Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PENJAGA MENORAH


__ADS_3

Setelah meninggalkan apartemen suami istri Gratz, Khalifa berjalan di seputar Al-maadi untuk beberapa waktu, sambil memerhatikan deretan rumah mewah. Ia berhenti untuk memerhatikan kedai di pinggir jalan, sesuai keinginan, ia membeli patung kayu ukiran berupa Horus, si Dewa Elang, sembari berpikir bahwa itu akan menjadi hadiah yang manis untuk istrinya Zenab. Kemudian, masih memiliki empat jam waktu luang, ia kembali ke stasiun metro dan naik kereta api ke pusat kota.


Kapan pun ia berkesempatan ke Kairo dan punya waktu luang, ia biasanya tertarik mengunjungi Museum Barang Antik Mesir di Mudan Tahrir. Maka ke situlah ia akan pergi sekarang, berharap dapat membenamkan diri, walau hanya sesaat, dalam koleksi artefak kuno yang luar biasa. Teman lama dan mentornya Profesor Muhammad Al-Habibi, kurator kepala museum, sedang pergi mengajar di eropa, karena hanya sedikit hal di dunia ini yang ia nikmati lebih daripada berjalan-jalan ke galeri museum dengan ditemani profesor. Walau tidak dengannya, museum tetap merupakan tempat yang magis, dan begitu kereta apinya melesat menuju utara melintasi tepi kota berdebu, ia merasa ada perasaan berharap yang menggelitik terhadap kemungkinan gangguan di depannya.


Ada delapan perhentian dari Al-Maadi ke Sadat, stasiun terdekat dengan museum. mengapa ia keluar di perhentian keempat dari tujuannya semua, persisnya dia tidak tahu. Satu menit dia hanya berayun-ayun di dalam kereta sesak itu, sembari melihat ke rumah-rumah petak yang compang-camping melintas cepat di luar jendela; berikutnya, tanpa menyadari dirinya telah keluar dari kereta, ia kini berada di jalan yang sepi di luar stasiun Metro Mar Girgus sambil menggenggam patung kayu horus dan mengamati dinding batu rapi yang di belakangnya adalah sekumpulan rumah, Biara dan Gereja Asimetris Masr Al-Qadimah, Kota Tua di Kairo.


Walaupun dia tahu seluk beluk ibu kota itu seperti bagian belakang tangannya, ini adalah bagian yang tidak pernah dia kunjungi sebelumnya kesenjangan dalam geografinya memberikan rasa kekaguman terhadap sejarah. Karena, sebagaimana tersirat dari namanya, ini adalah bagian paling antik dari metropolis, dengan gedung atau bagian gedung kembali ke zaman Romawi (pada masa Mesir kuno tidak ada kota di sini; Ibu Kota terletak jauh di selatan, di Memphis).


Hampir semenit lamanya Khalifa berdiri di sana, berkedip-kedip, disorientasi, seolah ia baru terjaga dari tidur panjang demi menemukan dirinya di lokasi yang sepenuhnya berbeda dari tempat asal ketika ia akan beranjak tidur. Kemudian, tergerak oleh perintah yang tidak bisa dia jelaskan maupun dia tolak, dia menyeberangi jalan dan menuruni sekumpulan anak tangga batu yang membawanya ke bawah dinding perimeter di seputar area dan ke bangunan yang padat di dalamnya.


Begitu sunyi di dalam, tidak alamiah, dan sangat tenang.


Udaranya lembab dan pengap, tanpa batasan waktu seolah hukum fisika yang berlaku di seluruh bagian kota yang lain telah, di sudut yang khusus ini, entah bagaimana, runtuh ke dalam penundaan, meninggalkan semua hal tertunda dalam kekosongan yang hening dan tak terelakkan. Ia berhenti, tidak pasti akan melakukan apa, tetapi pada saat bersamaan terhenyak oleh perasaan ingin tahu yang tiba-tiba bahwa kehadirannya barangkali tidak sepenuhnya acak atau asal saja, tetapi agaknya ada tujuan tertentu yang melatarbelakangi. Kemudian, ia melangkah ke depan lagi, mengikuti jalan kecil dan sempit yang terbentang di depannya seperti potongan garis-garis sayatan pisau ke seluruh isi perut yang kusut di tempat itu. Bangunan bata dan batu yang rapuh menjulang di dinding sisi kiri dan kanan dirinya, dengan pintu kayu yang tebal di sana-sini, seperti mulut-mulut yang kaku, kebanyakan darinya tertutup rapat tetapi sedikit yang agak terbuka, memungkinkan mengintip sekilas ke dalam dunia rahasia di dalamnya taman yang rapi; ruang yang sesak dengan kayu; kapel Coptic yang teduh, pilarnya yang bergalur-galur dibelit sekelilingnya oleh sinar lilin yang lembut.


Di sana-sini jalan lain terbentang di sisi kiri dan kanannya. Sunyi, sepi, kosong, mengundangnya untuk berjalan ke bagian lain tempat itu. Ia menuruti hatinya, mengikuti jalan setapak yang tiba-tiba berubah arah di sana-sini sampai akhirnya, seperti arus yang kemudian berubah menjadi kolam besar, muncul di tempat terbuka yang berdebu di tengah-tengah, tempat berdiri gedung persegi berlantai dua dalam batu kuning, dengan jendela melengkung dan pita hiasan ukiran di sekeliling tepi atap datarnya.


Tanda itu terbaca SINAGOG BEN EZRA - MILIK KOMUNITAS YAHUDI DI KAIRO.


Dia belum pernah melihat Sinagog, apalagi berada di dalamnya. Untuk sesaat lamanya ia ragu. Sebagian dirinya ingin mengelilinginya dan kembali melewati jalan yang tadi. Namun, perasaan bahwa entah bagaimana dia harus berada di sana, yang memang telah di sana, dalam cara yang yang tidak dapat dijelaskan, telah dipanggil, sekarang ini begitu kuat sehingga mengatasi semua keraguan yang ada. Dengan menggenggam patung kayunya, ia berjalan menuju gedung itu dan menerobos pintu masuknya yang melengkung.


Ruang dalamnya begitu sejuk dan berpenerangan lembut, tenang, sunyi, dengan lantai marmer putih abu-abu. Sebaris lampu braso tergantung dari langit-langit dan, pada sisi lain, sederet pilar menyokong galeri kayu yang rendah. Dindingnya digambari pola geometris dalam warna hijau, emas, merah dan putih, sementara di ujung ruang itu, di atas podium marmer segi delapan, satu set lima anak tangga yang menuju atas ke tempat keramat berdekorasi kayu yang indah, permukaannya dilapisi gading dan mutiara, pintunya dipahati baris-baris huruf Ibrani.


Lagi-lagi, ia agak ragu. Perasaan ingin tahu semakin membesar di dalam perutnya; kemudian, secara perlahan, ia melangkah ke depan, berjalan di sepanjang sinagog sampai ia berdiri di dasar tangga menuju ke ruang keramat. Sepasang lampu braso, hampir setinggi dirinya, berdiri di sisi lain, masing-masing dengan tangkai vertikal panjang yang darinya muncul enam cabang melengkung dengan anggun keluar dan ke atas, tiga di sisi yang satu, dan tiga di sisi yang lain, masing-masing bermahkotakan, seperti juga tangkainya, bola lampu berbentuk api. Terlepas dari keindahan ornamen lain dalam gedung itu, untuk alasan tertentu lampu itu begitu menyita perhatiannya, yang bisa jadi merupakan fokus dari rasa pengharapannya. Sambil melangkah ke salah satu dari mereka, ia menjulurkan tangan dan menggenggam tangkinya yang halus.


鈥淒an Anda akan membuat lampu dari emas murni, dan akan ada enam cabang keluar dari sisi-sisinya, dan penutupnya, kelopaknya, dan bunganya haruslah satu dengan yang lain.鈥� Khalifa berputar ke sekeliling, terperanjat. Pikirnya dia seorang diri di sana, dan merasa pasti bahwa hanya dia sendiri di ruangan itu. Kini, ia melihat agak jauh di sebelah kanannya, agak tersembunyi dalam keremangan di bawah galeri, seorang laki-laki sedang duduk di salah satu kursi kayu yang ada di sepanjang dinding sinagog. Ia mengenakan jubah biru gelap dan penutup kepala yang sepertinya menyatu dengan bayangan keremangan itu sebabnya, mungkin, Khalifa luput memerhatikannya. Seperti juga janggut putih panjang yang turun hampir sampai ke dadanya. Dia memiliki mata biru yang bersinar luar biasa, yang tampak berkilau dalam kegelapan, seperti bintang di langit pada malam hari.

__ADS_1


鈥淚tu namanya Menorah,鈥� kata si orang asing. Suaranya lembut dan agak musikal.


鈥淢aaf?鈥�


鈥淟ampu yang sedang Anda pegang. Namanya menorah.鈥� Khalifa menyadari bahwa tangannya masih memegang tangkai lampu yang seperti spiral. Ia menarik tangannya, sedikit malu, seolah tertangkap basah sedang menyentuh sesuatu yang tidak boleh disentuh.


鈥淢aafkan aku,鈥� ulangnya. 鈥淗arusnya aku....鈥� Si orang asing menggerakkan tangannya, sembari tersenyum.


鈥淏agus sekali Anda memiliki minat terhadapnya. Kebanyakan orang, mereka hanya berlalu tanpa memerhatikannya. Bila ingin menyentuhnya, silakan. Anda tamuku.鈥�


Dia tetap berada di tempatnya untuk beberapa saat, sambal menatap Khalifa si detektif ini tidak pernah melihat mata biru yang bersinar seperti itu kemudian berdiri dan mendekatinya.


Gerakannya begitu ringan, cair dan tanpa usaha, hampir seperti mengambang. Walaupun rambut dan janggutnya putih seperti es, karena ia sekarang ada di bawah sinar, Khalifa dapat melihat kulitnya yang halus dan rapi, tak bergaris, tubuhnya tegak sehingga tidak mungkin menebak usianya. Ada sesuatu yang membingungkan tentang dirinya. Tidak menakutkan, hanya ... aneh, asing.


Tidak dapat diuraikan dengan kata-kata, seolah ia sebenarnya tidak berada di sana dalam waktu nyata, tetapi lebih merupakan bagian dari mimpi.


鈥淩abbi?鈥� lagi-lagi, laki-laki itu tersenyum, matanya melihat sekilas pada patung Horus yang ada di tangan kiri Khalifa. 鈥淭idak, tidak. Tidak ada Rabbi tetap di sini selama lebih dari tiga puluh tahun. Aku hanya ... pengurus. Seperti ayahku sebelumnya, dan ayahnya ayahku, dan sebelumnya lagi. Kami ... menjaga sesuatunya di sini.鈥�


Nada suara itu apa adanya, lazimnya percakapan. Namun, ada sesuatu dalam pemilihan kata-katanya, bagaimana ia menatap dan menyelimuti Khalifa, menyentak langsung padanya, yang tampaknya menjadi petunjuk untuk arti yang lebih dalam, tingkat saling pengertian tertentu jauh melebihi apa yang diekspresikan secara terbuka. Walaupun Khalifa selalu diremehkan oleh mereka yang percaya pada paranormal 鈥淗unkum-funkum鈥� sebagaimana Profesor Al-habibi menyebutnya detektif ini tidak dapat melarikan diri dari keyakinan yang tiba-tiba dan tak terduga bahwa laki-laki itu tidak hanya tahu pasti tentang siapa dirinya, tetapi dalam cara yang tidak dapat ditentukan bertanggung jawab pada kehadirannya di sini.


Ia menggelengkan kepala, gamang, dan bergerak mundur separuh langkah. Ada kesenyapan yang panjang.


鈥淚a berarti sesuatu, kata 鈥榤enorah鈥� itu?鈥� akhirnya ia bertanya, mencoba memulai percakapan, untuk mencairkan suasana menegang yang sepertinya meliputi mereka.


Si orang asing ini memandangnya dengan saksama ia sedikit lebih tinggi kemudian, dengan senyum arif yang tipis seolah ia memang mengharapkan pertanyaan itu, berbalik ke arah lampu.

__ADS_1


Matanya yang biru berbinar dalam kilauan bola lampu yang berbentuk api.


鈥淢enorah adalah kata dalam bahasa Ibrani untuk kandil (candelabrum), tempat lilin bercabang,鈥� jelasnya perlahan. 鈥淟ampu Tuhan. Simbol kekuatan sangat besar bagi bangsa kami. Simbol itu. Tanda dari berbagai tanda.鈥� Jauh dari memperingan atmosfer yang ada, Khalifa merasakan bahwa pertanyaannya justru telah mempertebalnya. Terlepas dari itu, terlepas dari dirinya sendiri, ia tidak dapat lagi bertahan melainkan tertarik akan kata-kata laki-laki itu, seolah ia sedang mendengarkan sejenis doa atau panggilan.


鈥淚ni ... indah sekali,鈥� ia bergumam. Pandangannya naik ke tangkai lampu dan ke sepanjang lengkung cabangnya yang halus.


鈥淒alam caranya sendiri,鈥� katanya. 鈥淪ama seperti benda reproduksi yang lain, kecuali bayangannya menyamakan yang asli lampu pertama, lampu yang sejati, lampu yang dibuat si pengrajin emas yang hebat, Bezalel, kembali ke masa-masa berkabut, pada masa Musa dan Pelarian dari mesir.鈥� Ia menjentikkan ujung jarinya pada lengkungan lampu yang terluar. 鈥淵ang itu memang sangat indah,鈥� katanya, dengan mata berbinar seolah sepasang kupu-kupu biru yang terang telah hinggap pada kedua sisi dari tulang hidungnya. 鈥淭ujuh cabang, berbentuk kuncup seperti bunga, mangkuk yang seperti kenari, keseluruhannya dipahat dari balok tunggal emas yang padat benda paling indah yang pernah ada. Lampu itu berada di tempat ibadah yang sudah ditinggalkan, dan di dalam Kuil Pertama yang dibangun Sulaiman, dan di Kuil Kedua juga, sampai bangsa Romawi datang dan kemudian lenyap di dunia ini. hampir dua ribu tahun yang lalu. Apakah ia akan terlihat kembali....鈥� Ia mengangkat bahu. 鈥淪iapa yang tahu. mungkin suatu hari nanti?鈥� Ia diam beberapa saat, sembari menatap saksama lampu itu.


Pandangan jauh dan aneh dari matanya seakan-akan dia sedang mengingat masa lalu. Kemudian ia menurunkan tangannya dan kembali kepada Khalifa.


鈥淒i Babilonia,鈥� katanya, 鈥渋tu yang dikatakan oleh ramalan pada kita. Di Babilonia menorah yang sejati akan ditemukan, di rumah Abner. Ketika waktunya tiba.鈥� Lagi-lagi, tanpa ada alasan yang dapat ia jelaskan, detektif ini tersentak oleh sensasi tersembunyi yang mengguncang terhadap kata-kata laki-laki itu, sebuah perasaan bahwa, walaupun dia tidak sepenuhnya memahami apa yang tadi dikatakannya, bagaimanapun terasa begitu signifikan. Ia membalas tatapan laki-laki itu untuk beberapa saat, kemudian melengos, matanya melihat sekeliling ruang sinagog itu sampai tiba di jam yang tergantung di atas pintu masuk.


鈥淪ialan!鈥�


Dia begitu yakin dirinya berada di ruangan itu hanya selama lima belas menit, dan dua puluh menit di luar. Tetapi jarum jam menunjukkan hampir pukul lima, yang berarti dia telah berada di sinagog selama lebih dari tiga jam. Dia memeriksa lagi jamnya, yang memang sesuai dengan jam dinding itu, dan dengan gelengan kepala yang membingungkan, mengatakan bahwa dia harus pergi.


鈥淎ku benar-benar kehilangan jejak waktu.鈥� Laki-laki itu tersenyum. 鈥淢enorah dapat memberikan efek itu.


Ia merupakan kekuatan yang misterius.鈥�


Keduanya bertatapan Khalifa sesaat mengalami sensasi memusingkan, seolah dirinya sedang terjerembab dari tempat yang sangat tinggi ke kolam biru jernih kemudian, dengan anggukan, detektif itu melangkah melewati lampu dan pergi dari sinagog.


鈥淏oleh tahu nama Anda?鈥� Laki-laki itu bertanya ketika ia hampir saja mencapai pintu masuk.


Khalifa berbalik. 鈥淵usuf,鈥� jawabnya. Kemudian ada entakan, lebih karena sopan santun daripada ingin tahu yang sesungguhnya, ia bertanya juga, 鈥淣ama Anda?鈥�

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum. 鈥淎ku Shomer Ha-Or. Sama seperti nama ayahku sebelumnya, dan ayahnya lagi sebelum dia. Aku harap aku dapat bertemu lagi denganmu, Yusuf. Sebenarnya, aku tahu aku akan bertemu lagi denganmu.鈥� Sebelum detektif itu bisa bertanya apa maksudnya, laki-laki itu melambaikan tangan dan, lagi-lagi dengan gerakan mengambang, kembali ke dalam bayangan di sisi dalam sinagog, menghilang dari pandangannya seolah ia melangkah keluar dari dunia ini.


__ADS_2