
Salah seorang menghantamkan Uzi pada lambungnya, memukulnya, yang lain datang mendekati keduanya dan memborgol tangannya, menegakkan tubuhnya kembali. Khalifa tegang, kepalan tangannya mengencang, tetapi dengan senjata menekan sisi kepalanya, tidak ada yang dapat dilakukannya. Layla menatap ke lantai, merah pada pipinya semakin melebar dan dalam.
“Mengapa?” kata Ben-Roi, terengah-engah, berusaha melepaskan borgol tangan. “Demi Tuhan, mengapa?” Har - Zion menggerakkan bahunya, mencoba mengendurkan konstruksi pada kulitnya yang terbakar, yang menjadi semakin kencang dan gatal di balik jaketnya.
“Untuk menyelamatkan orang-orang kami,” jawabnya. Suaranya, berlawanan dengan suara Ben-Roi, dingin, terukur dan tanpa nada.
“Dengan menjagalnya?”
“Dengan membuktikan pada mereka dan pada semua pihak bahwa tidak akan ada perdamaian dengan orang Arab. Bahwa tujuan mereka adalah dan selalu untuk merusak kita, dan bahwa untuk bertahan hidup kita tidak punya pilihan lain kecuali melakukan hal yang sama terhadap mereka.” Ben-Roi meludah.
“Kau membunuhnya!” kata Ben-Roi. “Kau membunuhnya, kau binatang!” Lagi-lagi Har - Zion menggerakkan bahunya. Wajahnya kosong.
“Bila ada jalan lain aku akan senang sekali memilihnya. Tetapi tidak ada jalan lain. orang-orang kami harus melihat orang Arab seperti apa sebenarnya mereka.”
“Hamas tidak melakukan pekerjaan yang cukup baik untuk ini?” teriak Ben-Roi. “Jihad Islam?”
“Sayangnya tidak.”
“Sayangnya?”
“Ya, sayangnya,” kata Har - Zion. Nada suaranya sedikit mengeras, matanya menyorotkan sinar emosional secara samar untuk pertama kalinya. “Sayangnya, karena berapa pun banyak orang-orang kita yang mereka bunuh, kita tetap mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa kalau saja kita bernegosiasi, sedikit mengalah, maka segala sesuatunya akan baik-baik saja, semuanya akan aman-aman saja, dan mereka akan membiarkan kita sendiri membesarkan anak-anak kita dalam damai dan aman.”
“Kau benar-benar gila!”
__ADS_1
“Tidak,” kata Har - Zion, rasa sebal di matanya kini tak pelak lagi. “Mereka yang berbicara tentang kompromi dan diskusilah yang gila! Kompromilah yang membakar oven di Auschwitz, diskusi yang menggali lubang kematian di Babi Yar. Dan kini kita bermaksud membuat kesalahan yang sama lagi, kesalahan yang selalu kita buat, tahun demi tahun, berabad-abad lamanya, kesalahan bertingkat dari orang-orang Yahudi: untuk terus-menerus mempercayai bahwa goyim selalu dapat dipercaya, selalu dapat menjadi teman-teman kita, menginginkan apa pun selain menggiring kita masuk ke kamar gas dan menghapus kita dari permukaan bumi!” Suaranya mulai menaik, kata-kata menyalak dari mulutnya seperti rentetan peluru dari senjata.
“Kita tidak memerlukan proses perdamaian,” katanya.
“Kesepakatan, persetujuan, peta jalan, konferensi tidak satu pun. Bila ingin menyelamatkan diri, kita hanya perlu satu hal, hanya satu hal itu saja, dan itu adalah kemarahan. Kemarahan yang sama yang telah diarahkan pada kita sepanjang sejarah kita yang panjang dan gelap. hanya inilah yang dapat melindungi kita, memberi kita kekuatan untuk bertahan hidup. Dan inilah yang disediakan Al - Mulatham. Inilah sebabnya kita telah membuatnya. Itulah sebabnya dia ada.”
Dia berhenti, dahinya yang tinggi dan pucat dipenuhi peluh, getaran kecil menjalar ke seluruh tubuhnya dari kulitnya yang gatal, yang semakin sulit diatasi, sebagaimana selalu terjadi ketika dia tidak mengoleskan salep pada waktu yang telah terjadwal.
Ben-Roi menatapnya, tidak lagi berusaha melepaskan borgolnya, matanya suram, mulutnya terbuka dan terhenti seolah tidak mampu menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan kedalaman perasaan bencinya.
“Moser,” ia berbisik akhirnya, “Rodef.” Bibir Har - Zion mengencang. Ia membalas tatapan detektif itu, kemudian mengangkat tangannya yang tertutup sarung dan digerakkan pada laki-laki yang berambut cepak, yang kemudian melangkah dan, tanpa terlihat benar-benar menarik lengannya, segera melayangkan tinjunya pada bagian pinggul Ben-Roi, hanya beberapa sentimeter di atas pangkal pahanya.
“Allahu Akbar,” gumam Khalifa, sambil mengernyit, kepalan tangannya mengencang tak berdaya pada sisinya. Ben-Roi mengeluarkan keluhan yang dalam dan tersungkur.
“Hanya ada satu pengkhianat di sini dan itu adalah kau,” kata Har - Zion, berdiri di atasnya, dengan suara yang telah kembali dingin, monoton. “Kau dan, dari apa yang aku dengar darinya, tunanganmu juga. Ada kematian yang aku sesalkan, tetapi kematian perempuan itu bukan salah satu di antaranya.” Ben-Roi menggumamkan sesuatu dan mencoba menggerakkan lengannya, tetapi dia masih merasa pusing akibat pukulan dan tidak ada tenaga untuk bergerak. Har - Zion kembali memberi sinyal dan laki-laki berambut cepak itu pun menghantamkan tumitnya ke sisi kepala Ben-Roi, menendang bagian atas telinganya, dan melemparkannya ke peti.
“Hentikan!” teriak Khalifa, tidak dapat lagi menahan diri, Uzi yang menekan bagian belakang lehernya terlupakan karena keterkejutan yang ia rasakan setelah apa yang ia saksikan. “Demi Tuhan, hentikan!”
Har - Zion menoleh, perlahan, dengan kaku. Ia memandang si mesir ini, dengan pandangan yang tidak menyenangkan, kemudian berkata sesuatu dalam bahasa Ibrani. Uzi diturunkan dan Khalifa tiba-tiba merasa lehernya tercekik. Di lantai, Ben-Roi telah berusaha untuk dapat duduk, telinganya yang robek mengeluarkan darah.
“Biarkan dia pergi, Har - Zion,” pintanya. “Dia bukan bagian dari ini semua.” Har - Zion mengeluarkan suara tawa mengejek. “Kau dengar itu? Kami disalahkan karena kami membela orang-orang kami sementara dia membela temannya yang orang Arab. Apa pun dirinya, percayalah padaku, potongan kotoran ini sudah pasti orang Yahudi.” Ia mengangguk pada laki-laki berambut cepak itu, yang kemudian mengangkat sepatu botnya lagi dan menyepakkannya pada ulu hati Ben-Roi, detektif itu menggelepar dalam kesakitan.
Kemudian ia berjalan ke arah Khalifa dan tanpa jeda mengarahkan langsung tinjunya ke ulu hati si mesir, hantaman yang diberikan dengan ketepatan yang terkontrol seperti dalam urusan membedah mayat.
__ADS_1
Khalifa pernah dihantam sebelumnya, sering sekali separuh masa mudanya tampaknya telah ia habiskan dalam adu tinju di jalan belakang Giza tempat ia tumbuh besar tetapi tidak pernah yang seperti ini. Tinjunya tampaknya sedikit lagi mendarat di rongga perutnya, merenggangkan organ vitalnya, mendorong udara keluar dari paru-parunya.
Pikiran dan bayangan kaleidoskop kusut melintas dalam pikirannya Zenab, bidang salju di stasiun layanan motor, laki-laki bermata biru yang asing di Sinagog di Kairo sebelum secara tiba-tiba, tanpa diperkirakan, hanya sesaat, rasa sakit menguap dan ia menemukan dirinya sedang memandang mata Layla Al-Madani.
“Ley?” ia berbisik. “Mengapa?” Bila dia menjawab, Khalifa tidak mendengarnya, karena ketika dia hampir menjawab, momen itu hilang kembali. Pikirannya kalut, kepalanya jatuh ke belakang, dan kemudian semuanya gelap. Berapa lama ia tak sadarkan diri, ia tidak tahu. Tetapi pasti hanya sebentar karena begitu tersadar, ia sedang ditarik ke gang sentral oleh dua orang Israel, dengan kaki terkulai tak berguna di lantai (“mereka membuat lecet sepatuku yang bagus!” adalah pikiran kacaunya yang pertama). Ben-Roi tampak di depannya, berjalan dengan Uzi menekan pada bagian belakang kepalanya, leher dan jaketnya ternoda darah dari telinganya yang terluka; Har - Zion dan Layla sekarang berada di ujung Gua, mengamati laki-laki berambut cepak yang sedang melakukan sesuatu pada panel depan peti Menorah dengan batang besi. Ketika ia telah membukanya, panel terlucuti dengan suara kayu yang terkoyak, memperlihatkan tumpukan padat jerami yang dari dalamnya tersembul kilauan emas menggiurkan.
Menyadari bahwa tawanannya telah sadar kembali, orang-orang Israel itu memberdirikan tubuh Khalifa dan mendorongnya dengan kasar ke salah satu rak kotak, gelombang mual menyebabkan semua terasa berkunang-kunang di sekitarnya sebelum ia ajeg kembali. Ben-Roi berdiri di sisinya. Untuk sesaat mata mereka bertemu dan saling menatap, masing-masing memberikan anggukan halus untuk mengakui kehadiran yang lain, untuk mengindikasikan bahwa mereka baik-baik saja, sebelum berbalik kembali dan memusatkan perhatian pada apa yang sedang terjadi di depan mereka.
Ada jeda sejenak, atmosfernya tiba-tiba berubah, memberi harapan; kemudian, sambil melangkah maju, Har - Zion dan orang keduanya mulai mengeluarkan jerami pelindung. Tubuh keduanya menghalangi pandangan Khalifa sehingga ia hanya dapat menangkap samar objek yang sedang mereka keluarkan lengan melengkung, sudut pedestal, kilatan kilau emas dan sampai benda itu sudah dikeluarkan seluruhannya, kedua laki-laki itu telah melangkah mundur dan ke tepi, ia baru bisa melihat benda itu secara utuh.
Dia telah pernah melihatnya sebelumnya, tentu saja, di foto dalam kotak penyimpanan milik Dieter Hoth. fotonya hitam-putih, dan tidak berhasil menyampaikan kemegahan karya seni benda yang saat ini benar-benar sedang dilihatnya. Tingginya sama dengan tinggi orang dewasa, dasarnya terbuat dari dua baris bertingkat heksagonal yang dari bagian pusatnya, seakan dari pot penuh hiasan, batang vertikal menjulur ke atas, enam cabang melengkung keluar dari sisi-sisinya, tiga di kiri, tiga di kanan, satu di atas yang lain, masing-masing bermahkota, seperti juga batangnya, kap lampu dalam bentuk canang kecil.
Itulah bentuk dasar Menorah. Ada yang lebih daripada itu, banyak sekali. Cabangnya dihiasi dalam cara yang paling indah dengan kenop dan lampu pijar dan piala berbentuk seperti bunga kenari; di sekitar dasarnya adalah gambar relief timbul buah-buahan dan daun serta anggur sekaligus bunga yang indah sekali, begitu hidup sehingga membuat yang memandang hampir dapat merasakan baunya. Emasnya begitu dalam dan pekat sehingga hampir berwarna merah; simetrinya memiliki keseimbangan yang begitu sempurna, begitu berkelok, seimbang mantap, sehingga ia terlihat seperti tidak terbuat dari metal sama sekali. Tetapi, lebih sebagai sesuatu yang hidup, sesuatu yang tumbuh, bernapas dan mengalir lemah. Terhuyung-huyung, merasakan sakit tak terperi dan mungkin akan sanggup bertahan lebih lama lagi, Khalifa masih tak tahan tetapi terpesona olehnya, kepalanya bergoyang dari sisi yang satu ke sisi yang lain dari benda yang indah luar biasa ini.
Reaksi si Israel bahkan lebih kuat, Ben-Roi bergumam “Oy vey” lagi dan lagi; wajah granit Har - Zion telah berubah menjadi lebih lembut seperti ekspresi kegembiraan anak-anak.
“Dan Tuhan mengatakan biarkan ia bersinar,” ia berbisik, “dan ada sinar di sana. Dan Tuhan melihat bahwa sinar itu begitu baik.” hanya satu orang yang terlihat tidak terharu oleh semua ini, ia adalah Layla. Dia berdiri agak terpisah dari yang lain, terpaku dengan pikirannya sendiri, tidak memperlihatkan emosi apa pun kecuali rona merah tipis yang tetap menandai bagian atas pipinya, dan tangannya terlihat mengepal dan membuka tanpa disadari.
Selama waktu yang sangat singkat matanya bertemu dengan mata Khalifa sebelum segera beralih ke tempat lain. Dia tak sanggup membalas tatapan Khalifa. Beberapa menit berlalu, semua orang menatap Lampu, keindahannya, jauh dari berkurang karena familiaritasnya, dan malah semakin meningkat karena dekorasinya yang penuh dan indah begitu nyata, sampai akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh laki-laki berambut cepak.
“Kita harus mengeluarkannya,” katanya, suaranya keras dan kasar, seperti batu yang dilemparkan ke dalam kolam berair tenang. Terus menatap, matanya lembab karena emosi. Kemudian, dengan anggukan, ia memberi tanda pada tiga orangnya. mereka melangkah maju, mengangkat Uzinya ke dekat leher mereka, dan memegang Lampu, menghitung: echat, shtayim, shalosh satu, dua, tiga sebelum mengangkatnya. Dengan kekuatan dan otot mereka, benda itu ternyata masih terlalu berat untuk mereka, dan dengan bantuan orang keempat baru mereka mampu mengangkatnya sampai batas bahu, wajah mereka berubah bentuk karena tegang, dan kaki tertekuk.
Steiner mengarahkan senjatanya pada Khalifa dan Ben-Roi, dan, sebagai satu kesatuan, kelompok itu mulai mundur, berhenti setiap dua puluh meter sehingga pembawa Lampu dapat mengatur napasnya. Dan akhirnya mereka mencapai sisi terjauh dari gua itu.
__ADS_1
Kemudian Lampu diturunkan ke platform elevator, lantai kayunya berderik menanggung bobot benda itu. orang-orang Israel itu naik dan berdiri di sisinya, Layla ikut bersama mereka, dan tuas pengontrol pun digerakkan kembali. Para detektif tetap di tempatnya di lantai gua ketika platform itu perlahan naik di depan mereka.