
Mereka berjalan mendekati Arena prosesi sambal bergandengan tangan, bernyanyi bersama, masing-masing memegang lilin kecil yang menyala sehingga malam itu berbintik-bintik dengan ribuan titik cahaya yang berkedip. Si perempuan tampak cantik dengan rambut panjang berwarna cokelat yang digulung tak rapi di bagian atas kepalanya. Ia mengenakan baju katun tipis berwarna kuning yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang muda dan ramping, mengisyaratkan lekuk tubuh ideal yang terselubung. Si laki-laki lebih tinggi dari si perempuan, dan lebih besar. Seperti beruang bersisian dengan rusa betina. Wajahnya lebar dengan tulang pipi menonjol seperti kayu yang ditebang secara kasar, buruk sekaligus tampan pada saat bersamaan. Laki-laki itu terus menatap perempuan di sampingnya, menggelengkan kepalanya seolah sulit untuk percaya bahwa ia sedang bersama seseorang yang sangat cantik, begitu rapuh dan lembut. Perempuan itu membaca pikirannya dan tertawa.
“Akulah yang beruntung, Ari-Yari,” katanya. “Aku akan menjadi istri paling bahagia di seluruh dunia.” mereka sampai di suatu tempat yang terbuka.
Prosesi terhenti dan menyebar, lalu berbaris lagi di depan panggung tempat berbagai pidato berlangsung di bawah spanduk bertuliskan PERDAMAIAN. Mereka berpegangan tangan dan mendengarkan, bertepuk tangan, bersorak, bergembira, tak henti-hentinya saling memandang pasangannya, mata berbinar penuh cinta dan harapan.
Setelah beberapa saat, si laki-laki meninggalkan kekasihnya setelah berbisik bahwa ia ingin mengambil minuman. Tetapi, sambil menahan tawa geli, ia ternyata menyelinap pergi ke toko bunga yang buka sampai larut malam dan membeli bunga untuk pengantin perempuan. Setangkai lili putih, bunga kesukaannya. Ia sedang dalam perjalanan kembali, sambil tersenyum membayangkan kegembiraan kekasihnya nanti begitu ia mengeluarkan bunga itu dari belakang punggungnya, ketika tiba-tiba ia mendengar bunyi sebuah ledakan. Awalnya ia tidak begitu pasti dari arah mana suara itu berasal. Kemudian, ia melihat gumpalan asap dan tersentak, lalu berlari cepat, perutnya mengencang karena meramalkan sesuatu.
Di alun-alun itu tubuh berserakan di mana-mana, begitupun potongan-potongan anggota tubuh dan orang-orang yang menjerit. Ia berkeliling meneriakkan nama kekasihnya, kakinya terbenam dalam darah, dering telepon genggam yang tidak diangkat bergema di telinganya. Lalu akhirnya ia menemukan tubuh kekasih nya di bawah pohon siprus yang tumbang. Bajunya terbang entah ke mana sehingga ia hampir terlihat telanjang. Kedua kakinya putus dan terserak di dekatnya.
“oh sayangku!” Ia tersedak dalam kata-katanya sendiri, memeluk tubuh kekasihnya. Darah kekasihnya yang masih hangat merembes pada kemeja dan jeansnya.
“Oh Galia kekasihku yang cantik.” Entah bagaimana Galia berusaha mengangkat tangannya, merangkulnya ke belakang kepala laki-laki itu, menarik wajah kekasihnya agar mendekat pada wajahnya. Ia menciumnya, dengan bibirnya yang terluka dan penuh darah seperti krayon rusak, dan membisikkan ke telinga kekasihnya dengan sangat perlahan, kata-kata yang hanya dapat didengar kekasihnya, kata-kata yang akan terus tinggal bersamanya selamanya. Kemudian kepalanya terkulai, tak bernyawa.
Dalam kebingungan, hampa dan sepi yang belum pernah dirasa kan sebelumnya, laki-laki itu menatapi tubuh kekasihnya yang koyak, dengan bunga lili yang masih tergenggam di tangan, kelopaknya sekarang berwarna merah. Di sekelilingnya, malam disesaki raungan dan ratapan sirine. Seolah udara pun sedang menjerit dalam keputusasaan.
“Arieh.” Sirine di mana-mana.
“Arieh.” Sorotan lampu, teriakan, orang-orang berlari.
“Ben-Roi, kparat dungu, sedang apa kau sialan!”
Arieh Ben-Roi tersadar, membenturkan kepalanya ke jendela mobil. Botol pinggang peraknya terlepas dari tangannya, mengalirkan sisa vodka ke pangkuan, membasahi celana jeansnya. Sirine terus meraung-raung. Telinganya serasa mengamuk.
“Pergi, Bung! Demi Tuhan, cepat pergi!”
Untuk sesaat, ia duduk dalam keadaan bingung, tergantung di antara masa lalu dan masa kini. Kemudian, setelah menyadari apa yang sedang terjadi, ia membuka kotak, meraih pistol Jerichonya dan segera keluar dari taksi. Di depannya jalan aspal menanjak menuju Gerbang Singa, ketika sebuah mercedes hitam dengan penuh ketakutan mencoba berbalik, bannya menderit. Di belakang, seruas deretan mobil polisi berhenti, memblokade apa pun yang keluar dari Kota Tua, lampu sorotnya melemparkan pola tak beraturan berwarna terang dekat pemakaman muslim tua yang terentang di seberang lereng di sisi yang lain. Ia kemudian berlari kecil, sambil merenggut keffiyeh dari kepalanya dan dipinggirkannya.
Mereka telah merencanakan pengejaran ini lebih dari sebulan.
Seorang informan telah memberi keterangan tentang pemasokan dalam jumlah besar untuk para dealer di Kota Tua. Tidak ada tanggal yang pasti, hanya waktu dan tempat: tengah malam, Gerbang Singa. Sejak itu mereka berjaga-jaga, bekerja dengan menyamar sebagai gelandangan, pemungut sampah, wisatawan, dan pecinta.
Selama tiga malam terakhir Ben-Roi telah berdiam di bukit yang menuju gerbang sebagai sopir taksi Arab, menunggu, mengamati, sambil meneguk minuman dari botol pinggangnya. Dan kini, akhirnya, peristiwa itu pun terjadi. Dan dia malah ketiduran.
“Kparat!” gerutunya, sambil berjalan sempoyongan ke atas bukit, mobil di depannya memekik dan tergelincir seperti hewan yang dipojokkan. “Kparat sialan!”
Di sisi kanannya, para penembak jitu sedang berjalan ke depan menerobos semak belukar di pemakaman Yusefiya. Di depannya, di dalam Gerbang Singa, tiga orang laki-laki dalam posisi tiarap, wajah mereka menghadap jalan, dikelilingi para polisi.
“Lumpuhkan bannya!” sebuah suara menjerit di alat pendengar yang terpasang di telinganya. “Tembak ke bawah!”
__ADS_1
Ben-Roi berlutut dan mengangkat pistolnya. Tangannya gemetar memegang vodka, lalu sebelum ia sempat membuatnya ajeg, tiga letusan menghantam di sekitar dirinya. Dua dari pemakaman, dan satu dari dinding di atas gerbang. Ban depan mercedes itu pun meledak serentak, melempar badan mobil menghantam dinding.
Jeda sesaat, kemudian pintu terbuka dan tiga laki-laki Palestina muncul dari dalam, tangan terangkat di atas kepala.
“Udrubu ‘alal ard! Sakra ayunuk!” kata sebuah suara yang besar.
“Tiarap ke tanah dan tutup mata kalian!”
Ketiga laki-laki itu mematuhi perintah, berlutut dan kemudian tiarap. Sekawanan polisi keluar dari bayangan dan turun ke arah mereka, membekuk tangan mereka ke punggung, memasang borgol pada pergelangan tangan mereka dan menggeledahnya.
“Baik, kawan, kita sudah dapatkan mereka,” sebuah suara terdengar dari alat pendengaran. “Kerja yang sangat bagus, Bung.”
Ben-Roi tetap berlutut, menarik napas berat. Kemudian, dengan *******, ia menjentikkan pengaman Jerichonya, berdiri dan berjalan susah payah menaiki bukit menuju mercedes yang terempas. Jari-jarinya memainkan miniatur menorah berwarna perak yang tergantung pada rantai di sekeliling lehernya.
“Baik sekali Anda telah bergabung bersama kami,”
kata laki-laki kurus yang berjongkok di samping salah satu tawanan, tangannya menempel ketat pada bagian belakang leher laki-laki itu.
“Radio brengsek,”
gerutu Ben-Roi, sambil menyentuh daun telinganya.
“Yah, benar.”
Laki-laki itu melemparkan pandangan ragu, memaksa si tawanan untuk berdiri dan menggiringnya menuju mobil van polisi terdekat. Ben-Roi berpikir untuk mengikutinya, berdebat sedikit, tetapi tidak mau repot. Untuk apa? Apa pentingnya segala hal pada saat seperti sekarang ini? Semuanya membuang waktu belaka. Biarkan feldman berpikir sekehendaknya. Ia tidak peduli.
Ia berdiri mengawasi pekerja forensik yang mengenakan sarung plastik dan setelan putih di sekitar mercedes, kemudian berbalik sambil mencopot alat pendengarnya. Ia kembali ke mobilnya, seorang diri, tidak berguna dan tak mampu berbagi perasaan puas setelah pekerjaan diselesaikan. Ia teringat peristiwa ketika sebagai anak-anak ia diusir dari kelas karena mengompol dan merasakan sensasi terisolasi yang sama sekarang ini, perasaan ganjil campur malu dan kikuk. Ia selalu merasa malu. Bahwa ia selalu harus seperti ini. Bahwa ia membiarkan dirinya seburuk ini. Bahwa ia telah pergi untuk membeli bunga lili. Bahwa ia masih hidup.
Sesampainya di mobil, ia melempar pandangan dengan harapan tipis melalui bahunya, kemudian masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan menuruni bukit, melaju menuju Jalan ophel. Di sisi kirinya, tiga sumur yang ditumbuhi pepohonan dan teduh di Lembah Kidron jauh berada di bawahnya. Di sisi kanannya, pematang yang dikelilingi dinding setinggi tiga meter terbentang di sepanjang jalan, di atasnya lereng pemakaman muslim yang ditumbuhi tanaman terbentang ke arah garis deretan lampu di dinding Kota Tua. Ia menekan pedal gas dan mengganti ke gigi tiga sepanjang seratus meter, sebelum kemudian melambat lagi dan masih tetap dengan satu tangan pada kemudi bersandar lalu membungkuk sedikit untuk mengambil botol pinggangnya.
Hampir semua isinya berhamburan, tetapi masih ada sedikit cairan di dasarnya. Lalu, masih dengan mobil yang berjalan lambat sejauh jarak tertentu, ia menempelkan ujung botol itu pada bibirnya, melengkungkan kepalanya sedikit ke belakang dan menghirup semua yang tersisa, berkeringat karena rasa panas di tenggorokannya dan ketajaman rasa benci pada diri sendiri.
“Kau membuatku muak,” gerutunya.
“Kau menyedihkan. menyedihkan.”
Ia memegang botol itu sampai tetesan terakhir tertelan, dan melemparnya melewati bahunya ke kursi belakang, kemudian menekan pedal gas lagi, menyentak kemudi untuk mengencangkan laju mobil yang telah mulai memasuki jalan kereta pedati, membuat lori di depannya membunyikan klakson penuh kemarahan.
“Kparat kau!” teriaknya, sambil membunyikan klaksonnya.
__ADS_1
“Kparat kalian semua!”
Lori lewat di sisi kirinya. Pada saat bersamaan, sesuatu tampak jatuh dari pematang di sisi kanannya. hal itu terjadi dalam kilasan dan, kacau karena minuman vodka dan kelelahan, pikiran pertamanya menganggap itu adalah hewan besar yang jatuh dari pemakaman di atas. Ia melambatkan mobilnya dan melihat melalui kaca spion, mobil masih berjalan sejauh lima puluh meter sebelum ia mengidentifikasi bahwa apa yang sesungguhnya ia lihat adalah seorang laki-laki yang melompat dari pematang kepelataran di bawah, yang kini sedang berjongkok, memeluk lututnya yang tampak terluka. Lagi-lagi, pikiran Ben-Roi berusaha untuk sepakat secara koheren dengan informasi yang ada, dan lima puluh meter terlintasi, sebelum terpikirkan olehnya bahwa laki-laki itu pastilah salah satu dari pedagang obat bius, yang entah bagaimana dapat menyelinap melewati jaringan polisi. Ia segera meminggirkan mobilnya ke tepi trotoar dan meraih walkie-talkienya.
“masih ada satu di sana!” ia berteriak melalui speaker alat itu.
“Kau dengar? masih ada satu di sana. Jalan ophel, di bagian atas jalur Kidron. Aku perlu bantuan. Ulang. Perlu bantuan.”
Terdengar suara batuk dan gemerisik suara yang menyatakan permintaannya telah diterima. Ia masukkan alat komunikasi itu kedalam sakunya, meraih pistol dan merangkak keluar dari mobil. Orang Palestina itu, menyadari bahwa ia sudah dibidik, kini sambil terpincang melintasi jalan dan memasuki jalur setapak yang luas menuju Lembah Kidron. Ben-Roi berlari kencang, menghindari truk bermuatan penuh terung sayur yang datang dari satu arah dan sepasang taksi dari arah lain ketika ia juga menyeberangi jalan.
Setahun lalu adrenalin itu pasti akan terpompa cepat di dalam tubuhnya. Kini, ia sudah kelebihan berat badan dan tubuhnya tak terbentuk dengan baik. Yang bisa dipikirkannya adalah mengapa ia harus susah payah melakukan semua ini.
“Ayo!”
Ia menyemangati dirinya sendiri, paru-parunya mulai terbakar.
“Ayo cepat, gendut!”
Ben-Roi mencapai puncak jalur itu dan melihat buruannya tertatih-tatih di bawah. Ia mengacungkan Jerichonya, tetapi laki-laki itu kini sudah terlalu jauh untuk dapat dibidik dengan tepat, sehingga ia mulai lagi berlari, terus ke bawah. Bagian sisi tubuhnya terasa sakit, napasnya terengah-engah, suara serak yang menyakitkan. orang Palestina ini benar-benar payah dengan lututnya, kalau saja Ben-Roi lebih segar, maka ia pasti dapat mempersempit jarak antara keduanya. Dan memang seperti itu, ia berhasil mendekati laki-laki itu tak lama kemudian dan masih ada jarak sekitar empat puluh meter lagi pada saat mereka mencapai dasar lembah, tempat jalur mulai mendatar, berlari di sepanjang barisan makam batu kuno, memotong ke dataran lebih rendah Gunung olives.
Sebaris lampu kilat berwarna biru terlihat di depan, menutup jalur pelarian buruannya pada arah itu, memaksa laki-laki itu untuk merangkak pada dinding rendah di samping jalur dan kembali ke jalan yang sama di dasar lembah. Ia kini di bawah Ben-Roi dan di sisi kanannya. Lalu, sambil menaiki dinding, sang detektif melompat ke dataran curam berumput untuk menghadangnya. Laki-laki itu membelok ke kiri, menaiki tanjakan berbatu di sepanjang makam zechariah yang beratap piramid. Ben-Roi mengikuti, kaki menapaki tanah berpasir, dengan panik tangannya meruntuhkan bebatuan dan blackberry liar serta tumpukan rumput kasar, terbatuk dan terengah-engah. Ia kini hampir sampai di ujung batas ketahanan fisiknya, dan pada separuh jalan menanjak itu mereka pun menyerah bersama-sama, seperti mobil yang tiba-tiba kehabisan bahan bakar, membiarkannya kandas, mengawasi dengan tak berdaya ketika orang Palestina ini terus berlari ke atas dan menghilang.
“Sialan,” gerutunya. “Sialan, sialan, sialan.”
Ia tetap berdiam di tempatnya untuk sesaat, dengan marah menghirup udara dalam-dalam untuk paru-parunya. Kemudian, dengan lemah mulai berjalan menanjak lagi, merangkak di puncak lereng dan ambruk pada tumpukan di kaki pohon akasia. Sebuah ledakan tawa tiba-tiba terdengar.
“Ya ampun, Ben-Roi sayang, nenekku saja bisa lari lebih cepat dari itu!”
Feldman, detektif kurus lawan bicaranya beberapa saat lalu, sudah berdiri di atasnya didampingi empat polisi berseragam, dua di antaranya memegang orang Palestina tadi dengan tangan terborgol. Ia mengulurkan tangan, yang langsung ditepis oleh Ben-Roi.
“Lech zayen et ima shelcha. Sialan kau, feldman.”
Ben-Roi berusaha berdiri tegak dan melangkah ke depan sehingga ia kini tepat di depan si orang Palestina. Laki-laki itu lebih muda dari dugaannya. mata kirinya mulai bengkak dan menghitam, bibirnya terluka. feldman mengangguk pada polisi yang memegangnya, yang memperketat pegangannya.
“Teruskan,” katanya, sambil berkedip pada Ben-Roi. “Kau tahu yang ingin kau lakukan. Kami tidak melihat apa pun.”Ben-Roi menatap feldman, kemudian kembali melihat si orang Palestina. Tuhan, ia senang melakukan ini. menghantam muka si kparat ini. Perlihatkan padanya apa yang ia pikirkan tentangnya. Tentang seperti apa dirinya. Ia mendekat setengah langkah, kepalan tangannya mengencang. Pada saat itu sebuah suara lembut menggema di telinganya, terdengar begitu dekat meskipun pada saat bersamaan terasa jauh, ditingkahi bayangan sekilas yang cepat berlalu, wajah cantik seorang perempuan bermata abu-abu. Itu terjadi hanya dalam pecahan detik dan kemudian sirna, bersamaan dengan suara itu. Ia menatap orang Palestina itu, menarik napas dalam-dalam, kemudian menyentuhkan tangannya pada menorah yang tergantung di lehernya, berbalik dan mulai menuruni lereng itu lagi.
Di belakangnya, feldman menggelengkan kepala.
“Arieh yang malang,” ia bergumam. “Arieh si bodoh yang malang ini!”
__ADS_1