Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
HANNAH DAN ISAAC


__ADS_3

Layla mengehentikan mobil sewaannya, Renault Clio berwarna lebam, ke trotoar dan membiarkan mesinnya menyala, ia menyorongkan badannya ke depan. melalui kaca depan mobil ia melihat ke atas pada benteng Kastil Montsegur yang tinggi di sana. Ia tetap seperti itu selama beberapa saat, mengamati dinding abu-abu yang kosong, bagian belakangnya, kubah batu yang berbentuk seperti kepala sehingga membuat kastil itu terlihat seperti kapal menaiki logo dalam gelombang pasang; kemudian, duduk kembali dan melemparkan pandangan pada peta yang ia letakkan di kursi penumpang di sebelahnya, kemudian melanjutkan perjalanannya.


Setelah dua puluh menit, ia sampai di Castelombres. Ia telah membeli beberapa buku panduan di Toulouse, yang sangat membantu karena tanpa buku-buku itu ia akan kesulitan menemukan desa Castelombres yang tidak lebih hanyalah perumahan yang terpencar dan bangunan pertanian yang bahkan tidak tampak dalam peta dan tidak akan ada harapan untuk menemukan lokasi reruntuhannya, yang berada tiga kilometer di luar dusun kecil dan sumur. Bahkan dengan buku pun reruntuhan itu masih tetap tidak mudah ditemukan, dengan melibatkan perjalanan yang bergejolak sepanjang jalur setapak yang menjepit jalannya menuju bukit, dan kemudian jalan kaki melintasi dua lapangan berlumpur dan naik melalui kumpulan tanaman kecil yang lebat dan tumbuhan raksasa, mengikuti jalur menanjak tajam yang pastinya telah terpelihara baik tapi kini ditumbuhi tanaman liar sehingga menjadikannya hampir tidak berbeda dari tanaman di sekitarnya. Begitu jauh lokasi kastil itu, benar-benar tersembunyi, sehingga Layla sebenarnya sudah berada pada titik untuk melangkah balik, sambil berpikir bahwa ia tadi pasti telah salah berbelok entah di mana, ketika semak itu membuka pada kedua sisinya dan ia sudah berdiri di teras berumput yang luas, jauh di dalam sisi bukit dengan pemandangan spektakuler tentang sekeliling bukit dan turun ke lembah sungai di bawah. Tanda yang terbuat dari kayu yang sudah patah di sisi kirinya mengumumkan ATEAU DE CASTELOMBRES.


Siapa pun yang telah meruntuhkan kastil ini, ia telah melakukan seluruh pekerjaan, karena hampir tidak ada lagi yang tertinggal, hanya beberapa blok batu yang tercecer, beberapa dinding yang runtuh yang paling tinggi tidak lebih dari selutut dan pilar tunggal serta burik menggeletak pada sisinya dalam rerumputan seperti kayu yang busuk. hanya ada satu hal yang menjadi tanda bahwa tadinya ini adalah gedung yang megah, dan itu adalah lengkungan besar di ujung teras, sangat tinggi, sangat sempit, pahatan batunya ditempeli tanaman merambat berwarna hitam, puncaknya menjulang sampai titik tajam yang tampaknya akan mencakar langit, seperti tulisan cakar ayam dari ujung pulpen pada selembar kertas kelabu.


Layla berjalan mendekatinya, sambil menduga-duga bahwa itu pasti sejenis pintu atau gerbang, dan baru menyadari ketika ia sudah semakin dekat bahwa itu adalah sisa-sisa jendela, yang dibangun dengan indah, dengan lingkaran dan spiral indah ke dalam wajahnya dan di sana-sini, terlihat di bawah tanaman merambat, bunga-bunga kecil diukir di atas batu. Ada sesuatu yang sangat melankolis tentang hal itu, berada di sana sendiri, mata menatap jauh ke bukit, dan setelah itu ia berlalu, mengenakan jaket nya untuk mengatasi angin dingin yang tiba-tiba saja berembus dari selatan, dan melihat lagi sekilas pada sisa-sisa reruntuhan.


Apa pun yang telah dilakukan orang Jerman di sini, mereka tampaknya tidak meninggalkan jejak. Setelah dua puluh menit ia mulai bosan pada tempat itu dan beranjak pulang melewati jalur pepohonan yang ia lalui tadi. Ketika ia sedang berjalan terdengar suara desis dan gemerisik cabang pohon dari arah bawah, di barengi langkah kaki perlahan, dan suara itu semakin membesar sampai akhirnya seorang perempuan tua berwajah merah muncul dari balik dedaunan ke teras. Ia mengenakan sepatu boot Wellington serta mantel cokelat, dan menjinjing keranjang besar yang tiga perempat bagiannya telah terisi jamur.


“Bonjour,” katanya begitu melihat Layla, aksen Languedocnya yang kental memanjangkan dan membelok-belokkan kata itu sehingga terdengar seperti “bangjooor”. Layla membalas salamnya sembari menambahkan, demi sopan santun, beberapa pujian tentang ukuran jamur hasil panennya.


“Oh, bukan hasil yang buruk,” katanya sambil tersenyum.


“Belum musimnya, tetapi Anda pasti dapat menemukannya kalau tahu ke mana harus mencari. Anda dari Spanyol?”


“Palestina.” Perempuan itu menaikkan alis matanya, agak terkejut.


“Anda sedang berlibur?”


“Aku seorang jurnalis.”

__ADS_1


“Ah.” Ia berjalan ke blok batu terdekat, meletakkan keranjangnya di atas batu dan mulai bekerja, memilah dan memeriksa jamurnya.


“Aku menduga Anda ke sini untuk menulis artikel tentang orang Jerman,” katanya setelah terdiam beberapa saat.


Layla mengangkat bahu, sembari memasukkan tangannya ke dalam saku jaket.


“Anda ingat mereka?” tanyanya.


Perempuan itu menggelengkan kepala. Tidak begitu ingat. “Aku baru berusia lima tahun ketika itu. Aku ingat mereka semua menginap di sebuah rumah di ujung desa, dan ayahku meminta kami agar tidak usah berbicara dengan mereka, jangan mendekati kastil, tetapi selain itu...“ Ia mengangkat bahu, sambil mengangkat sebuah jamur yang besar dan mengendus tutupnya yang keriput, memberikan anggukan rasa puas dan menyorongkannya pada Layla.


“Girolle,” jelasnya.


Layla memajukan tubuhnya ke depan untuk membaui aroma jamur itu, dan lubang hidungnya terisi bau yang kaya dan seperti tanah.


Perempuan itu mendengus, menjatuhkan kembali jamur itu ke dalam keranjang.


“Aku pikir mereka tidak mendapatkan apa-apa di sini. Ini memang cerita yang bagus, tetapi yang benar adalah orang sudah menggali banyak lubang di sini selama berabad-abad mencari harta yang dikubur. Kalau memang ada sesuatu pastinya itu sudah ditemukan jauh sebelum orang-orang Jerman itu datang. Atau paling tidak, begitulah menurutku. Pasti ada orang lain yang tidak setuju.”


Dari kejauhan terdengar deru guntur yang begitu jauh.


“Anda tidak mendengar tentang peti kayu yang mereka bawa?” tanya Layla.

__ADS_1


Perempuan itu mengibaskan tangannya tak peduli. “Oh, aku mendengar tentang itu. Tetapi aku tak pernah melihatnya. Dan bahkan bila mereka memang benar membawa peti kayu itu, itu bukan berarti ada sesuatu di dalamnya. Seperti yang kita tahu, peti itu penuh dengan batu. Atau kosong. Tidak, aku kira semuanya adalah dongeng ibu rumah tangga belaka. omong kosong semua.” Ia memegang jamur yang lain, memeriksanya. Kemudian, dengan bunyi tut, melemparkannya ke samping ke tanaman di bawah.


“Bila Anda mau membuat cerita tentang Castelombres, Anda harus menulis tentang anak-anak.”


Layla terenyak. “Anak-anak?”


“Anak-anak Yahudi. Si Kembar. Kadang aku berpikir ini merupakan alasan setiap orang di desa ini menghabiskan banyak waktu mengurusi harta karun dan peti kayu atau apa pun. Untuk mencoba melupakan apa yang pernah terjadi terhadap mereka. mengalihkan perhatian.” Layla semakin tercengang, tidak mengerti. “Kembar apa?”


Perempuan itu terdiam sejenak, kemudian duduk di sebelah keranjangnya. Terdengar lagi deru geledek di kejauhan, pepohonan berbisik dan mendesis saat cabang-cabangnya bergesekan diembus angin.


“Orang tua mereka mengirim mereka ke sini dari Paris,”


katanya, sambil memandang jauh ke bukit berhutan. “Setelah Jerman menyerang. membayar petani setempat untuk membawa keduanya. Berpikiran bahwa mereka akan lebih aman di sini, di selatan, di luar wilayah yang diduduki, keturunan Yahudi pula, dan lain-lain. Seperti yang kubilang, aku baru berusia lima tahun ketika itu, tetapi aku ingat sekali mereka, khususnya yang perempuan.


Kami bermain bersama, meskipun ia lebih tua. Sepuluh atau sebelas tahun. Hannah, itulah namanya. Dan saudara laki-lakinya, Isaac.” Ia mendesah dan menggelengkan kepalanya. “Sesuatu yang mengerikan terjadi. mengerikan.” Ia menoleh kepada Layla.


“Orang Jerman itu menemukan mereka. Di sini, di kastil ini. mereka sedang bermain. mereka tidak melakukan hal berbahaya apa pun, mereka hanya anak-anak. Tapi tak ada bedanya. Tidak ada satu pun yang mendekati reruntuhan. Laki-laki yang bertugas orang yang menakutkan, tak bermoral ia membawa keduanya turun ke desa dan meninggalkan mereka di jalan: aku tak akan pernah melupakannya, sepanjang hidupku, keduanya berdiri di sana berdampingan, ketakutan, masih kecil, dan laki-laki itu berteriak bahwa bila ada yang tidak mematuhi perintahnya lagi ia akan melakukan terhadap mereka apa yang akan ia lakukan kepada Yahudi hina ini. Itulah panggilan mereka terhadap orang Yahudi. Dan kemudian ia memukul mereka di depan kami, dengan tangannya sendiri. Anak-anak kecil. memukulnya sampai pingsan.


Dan tidak satu pun orang desa berani melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Tidak ada satu pun suara terdengar, bahkan ketika mereka melemparkan kedua anak itu ke dalam truk dan membawanya.” Ia menggelengkan kepalanya dengan sedih.


“Isaac dan Hannah, begitulah mereka dipanggil. Kadangkala aku bertanya-tanya apa yang terjadi dengan mereka. mati di kamar gas. Aku kira. Tentang merekalah seharusnya Anda menulis, rahasia sesungguhnya dari Castelombres, bukan omong kosong tentang harta karun yang dikubur di sana. Tetapi kemudian, karena Anda orang Palestina, mungkin cerita model begini tidak menarik minat Anda.” Ia melemparkan pandangannya ke bukit lagi, lalu, dengan ******* kecil, ia berdiri, mengangkat keranjangnya dan, dengan menatap sekilas pada langit yang mulai meredup, mengatakan bahwa ia harus segera bergegas.

__ADS_1


“Senang bertemu Anda,” katanya. “Aku harap Anda menikmati sisa hari-hari Anda di sini.” Ia tersenyum, melambaikan tangan tanda selamat berpisah dan berbalik, menelusuri jalan, menghilang di dalam rerimbunan pohon fir di dataran atas. Keranjang jamurnya berayun-ayun di tangannya. Terdengar gelegar halilintar, lebih dekat kali ini, dan hujan mulai turun. Air hujan turun deras seakan langit sedang menangis.


__ADS_2