Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
KAMP PENGUNGSI KALANDIA


__ADS_3

LAYLA AL-MADANI membenahi rambut hitamnya dan menatap pemuda yang sedang duduk di seberangnya, mengenakan celana panjang rapi dan T-shirt bertuliskan ‘Kubah Batu’. “Gagasan membunuh perempuan dan anak-anak tidak menarik perhatian Anda?” Pemuda itu membalas tatapannya.


“Apa ada yang peduli dengan orang-orang Israel ketika para perempuan dan anak-anak kami terbunuh? Dar Yassin? Sabra dan Chatila? Rafah? Ini perang, Nona madani, dan dalam perang banyak hal buruk terjadi.”


“Jadi, jika Al-mulatham mendekati Anda....”


“Aku akan menganggapnya sebagai sebuah kehormatan. Untuk menjadi syahid, untuk mengorbankan diriku demi orang-orangku, Tuhanku. Aku akan menganggap diriku begitu beruntung.” Ia seorang laki-laki tampan, dengan mata cokelat yang lebar dan tangan seorang pemain piano, berjari panjang dan lentik.


Layla sedang mewawancarainya untuk sebuah artikel tentang penjarah barang-barang antic seorang pemuda Palestina yang, karena kekuatan ekonomi bangsa Israel pada teritori Palestina, telah tereduksi untuk mencuri dan menjual artefak kuno demi...


Memenuhi kebutuhan hidup. Percakapan itu telah, sebagaimana biasa terjadi pada berbagai macam wawancara, beralih ke diskusi yang lebih lebar tentang pendudukan atau serangan militer Israel, dan akhirnya tentu saja ke topik tentang bom bunuh diri.


“Lihatlah aku!” katanya, menggerakkan kepalanya. “Lihat ini!” Ia memutar tangannya, menunjuk pada rumah dengan blok sinder berkamar tiga yang murah, dengan dipan-dipannya yang digabungkan sebagai tempat tidur dan kompor kecil di sudut ruangan.


“Keluarga kami tadinya memiliki ladang anggur di dekat Bethlehem, 200 dunum. Kemudian orang-orang zionis datang, lalu mengusir kami keluar dan kami cuma memiliki yang seperti ini. Aku punya gelar akademis insinyur, tetapi tidak mendapatkan pekerjaan karena orang-orang Israel telah menutup izin kerjaku. Jadi, aku menjual barang-barang antik curian supaya bisa tetap makan. Apa menurut Anda ini membuatku merasa baik? Apa Anda berpikiran aku memiliki harapan tinggi untuk masa depanku?


Percayalah, bila kesempatan untuk bunuh diri itu datang padaku, aku akan melakukannya. Semakin banyak yang kubunuh semakin baik. Perempuan, anak-anak, tak ada bedanya. mereka semua salah. Aku benci mereka. Semuanya.”


Ia tersenyum tipis, ekspresi pahit yang memecah bagian bawah wajahnya, memperlihatkan kegeraman dan keputusasaan. Kemudian mereka terdiam beberapa saat dan terpecah oleh suara anak-anak yang bermain di sepanjang gang di luar. Kemudian Layla menutup buku catatannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.


“Terima kasih, Yunis.” Laki-laki itu mengangkat bahu, tetapi tidak berkata apa-apa.


Layla segera menemui sopirnya Kamel di luar, kemudian bersama-sama keduanya keluar dari perkemahan, meluncur di jalan raya. mobil meliuk-liuk di jalan berlubang dan jalur utama Ramallah–Yerusalem tempat mereka bergabung dalam antrean lalu lintas yang terhenti di belakang pos penjagaan militer Kalandia. Di sisi kiri mereka, bangunan perkemahan terbentang sampai ke tepi bukit, kelabu dan bobrok seperti setumpukan koral yang rusak. Di sisi kanan mereka, landasan pacu bandara Atarot tampak rata dan mati, seolah seseorang telah merusak garis bercat kuning yang kotor pada lanskap itu. Di depannya, empat jalur lalu lintas yang terhenti di jalan seperti pita berdebu, mengecil menjadi jalur tunggal pada jalan orang Israel, dua ratus meter ke depan, tempat dokumen sedang diperiksa dan kendaraan diselidiki. Ini adalah latihan yang tidak ada gunanya siapa pun yang tidak memiliki dokumen yang diminta akan dengan mudah menyusuri pos penjagaan militer dengan berjalan kaki dan mencari tumpangan di sisi lain tetapi orang-orang Israel memaksa hal ini dilaksanakan bukan karena alasan keamanan melainkan lebih pada ingin menghina bangsa Palestina, memperlihatkan siapa yang berkuasa di antara mereka. Tak ada satu pun yang tidak patuh pada kami, itulah pesannya. Kami memegang kendali.


“Kosominumhum kul il-Israelieen!” gumam Layla, sambil menyandarkan kepalanya ke belakang dan memandangi langit-langit mobil. “Israel keparat!”

__ADS_1


Dua puluh menit berlalu, antrean masih tetap seperti semula, dan akhirnya, dengan membuka pintu mobil, perempuan itu keluar. Ia berjalan mondar-mandir, meregangkan kakinya, kemudian kembali ke dalam mobil dan mengeluarkan kameranya, Nikkon D1X digital, melepaskan pembungkusnya lalu menyalakan dan mengatur lensanya.


“Hati-hati!” seru Kamel, kepalanya menjulur ke depan pada kemudi menunggu giliran dalam antrean panjang yang ada. “Anda tahu apa yang terjadi terakhir kali Anda mengambil foto di pos penjagaan militer?” Bagaimana mungkin dia lupa? Tentara Israel telah merebut kameranya, menghabiskan satu jam memeriksa mobil Kamel dan, demi penerapan prosedur yang baik, memberinya tanda ’sudah diperiksa’ juga.


“Aku akan berhati-hati,” katanya. “Percayalah!” Sebuah mata cokelat yang besar memelototinya.


“Nona madani, Anda orang paling sulit dipercaya yang kutahu. Dengan roman wajah Anda, Anda mengatakan satu hal, tetapi....”


“Ya, ya, selalu ada hal yang berbeda di mataku.” Layla menunjukkan tatapan kesal lalu, sembari menggantungkan kamera di sekitar lehernya, berbalik dan berjalan di antara baris-baris kendaraan yang menuju pos penjagaan militer. mereka telah meninggalkan Yerusalem lebih awal pada sore sebelumnya, berkendara menuju Ramallah untuk meliput kisah tentang kaki tangan Palestina yang potongan tubuhnya ditemukan mengapung di air mancur pusat kota, sudut pandang sempurna untuk tulisan feature-nya mengenai para kaki tangan, yang dia garap untuk Guardian. hanya perlu waktu beberapa jam untuk meneliti. Saat mereka berada di sana, terjadi lagi bom bunuh diri Al-mulatham pada sebuah pesta pernikahan di Tel Aviv. Israel kemudian menutup seluruh Tepi Barat, tidak memberinya pilihan kecuali untuk menyenangkan diri dengan teman kuliah lama, yang pada saat bersamaan helikopter senjata Ah-64 Apache buatan Amerika telah menunggu di atas, menembaki gedung otoritas Palestina yang masih separuh hancur sejak terakhir kali mereka menembakinya.


Ini bukanlah kegiatan menunggu yang sepenuhnya sia-sia. Ia mengangkat kisah penjarahan barang-barang antik dan telah mengatur wawancara dengan Sa’eb marsudi, salah satu pemimpin Intifada Pertama dan bintang yang mulai bersinar di kan cah politik Palestina. Ia seorang yang karismatik muda, penuh gairah, tampan, dengan rambut hitam dan keffiyeh terpilin di lehernya dan seperti biasa, telah memberinya beberapa catatan penting.


Sekarang, ternyata, Layla cemas untuk kembali ke Yerusalem. Chayalei David, para Pejuang David, telah menguasai sebuah bangunan di Kota Tua, yang terdengar seperti feature yang baik.


Sementara itu Layla sendiri sudah seminggu melebihi tenggat waktu yang diberikan Al-Ahram, ketika ia sedang menyelesaikan artikel tentang malnutrisi pada anak-anak Palestina. Lebih dari semuanya, ia hanya ingin cepat kembali ke apartemennya, segera mandi IDf telah memutus suplai air ke Ramallah dan ia belum membersihkan diri secara sempurna sejak pagi sebelumnya. Bau yang agak asam menyeruak dari blus dan celana panjangnya.


Ia telah menulis tentang situasi seperti ini lebih dari sepuluh tahun lalu, diterbitkan ke dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, menulis untuk apa saja dari Guardian ke al- Ahram, dari Palestinian Times ke New Internationalist. Setelah peristiwa yang menimpa ayahnya, tidak mudah baginya menegakkan dirinya sendiri, khususnya pada hari-hari awal setelah kepulangannya dari Inggris, saat ia harus menyesuaikan diri kembali. Namun, ia telah bekerja keras untuk memperoleh kepercayaan orang-orang, untuk membuktikan diri, untuk memperlihatkan bahwa dia orang Palestina sejati, dan walaupun akan selalu ada mereka yang seperti Kamel yang tidak akan pernah percaya sepenuhnya, pada akhirnya, kebanyakan mereka dapat menerima dirinya, dipengaruhi oleh keterbukaannya demi orang Palestina. “Assadiqa”, demikian mereka memanggilnya sekarang, orang yang selalu berkata tentang kebenaran. orang-orang Israel tampak tidak terlalu bersemangat.


“Pembohong”, “Pembeci orang Yahudi”, “Teroris” dan “Perempuan ****** yang selalu ikut campur”, adalah sedikit julukan dan nama baru yang telah ia sandang selama bertahun-tahun. Dan semua itu


benar-benar yang termanis.


Layla menarik bungkusan permen karet dari sakunya dan mengunyah isinya, penasaran apakah dia harus pergi ke pos penjagaan militer dan menunjukkan ID persnya, mencoba mempercepat segala sesuatunya. Namun dia hanya akan buang-buang waktu, dengan atau tanpa kartu pers tidak akan mengubah kenyataan bahwa dirinya seorang Palestina. Dia mengamati keadaan itu beberapa saat lagi, dan kemudian berbalik ke jalan yang tadi ia lalui, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kesal.


Tanah yang dipijaknya bergetar ketika sepasang tank merkava melintasi jalan di seberangnya, bendera Israel biru dan putih berkibar dari menara kecilnya.

__ADS_1


“Kosominumhum kul il-Israeliien,” gumamnya.


*


*


*


*


*


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced

__ADS_1


Best Regards


*****


__ADS_2