
Pada ketinggian tiga meter, lift itu berhenti lagi, senjata Uzi diarahkan pada mereka.
“Di sinilah kita berpisah, tuan-tuan.” Har - Zion berkata, mulutnya melengkung membentuk senyum kemenangan. “Kami, atas perintah Tuhan, memulai membangun kembali Kuil dan inaugurasi zaman keemasan baru bagi bangsa kami. Kalian....” Ia menatap kedua detektif itu untuk sesaat lamanya, dan menggerak-gerakkan bahunya untuk mencoba mengendurkan cekikan kulitnya yang terbakar tempat tubuhnya terasa lengket. Kemudian ia memberi tanda pada orangnya untuk segera menembak.
“Jangan!” Suara Layla menggema di seputar gua.
“Jangan!” ia mengulang, dan kemudian lagi, “Jangan!”
Kaki tangan Har - Zion melihat ke arah pemimpinnya, tetapi dia tidak memberikan tanda, untuk menembak atau menurunkan senjatanya, jadi mereka tetap seperti semula, dengan jari-jari melekat ketat pada pelatuk Uzi. Di bawah, di lantai gua, Ben-Roi dan Khalifa saling melempar pandang.
“Jangan!” Layla menjerit untuk yang keempat kalinya. Nada suaranya putus asa, hampir histeris, tangannya mengepal dan membuka. Ia sebenarnya ingin bicara tadi, ketika mereka menggasak kedua laki-laki ini, tetapi dia tidak kuasa melakukannya, tersedak karena merasa malu dan membenci dirinya sendiri.
Namun, kini, ia tidak dapat menghentikan dirinya lagi, bahkan hampir tidak sadar dengan apa yang telah diucapkannya, hanya merasakan bahwa seluruh eksistensi dirinya entah bagaimana telah menyempit dengan sendirinya pada fokus dari momen ini, dan bahwa terlepas dari semuanya, terlepas dari tahun-tahun kebohong an dan pengkhianatan, dia tidak dapat berdiam diri sementara dua orang ditembak mati dengan kejam di depannya. Tidak ada nilainya, tentu saja, dibandingkan dengan berapa banyak manusia yang telah tewas selama bertahun-tahun karena tindakannya, betapa ia terbenam dalam darah yang tidak dapat dihapuskan. Tidak akan pernah ada penebusan atas apa yang telah dilakukannya. Dan dia pun tidak mencarinya. Yang dia tahu, saat dia berdiri di sana menatap pada kedua detektif itu wajahnya pucat, pasrah suara ayahnya tiba-tiba berdengung di dalam kepalanya seperti suara lonceng yang jernih, lebih keras daripada yang pernah terdengar sebelumnya. Kata-kata yang pernah dia ucapkan pada malam kematiannya: Aku tak dapat meninggalkan seseorang mati seperti anjing, Layla. Siapa pun mereka.
Dan segera setelah ia mendengar kata-kata itu ia mengalami kerinduan yang tak terkendali dan tajam demi mengetahui bahwa masih ada sesuatu dari ayahnya yang tertinggal jauh di dalam dirinya, semacam bekas kecil yang masih hidup dari sinar indah ayahnya. Bahwa dia tetap merupakan anak perempuannya, betapa pun gelap dunia yang telah dia buat untuk dirinya sendiri. Layla mendesak ke bagian depan elevator itu, matanya menangkap mata Khalifa selama sepersekian detik sebelum ia menoleh ke orang-orang Israel itu. Tubuhnya yang ramping menghalangi jarak tembak.
“Kau telah menang,” pekiknya pada Har - Zion. “Tidakkah kau lihat itu? Kau menang, demi Tuhan.
Tinggalkan mereka. Untuk sekali ini saja, berhentilah membunuh dan tinggalkan mereka.” Diam sejenak. Gua bergetar dengan suara generator, Menorah berkilau dalam temaram lampu senter. Kemudian, perlahan, Har - Zion mengangguk.
“Dia benar. Inilah waktunya untuk berhenti membunuh.”
Tubuh Layla agak mengendur sedikit. hampir serta-merta ia menegang kembali ketika ia menyadari senyuman dingin menghiasi wajah Har - Zion.
“Atau paling tidak beberapa pembunuhan. Ini” ia menggerakkan tangannya perlahan ke arah Khalifa dan Ben-Roi “Hidup mereka tidak berarti apa-apa. Namun, Al - Mulatham dia, aku percaya, telah mencapai tujuannya. Sebagaimana telah dikatakan oleh Nona Al-Madani, kita telah menang. Dengan Menorah ada dipihak kita, maksud kita tak terhentikan. Satu perhitungan terakhir, dan kemudian kita dapat melepaskan Persaudaraan Palestina bersama-sama. Dan semua aparat yang berjalan bersamanya. Semua aparatnya.”
Ketika ia mengatakan frasa terakhir ini, ia melirik pada orang keduanya yang berambut cepak, dan pada saat yang bersamaan menggerakkan kepalanya ke arah Layla. Laki-laki itu mengangguk paham dan, dengan ketenangan yang mengejutkan, melangkah maju dan melayangkan telapak tangannya ke dada kanan Layla, mendorongnya mundur dari platform elevator dan memukuli tangan dan kakinya. Untuk sesaat lamanya ia tergantung di sana, ditengah-tengah udara seakan tergantung dari langit-langit gua dengan kawat yang tak terlihat; kemudian tubuhnya diseret perlahan dan dibuang ke lantai dengan suara gedebuk yang menyakitkan.
__ADS_1
“Terima kasih, Nona Al-Madani,” kata Har - Zion. “Negara Israel akan selamanya berterima kasih kepada segala usaha Anda. orang Arab atau bukan, kau telah menghadiahi dirimu sendiri dengan gelar Eshet Hayil. Perempuan yang berani.” Layla segera tahu bahwa tulang punggungnya patah, mungkin juga tulang yang lain, walaupun, karena sepertinya sudah mati rasa mulai dari leher ke bawah, ia pun tidak bisa memastikan. Bukan persoalan besar. Toh, ia akan mati dalam beberapa waktu lagi, yang dirasa baik olehnya.
Anehnya, seakan-akan untuk mengompensasi kenyataan bahwa ia tidak lagi dapat merasakan apa-apa, indera yang lain malah mendadak tumbuh lebih tajam. Lubang hidungnya bergetar oleh bau kayu pinus yang merupakan bahan peti itu; telinganya seperti dapat menangkap secara tidak alamiah bunyi-bunyi yang dalam keadaan normal tidak akan dapat dia tangkap. Yang paling hebat dari semuanya, dia telah mengembangkan kemampuan gaib untuk dapat melihat empat atau lima hal berbeda secara bersama-sama dalam satu waktu tertentu, tanpa menggerakkan kepalanya sama sekali. Ada Har - Zion, sedang berdiri di atas lift, tertawa bersama pengikutnya; Ben-Roi sedikit di sisi kirinya, sepertinya terkejut menerima keadaan betapa berlebihan sebenarnya yang dia inginkan bila yang terjadi pada Layla adalah yang seperti ini; dan yang sedang berlutut tepat di sebelahnya sambil memegang tangannya bagaimana dia bisa berada di sana begitu cepat?
Khalifa. Layla bahkan dapat melihat dirinya sendiri, seolah sedang berdiri di atas dirinya yang sedang melihat ke bawah. Senyum yang sangat tipis tersungging di sudut mulutnya, walaupun tidak ada humor atau kepuasan di dalamnya, tapi lebih berupa bentuk kesepian yang tak berkesudahan dan melelahkan yang tidak dapat menemukan ekspresi lain untuk menyatakan dirinya sendiri.
Dia selalu tahu bahwa semua akan berakhir seperti ini. Sejak dia kembali dari Inggris beberapa tahun lalu dan mulai bekerja sebagai informan bagi Har - Zion dan Intelijen militer Israel. Keadaan yang sebenarnya begitu mengejutkan dalam sebuah gua raksasa penuh dengan harta rampasan Nazi, demi Tuhan! tetapi tidak kekerasannya. hak itu merupakan hal yang terbaru. Terus terang, dia terkejut dirinya dapat bertahan sekian lama. Di sisinya, Khalifa sedang mengatakan sesuatu, walaupun Layla sepertinya tidak dapat mendengar suaranya, yang terdengar aneh dalam keadaan betapa banyak suara yang begitu perlahan tetapi dapat ia tangkap. Ia tidak perlu mendengar, karena ia dapat menangkap apa yang Khalifa katakan dari gerakan bibirnya. hanya satu kata, diulang terus-menerus, sebuah pertanyaan, pertanyaan yang sama yang ia tanyakan padanya tadi.
“Ley? mengapa?” Apa yang bisa dia katakan? Tidak ada, sungguh. Dia sebenarnya ingin menjelaskan. Benar-benar ingin. Paling tidak ada satu orang yang tahu. Pengakuan di tempat tidur kematian dan cukup itu saja.
Tetapi kemudian, bagaimana ia bisa? Bagaimana ia dapat membuatnya memahami? membuat siapa saja memahami? Bahwa ia telah melakukan apa yang telah ia lakukan bukan demi alasan yang biasa diterima orang uang, paksaan, ideologi. Tidak itu. Ia melakukannya karena pada malam ulang tahunnya yang kelima belas, pada sebidang tanah kotor tempat buang sampah di tepi perkemahan pengungsi Jabaliya, di bawah langit penuh bintang dan dengan lolongan anjing liar di kejauhan, ia menyaksikan orang yang paling dicintainya lebih daripada apa pun di dunia ini, ayahnya yang tampan, berani dan lembut, laki-laki terbesar yang pernah ada, di hajar habis-habisan hingga tewas dengan tongkat baseball. Oleh orang dari bangsanya sendiri. Disaksikan oleh bangsanya sendiri. Itulah sebabnya ia mengontak Har - Zion dan menawarkan diri untuk bekerja padanya. Itulah sebabnya ia bekerja sama dengan semua hal terkait dengan Al - Mulatham; itulah sebabnya, saat ketika ia menemukan Menorah, ia menelepon Har - Zion dari Gereja makam Suci, melakukan apa saja yang ia bisa untuk mengamankan Lampu untuknya. Sebab mereka telah membunuh satu-satunya orang yang pernah benar-benar ia cintai, dan karena sejak saat itu dan seterusnya ia membenci mereka, semua mereka, bersumpah bahwa apa pun yang ia lakukan dengan kehidupannya ia akan membuat mereka membayarnya, menderita karenanya, setiap orang Palestina.
Itulah sebabnya. Itulah jawabannya. Tetapi bagaimana ia menjelaskan ini semua. membuat mereka memahami? mengkomunikasikan semua pecahan kesengsaraan dan kepedihan, kebencian dan siksaan yang telah mengenai dirinya sepanjang tahun itu? Ia tidak sanggup. Dan tidak mungkin. Jauh melampaui kekuatannya. Selalu begitu dan akan selalu begitu. Ia begitu sendiri.
Ia mendongak ke wajah Khalifa wajah yang baik, berani, tampan; seperti ayahnya dalam beberapa hal dan mencoba meraih tangannya. Pada saat bersamaan, dengan kelebihan dapat melihat banyak hal yang tampaknya diperolehnya sebagai hasil dari keruntuhannya, ia dapat melihat di atas sana bahwa Har - Zion telah mengangkat tangannya dan mengarahkan pistolnya langsung ke kepalanya. Lakukanlah, pikirnya, lakukanlah. Inilah waktunya.
“Oh Tuhan, Ayahku. Oh Tuhan, ayahku yang malang.” Dan kemudian letusan itu pun terdengar.
Kepalanya jatuh terkulai. Lubang hitam menganga persis di atas alis kirinya, darahnya mengalir membasahi pipi dan dagunya dan jatuh menetes ke lantai, kemudian membentuk genangan kental seukuran piring. Untuk sesaat lamanya Khalifa begitu terkejut untuk dapat bergerak, tangan Layla terkulai dalam genggamannya, gema suara tembakan menggelegar di sekeliling gua; kemudian, sambil menggoyangkan kepalanya, ia meletakkan tangan Layla perlahan di bawah, kemudian berdiri dan mundur sehingga ia berdiri di samping Ben-Roi. Keduanya menatap ke atas ke arah tembakan Uzi di atas sana.
Khalifa semestinya merasa takut. Lebih takut daripada yang telah dirasakannya, karena apa yang sebentar lagi bakal terjadi pada dirinya. Apakah itu karena ia masih terhuyung akibat pukulan dan hantaman yang dialaminya, atau semata karena kematiannya kini begitu tak terhindarkan sehingga tubuhnya tidak dapat melihat apa pentingnya memikirkan rasa takut itu. Ia malah merasa sangat tenang. Zenab dan anak-anak, mereka adalah satu-satunya yang paling dia pedulikan. hal itulah dan kenyataan bahwa ia mungkin tidak akan mendapatkan perlakuan penguburan secara Islam. Tetapi ia merasa pasti bahwa Allah akan mengerti. Allah maha mengetahui segala sesuatu. Itulah sebabnya ia ... well, Allah.
Ia melirik Ben-Roi dan pandangan mereka bertaut. Ada orang yang akan mati bersamanya. Tetapi kemudian, mungkin ia adalah laki-laki yang sedikit kasar. Kasar, ya. Arogan, suka berkelahi. Bukan jenis orang yang akan ia jadikan teman. Walaupun begitu, ia seorang polisi yang baik, sepertinya telah mengerjakan banyak hal dengan cukup baik. Dan siapa tahu, bila istrinya sendiri telah dibunuh dengan cara demikian, dijagal tanpa ada kepentingan, barangkali ia, Khalifa, akan juga bersikap sama. Kau takkan pernah dapat mengatakannya. Ia mencoba mengungkapkan sesuatu, memohon maaf, mengakui bahwa keputusannya tadi untuk lebih mempercayai kata-kata Layla daripada Ben-Roi telah didasari bukan oleh penilaian objektif terhadap situasi itu, melainkan lebih karena prasangka buta, oleh kenyataan bahwa ia tidak dapat membuat dirinya mempercayai seorang Yahudi dibandingkan rekannya sesama orang Arab. Ia tampak tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat dan kemudian diam lagi. mereka saling memandang sesaat lebih lama, kemudian, dengan anggukan mereka menoleh kembali dan menatap elevator, kepalan tangan mengencang, menanti datangnya peluru.
Kemudian segala sesuatunya menjadi gelap. Sesaat lamanya, mendadak bingung, Khalifa mengira dirinya sudah mati. hampir serta-merta, dari teriakan anak buah Har - Zion, Khalifa menyadari bahwa generator itu pasti mati lagi, sehingga membuat lampu padam. Begitu tak terkirakan dan begitu disorientasi, sehingga ia tidak bereaksi, hanya berdiri terpaku pada tempatnya. Insting Ben-Roi segera mendesak, si orang Israel merengkuh kerah kemeja Khalifa secara kasar dan berjalan ke depan, keluar dari jarak tembak. Separuh detik kemudian Uzi itu menyalak, kegelapan tercabik oleh ledakan merah dan putih, peluru melenting di lantai dan terlempar ke tumpukan peti dengan suara ledakan kayu, rat-at-at. Kedua detektif itu merunduk, dan kemudian berusaha kembali berdiri dan akhirnya menembaki dinding batu tepat di bawah platform elevator. Suara tembakan lebih banyak lagi dan, tiba-tiba, semendadak dimulainya, tembakan itu pun berhenti.
Mereka diam, mata menegang dalam kegelapan. Ketika generator itu mati sebelumnya, ia hampir segera menyala kembali. Tetapi kali ini, ia tetap tidak menyala. mereka dapat mendengar bisikan, sebuah senter menyala, kemudian yang lain, dan kemudian terdengar derit halus dan tamparan begitu seseorang mulai memanjat jalur vertikal elevator menuju pelataran di atas, barangkali berusaha agar generator itu segera hidup kembali. Salah satu lampu senter diarahkan ke atas, menyinari pemanjat; yang lain mulai gelisah mondar-mandir dekat tumpukan peti didepan mereka, dengan sia-sia mencoba mengangkatnya dalam kegelapan. Kemungkinan bahwa mereka akan terus-menerus berada di bawah sepertinya tidak akan terjadi pada anak buah Har - Zion. Belum, paling tidak.
__ADS_1
“Harus bergerak,” bisik Ben-Roi dekat telinga Khalifa. Suaranya sangat pelan hingga nyaris tak terdengar. “Harus segera berada di antara peti.” Khalifa menggerakkan tangannya untuk menunjukkan bahwa ia mengerti. Teriakan dari atas mengindikasikan bahwa pemanjat sudah berada di balkoni dan sedang bergerak ke ruang generator.
“Harus bergerak,” desis Ben-Roi lagi. “Tak ada waktu lagi.” Dua puluh detik berlalu, keduanya dengan panik mencoba mengatur gerak selanjutnya, menyadari bahwa pada saat mereka muncul dari bawah platform mereka hampir pasti akan terdengar atau tertangkap oleh sinar lampu senter. Akhirnya, dalam keputusasaan, Khalifa merogoh jaketnya dan menarik keluar klip amunisi berisi lima butir peluru yang tadi ia simpan, menekankannya pada lengan Ben-Roi. Si Israel langsung menerka apa yang sedang ia pikirkan.
“Ke kiri,” ia berbisik. “Kita langsung saja. Pegangan tangan.”
“Apa?”
“Agar tidak saling terpencar, idiot!” Dari atas terdengar suara mekanis yang begitu keras ketika anak buah Har - Zion mulai menarik tuas generator. Pada saat bersamaan, lampu senter tiba-tiba menyala melintasi rak peti dan mulai mengitari lantai pada kaki elevator. Untuk sesaat lamanya lampu itu menyinari tubuh Layla, kemudian mundur menuju tempat persembunyian mereka. Kini hanya persoalan beberapa detik sebelum mereka tertangkap sinar. Sambil meraih tangan Ben-Roi dan menarik ke belakang tangannya yang bebas, Khalifa melontarkan klip peluru sekeras yang ia bisa ke arah sisi terjauh gua. Sepertinya peluru itu akan masih berada di udara karena panjangnya waktu yang tidak mungkin dan sinar lampu senter melintas di depan ujung sepatu mereka ketika, dengan suara gemerincing keras, ia turun lagi.
*****_____*****
Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
By the way, Enjoy it
Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta
Thanks in Advanced
Best Regards
*****
__ADS_1