Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
MENUJU LOKASI TAMBANG


__ADS_3

Pada saat mereka mengambil paspornya, dan berkendara di sepanjang enam puluh kilometer ke bandara dan menuju gedung terminal, penerbangan ke Wina sudah mulai boarding. Ben-Roi memperlihatkan sekilas kartu ID polisinya, menjalani langkah pertama pemeriksaan keamanan di aula keberangkatan pertama kali dan satu-satunya kesempatan Layla berusaha untuk bernegosiasi dengan pihak keamanan setempat tanpa pertanyaaan yang tak berkesudahan dan langsung ke meja check-in. Kontrol keamanan langkah kedua, pada pintu masuk ke ruang tunggu keberangkatan, ternyata lebih banyak kesulitan. Salah seorang petugas jaga memaksa membawa Layla ke sebuah ruangan kecil tersendiri untuk memeriksanya, terlepas dari paksaan Ben-Roi bahwa dia berada dalam pengawasannya dan sama sekali bukan ancaman. Pada saat Layla diberi tanda bahwa semua beres, penerbangan mereka telah dipanggil untuk yang terakhir kalinya.


“Ghabee!” Layla mendesah dengan tidak sabar begitu tas punggungnya dikembalikan padanya, seluruh isinya dibongkar. “Gila.” Ia mencangklong tasnya di bahu dan berbalik mengejar Ben-Roi, yang telah berjalan menuju pintu keberangkatan. Saat dia berlari, jauh di belakang meja pemeriksaan paspor, separuhnya tersembunyi di balik pilar, matanya menangkap sosok berotot, yang tampak sedang menatapnya. Pandangan mata mereka beradu begitu cepat, kemudian laki-laki itu mundur dan menghilang dari pandangan.


Di luar, Avi Steiner berjalan menuju area parkir mobil dan menyelinap masuk ke bagian belakang Volvo.


“Mereka sedang naik ke pesawat.” Har - Zion mengangguk, sambil menyorongkan tubuhnya, mengetuk bahu sopir. mobil mulai menyala dan mereka kemudian melesat, melewati gerbang keamanan pada ujung terminal dan keluar melintasi jalan raya, melewati sebaris kargo sebelum berhenti di sisi garasi pesawat yang pintunya terbuka memperlihatkan pesawat jet Cessna Citation. Empat laki-laki lain tinggi, terlatih, tanpa ekspresi sedang menunggu mereka di sisi tangga pesawat, masing-masing mengenakan Yarmulke hitam, masing-masing memegang tas kampas besar. Har - Zion dan Steiner keluar dan, dengan saling mengetahui kehadiran yang lain dalam diam, keenamnya menghilang masuk ke dalam pesawat jet. Pintu tertutup, mesinnya mulai menyala dan menderu halus.

__ADS_1


Sedangkan di Mesir Khalifa ketinggalan pesawat harian satu-satunya yang terbang langsung dari mesir ke Austria, sehingga ia harus mencari-cari dan mencoba mengumpulkan semua alternatif jalur menuju Salzburg melalui Ibu Kota negara eropa lain. Setelah hampir satu jam menelepon yang terbaik yang dia bisa, akhirnya dia mendapatkan rute melalui Roma dan Innsbruck, yang berarti dia tidak akan tiba di tempat tujuan hingga lewat tengah malam. Pada saat itu Ben-Roi hampir pasti sudah mencapai pertambangan, selesai melakukan apa pun yang akan dilakukannya di sana dan pergi lagi, dan Khalifa mulai berpikir bahwa dia hanya membuang waktu saja, bahwa tidak mungkin dia dapat mengejar si Israel ini, ketika, dengan usaha terakhirnya untuk menelepon, dia akhirnya mendapatkan apa yang diperlukannya: pesawat carter untuk turis langsung dari Luxor ke munich, berangkat pukul 13.15. munich hanya 130 kilometer lewat darat dari Berchtesgaden dan, walaupun bukan solusi ideal, itu tetap merupakan pilihan terbaik dalam keadaan seperti itu.


Ia masih punya waktu untuk menelepon Zenab, mengatakan padanya bahwa ia akan melakukan perjalanan bisnis singkat “Tak perlu khawatir, aku akan kembali sekitar pukul sekarang esok hari” sebelum menuju bandara. Begitu cepat semua ini terjadi hingga baru setelah berada di dalam pesawat dan mulai melintas di landasan pacu, Khalifa baru tersadar bahwa ini akan menjadi yang pertama kali sepanjang hidupnya dia keluar dari negeri asalnya, mesir.


Pesawat mereka Ben-Roi dan Layla mendarat di Wina pada pukul 15:30, dan Salzburg satu jam kemudian, menuju mobil sewaan dan melaju cepat ke arah selatan sepanjang jalan bebas hambatan. Ben-Roi pada kemudi dan Layla membaca peta. Bavarian Alps mengelilingi mereka seperti lingkaran tempat peperangan, sebuah dataran tinggi yang ditumbuhi pepohonan di semua sisinya. Walaupun bagian yang lebih rendah tidak tertutup salju, di atasnya, pada level ketika ada hutan pohon birch, Elm, Abu dan Juniper, memberi jalan pada serangkaian cemara dan pinus gunung yang bertingkat-tingkat, semuanya tiba-tiba tersapu dalam putihnya kabut.


Sementara itu Walaupun penerbangannya mendarat dua puluh menit lebih awal dari jadwal, Khalifa menghabiskan banyak waktu pada bagian pemeriksaan paspor, ketika, bahkan dengan ID polisi mesirnya, ia berjuang membujuk petugas seorang perempuan berwajah masam dan besar dengan rambut model bob dan ukuran dada paling besar yang pernah dilihatnya bahwa ia bukan imigran gelap yang mencoba menyusup ke dalam negeri untuk mengelabui sistem keamanan sosialnya (Fakta bahwa tiket pesawatnya masih terbuka untuk perjalanan pulang dan tidak dapat berbahasa Jerman tidak membantunya). Pada saat ia telah berhasil membujuknya, dan kemudian membeli peta, mengambil mobil VW Polo sewaan dan berpikir sejenak tentang jalan keluar dari bandara dan menuju jalan bebas hambatan di sisi timur, hari sudah mulai malam, napas terakhir siang hari secara perlahan melebur ke dalam senja yang berkabut tebal.

__ADS_1


Dalam kondisi lain, ia tentu akan bersikap lebih tenang, meluangkan waktu untuk dirinya sendiri menyerap dan memperhatikan lingkungan barunya. Padang rumput yang subur; bukit yang tertutup hutan; desa-desa yang cantik dengan gereja berkubah dan rumah berdinding keramik merah yang rapi semua tampak asing sama sekali baginya, benar-benar berbeda dari pemandangan padang pasir terbakar matahari yang merupakan dunianya sendiri.


Namun dalam kondisi Ben-Roi sudah berada jauh di depannya, tidak ada waktu untuk memanjakan diri seperti itu, selain juga tidak berada dalam suasana hati yang enak untuk melakukan hal itu. malahan, dengan pandangan sekilas pada sekelilingnya, ia memacu mobilnya memasuki jalur terluar dan tercepat dari tiga jalur bebas hambatan, menekan gas sejauh mungkin dan melesat masuk ke senja yang semakin gelap, lupa akan tanda di atas yang menyatakan batas kecepatan 130 km/jam.


Hanya satu kali selama perjalanan berikutnya ia membolehkan fokus sekuat baja ini ragu. Ia membelok ke pos layanan Dea untuk mengisi bahan bakar dan membeli rokok. Khalifa sedang menuju mobilnya ketika, pada tepi berumput di sisi lain pompa bensin itu, ia memerhatikan sebidang tanah tertutup salju, tidak lebih besar daripada selimut anak-anak, yang pastinya aslinya lebih luas lagi tertutup salju. Ia tidak pernah melihat salju sebelumnya, salju yang sesungguhnya, apalagi menyentuhnya. Walaupun ia dapat mendengar detik-detik berlalu di dalam kepalanya, ia tak dapat menahan diri untuk berlari kecil mendekati dan menyentuhkan tangannya pada permukaan bidang yang tertutup es, memegangnya untuk sesaat lamanya seolah sedang mengamati hewan yang tidak biasa, sebelum akhirnya bergegas kembali ke dalam mobil dan menuju arah yang telah direncanakannya.


“Tunggu sampai aku menceritakannya pada Zenab,” pikirnya, Telapak tangannya masih terasa kebas. “Ia tidak akan memercayaiku. Salju! Allahu akbar!”

__ADS_1


__ADS_2