
“Kau pemimpi, Khalifa! Selalu begitu dan akan terus seperti itu! Pemimpi payah!” Inspektur Kepala Abdul ibn-hasani memukulkan kepalan tangannya ke atas meja, berdiri dan menghampiri jendela ruang kerjanya, dengan marah melemparkan pandangan pada pilar pertama Kuil Luxor, tempat berkerumunnya para turis yang sedang melihat-lihat tugu Ramses II dan mendengarkan penjelasan pemandu.
Dengan bahu lebar dan tubuh besar, alis tebal, hidung tinggi dan datar, ia terkenal karena sifat pemarah dan kesombongannya. Sifat yang pertama terwujud, seperti yang sedang terjadi sekarang, dalam nada suara tinggi, muka merah dan pembuluh darah kecil yang menonjol di bawah mata kanannya. Sementara yang kedua terwujud dalam bermacam kegemaran kecilnya, salah satunya rambut palsu berpotongan indah yang bertengger di bagian kepala nya yang botak seperti kumpulan kusut rumput sungai Nil.
Gedebuk pada meja telah sedikit menggeser posisi rambut palsu itu, dan, sambil berpura-pura menggaruk keningnya, ia membenahi letaknya secara hati-hati kembali ke posisi semula, agak miring sedikit ke kiri, yang terlihat melalui bayangannya pada cermin yang tergantung di dinding.
“Benar-benar tolol!” bentaknya. “maksudku, demi Tuhan Bung, itu sudah dua puluh tahun yang lalu.”
“Lima belas tahun.”
“Lima belas, dua puluh apa artinya? Terlalu lapuk untuk dikhawatirkan kembali. Itu intinya. Kau habiskan terlalu banyak waktu dengan pikiranmu terjebak pada masa lalu. Seharusnya kau cari udara baru untuk sesaat.” Ia berbalik menghadap Khalifa, menatapnya tajam, ekspresi yang tidak cukup berhasil seperti seseorang yang mencoba serius dengan hewan kecil yang tergencet dan bertengger di kepalanya.
Dalam situasi lain Khalifa pasti telah berjuang keras untuk menahan tawanya. hari ini, ia hampir tidak memerhatikan rambut palsu itu, karena begitu fokus pada apa yang sedang dikatakannya.
“Tetapi, Pak....”
“Masa kini!” Hasani membentak, maju ke depan dan memantapkan posisi tubuhnya, lengan terlipat, berdiri di bawah bingkai Foto Presiden Husni Mubarak, figur yang selalu ia angkat ketika hendak memberikan ceramahnya.
“Di situlah kita kerja, Khalifa. Di sini dan sekarang. Ada banyak kejahatan dilakukan setiap hari, setiap jam dalam setiap harinya. Dan itulah yang harus kita tangani dengan penuh konsentrasi, bukan sesuatu yang terjadi sepuluh, atau lebih, tahun yang lalu. Sesuatu yang sudah terpecahkan saat itu, harus kutambahkan itu!” Alisnya menyatu beberapa saat, seolah ia tidak cukup yakin bahwa kalimat terakhirnya itu masuk akal. hal ini berlalu begitu cepat dan, sambil melebarkan dadanya, ia mencolek Khalifa yang tengah duduk di kursi rendah di depan mejanya.
“Ini selalu menjadi masalahmu. Bila aku telah mengatakannya sekali, itu artinya aku mengatakannya seratus kali ketidakmampuan untuk fokus pada masa kini. Terlalu banyak waktu tersita untuk melihat-lihat benda di museum, dan selalu begitu. Tutankhamun ini, Antenaben itu....”
“Akhenaten,” Khalifa mengoreksi.
“Nah, kau begitu lagi! Siapa peduli apa pun namanya. masa lalu sudah berlalu dan selesai, tidak relevan lagi. hari ini, itu yang lebih penting!” Kekaguman Khalifa dengan masa lalu selalu menjadi pokok perselisihan di antara kedua laki-laki ini; itu satu hal, dan kenyataan lainnya, bahwa Khalifa merupakan salah satu dari se dikit polisi di kepolisian itu yang menolak diintimidasi oleh hasani. mengapa Chief memiliki rasa tidak hormat terhadap sejarah, agak aneh memang, tidak pernah diketahui Khalifa walaupun ia curiga itu karena hasani tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang nya dan karena itu akan selalu tidak menguntungkan baginya bila pembicaraan mulai beralih ke arah itu. Apa pun kasusnya, akan selalu ada hal yang diangkat hasani kapan pun ia ingin menggertak Khalifa, seolah pekerjaan detektif dan minat terhadap warisan kekayaan negerinya bukanlah hal membanggakan.
“Tidakkah mereka akan senang!” hasani berteriak, “Para mucikari, pencuri dan penipu. Tidakkah mereka akan begitu bahagia bila kita menghabiskan seluruh waktu kita hanya untuk bermain-main dengan kasus yang sudah selesai lima belas tahun lalu, sementara mereka dengan tenang dan damai melanjutkan kegiatannya, menjadi calo, mencuri dan....” Ia berhenti sejenak, mencari kata yang pas. “menipu!” Akhirnya dia berteriak. “oh, ya, tidakkah mereka akan senang! Kita hanya akan ditertawakan!” Pembuluh darah di sisi matanya berdenyut lebih kencang dari sebelumnya, urat hijau yang gemuk merayap di bawah permukaan kulitnya. Khalifa menarik rokoknya, membungkuk ke depan, menyalakannya dan menatap lantai.
“mungkin saja memang telah terjadi ketidakadilan,” katanya perlahan, mengisap rokoknya, menyerap nikotin di dalamnya.
“Tidak pasti, tetapi tentu saja sangat mungkin. Dan apakah itu kasus lima belas tahun lalu atau tiga puluh tahun lalu, aku rasa kita bertanggung jawab untuk menyelidikinya!”
“Tapi, bukti apa yang telah kau dapatkan?” teriak Hasani.
“Bukti apa, Bung? Aku tahu kau bukan orang yang membiarkan fakta mengikuti lingkaran teori konspirasi, tapi aku perlu lebih dari sekadar mungkin barangkali."
“Seperti kataku, tidak ada yang pasti....”
“Tidak ada sama sekali, maksudmu!”
“Ada beberapa kesamaan.”
“Ada kesamaan antara istriku dan seekor kerbau air sialan, tetapi itu tidak berarti ia berdiam di kolam kotorannya sendiri sambil makan daun kelapa sepanjang hari!”
“Terlalu banyak kesamaan untuk disebut sekadar kebetulan,” lanjut Khalifa, menceramahi atasannya, menolak untuk dikalahkan.
“Piet Jansen terlibat dalam pembunuhan Hannah Schlegel. Aku tahu itu. Aku tahu itu!”
__ADS_1
Ia dapat merasakan suaranya sendiri meninggi sembari mencengkeram lututnya sendiri dengan satu tangan, mengisap rokoknya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Begini,” katanya sembari mencoba menjaga nada suaranya tetap lambat dan terukur. “Hannah Schlegel dibunuh di Karnak. Jansen tinggal di sebelah Karnak!”
“Begitu juga seribu orang lainnya!” sembur Hasani. “Dan lima ribu orang mengunjungi tempat itu setiap hari. Lalu apa maksudmu? mereka semua terlibat?” Khalifa mengabaikan pertanyaan itu dan menekankan lagi.
“Simbol Ankh dan hiasan berbentuk bunga mawar pada panel tongkat Jansen pas dengan bekas pukulan yang ditemukan pada wajah dan tengkorak Schlegel. Kedua tanda itu tidak pernah benar-benar diperhitungkan dengan layak.” Hassani mengibaskan tangannya tak peduli.
“Ada ribuan objek dengan desain seperti itu tertera di permukaannya. Puluhan ribu. Argumen ini terlalu lemah, Khalifa. Terlalu lemah.” Lagi-lagi, detektif ini mengabaikan kata-kata atasannya dan
melanjutkan.
“Schlegel adalah Yahudi Israel. Jansen membenci Yahudi.”
“Demi Tuhan, Khalifa. Setelah apa yang mereka lakukan terhadap Palestina, setiap orang di mesir membenci Yahudi sialan itu. Apa yang akan kita lakukan? membawa masuk seluruh penduduk untuk ditanya?” Khalifa tetap menolak dialihkan.
“Penjaga di Karnak mengatakan dirinya melihat seseorang terburu-buru pergi dari area itu dengan sesuatu yang aneh pada kepalanya. ’Seperti burung kecil yang lucu’ begitu ia menjelaskan.
Ketika aku berada di rumah Jansen, kutemukan topi yang pas dengan deskripsi tersebut tergantung pada bagian belakang pintu gudangnya. Topi dengan bulu-bulu tertempel di atasnya.” Hassani meledak dalam tawa panjang.
“Ini makin terdengar aneh dan bodoh. Penjaga itu, bila ingatanku benar, setengah buta. Ia hampir tidak dapat melihat tangannya sendiri, apalagi seseorang yang berjarak 50 meter darinya. Kau benar-benar nekad, Khalifa. Atau, lebih-lebih lagi, makin ngawur. Burung kecil yang lucu? Kau tidak memahami kejadiannya, Bung!” Khalifa melakukan isapan terakhir pada rokoknya, menyorongkan badan ke depan, dan mematikan rokoknya di asbak di sisi meja.
“Ada satu hal lain lagi!”
“Oh, silakan katakan saja,” kata hasani, sambil bertepuk tangan. “Aku belum pernah tertawa seperti ini selama bertahun-tahun.” Khalifa duduk kembali.
“Ya, ya, aku tahu!” sela hasani.
“Dan Tzfardeah, kata dalam bahasa Ibrani yang berarti kodok.” mata Hasani mengecil.
“Jadi?”
“Jansen memiliki kondisi genetik yang membuatnya punya telapak kaki berjaring, seperti kodok.” Ia bicara cepat, mencoba agar kata-kata itu keluar sebelum atasannya mencemooh. mengejutkan sekali, hasani tidak mengatakan apa-apa, hanya berjalan ke jendela dan berdiri, melihat jauh keluar, punggungnya menghadap Khalifa, kedua tangan pada sisinya mengepal seolah ia sedang memegang sepasang koper yang tidak terlihat.
“Aku tahu bahwa secara individual tidak ada yang berarti banyak dari hal ini,” Khalifa melanjutkan, mencoba memanfaatkan peluang yang ada. “Tetapi, ketika Anda menerima semuanya, Anda harus berhenti dan mulai berpikir. Terlalu berlebihan untuk sebuah kebetulan. Dan bahkan bila pun semua itu bergantung pada keadaan, masih tetap ada persoalan barang antik di lantai bawah rumah laki-laki itu. Jansen itu pencuri. Aku tahu itu. Aku dapat merasakannya. Dia perlu diselidiki.” Kepalan tangan Hasani semakin ketat sehingga buku-buku jemarinya berubah menjadi putih. mereka diam beberapa saat lamanya, kemudian ia berbalik menuju Khalifa.
“Kita tidak akan membuang waktu lebih banyak lagi untuk kasus ini,” katanya perlahan, dengan sengaja, kemarahan yang terkontrol dalam suaranya lebih mencekam daripada gertakan model apa pun. “Kau mengerti, laki-laki itu sudah mati, dan dalam hal apa pun ia terlibat, apa pun yang telah dilakukannya, semua sudah berlalu. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk itu.” Khalifa menatap Hasani penuh keheranan.
“Dan muhammad Jamal? Laki-laki tak bersalah itu bisa jadi didakwa secara salah.”
“Jamal juga sudah mati. Kita tidak bisa berbuat apa-apa!”
“Keluarganya masih hidup. Kita berutang...!”
“Jamal dinyatakan bersalah di pengadilan hukum. Dia secara terbuka mengakui bahwa dia merampok perempuan tua itu.”
“Tetap saja itu tidak berarti dia telah membunuh perempuan itu. Dia selalu menyangkalnya.”
__ADS_1
“Ia bunuh diri, demi Tuhan. Pengakuan seperti apalagi yang kau inginkan?” Hasani melangkah maju beberapa langkah.
“Laki-laki itu bersalah, Khalifa. Salah adalah dosa. Ia tahu itu dan kita juga tahu itu. Kita semua tahu itu! Kita semua.” matanya terbuka lebar. Ada hal lain juga di dalam matanya.
Semacam rasa putus asa, bahkan ketakutan. Itu bukan sesuatu yang pernah dilihat Khalifa sebelumnya. Ia menyalakan rokok baru lagi.
“Aku tidak.”
“Apa? Kau bilang apa?”
“Aku tidak berpikiran Jamal bersalah. Aku ragu tentang itu, sejak dulu aku ragu dan kini semakin kuat. mungkin saja ia memang telah merampok perempuan itu, tetapi Muhammad Jamal tidak membunuh hannah Schlegel. Aku mengetahuinya saat itu, tetapi aku tidak punya cukup nyali untuk mengatakan tidak.
Aku pikir secara mendalam bahwa kita semua tahu itu ... kau, aku, Chief mahfudz...!”
Hasani melangkah maju dan menghantamkan kepalan tangannya ke tepi meja, sehingga menerbangkan beberapa helai kertas kelantai.
“Cukup sudah, Khalifa! Cukup, kau dengar?”
Seluruh tubuhnya gemetar. Air liur berkumpul di ujung sudut bibirnya. “masalah psikologis yang kau alami adalah urusan pribadimu, tetapi aku punya kantor polisi yang harus ku jalankan, dan aku tidak akan membuka kembali kasus lima belas tahun lalu hanya karena seorang idiot mengalami krisis kata hati. Kau tidak memiliki bukti, tidak satu pun, untuk mengatakan muhammad Jamal tidak membunuh hannah Schlegel kecuali dalam pikiranmu, yang dari perkataan mu barusan tentang bulu-bulu dan kodok akan tampak semakin jauh dari kondisi stabil. Aku selalu tahu bahwa kau tidak terbuat dari hal-hal yang baik, Khalifa, dan ini semakin menguatkan hal itu. Bila kau tak tahan panas, keluarlah dari dapur. Pergilah dan jadilah arkeolog atau apa pun yang kau inginkan atau ingin lakukan, dan tinggalkan aku untuk melanjutkan pekerjaan menangkap penjahat. Penjahat nyata, bukan yang imajiner!” Lupa bahwa ia mengenakan rambut palsu, ia menggapai dan menggaruk bagian atas kepalanya, melepaskan beberapa helai rambut yang setengah turun menutupi keningnya. Dengan menggerutu ia mengambil semua dan melemparkannya, kembali ke kemejanya dan duduk, menarik napas dalam.
“Lupakan saja, Khalifa,” katanya. Suaranya tiba-tiba terdengar aneh. “Kau mengerti apa yang kukatakan? Demi semua orang. muhammad Jamal membunuh Hannah Schlegel, Jansen mati karena kecelakaan, dan tidak ada kaitan antara keduanya. Aku tidak akan membuka kembali kasus ini.” Matanya mendelik dan kemudian turun kembali, menghindar dari tatapan Khalifa.
“Sekarang, ada hawagaya di Winter Palace yang mengatakan bahwa perhiasannya dicuri. Aku ingin kau ke sana dan melihat kasus ini. Lupakan Jansen dan lakukan pekerjaan polisi yang sesuai untuk sekali saja dalam hidupmu!” Ia meremas setumpuk kertas di depannya, rahangnya mengencang. Khalifa menyadari tak ada gunanya melanjutkan perdebatan. Ia berdiri dan melangkah menuju pintu.
“Kuncinya,” kata hasani. “Aku tidak ingin kau tetap mengurusi rumah Jansen di belakang pengetahuanku.” Khalifa berbalik, mengambil kunci rumah Jansen dari sakunya dan melemparkannya ke Hasani, yang menangkapnya dengan satu tangan.
“Jangan melangkahi aku dalam hal ini, Khalifa. Kau mengerti? Tidak yang satu ini!”
Detektif itu diam, kemudian membuka pintu dan melangkah ke koridor.
*****_____*****
Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
By the way, Enjoy it
Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta
Thanks in Advanced
Best Regards
*****
__ADS_1