Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
GOA TAMBANG GARAM TUA IV


__ADS_3

Khalifa melirik Layla dengan tatapan penasaran, yang menaikkan alis matanya seolah berkata “Aku juga tak mengerti.” Ben-Roi menangkap pertukaran tatapan itu, menjatuhkan kepalanya, frustrasi.


“Demi Tuhan, kau harus lihat!” jeritnya. “Itu hanya fiksi belaka. Dia mengarangnya. minyak untuk bercukur, pertemuan, seluruh artikel Kparat itu. Dia menciptakannya. Untuk mengecoh orang. Untuk melindungi Al - Mulatham yang sebenarnya. Untuk melindungi tuannya.”


Suaranya semakin meninggi. Ben-Roi berusaha mengontrol dirinya, mengangkat tangan dan memegang liontin Menorah yang tergantung di lehernya.


“Aku telah menyelidikinya. Sejak artikel itu terbit. Sepanjang tahun. Setiap pelaku pemboman, Khalifa. Setiap pelaku pemboman Al - Mulatham Kparat itu ia mewawancarai seluruhnya. Setiap orang. Begitulah bagaimana laki-laki itu merekrut orang-orangnya. Melalui perempuan ini. Ia mewawancarai mereka, memastikan bahwa mereka cocok, kemudian memberikan nama-nama mereka ini. Begitulah semua itu bekerja. Begitulah sistemnya. Dia terlibat jauh di dalamnya!”


“Dia gila!”


“Jelaskan kalau begitu!” teriak Ben-Roi, menatap tajam Layla, matanya membelalak lebar dan liar sehingga terlihat seperti akan mencolot dari kepalanya. “Jelaskan bagaimana ceritanya bahwa setiap pembom Al - Mulatham adalah orang yang telah kau wawancarai!”


“Aku tak bisa menjelaskannya!” jerit Layla, sambil menggelengkan kepalanya, tak berdaya, suaranya sendiri kini mulai menaik.


“Hanya kebetulan, aku terperangkap.... Aku tak tahu! Aku lalui ini semua dengan Shin Bet setelah aku menulis artikel.”


“Dia menggunakan penyadap, alat pelacak!” Ben-Roi merogoh kantongnya, menarik keluar objek logam kecil berukuran sebesar paket rokok, mengacungkannya dengan penuh kemenangan di udara. “Aku temukan ini di dalam tasnya, Khalifa! Dia mengikuti kita. Al - Mulatham. Dia mengikuti kita!”


“Mereka menggeledah tasku di bandara,” tangisnya. “Tidak mungkin aku memiliki benda seperti itu.”


“Lantas bagaimana? bagaimana?”


“Aku tak tahu!” katanya, sambil mengangkat tangan ke keningnya, tiba-tiba bingung, kehilangan orientasi.


“Seseorang pasti telah menyusupkannya. Aku tak tahu!”


“Kau pembohong busuk!” kata si Israel, tidak lagi berusaha untuk bersuara tenang atau rasional. “Jangan percaya apa yang dia katakan, Khalifa. Dia sedang beraksi saja. Dia bekerja untuk Al - Mulatham. Dia selalu bekerja untuk Al - Mulatham. Dia pembunuh! Dia membunuh Galiaku!”


“Kita semua pembunuh menurut ukuran dia!” Layla berteriak.


“Setiap orang Palestina, setiap orang Arab. Al - Mulatham membunuh tunangannya dan kita semua disalahkan olehnya. Itulah sebabnya dia bekerja untuk Har - Zion.”

__ADS_1


“Omong kosong, perempuan Wanita Sialan!”


“Mereka sedang mengikuti kita!”


“Jangan percaya padanya, Khalifa! Dia adalah....”


Tembakan ketiga meletus, membuat mereka terdiam. Peluru menghilang di balik tumpukan terpal, gua menggemakan suara tajam letusan pistol. Layla mundur ke peti, Ben-Roi berdiri dengan senjata di sisinya, keduanya menatap ke atas pada platform batu, tak bergerak, seperti seorang terdakwa sedang menunggu putusan di ruang pengadilan. Khalifa menggigit bibirnya, mengusap sebutir keringat yang jatuh di ujung matanya, mencoba membuat pikirannya jernih. Bahwa Layla mengatakan yang sebenarnya tentang Ben-Roi, dia tidak meragukan lagi. Tetapi ada sesuatu di mata si Israel ini, cara bagaimana dia membela kasusnya sendiri...


Muhammad Jamal, dialah orang yang melintas dalam ingatannya saat itu, selama interogasi kasus Schlegel bertahun-tahun lalu kemarahan yang sama, kepanikan yang sama, protes karena tidak bersalah. Jamal akhirnya berkata tentang kebenaran. Tetapi Ben-Roi.... Kata-kata ayahnya bergema kembali di kepalanya: Berhati-hatilah terhadap mereka, Yusuf. Berhati-hatilah selalu terhadap orang Yahudi.


Khalifa berkedip, mengusir butiran peluh di matanya, menatap Layla lalu ke Ben-Roi dan kembali ke Layla, kemudian mengokang kembali pistolnya.


“Jatuhkan senjatamu, Ben-Roi.”


“Tidak!”


“Jatuhkan dan berlututlah!”


“Para Pejuang David ini,” kata Khalifa. “Berapa lama sebelum mereka....” Ia terhenti, diam karena tiba-tiba ujung senjata yang dingin menempel pada tengkuknya.


“Aku pikir ini menjawab pertanyaanmu. Sekarang, letakkan senjatamu di lantai dan angkat tanganmu.” Untuk sepersekian detik Khalifa berpikir untuk memberikan tembakan peringatan pada Layla. Itu gagasan yang dapat membunuh diri sendiri, dan ia melupakannya sebelum hal itu terwujud, sambil meletakkan mausernya di tanah dan mengunci jari-jarinya di belakang kepalanya. Senjata ditarik dan tangan yang kasar menarik lengannya ke belakang punggungnya, mengangkatnya supaya berdiri dan memutarnya.


Ada enam dari mereka, termasuk yang sedang memegang lengannya kokoh, keras, tanpa ekspresi, semuanya mengenakan jaket dan, tutup kepala hitam yang agak tak pantas. Lima orang bersenjata Uzi. Yang keenam, yang tertua dan, kelihatannya, orang yang tadi bicara padanya laki-laki paling pendek dan gemuk dengan sarung tangan dan wajah pucat dan berjanggut lebat menggenggam Pistol Heckler dan Koch. Dengan pikiran jernih dan murni, Khalifa secara cepat mengenalinya dari gambar di sampul depan majalah Time yang dia temukan di ruang tengah kediaman Piet Jansen: Baruch Har - Zion.


“Kau busuk, Ben-Roi,” pikirnya. “Kau Yahudi pembohong yang busuk.” Kata-kata kemudian mengalir dalam bahasa yang tidak dia mengerti, Ibrani barangkali. Dan begitu kelompok itu bergerak kedepan pelataran, laki-laki yang memegang lengan Khalifa membawanya sehingga ia kembali menghadap tumpukan kotak. Pada titik ini Layla menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi di atas sana dan ia mundur kembali ke salah satu peti, wajahnya pucat, Schmeissernya masih mengarah pada Ben-Roi, yang sedang tiarap di lantai. Untuk sesaat Khalifa khawatir si Israel ini akan segera menembak, tetapi mereka ternyata hanya berdiri memperhatikan Layla, dengan wajah seperti batu, senjata Uzi siap di sisi mereka, sementara salah satu dari mereka laki-laki bertubuh jangkung berambut cepak, sepertinya orang kedua Har - Zion melangkah ke muka ke tepi balkoni batu itu dan memperhatikan elevator di bawah.


Kemudian terjadi pembicaraan dalam bahasa mereka, lalu sambil mengangkat Uzinya ke bahunya, laki-laki dengan rambut cepak itu berlutut dan menyeret kakinya mundur, memudahkan dirinya sendiri untuk berada pada bibir pelataran dan mulai turun menggunakan salah satu jalur elevator vertikal sebagai tangga. Tiga puluh detik berlalu, dan kemudian terdengar deru mesin begitu elevator itu mulai naik. Laki-laki itu secara perlahan muncul di depan mereka seakan benda apung yang ajaib. Ketika ia selevel dengan pelataran, ia memutus tenaga mesin dan, dengan anggukan Har - Zion, mereka semua melangkah ke platform. Lengan Khalifa masih terikat di belakang punggungnya, senjata Uzi itu masih menekan telinganya. Anggukan lain dan mereka mulai turun, platform bergerak turun dengan suara gemuruh sebelum berhenti dengan menyentak di lantai bawah.


Di lantai, Ben-Roi sedang mencoba memutar kepalanya untuk melihat apa yang sedang terjadi; Layla telah bergerak ke bagian tengah gang dan separuh mengangkat Schmeissernya seolah untuk menghalangi jalur mereka. Begitu mereka tiba di dekat Layla, Khalifa mencoba menangkap perhatiannya, menyampaikan bahwa Layla harus tetap tenang, tidak melakukan hal yang bodoh, focus perhatiannya ada pada Har - Zion. Untuk sesaat keduanya hanya berdiri saling berpandangan, mata mereka berpadu, mata Khalifa yang berwarna abu-abu dan keras seperti granit, mata Layla yang bagai jamrud hijau dan hangat, bibirnya bergerak sedikit menantang. Kemudian, dengan anggukan, ia menyerahkan senjatanya ke salah satu orangnya Har - Zion, menyeka hidungnya yang berdarah, dan melangkah ke pinggir.


“Kau tenang sajalah.” Hal itu benar-benar tidak diperkirakan, hanya sesaat sebelum Khalifa benar-benar menyadari apa yang dikatakan Layla. Begitu ia menyadarinya, mulutnya terbuka karena terkejut. Di lantai, dengan kepala diputar ke arah yang tidak biasa karena ia berusaha melihat kejadian dari balik bahunya, Ben-Roi sepertinya tidak segera menyadari apa yang sedang terjadi. matanya bergerak ke berbagai arah, fiturnya terlihat melalui ekspresi menyeluruh sebelum akhirnya beralih dengan sendirinya menjadi seringai ketidak percayaan yang mengerikan.

__ADS_1


“Oh, Tuhan,” bisiknya, sambil menekankan keningnya pada lantai batu yang dingin. “Oh Tuhan, tidak.” Untuk sesaat lamanya setiap orang di area itu tetap tidak bergerak, semuanya kaku; kemudian, dengan perlahan, Ben-Roi mengangkat tubuhnya, berlutut, lalu berdiri tegak, agak linglung seperti seorang petinju yang bangkit terhuyung-huyung di atas kanvas. Layla mundur sehingga kini ia berdiri dengan si Israel, matanya melirik sesaat pada Khalifa. Ada semburat merah menodai pipinya apakah karena malu atau emosi yang sepenuhnya berbeda, si mesir tak dapat mengatakannya. Ben-Roi tidak lagi memperhatikan Layla, pandangannya kini terfokus semata pada Har - Zion.


“Orang Palestina tidak semata demikian baik,” ia bergumam, suara berat dengan marah yang ditekan.


“Bagaimana persaudaraan itu beroperasi adalah cara yang terlalu canggih untuk seorang Palestina yang Murtad, pembelot. Daya pendorongnya haruslah pihak luar.” Khalifa masih mencoba mengatur pikirannya, berusaha memahami apa yang sedang berlangsung.


“Aku tak mengerti,” Khalifa bergumam, melihat ke Ben-Roi lalu Layla lalu ke Har - Zion dan kembali ke Ben-Roi lagi. Wajah orang terakhir ini benar-benar tak berwarna, kulitnya putih kusam, seperti batu pualam yang ternoda.


“Seperti sudah kukatakan, Khalifa. Layla bekerja untuk Al - Mulatham. merekrut para pembom, menulis omong kosong tentangnya, seperti yang sudah kukatakan. hanya satu yang aku lupa.” Pergelangan tangan Ben-Roi mengencang, matanya tak pernah lepas dari Har - Zion. “Pada akhirnya Al - Mulatham membunuhi orang-orangnya sendiri.”


Lagi-lagi hal itu membuat si mesir ini perlu waktu sesaat untuk mencernanya, agar jalan pikirannya terangkai baik.


“Maksudmu ...?” Seluruh tubuh Ben-Roi gemetar.


“Dia adalah Al - Mulatham,” Ben-Roi menggeram. “Dialah orang yang mengontrol semua ini. Para pembom Arab, Master Israel. menjegal orang-orangnya sendiri. orang-orangnya sendiri!” Khalifa terperanjat, seluruh gua sepertinya mengerut di sekitar mereka. Kemudian hening untuk beberapa lamanya, lalu, dengan lolongan kemarahan binatang yang mengejutkan, Ben-Roi maju selangkah. Dia seorang yang begitu kuat, tetapi dia juga kelebihan berat badan, lelah dan kurang profesional. Sebelum dia semakin dekat pada sasarannya, dua orang Har - Zion melangkah dan, dengan presisi yang tenang dan teratur, menghentikan langkahnya.


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards

__ADS_1


*****


__ADS_2