Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PENJAGA SINAR


__ADS_3

Mereka mendarat jam sebelas lebih. Pagi yang hangat dan bersih dengan langit biru dan sinar matahari kuning mengambang ditengah-tengahnya, seperti gumpalan lemak. Ben-Roi ingin segera mendapatkan penerbangan sambungan. Tidak ada acara apa-apa sampai malam hari itu, sehingga ia setuju untuk sama-sama menggunakan taksi ke kota dan mengunjungi Kedutaan Besar Israel untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, serta memeriksakan telinganya pada dokter. Khalifa memberikan instruksi dalam bahasa Arab, dan mereka segera meluncur.


Mereka tidak berbicara selama perjalanan, hanya duduk sambil menatap pemandangan di luar jendela begitu kota besar mengepung mereka. Ketika mereka sampai di Nil, mereka berbelok ke kiri di sepanjang Corniche, melaju di sana beberapa kilometer sebelum belok ke tengah kota lagi, kembali ke kepadatan kota, meliuk di antara lalu lintas yang sibuk sebelum akhirnya memutar di sudut menuju jalan yang luas dan sepi dengan stasiun metro di satu sisinya dan area berdinding yang penuh dengan pepohonan dan gereja di sisi seberangnya. mereka berhenti di sana. Ben-Roi belum pernah ke Kairo sebelum ini, tetapi ia merasa pasti bahwa ini bukanlah Kedutaan Besar Israel. Dengan kesal ia bertanya pada Khalifa apa yang terjadi.


“Aku hanya ingin memeriksa sesuatu,” jawab si mesir, sambil keluar dari mobil. “Hanya beberapa menit saja. Aku rasa kau harus ikut juga.” Ben-Roi menggerutu, tetapi Khalifa begitu memaksa dan akhirnya si Israel ini pun keluar juga sembari bersungut-sungut. Mereka membayar taksi, menyeberangi jalan dan, menuruni beberapa anak tangga yang terbuat dari batu, memasuki interior ruang tertutup, muncul di jalan kecil dan sempit antara dinding tinggi berbata merah dan kuning. Suasananya sangat tenang, sepi, atmosfernya lembab dan pengap.


“Tempat apa sih ini?” tanya Ben-Roi, sembari melihat ke sekeliling.


“Ini namanya Masr Al-Qadima,” jawab Khalifa, sambil mengambil rokoknya dan menyulutnya. “Kairo Lama. Bagian kota paling kuno. Beberapa bagiannya kembali ke masa Romawi.” Ia mengisap rokoknya. “Walaupun aku ingat tempat ini sempat berganti nama.” Ia menatap Ben-Roi sekilas. “Namanya Babilon. Babilon di Mesir.” Si Israel menaikkan alisnya, seolah berkata “Apa itu ada artinya untukku?” Khalifa tidak menanggapi, hanya mengisap Cleopatranya lalu menggerakkan tangannya dan menuju ke jalan. Kemudian mereka melewati banyak pintu atau jendela, tetapi tidak melihat ada orang, juga tidak mendengar suara apa pun, kecuali langkah kaki mereka dan sayup-sayup sebuah lagu, lembut dan sangat halus. Jalan berbelok ke kanan, lalu ke kiri, kemudian ke kanan lagi sebelum sampai pada ruang terbuka, ruang dengan pinggiran pohon di depan Sinagog Ben ezra.


Lagi-lagi si Israel ini bertanya ada apa, Khalifa pun tidak menjawab, hanya menjentikkan rokoknya dan mengajak Ben-Roi memasuki bangunan itu. mereka berhenti sejenak di pintu gerbang, memperhatikan mimbar marmer, galeri kayu, dinding dan langit-langit yang berdekorasi sangat indah, kemudian melangkah sampai mereka berdiri di depan tempat pemujaan terbuat dari kayu yang tinggi di sisi dalam sinagog, diapit oleh Menorah braso pada semua sisinya.


“Selamat datang, Yusuf. Aku tahu kau akan kembali.” Seperti kunjungannya dulu, Khalifa begitu yakin bahwa sinagog ini kosong. Tetapi ternyata ada laki-laki tinggi berambut putih, sedang duduk, seperti sebelumnya, di balik bayangan di bawah galeri. Ia mengangkat tangannya tanda memberi salam, menatap keduanya untuk beberapa saat sebelum berdiri dan menghampiri mereka. Khalifa memperkenalkan temannya.


“Arieh Ben-Roi,” katanya. “Dari Satuan Kepolisian Israel.” Laki-laki itu mengangguk, seolah sudah menantikan jawaban seperti itu. Matanya melirik pada kalung Menorah yang tergantung di leher Ben-Roi. Khalifa gelisah. Setelah sampai di sini, ia sepenuhnya tidak yakin bagaimana menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya. Bahkan tidak sepenuhnya yakin tentang apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya. Laki-laki itu tampak mengerti dilema yang dihadapi Khalifa, karenanya ia maju selangkah dan menyentuhkan tangannya pada bahu Khalifa.


“Benda ini dibawa ke sini sejak dahulu sekali,” katanya lembut.


“Tujuh puluh generasi sekarang. Mathhias Pendeta Agung memesannya. Ketika ia tahu kota suci akan jatuh ke tangan bangsa Romawi.” Khalifa mengedip padanya.


“Yang....”


“Yang lain?” kembali, laki-laki itu sepertinya tahu apa yang sedang dipikirkannya bahkan sebelum Khalifa sendiri melakukannya. “Eleazar si pengrajin emas membuatnya. Untuk mengecoh musuh kami. Yang asli dikirim ke mesir dengan nenek moyangku, di sini menunggu sampai waktu yang lebih baik datang. Keluarga kami menjaganya sejak itu.” Ben-Roi membuka mulutnya, kemudian menutupnya kembali dan hanya terdiam. Lama mereka tidak berbicara.


“Anda tidak pernah mengatakannya pada siapa pun?” Tanya Khalifa akhirnya. Laki-laki tua itu mengangkat bahu. “Waktunya belum tepat.”


“Sekarang?”


“Oh ya. Kini waktu yang tepat. Tanda-tandanya telah terpenuhi.” matanya, yang membuat Khalifa terkejut, terlihat berkaca-kaca oleh air mata kebahagiaan, bukan kesedihan. Ia memandang detektif itu, kemudian, secara perlahan, menoleh ke Menorah yang terdekat, menjulurkan tangannya dan menyentuhkan ujung jarinya ke salah satu cabangnya.


“Tiga tanda untuk membimbing kalian,” ia berkata dengan lembut, suaranya tiba-tiba terasa jauh, seolah menggema melintasi ruang dan waktu yang luas. “Pertama, yang termuda dari dua belas akan datang dan di tangannya ada elang; kedua, anak laki-laki Ismail dan anak laki-laki Ishak akan berdiri bersama sebagai teman di Rumah Tuhan; ketiga, singa dan penjaga akan bersatu, dan di lehernya ada lampu. Ketika semua hal ini datang, maka itulah saatnya.” Kemudian hening beberapa lama. Kata-kata dari laki-laki itu seperti bergaung di ruang dalam sinagog yang tenang, hening dan dingin. Kemudian ia menoleh kembali, mata birunya berbinar.


“Kedatangan kalian mengisi tanda pertama,” katanya, tersenyum pada Khalifa. “Karena anak termuda dari dua belas anak laki-laki Yakub adalah Joseph, atau Yusuf dalam lidah Arab. Dan kau membawa elang. Tanda yang kedua adalah ia membentangkan tangannya untuk merangkul kedua detektif itu dipenuhi oleh kalian berdua. Karena melalui Ismail orang-orang muslim menelusuri nenek moyangnya, dan dari saudaranya, Ishak, orang-orang Yahudi menelusuri keturunannya. Muslim dan Yahudi bersisian di dalam Rumah Tuhan. Dan sebagai tanda yang ketiga....” Ia memiringkan kepalanya, memberi tanda pada ornament yang tergantung di leher Ben-Roi.


“Singa?” tanya Khalifa, suaranya terdengar berat dan aneh baginya. “Gembala?” Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa, hanya memandang Ben-Roi.


“Namaku,” kata si Israel. “Arieh adalah singa dalam Bahasa Ibrani. Roi adalah penjaga. Dengar, ini semua bicara tentang apa?” Senyum laki-laki itu semakin melebar dan ia mengeluarkan tawa geli. “Akan aku tunjukkan pada kalian, sahabat. Tujuh puluh generasi, dan sekarang, akhirnya, tiba waktunya untuk membuka tabir ini.” Ia menggamit tangan kedua detektif ini dan membawa mereka ke sudut belakang sinagog. Ia lalu mengeluarkan kunci dan membuka pintu rendah yang ada di panel kayu sepanjang dinding.


“Sinagog kami ini dibangun pada abad kesembilan akhir, di atas reruntuhan Gereja Coptic tua,” jelasnya, seraya mengantar keduanya menuruni tangga ke ruang bawah yang terbuat dari batu, kosong selain rak kursi kayu lipat dan, di tengah-tengah lantai, sebuah karpet besar. “Pada gilirannya, ia berdiri di atas reruntuhan gedung yang bahkan lebih tua, yang kembali ke zaman Romawi.


Ketika para leluhurku pertama kali datang ke sini bangunan ini adalah rumah bagi pemimpin komunitas Yahudi di Babilon, seorang laki-laki yang sangat bijak dan suci. Namanya Abner.” Ia berjalan di atas karpet dan, menunduk, meraih ujung karpet.


“Tidak satu pun sekarang ini yang tersisa dari rumah aslinya, kecuali satu bagian kecil ruang kolong, sangat dalam, pernah digunakan untuk menyimpan anggur. Ruang itu bertahan tak tersentuh ketika di atasnya abad-abad berjalan perlahan dan bangunan datang dan pergi.” Ia menarik karpet ke samping, memperlihatkan sebuah lembaran batu dengan soket pada bagian tengahnya, lebih besar daripada bendera yang mengelilinginya, lebih halus, lebih tua, sangat tua. Dengan bantuan kedua detektif, ia menggesernya ke samping, membuka lubang yang di dalamnya ada anak tangga ke bawah.


Khalifa tidak merasa pasti, tetapi sepertinya dia menangkap sinar tipis dari bawah.


“Ayo,” kata laki-laki itu. “Ia sudah menunggu.” Lelaki tua itu membawa kedua detektif menuruni tangga dan masuk ke dalam lorong melengkung yang sempit dengan langit-langit dan dinding batu bata berdebu. Sinar itu tak salah lagi, adalah kilau hangat yang keluar dari sudut pada sisi dalam ruang bawah tanah. mereka melangkah mendekat, kilauannya semakin kuat dengan semakin dekatnya langkah mereka, lebih dalam dan lebih kuat. Lubang hidung mereka menangkap harum samar parfum di udara, hampir tak kentara tetapi di saat bersamaan, secara aneh begitu meracuni sehingga mereka mulai merasa ringan. Mereka sampai di bagian akhir ruang itu, belok ke sudut dan berhenti.

__ADS_1


“Oh Tuhan,” Ben-Roi tersedak. Di depan mereka adalah ruang kolong yang memotong batu kasar, dinding dan langit-langitnya kasar dan tidak rata, interiornya diliputi sinar yang paling hangat, paling manis dan paling indah yang pernah diketahui Khalifa. Sambil berdiri di sisi yang agak jauh, sumber lampu itu, Menorah bercabang tujuh, sama persis dengan yang mereka temukan di pertambangan tetapi pada saat bersamaan juga seluruhnya berbeda. emasnya jelas-jelas lebih kaya dan memikat, bentuknya jelas-jelas lebih ringan dan anggun, dekorasinya begitu halus dan hidup sehingga di sampingnya, bunga-bunga, dedaunan, dan buah-buahan jelas akan terlihat tidak lebih dari imitasi yang mentereng tapi tak berharga.


Kedua detektif itu saling berpandangan, mata bertemu dan bertatapan untuk beberapa lama sebelum mereka menoleh kembali. mengikuti laki-laki berambut putih, mereka berjalan ke depan sampai keduanya berdiri tepat di depan kandil, sinarnya menerpa mereka seperti gelombang emas, mengalir ke dalam mata keduanya, membanjiri ceruk terjauh dari tubuh mereka, dan mengisinya.


“Anda membuat lampu-lampu ini terus menyala?” tanya Ben-Roi, suaranya nyaris tak terdengar.


“Lampu-lampunya tidak pernah disentuh sejak Menorah dibawa kemari,” jawab si laki-laki tua itu.


“Lampu-lampu ini telah dinyalakan, dan tetap begitu sejak itu. Sumbunya tidak pernah terbakar habis, minyaknya tidak pernah habis.” Mereka menggelengkan kepala keheranan dan condong kedepan beberapa inci lagi, sambil menatap sinarnya.


Benda itu tidak seperti apa pun yang pernah Khalifa lihat, yang terbuat dari semua warna pelangi dan lebih lagi, warna-warna yang tidak diketahui Khalifa keberadaannya. Warna yang begitu murni, begitu sempurna, menghipnotis, sehingga setelahnya setiap warna yang lain akan terlihat membosankan dan monokrom secara kontras. Benda itu menariknya ke dalam, menerpa dan menggulung di sekitarnya, menyentuh wajahnya seolah ia sedang melewati selendang tembus pandang sebelum tiba-tiba terpisah memperlihatkan ruang terbuka yang sangat luas, ruang yang entah bagaimana dan ia tidak pernah bisa menjelaskannya dengan tepat berisi semua orang yang pernah dikenalnya, setiap tempat yang pernah dikunjungi, setiap hal yang pernah dia lakukan: seluruh kehidupannya terbentang di hadapannya, begitu jelas sempurna, benar-benar nyata. Ada ayah dan ibu, saudaranya Ali, hari wisuda polisinya, hari ketika ia berusia lima tahun ketika ia lari dari rumah dan memanjat ke puncak Piramid Agung Cheops. Dan tepat di tengah-tengah, paling jelas dan paling terang dari kejauhan, sambil tertawa dan melambaikan tangan padanya seolah ia sedang melihat mereka melalui jendela, Zenab dan anak-anaknya.


“Aku dapat melihat Galia.” Khalifa menoleh. Dalam ketakutan, ia melihat Ben-Roi telah menjulurkan tangannya dan sedang memegangnya tepat di tengah salah satu api. Ia menjulurkan tangannya juga, bermaksud menarik tangan si Israel itu, tetapi laki-laki berambut putih menahannya.


“Sinar Tuhan tidak dapat membahayakan mereka yang dalam hatinya benar-benar tulus dan bajik,” katanya perlahan. “Biarkan saja.” Ben-Roi tersenyum. Api terlihat meluas dan membesar hingga menutupi seluruh tangannya, membungkusnya dalam sarung tangan sinar emas yang brilian.


“Aku dapat merasakan rambutnya,” ia berbisik, “wajahnya. Ia ada di sini. Galia ada di sini.” Ben-Roi mulai tertawa. Jari-jarinya bergerak kian kemari menerobos api seolah sedang membelai kulit orang yang dicintainya, terus-menerus begitu selama beberapa saat sebelum tiba-tiba wajahnya mengisut dan mengeluarkan suara sedu sedan yang dalam. Yang lain datang, yang lain lagi, yang lain lagi, masing-masing lebih kasar daripada yang terakhir, seluruh tubuhnya tampak menggigil karena tekanan kesedihan. Ia menarik tangannya, membungkuk ke depan, memegang tepinya, tetapi gerakan tubuhnya semakin kuat dan akhirnya ia jatuh berlutut, tersedu-sedu tak terkendali. Air matanya mengalir deras seperti air dari bendungan yang ambruk, terus-menerus, mengosongkan dirinya.


“Aku begitu mencintainya,” ia terus berkata begitu. “Oh Tuhan, aku sangat mencintainya.” Khalifa mencoba menenangkan, tetapi tampaknya tidak pas dan, sembari melangkah maju, ia menyentuhkan tangannya pada bahu Ben-Roi. Ia masih tersedu-sedu, air mata mengalir deras membasahi pipi si Israel ini, napasnya pendek-pendek, lenguhan penderitaan. Pada akhirnya, hampir tidak menyadari bahwa ia melakukannya, Khalifa pun datang mendekat, memeluk pinggangnya dan merangkul laki-laki besar ini.


“Aku begitu mencintainya,” kata Ben-Roi. “Aku merindukannya. Oh Tuhan, aku merindukannya.” Si mesir tidak berkata apa-apa, hanya memeluknya. Sinar Menorah menyelubungi keduanya bagaikan jubah yang berkilau, menarik keduanya bersama, dan mengikatnya. Laki-laki tua itu tersenyum, berbalik dan berjalan keluar lorong.


Ketika akhirnya mereka naik lagi ke ruang tengah sinagog, si orang tua sudah tidak mereka temukan kembali. mereka memanggil-manggil namanya, tetapi tidak ada jawaban, dan setelah mencari ke sana kemari selama beberapa menit mereka pun keluar.


Saat itu sudah tengah hari ketika mereka tiba di sana tadi. Tetapi sekarang, tak dapat dijelaskan, hari sudah subuh lagi, seolah rentang Waktu entah bagaimana menggelincir dan menyentak, memecahkan ritme normal siklus harian. mereka menatap ke timur pada semburat warna merah muda dan hijau, yang menghiasi langit di atas kepala Bukit Muqattam yang tidak rata, kemudian berjalan ke depan dan duduk di kursi tembok di bawah batang pohon laurel India raksasa. Ketika mereka duduk, seorang anak laki-laki kecil dalam djelabba putih datang membawa baki dengan dua gelas teh di atasnya. matanya biru dan cerah seperti batu safir.


“Apa yang akan kita lakukan dengan ini?” ia akhirnya bertanya. Di sisinya, Ben-Roi telah membungkuk ke depan dan meneguk tehnya.


“Melakukan hal yang baik,” gumamnya. “mencoba melakukan sesuatu yang berbeda.”


“Hmm?”


“Hal terakhir yang dikatakan Galia padaku. Sebelum ia tewas. Lakukan hal yang baik. Cobalah membuat sesuatu yang berbeda. Itu adalah frase yang kami miliki.” Ia menatap Khalifa, kemudian menunduk lagi. “Aku tak pernah mengatakan ini pada siapa pun.” Si mesir tersenyum dan meneguk tehnya. Sangat manis dan sangat kental, cairannya murni dan cokelat kemerahan, hampir seperti warna delima persis seperti yang dia suka.


“Ini akan menimbulkan masalah,” ujar Ben-Roi setelah hening sejenak, kemudian kembali menyesap minumannya. “Bila orang tahu bahwa benda itu diketemukan. Biarkan dulu seperti ini adanya. Banyak Har - Zion lain di mana-mana. Juga Al - Mulatham.” Khalifa mengisap rokoknya.


Matahari baru saja menyembul dari balik bukit, membentuk sabit tipis berwarna merah terang.


“Ini terlalu ... kuat,” lanjut Ben-Roi. “Terlalu ... istimewa. Bila harus kembali ... aku tak berpikir kita akan siap untuk itu. Segala sesuatunya memang sudah cukup rumit.” Ia meletakkan gelas di sisi dan melipat lengannya. Sepasang pemakan lebah terbang dari cabang di atas, mematuk tanah dengan paruhnya yang panjang dan, seperti bulu ayam, berloncatan kian kemari. Kedua laki-laki ini saling bertukar pandang, kemudian mengangguk, mengetahui bahwa mereka sedang memikirkan hal yang sama.


“Setuju?” tanya Ben-Roi.


“Setuju,” jawab Khalifa, menyelesaikan rokoknya dan menginjak puntungnya dengan ujung alas sepatu.


“Aku akan menelepon Milan. mengatakan padanya bahwa benda itu aman. Ia tidak akan ingin tahu lebih banyak lagi.”


“Dia bisa dipercaya?”

__ADS_1


“Yehuda?” Ben-Roi tersenyum. “Ya, dia bisa dipercaya. Itulah sebabnya aku meneleponnya tentang Menorah pertama kali. Ia orang yang baik. Seperti anak perempuannya.”


“Anak perempuannya?”


“Aku rasa aku sudah mengatakannya padamu,” kata Ben-Roi.


“Aku yakin aku sudah mengatakannya.”


“Mengatakan apa?” Si Israel ini mengusap kepalanya.


“Yehuda Milan adalah ayah Galia.”


Mereka khawatir keputusan mereka akan membuat laki-laki tua itu marah. Ketika mereka menjumpainya dan mengatakan padanya tentang rencana itu, ia hanya mengangguk dan tersenyum dengan senyumannya yang mengandung teka-teki.


“Tugas kami adalah menjaga Lampu, dan ketika waktunya tiba mengungkapkan asal-usulnya,” ia berkata perlahan. “Ini sudah kami lakukan. Tidak ada lagi yang diharapkan, baik dari kami atau oleh kami.” Terdengar langkah kaki dan si bocah laki-laki berlari menuju sinagog, mengambil posisi di sisi si kakek. orang tua itu merentangkan tangannya ke bahu si bocah.


“Apa yang akan kalian lakukan sekarang?” tanya Khalifa.


“Sekarang?” Laki-laki itu mengangkat bahu. “Kami adalah pengurus tempat ini. Ini adalah rumah kami. Itu tidak akan berubah. Tidak ada yang akan berubah.”


“Lampu itu?”


“Lampu akan tetap berada di tempatnya. hingga menjadi kehendak Tuhan untuk memindahkannya. Ketika kuncupnya menyala maka akan selalu ada sinar di dunia, betapa pun gelap kelihatannya.” Bocah itu menarik jubah sang kakek dan, sambil berjingkat, berbisik pada telinganya. orang tua itu tertawa geli dan mengecup keningnya.


“Katanya, bila aku mati dan ia yang harus mengurus sinagog ini, Anda berdua dipersilakan datang dan melihat Lampu kapan pun Anda mau.” Kedua detektif itu tersenyum.


“Semoga Tuhan beserta Anda, sahabatku. Sinar Menorah ada dalam dirimu sekarang. Jangan biarkan ia memudar.” Ia menatap keduanya beberapa saat. Kedua laki-laki itu secara tiba-tiba mengalami perasaan aneh mengambang tanpa berat badan. Kemudian dengan anggukan, ia menggamit tangan sang bocah, berbalik dan berjalan memasuki bayangan di bawah galeri kayu sinagog. Lalu keduanya menghilang dari pandangan seakan tak pernah ada.


Ketika mereka meninggalkan sinagog, Ben-Roi tiba-tiba mengangkat tangannya ke sisi kepalanya.


“Telingaku sembuh,” katanya.


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards

__ADS_1


*****


__ADS_2