening, kosong dan tenang, menghilangkan semua jejak kemanusiaan kecuali jalan itu sendiri dan, setiap satu kilometer atau lebih, ada tanda besar yang mengatakan mereka sedang melaju ke sesuatu yang disebut Rossfeld-Hohen-Ringstrasse.
“Kau yakin ini jalur yang benar?” tanya Ben-Roi, mengubah lampu jauh ke lampu dekat.
Layla mengangguk, jari-jarinya tetap di atas peta. “Kita memutar di bawah Hoher Goll dan terus lagi menuju Berchtesgaden. Menurut bukunya Schlegel, jalur menuju pertambangan mulai dari setelah melewati titik tertingginya. Kita harus menemukan bangunan yang runtuh.” Si Israel menggerutu dan, sembari melempar pandangan sekilas ke kaca spion, ia menginjak rem, membelokkan mobil pada tikungan tajam dan mempercepatnya lagi, menghasilkan bunyi berdecit roda dan badan mobil, lampu utama mobil menangkap lubang-lubang dalam temaram sinar.
Pada titik ini mereka telah berada di atas garis salju, apa pun di sekitar mereka tenggelam di bawah selimut putih: salju di permukaan tanah, salju di pepohonan, salju menutupi seperti dinding bermeter-meter tingginya di manapun di sekitar mereka. Jalur itu sendiri tetap bersih, dan mereka dapat melanjutkan perjalanan ke atas tanpa rintangan, berjalan melalui tikungan tajam, lebih tinggi dan lebih tinggi. Lokasi Hoher Goll yang seperti tebing di bagian belakang tampak lebih menakutkan lagi dari depan, sampai akhirnya mereka bertemu jalan datar sejauh satu kilometer atau lebih menerobos hutan pinus yang lebat sebelum menurun lagi.
Pada saat itu, di depan mereka, pada puncak tikungan panjang, lampu utama mobil menangkap bangunan kecil yang telah runtuh berada di sebelah kiri jalan, dinding batunya tertutup serpihan salju tebal. Ketika mereka sampai di situ dan memperlambat laju mobil, Layla menunjuk pada tanda kayu kecil di sisi jalan dengan anak panah kuning mengarah ke atas ke pepohonan.
“Jalan Hoher Goll,” kata Layla.
Mereka berhenti dan keluar. Untuk sesaat mereka berdiri disana, memperhatikan sekeliling mereka. Keheningan membungkus mereka, uap karena dingin keluar dari mulut keduanya. Kemudian, tanpa berlama-lama, mereka mengenakan sepatu bot, jaket dan sarung tangan lalu menyalakan lampu senter dan masuk ke hutan, mengikuti apa yang dalam cuaca hangat disebut dengan jalur atau lintasan kecil, tetapi kini hanya berupa lapangan tertutup salju perawan yang melengkung di atas menerobos pepohonan pinus yang bertangga-tangga.
Selama beberapa ratus meter pertama perjalanan tidak terlalu sulit. Jalurnya menanjak halus, kaki mereka tenggelam di dalam salju yang tingginya tidak melebihi pergelangan kaki. Secara bertahap, tanjakan mulai lebih terjal dan salju semakin dalam; mulanya mencapai betis, kemudian lutut, dan dalam beberapa tempat, sampai ke paha, sehingga membuat langkah mereka lambat, tidak praktis dan melelahkan. Dinginnya begitu menggigit, dan kerumunan pepohonan di sekitar mereka semakin tidak beraturan, membuat mereka lebih sering berhenti untuk memastikan bahwa mereka masih berada di jalur yang benar. mereka tidak pernah diam berdiri, melainkan bergerak kian kemari seakan sengaja mencoba menghalau hawa dingin yang mereka rasakan. Kalau bukan karena tanda-tanda anak panah kuning yang tertancap pada interval tertentu di batang pohon sepanjang rute, dan menyadari bahwa apa pun yang mereka lakukan mereka harus tetap bergerak naik, maka mereka pasti sudah lama kehilangan arah.
__ADS_1
Buku Isaac Schlegel menyatakan bahwa hanya diperlukan waktu tiga puluh menit untuk menuju pertambangan. Dengan kondisi seperti yang mereka hadapi sekarang, maka sudah hampir satu setengah jam lamanya sebelum akhirnya mereka merasa tanah yang mereka pijak mulai mendatar. Seolah baru muncul dari lorong, keduanya berjalan sempoyongan menuju tempat yang lebih luas di kaki dinding batu hitam belakang, tubuh mereka terselimuti sisa-sisa salju yang menempel dari pinggang ke bawah.
“Terima kasih, Tuhan,” kata Layla, terengah-engah. Di sisinya, Ben-Roi menarik botol dari kantong di pinggangnya dan, di antara batuknya, meneguk beberapa kali dengan tegukan panjang.
Mereka beristirahat setengah menit, kemudian, masih berusaha keras mengatur napas, bergerak naik beberapa langkah dan mengangkat lampu, memainkan sinarnya ke segala arah pada permukaan batu di depan mereka sampai mereka menemukan pintu masuk pertambangan bentuk persegi dan gelap yang mulutnya berupa kayu tipis yang telah dipaku untuk mencegah siapa pun masuk.
Mereka saling bertukar pandang, tidak dapat mengetahui banyak fitur lain di balik tirai uap yang keluar dari mulut mereka, kemudian melangkah maju ke tempat terbuka, menerobos gundukan batu yang tertutup salju dan terus berjalan sampai mereka mencapai pertambangan.
Tiga tendangan yang tidak terlalu keras dan sedikit dorongan sudah cukup untuk merobohkan barikade tipis yang menghalangi pintu, membuka koridor lembab yang tersembunyi dalam posisi membujur mundur ke dalam sisi bukit. Atapnya disanggah oleh kayu dengan jarak interval tertentu, pembatasnya yang sempit bergabung dengan kegelapan yang begitu pekat sehingga Layla merasa ia dapat menyentuhnya dan meraih bagiannya. Untuk momen singkat yang begitu menekan ia menemukan dirinya terjebak lagi oleh mimpi buruknya yang berulang terjadi sel bawah tanah, hewan yang penuh curiga, kengerian yang sama, kegelapan yang menyelimuti sebelum ia tersadar kembali ke masa sekarang oleh suara Ben-Roi yang bergerak maju ke dalam terowongan. Layla mengikutinya, dinding sepertinya menekan dirinya, jantungnya bertalu-talu, terus begitu sampai sekitar sepuluh meter sebelum si Israel ini tiba-tiba berhenti, garis tubuhnya yang besar menghalangi seluruh koridor.
“Sialan!”
“Sialan!” Layla mendekatinya, sinar lampunya bergabung dengan sinar lampu Ben-Roi menghasilkan bias sinar terang yang menyoroti kegelapan di depannya. Empat puluh meter di depannya dalam terowongan itu buntu, tertutup dinding tebal dari bebatuan tempat atap pertambangan telah digali.
“Kparat!”
__ADS_1
Sedangkan Khalifa tiba di Berchtesgaden dari arah utara, lewat jalan darat dari Bad Reichenhall. Bagian dalam Polo saat itu pekat oleh asap rokok, tempat asbak pada dasbor penuh sesak oleh puntung rokok. Ia menghentikan mobilnya di depan stasiun kereta api kota untuk membaca peta, kemudian bersiap lagi, seraya melemparkan pandangan sekilas pada sekelompok laki-laki yang sedang berjalan di seberang jalan dengan berpakaian celana pendek kulit Tuhanku, dalam cuaca seperti ini! sebelum melaju ke sungai Berchtesgadener Ache dan naik ke arah luar kota menuju pegunungan.
Menurut peta yang dikirim via faksimili oleh orang Jerman itu kepada Sariya, pertambangan Berg-Ulmewerk diakses melalui semacam jalan kecil atau jalur yang menuju ke atas dari Rossfeldhohen-Ringstrasse, jalan yang ia ikuti sekarang. Namun, di mana persisnya jalur itu dimulai, atau apakah ada tanda apa pun tentangnya, tidak begitu jelas, baik di dalam peta yang dikirim via faksimili atau pada peta yang ia beli di bandara. Semakin tinggi Khalifa naik, semakin dalam saljunya dan semakin lebat hutan pinusnya, dan semakin ia menjadi khawatir sehingga jika tidak menemukan tanda berbunyi PERTAMBANGAN LEWAT JALAN INI, ia tidak akan pernah dapat menemukan tempat benda sialan itu.
Sebenarnya Khalifa baru saja berpikir dia tidak usah berputar dan kembali saja ke desa terdekat, mencoba mendapatkan arah yang lebih rinci, ketika, muncul di tikungan yang kelihatannya merupakan titik tertinggi jalan, lampu senternya menangkap wajah reruntuhan bangunan batu menumpuk di tempat terbuka di sisi kanan. Di balik gundukan itu sebuah mobil berhenti di sisi jalan, dengan jejak tercetak secara tidak rapih menuju hutan di atas. Ben-Roi. Pasti dia. Khalifa berhenti, mematikan mesin dan keluar dari mobilnya.
Bila ia berpikir bahwa di dataran rendah udaranya begitu dingin, maka hal itu belum apa-apa dibandingkan udara yang dingin seperti es dan menggigit yang sekarang menyelimutinya, udara segar pegunungan seperti mengoyak pakaiannya sehingga ia merasa seolah sedang berdiri telanjang bulat di dalam sebuah lemari pendingin raksasa. Untuk sesaat, hal itu cukup membuat napasnya tersendat, seakan seseorang telah menyodok perutnya. Dan bahkan ketika ia sudah merasa cukup pulih untuk menyelipkan rokok pada mulutnya dan menyulutnya, gigi-giginya gemeletuk hingga dia harus berjuang keras hanya untuk dapat mengisap rokoknya.
Khalifa mengentak-entakkan kakinya sebentar, mencari kehangatan apa pun yang bisa didapat untuk tubuhnya, kemudian kembali ke dalam Polo dan merapikan setiap lembar kertas yang dapat disimpan dalam saku jaketnya. Peta, surat penyewaan mobil, bahkan buku log Volkswagen kemudian mengempas pintu, menguncinya dan bersiap memasuki hutan. Sepatunya tenggelam dan berderap dalam salju, pohon pinus yang mengelilinginya seperti jeruji sangkar besar.
Mereka berhasil memindahkan beberapa batu yang lebih kecil dari reruntuhan langit-langit, berharap ini merupakan keruntuhan yang terbatas dan entah bagaimana mereka akan dapat keluar dari kesulitan menerobos terowongan di atas sana. Tak ada peluang. Di belakang batu yang lebih kecil ada batu yang lebih besar, batu yang sangat besar, lempengan batu yang besar. Perlu perjuangan untuk memindahkan bebatuan itu dengan sepuluh orang dan perlengkapan pengangkat yang sesuai. Dengan hanya mereka berdua, dan tidak ada alat yang dapat digunakan selain tangan kosong mereka, maka hal itu mustahil dilakukan. mereka mencoba menyelesaikan persoalan itu selama tiga puluh menit, lampu sorotnya menyinari dengan susah payah pada ember timah tua di lantai, kemudian menyerah.
“Membuang-buang waktu kita saja,” kata Layla, wajahnya berisi butiran keringat melawan dingin. “Tak mungkin kita dapat menerobosnya. Tidak mungkin.” Ben-Roi tidak mengatakan apa-apa, hanya bersandar di dinding sambil menarik napas berat. Kemudian, dengan makian “Dasar sial,” ia meraih salah satu lampu senter dan menyoroti lorong di belakangnya ke arah sinar kecil yang ada pada pintu masuk pertambangan yang berbentuk persegi berwarna abu-abu.
Layla menunda sebentar, kemudian bergerak maju dan mengambil senter kedua. Ketika ia melakukannya, sinar senternya merambat sesaat di lantai, menangkap apa yang kelihatannya seperti lekukan halus pada batu di bawah kakinya, tidak lebih dari beberapa sentimeter dan hampir tidak terlihat karena tertutup debu dan kotoran yang menutupi lantai. Ia mengarahkan senternya ke bawah, mengerutkan dahi, kemudian berjongkok dan, sambil memegang senter dengan tangan yang satu, menggosok lantai dengan tangan yang lain. Lekukannya mulai terlihat, dan lekukan yang lain juga. Ia menggosok lebih keras. Lekukan itu berupa garis-garis paralel, satu set mengikuti arah koridor dari pintu masuk ke reruntuhan batu, lekukan lain melengkung pada titik tempat ia berjongkok dan langsung ke dinding antara dua penyangga kayu langit-langit.
__ADS_1
“Lihat ini!” kata Layla, masih sambil menggosok-gosok lantai. Saat itu Ben-Roi hampir sampai di pintu masuk pertambangan. Ia berhenti dan menoleh.
“Pernah ada rel di sini,” kata Layla. “Di lantai. mereka menuju pertambangan. Tetapi kemudian, tepat di sini, jalurnya bercabang.” Si Israel ragu, kemudian berjalan kembali masuk ke terowongan tempat Layla berjongkok, lampu senternya bergabung dengan lampu milik Layla menyinari lekukan paralel yang menikung dari sumbu utama lorong. Ben-Roi menatapnya, kemudian bergerak kembali dan mengarahkan senternya pada area dinding tempat lekukan itu menghilang. Layla melakukan hal yang sama. Walaupun kotor dan tidak rata, kini mereka melihatnya lebih dekat sehingga dapat mengetahui dengan jelas bahwa bagian tertentu dari batu itu berwarna lebih terang daripada bagian lain dalam terowongan itu, dan memiliki tekstur yang samar-samar berbeda.