
Khalifa meneguk kopi suam-suam kuku dalam gelas plastic yang disediakan oleh penerbangan, mengemil biskuit dan menatap keluar melalui jendela pesawat pada dunia kecil di bawahnya.
Sebuah pemandangan yang spektakuler sungai Nil, pengolahan tanah, hamparan kuning dari Gurun Barat dan di bawah kondisi lain ia pasti akan telah menjalani seluruh perjalanan dengan menatap ke bawah dengan keheranan yang membelalakkan mata.
Namun demikian, baru dua kali dalam hidupnya dia berada dalam pesawat, dan sudah pasti tidak ada cara yang lebih baik dalam mengagumi keajaiban alam yang ada di mesir, penjajaran luar biasa dari hidup dan kemandulan Kemet dan Deshret seperti yang diketahui oleh nenek moyang, Tanah hitam dan Tanah merah daripada sekadar melihatnya dari atas dengan cara ini, terentang dari cakrawala ke cakrawala seperti peta terbuka yang besar.
Namun pagi ini, pikirannya dipenuhi oleh hal lain, dan setelah melihat keluar melalui jendela untuk beberapa saat saja, ia mengalihkan pandangannya lagi, menghabiskan sisa kopinya dan memfokuskan perhatiannya pada urusan yang tengah ditanganinya.
Sebenarnya dia ingin melakukan perjalanan ke Kairo sore sebelumnya, segera setelah percakapannya dengan Ben-Roi.
Sayangnya, ketika mendiktekan bahwa ia tidak bisa tiba-tiba muncul di wilayah kepolisian lain tanpa semacam surat keterangan resmi, dan saat ia telah melewati semua urusan birokrasi yang diperlukan ia sudah tertinggal penerbangan terakhir menuju ibu kota itu. Yang, ketika terjadi, telah terbukti memberi hikmah, karena penundaan itu telah memberikan waktu untuknya melakukan sedikit pemeriksaan terhadap latar belakang Tuan dan Nyonya Anton Gratz yang misterius, dengan hasil yang luar biasa menarik.
Sebagai permulaan, terungkap bahwa Anton Gratz pernah menjalankan bisnis impor buah-buahan dan sayuran berskala kecil. menurut Ben-Roi, “Gad” atau “Getz” yang telah memerintahkan perusakan flat Hannah Schlegel di Yerusalem juga terlibat dalam bisnis buah-buahan. Khalifa telah berasumsi, tentu saja, bahwa “Getz” dan “Gratz” adalah satu dan sama, tetapi informasi baru ini tampak harus menyediakan konfirmasi absolut terhadap kenyataannya.
Sama halnya, bila tidak lebih menggoda, adalah kesamaan antara latar belakang suami-istri Gratz dan temannya Piet Jansen. Seperti Jansen, keduanya adalah orang asing. Seperti Jansen, keduanya telah melamar dan telah dianugerahi kewarganegaraan mesir pada oktober 1945. Dan seperti Jansen, sepertinya tak satu pun memiliki sejarah yang dapat ditelusuri sebelum tanggal itu.
Dari mana mereka berasal, kapan dan mengapa, apakah Gratz merupakan nama sebenarnya adalah pertanyaan yang jawabannya tak dapat ditemukan Khalifa. Semakin ia menggali semakin ia memiliki perasaan bahwa, seperti Jansen, suami-istri Gratz memiliki sesuatu yang disembunyikan. Dan semakin ia gali semakin ia memeroleh perasaan bahwa ketiganya sedang berusaha menyembunyikan hal yang sama.
Sejauh ini, potongan informasi paling signifikan yang telah ditemukannya, eksposur nyata, terkait dengan aplikasi kewarganegaraan yang asli dari Tuan dan Nyonya Gratz. Kertas kerja kontemporer untuk ini telah, tak pelak lagi, hilang atau dimusnahkan.
Yang tersisa adalah, menurut kenalan Khalifa di Kementerian Dalam Negeri, catatan administratif dasar tentang tanda terima dan persetujuan berikutnya dari aplikasi yang dibicarakan tadi.
Dan siapa pejabat keamanan yang bertanggung jawab terhadap persetujuan itu? Tidak ada selain Faruk Al-Hakim, orang yang, empat setengah dekade berikutnya, akan terlibat dan menghentikan kasus Jansen yang sedang diinvestigasi menyangkut pembunuhan Schlegel. Penggalian lebih jauh telah mengungkapkan bahwa Al-Hakim juga berurusan dengan aplikasi kewarganegaraan Jansen, oleh karena itu mewujudkan untuk yang pertama kalinya hubungan yang jelas antara kedua laki-laki itu. Yang lebih penting, ini menyiratkan bahwa apa pun yang Jansen dan suami-istri Gratz telah lakukan hingga sebelum oktober 1945, apa pun itu yang dengan lelah telah mereka coba sembunyikan, Al-Hakim sangat mungkin mengetahui tentang hal tersebut. hal ini tetap tidak menjelaskan mengapa ia telah begitu sengaja melindungi Jansen kembali pada 1990, tetapi hal ini memang menguatkan pendirian Khalifa bahwa kunci dari kematian Schlegel dan pengelabuan berikutnya, kunci untuk segalanya yang telah mempersulit dirinya dalam dua mi nggu terakhir ini, tersimpan dalam tahun-tahun krusial sebelum kedatangan Jansen di mesir.
Dan satu-satunya orang yang, sepertinya, dapat memberi lampu terang mengenai tahun-tahun itu adalah dia yang akan ia temui sekarang ini.
Begitu pesawat berbelok dan menurun untuk memulai pendaratannya ke areal Domestik Kairo, reruntuhan Saqqara melintas secara perlahan seolah dipandang melalui air yang dalam dan jernih. Khalifa menutup matanya dan berdoa agar perjalanan ini tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia; agar ketika ia kembali ke Luxor malam nanti, ia kembali dengan gagasan jernih mengenai inti persoalan sebenarnya dari semua ini.
AL-Maadi, Daerah pinggiran kota Kairo tempat suami-istri Gratz menetap, terhampar di tepi kota. Distrik yang tenang, penuh dedaunan yang disukai oleh para diplomat, orang asing dan pebisnis yang kaya. Vilanya yang mahal dan jalan panjang yang dinaungi api serta pohon kayu putih adalah dunia yang jauh dari kemiskinan dan kekacauan yang menjadi ciri sebagian besar Ibu Kota mesir ini.
Khalifa tiba setelah tengah hari, menaiki metro bis dari pusat kota. Ia memperoleh arah menuju Jalan Orabi dari penjual kacang dekat stasiun, dan sepuluh menit kemudian ia berdiri di luar blok apartemen suami-istri Gtratz. Sebuah bangunan besar berwarna merah jambu dengan beberapa unit pendingin ruangan menempel di dinding luar, area parkir mobil bawah tanah, dan di tempat yang berlawanan, telepon publik yang nomornya telah muncul begitu sering pada tagihan telepon Jansen.
Ia terdiam untuk sesaat lamanya pada anak tangga di depan, terhenyak oleh pikiran yang menekan bahwa sekeras apa pun dia bekerja, seberapa lama pun, ia tidak akan pernah mampu hidup dan memiliki tempat tinggal di tempat seperti ini. Kemudian, dengan membuang Cleopatranya yang telah separuh ia hisap, ia melintasi serambi berkaca dan menaiki lift, menuju lantai tiga. flat suami-istri Gratz ada di tengah koridor yang terang benderang, dengan pintu kayu dipernis yang di tengahnya ada taring melingkar, menonjol sebagai pengetuk pintu braso, serasi dengan kotak surat braso yang ada di bawahnya.
Detektif itu diam sejenak, merasakan bahwa apa yang mengikuti bisa jadi akan membuat investigasi sukses atau sebaliknya malah mengacaukan. Kemudian, dengan menarik napas dalam-dalam, ia menjulurkan tangannya ke arah pengetuk pintu.
__ADS_1
Sebelum jari tangannya mencapainya, ia ragu sehingga menurunkan lagi tangannya dan malah membungkuk lalu secara perlahan dan lembut mendorong tutup kotak surat. melalui pembukanya yang persegi empat ia dapat melihat areal berkarpet yang redup terbentang di depannya, sangat rapi dan bersih, dengan ruang-ruang yang terbuka ke setiap sisi. Dari salah satu sisinya dapur, diketahui dari rak piring dan sudut kulkas yang terlihat melalui pintu terdengar senandung halus musik, radio atau kaset, dan lebih halus, suara seseorang yang bergerak-gerak. Ia mendekatkan telinganya ke kotak surat untuk memastikan dirinya tidak sedang berimajinasi, kemudian yakin bahwa ia memang mendengar ada gerakan.
Khalifa menegakkan badan, meraih pengetuk pintu dan mengetuknya tiga kali dengan keras.
Ia menghitung sampai sepuluh, lalu, ketika tidak ada jawaban, ia mengulang aksinya. empat ketukan kali ini. Tetap tidak ada jawaban. Ia berjongkok dan membuka kotak surat itu lagi, sembari berpikir barangkali siapa pun yang sedang berada di dapur pastilah sudah tua atau sedang tidak enak badan dan jadinya memerlukan waktu lama untuk mencapai pintu depan. Ruang itu kosong.
“Halo?” katanya. “Ada seseorang di dalam sana? Halo?” Tidak ada jawaban.
“Tuan Gratz? Namaku Inspektur Yusuf Khalifa dari Satuan Kepolisian Luxor. Aku telah mencoba menghubungi Anda selama tiga hari kemarin. Aku tahu Anda ada di dalam. Tolong bukakan pintu.” Ia menunggu beberapa menit, kemudian menambahkan, “Kalau tidak Anda bukakan, aku tidak punya pilihan lain kecuali berasumsi bahwa Anda telah menghalangi permintaan polisi dan akan menahan Anda.” Ia menggertaknya, tetapi kelihatannya memberikan efek yang diinginkan. Terdengar sayup suara isakan dari arah dapur, dan kemudian perlahan, ragu-ragu, seorang perempuan tua, pendek, sintal, Nyonya Gratz barangkali, berjalan beberapa langkah di ruang itu, menggunakan tongkat metal yang membantunya dalam berjalan, menatap kotak surat dengan takut.
“Apa yang kau inginkan dari kami?” katanya. Suaranya lemah dan tidak mantap. “Apa yang telah kami lakukan?” Ia jelas-jelas tidak dalam keadaan baik: kedua betisnya digubat perban, kulit wajahnya telah keriput dan kelabu, seperti dempulan kering. Khalifa merasa bersalah karena telah jelas-jelas membuatnya terganggu.
“Tidak perlu takut,” katanya, sambil berbicara lemah lembut dan menenangkan kembali karena situasinya mengizinkan. “Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya perlu menanyakan padamu dan suamimu beberapa pertanyaan.” Ia menggelengkan kepalanya, beberapa helai rambut putih menyembul dari sanggul yang ia jepit dan berayun-ayun di wajahnya, membuatnya sedikit seperti orang gila.
“Suamiku tidak di sini. Dia ... sedang pergi.”
“Kalau begitu mungkin aku bisa berbicara dengan Anda, Nyonya Gratz. Tentang teman kalian Piet....”
“Tidak!” ia kembali gemetar, sambil meraih tongkatnya seolah untuk memulai serangan. “Kami tidak melakukan apa-apa, kukatakan padamu! Kami patuh pada hukum. Kami membayar pajak. Apa yang kau inginkan dari kami di sini?”
Ketika Khalifa menyebutkan nama terakhir itu ketakutannya seolah berlipat ganda, seluruh tubuhnya gemetar seolah sepasang tangan tak terlihat telah merengkuh bahunya yang ringkih dan menggoyang-goyangkannya.
“Kami tidak kenal siapa pun yang bernama Al-Hakim!” katanya meratap. “Kami tidak pernah berurusan apa pun dengannya. Mengapa kalian tidak bisa membiarkan kami sendiri? mengapa kau lakukan ini pada kami?”
“Kalau saja Anda bisa....”
“Tidak! Aku tidak akan membiarkan kau masuk tanpa suamiku di sisiku. Aku tidak akan! Aku tidak akan!” Ia mulai berjalan menjauhi ruangan, satu tangannya memegang tongkat, yang lain menempel di dinding, menahan tubuhnya.
“Tolong, Nyonya Gratz,” ujar Khalifa, sudah dalam keadaan berlutut, sepenuhnya menyadari betapa anehnya mencoba melakukan percakapan dalam cara seperti ini tetapi tidak dapat melihat ada cara lain. “Tidak ada maksud untuk menakuti atau membahayakan Anda. Aku yakin Anda dan suami Anda memiliki informasi penting berkaitan dengan pembunuhan seorang perempuan Israel bernama Hannah Schlegel.”
Jika penyebutan nama Al-Hakim telah memancing reaksi kuat, itu belum apa-apa dibandingkan kengerian menyedihkan yang terlihat menyapu wajahnya saat ini. Ia mundur terhuyung-huyung ke dinding, satu tangannya meremas tenggorokkannya seolah ia sedang berjuang menarik napas, tangan yang lain mencengkeram dan melonggar di gagang tongkatnya.
“Kami tidak tahu apa-apa,” gumamnya. “Kami tidak tahu apa-apa.”
“Nyonya Gratz....”
__ADS_1
“Aku tak ingin bicara denganmu. Tidak akan tanpa suamiku disini. Kau tidak bisa memaksaku. Tidak bisa!”
Ia mulai terisak, kekejangan yang kuat menyerang tubuhnya, air mata menggenang di matanya. Khalifa tetap sebagaimana semula untuk beberapa saat lamanya, kemudian, dengan ******* ia merendahkan penutup kotak surat dan berdiri, menggoyang-goyangkan kekakuan di kakinya.
Tidak ada gunanya memaksa perempuan itu lebih jauh lagi. Ia terlalu tertekan. Apa pun yang ia tahu tentang Hannah Schlegel dan ia tentu saja mengetahui sesuatu ia tidak akan mengatakannya pada Khalifa dalam keadaannya sekarang. Sebagian koleganya akan dengan mudah menendang pintu dan menariknya ke pengadilan tetapi itu bukan cara Khalifa menjalankan pekerjaannya. Ia menyalakan rokoknya, beberapa kali mengisapnya, kemudian membungkuk lagi dan mendorong penutup kotak surat itu.
“Jam berapa suami Anda kembali, Nyonya Gratz?” Ia tidak menjawab.
“Nyonya Gratz?” Ia bergumam sesuatu, tak bisa didengar.
“Maaf?”
“Jam lima.” Ia melirik jam tangannya. empat setengah jam.
“Dia pasti akan ada di sini?” Perempuan itu mengangguk lemah.
“Baiklah,” katanya setelah jeda sejenak. “Aku akan kembali. Tolong sampaikan pada suami Anda untuk menungguku.” Ia terpikir untuk menambahkan “Jangan ada tipuan”, tetapi tidak mampu membayangkan tipuan apa yang akan mereka mainkan, jadi biarkan saja begitu. Ia menurunkan tutup kotak surat, berdiri dan berjalan menuju koridor lalu ke lift. Setelah setengah berjalan ia mendengar suara perempuan itu memanggilnya, lemah dan putus asa.
“Mengapa kau memburu kami seperti ini? mereka musuh kalian juga. mengapa kau membantu mereka? mengapa? mengapa?” Ia melambatkan langkahnya, berpikir untuk kembali lagi dan bertanya apa yang ia maksud, tetapi kemudian ia memutuskan melawan pikiran itu dan melanjutkan langkahnya menuju lift, memencet tombol lantai dasar. Semua hal berjalan tidak seperti yang ia harapkan.
Setelah Khalifa pergi, perempuan tua itu tetap di tempat untuk beberapa lama, kemudian perlahan berjalan ke ruang tengah di bagian dalam apartemen. Seorang laki-laki kecil, tegap dengan kumis tipis dan wajah kurus keriput seperti buah kering, sedang menunggu di balik pintu. Tangannya di sisinya dengan tegang seolah ia sedang berdiri dalam posisi siap pada areal parade.
Perempuan tua itu mendekatinya dan, dengan merentangkan lengannya, laki-laki itu merangkul istrinya dengan lembut.
“Sudah, sudah, Sayangku,” bisiknya perlahan, dalam Bahasa Jerman. “Kau sudah melakukan yang terbaik yang bisa kau lakukan. Sudah, sudah.” Perempuan itu menekankan pipinya pada dada suaminya, sesenggukan seperti anak kecil yang ketakutan.
“Mereka tahu,” ia bergumam. “Mereka tahu semua.”
“Ya,” katanya. “Sepertinya mereka tahu.” Ia memeluk perempuan itu erat-erat, mengusap-usap leher dan punggungnya, mencoba menenangkannya; kemudian, sambil melepaskannya, ia mengambil helai rambut yang menggantung di wajah istrinya, menariknya dan menggabungkannya kembali dengan sanggul yang ada di bagian atas kepalanya.
“Kita selalu tahu bahwa akan seperti ini jadinya,” kata laki-laki itu dengan lembut. “Sungguh bodoh bila berpikiran bahwa ini akan berlangsung selamanya. Kita telah menjalankannya dengan baik. Itu yang terpenting. Bukankah kita telah menjalankannya dengan baik?” Ia mengangguk lemah.
“Ini baru kekasihku. Si cantik Inga.” Ia merogoh sakunya, mengambil sapu tangan dan menyeka mata dan pipinya bagian atas, menghapus air matanya.
“Sekarang, mengapa kau tak bersiap-siap dan berganti baju sementara aku membereskan segala sesuatunya di sini? Tak ada gunanya menunggu berleha-leha, ‘kan? Kita harus siap menerima mereka bila mereka datang.”
__ADS_1