
Layla menyandarkan kepalanya ke Dinding sel tunggu dan melihat pada langit-langit, melipat lututnya ke atas sampai di dadanya dan membungkus lengannya ke sekitar tumitnya. Ia ingin buang air kecil, dan melirik sekilas ke bawah pada mangkok lavatori aluminium tanpa dudukan teronggok di sudut ruang. Ia menolak godaan untuk menggunakannya. Ia tahu dirinya sedang diamati, dan tidak ingin memberikan pada mereka kepuasan demi melihat eskposenya dalam cara seperti itu. Pada akhirnya ia harus melakukannya, tetapi untuk sesaat ia dapat menahannya. Ia mendesah dan menekan kedua pahanya bersama, mencoba mengabaikan kaca satu arah yang terdapat di pintu baja di seberangnya.
Mereka menjemputnya. Begitu kakinya keluar dari Gereja Makam Suci, empat jam yang lalu sekarang ini, seluruh kekuatan mereka, termasuk Detektif yang mengajukan pertanyaan padanya di apartemennya dulu senjata di arahkan ke kepala, tiarap di tanah, tangan terborgol. Ia tidak merasa perlu menolaknya, karena mengetahui bahwa hal itu hanya akan membuat segala sesuatunya salah baginya. Kembali ke stasiun, ia ditinggalkan untuk bersusah hati sejenak, kemudian diinterogasi dua jam, hanya perempuan ini dan detektif. Kali ini ia yang berperan, mengatakan padanya tentang segala sesuatu: William De Relincourt, Castelombres, Dieter Hoth, Menorah itu sesuatu yang tak perlu mereka tutupi. Bukan karena ia telah begitu ketakutan walaupun ia tentunya tidak merasa nyaman, cara ia duduk di sana sambil menatap matanya, yang tampak ingin menembus batok kepalanya dan otak di belakangnya, mencakar pikirannya yang terdalam.
Tidak, ia sudah kooperatif karena tidak ada lagi alasan untuk terus berbohong. Laki-laki itu tampaknya tahu tentang Lampu; semua detail lain yang dapat ia susun bersama dengan cara mempelajari buku catatannya, mengontak orang-orang yang pernah ia ajak bicara. Penghindaran hanya akan membuang-buang waktu saja.
Satu harapannya yang sederhana, satu-satunya harapannya, adalah laki-laki itu akan menyadari signifikansi penemuan menorah, akibat mengejutkan yang mungkin ada bila jatuh ke tangan yang salah, dan akan menerima tawaran yang telah ia buat untuknya pada akhir wawancara.
“Kau memerlukan aku,” Layla berkata, sambil membalas tatapan laki-laki itu, dan bergulat dengannya.
“Aku tidak membual tentang menorah. Tetapi aku memang membual tentang apa yang akan terjadi bila seorang Al - Mulatham yang memegangnya. Kau harus mengizinkan aku membantumu. Karena bila Al - Mulatham ada di sana terlebih dahulu....” Ia ragu telah dapat meyakinkannya, tetapi itu adalah hal terbaik yang dapat ia selesaikan dalam kondisi seperti itu. Roda sudah siap bergerak. Apakah ia akan bermain di bagian yang lain dalam keseluruhan, bagaimanapun juga itu, seperti yang dikatakan ayahnya, adalah sesuatu yang hanya dapat dikatakan oleh Tuhan dan laut dalam yang biru. Satu-satunya yang dapat dia lakukan sekarang adalah duduk dan menunggu.
Layla merapatkan pahanya lebih ketat lagi bersama-sama dan, menyandarkan kepalanya pada lututnya, menutup matanya, layar dalam pikirannya berisi gambar menorah yang mengganggu dan tidak diinginkan yang dari lampunya, untuk alasan tertentu, bukan menyiratkan cahaya melainkan darah merah kental yang melekat.
__ADS_1
Di sisi seberang pintu, Ben-Roi menatapnya melalui jendela observasi, pikiran yang berkabut bagai badai salju melintas di dalam kepalanya. Menorah, Al - Mulatham, artikel surat kabar, Galia, parfum setelah bercukur semua campur aduk di dalam tengkorak kepalanya, muncul, menghilang, muncul, hancur. Hanya satu pikiran yang tetap mantap dan jelas, berdiri dengan ajeg di tengah-tengah konflik yang pelik ini seperti pohon yang tinggi di tengah angin ribut, dan itu adalah: menorah ini dapat menolongku.
Bagaimana, ia tidak dapat memastikan. Belum. Ia tidak punya rencana jelas dalam pikirannya. Satu-satunya yang dia tahu adalah bahwa ini kesempatan yang sudah sedemikian lama ditunggunya; artinya, bila tidak bisa mengembalikan kekasihnya Galia, paling tidak dia bisa membela dan membalaskan dendamnya. Lampu itu akan menjadi senjatanya. Sekaligus umpannya. Ya, itu adalah cara dia akan menggunakannya. Sebagai umpan. Iming-iming untuk menarik keluar pembunuh kekasih hatinya. Untuk membawanya kepada Al - Mulatham. Atau membawa Al - Mulatham kepadanya.
Ia meneguk minuman dari botol pinggangnya dan, sambil menjauh ke koridor, kembali ke kantornya, menutup dan mengunci pintu di belakangnya, menuju mejanya dan menarik gambar yang sudah dikirim melalui faksimili oleh si mesir sebelumnya.
“Ya Tuhan,” ia bergumam, seperti yang dilakukannya saat pertama kali melihatnya. “Ya Tuhan Yang maha Kuasa.” Ia menatap gambar itu dengan cermat, tangannya gemetar dengan semakin membesarnya semua hal dalam kasus ini; lalu, sambil meletakkan foto itu, ia mengangkat telepon dan memutar nomor. Lima deringan, kemudian sebuah suara bergema di jalur seberang.
“Dapatkah kau bicara? mendadak ada sesuatu dan aku pikir kau harus tahu tentang hal ini.”
*****_____*****
Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"
__ADS_1
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
By the way, Enjoy it
Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta
Thanks in Advanced
Best Regards
*****
__ADS_1