Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PERINTAH OPERASI RAHASIA


__ADS_3

Har - Zion melilitkan tali kulit tefillah berlawanan arah jarum jam di sekitar bisep pada lengan kirinya dan terus sampai ke bawah di sekitar jari-jarinya yang tertutup sarung tangan, memastikan bahwa kotak dengan teks suci di dalamnya ditempatkan benar-benar melekat dekat jantungnya. menurut hukum, bisep dan tangan haruslah telanjang, tak tertutupi. Itulah yang tertulis dalam kitab Taurat. Namun, dengan daging yang rusak, ia tidak merasa nyaman memperlihatkan dirinya sendiri, dan telah berusaha memperoleh kemudahan dari Rabbi yang membolehkan bagian relevan tubuhnya itu tetap tertutup.


Ia selesai membalut tujuh lilitan dan melekatkan tefillah kedua pada keningnya, menempatkan kotak kitab Injil di tengah-tengah antara kedua matanya; kemudian, dengan anggukan pada Avi seolah mengatakan “Tunggu aku”, ia mengangkat syal sembahyang ke bahunya dan mulai melangkah melintasi lapangan terbuka ke arah ha Kotel Ha-ma’aravi, Dinding Barat, tanda terakhir dari Kuil kuno, situs paling suci dalam dunia Yahudi. Hanya sejenak sejak terakhir kali ia di sini, lebih dari seminggu. Sebenarnya dia ingin bisa datang lebih sering, kalau perlu setiap hari, tapi masalahnya bukanlah waktu.


Malam ini, ia sudah menentukan waktu. Ada sejumlah hal yang tidak akan aman untuk didelegasikan.


Ia mendekati Dinding itu dan menempatkan dirinya sendiri pada ujung sebelah kiri, menatap ke blok batu raksasa setinggi dua puluh meter, seperti papan meja judi yang rumit, setiap sudut dan celah dari bagian lebih rendah dipenuhi serpihan kertas di lipat yang berisi doa dan permintaan tertulis dari pengunjung sebelumnya. Siang hari, area ini akan penuh sesak, dengan wisatawan dalam Yarmulkes buatan sementara, Yahudi Haredi dalam jas dan topi hitam, sekumpulan bocah laki-laki menampilkan upacara Mitzvah. Kini, selain dirinya sendiri dan penyembah Hasidic sendiri di sebelah kanannya yang bolak-balik membungkuk seperti burung gagak sedang mematuk. Dinding itu sepenuhnya ditinggalkan. Ia menatap sekeliling, kemudian meletakkan telapak tangannya pada batu bertanda, merendahkan kepalanya dan mulai mengumandangkan shema.


“Seperti sebuah cerita yang menjadi kehidupan.” Begitulah saudaranya Benjamin menjelaskan Dinding itu ketika keduanya pertama kali datang ke sini bertahun-tahun lalu. “Seperti sesuatu diluar buku atau lagu.” Gambaran itu melekat pada Har - Zion, mengkelaborasi dan menghiasi sendiri sepanjang waktu hingga sekarang, saat ia berdiri di bawah menara dari batu kuning krem, ia merasakan dirinya dalam kehadiran, bukan sesuatu yang mati dan tidak hidup, barang peninggalan yang mengeras dari dunia yang lama terlupakan, melainkan lebih pada sesuatu yang bergetar, hidup dan relevan.


Suara. Begitulah cara ia memikirkan hal itu. Suara yang dalam dan bergema menyanyi untuknya dari kekosongan: tentang hal yang pernah sekali waktu ada para Raja dan Nabi, Bahtera dan menorah, Musa dan Daud serta Sulaiman dan Ezra tetapi juga, yang lebih penting, tentang hal yang belum datang: Hamba Tuhan yang akan berkumpul bersama sekali lagi, Kuil yang dibangun ulang, Lampu Suci yang dibuat kembali dan penuh dengan cahaya. Dinding Ratapan, demikian sebagian menyebutnya, mereka yang datang ke sini untuk menangis, menarik-narik rambutnya dan terpaku pada pembuangan dan kehilangan selama berabad-abad. Tidak bagi Har - Zion. Baginya itu adalah Dinding Bernyanyi, bukan tempat kepedihan dan mengenang-ngenang, tetapi harapan dan kegembiraan serta ekspektasi; pengingat yang dapat disentuh bahwa Tuhan beserta mereka, bahwa mereka tidak ditinggalkan, bahwa mereka adalah umat pilihan-Nya, lebih mulia di atas yang lain.


Bahwa mereka akan bertahan, sama seperti Dinding yang bertahan, apa pun yang manusia dan alam lakukan terhadapnya.

__ADS_1


Ia terus mengumandangkan pujian, kata-kata dalam doanya meluncur dan berputar dalam dengungan musikal suaranya yang lembut, sebelum akhirnya sampai pada akhir dan kembali sunyi. Pada saat bersamaan, seseorang, berpostur tinggi, berbahu lebar, menghampirinya, menempatkan dirinya dalam bagian yang teduh pada sisi kiri Dinding sehingga wajahnya tertelan kegelapan. Hasid si penyendiri itu telah pergi sekarang, jadi keduanya kini benar-benar sendiri.


“Kau terlambat,” kata Har - Zion. Suaranya rendah sekali nyaris tak terdengar. Di dalam bayangan, laki-laki itu meminggirkan dirinya lebih kedalam, bergumam memohon maaf.


Har - Zion merogoh sakunya dan mengeluarkan lipatan kertas kecil yang kemudian ia sisipkan pada rongga antara dua balok batu bangunan.


“Semua rincian ada di situ. Nama anak laki-laki itu, alamatnya. Ikuti saja instruksinya. Nanti akan....”


Lima menit kemudian, ketika prajurit muda itu selesai berdoa dan pergi, laki-laki tadi menjulurkan tangan ke dinding, menarik lembaran kertas yang terlipat dari celah di dinding dan menyelipkannya ke saku celana.


TERLANTAR


Layla bangun pada pukul lima pagi dan, meninggalkan Topping yang masih tidur, pelan-pelan mengumpulkan barang-barangnya, berjingkat dari kamar tidur dan meninggalkan rumah.

__ADS_1


Layla tidak pasti mengapa ia tidur bersamanya. Ia teman yang baik pintar, tampan, perhatian dan hubungan **** tadi hebat sekali, di antara yang terbaik yang pernah ia alami. Terlepas dari itu, ia merasa tidak sepenuhnya terlibat dan menikmati pengalaman tadi, membuatnya dengan mudah membiarkan itu terjadi dan menghilang ke dalam permainan cintanya yang singkat.


Bahkan, ketika ia dalam posisi di atas tubuh Topping, pangkal pahanya bergesekan dengan pangkal paha Topping, butiran keringat gairah mengalir di dadanya yang kecil dan kencang, bagian lain dari dirinya, bagian terbesar, tetap terlepas, terkunci dalam pikirannya sendiri, berbalik ke apa yang telah didengarnya, apa yang telah terjadi di Timur Tengah, seolah tubuhnya adalah kendaraan mati yang telah diprogram menjadi “bisa jalan sendiri” sementara ia, pilotnya, duduk di dalam dan fokus pada sesuatu yang sepenuhnya terpisah.


Ia menutup pintu depan dan melangkah ke jalan yang kosong, barisan rumah bergaya Victoria rapi berjajar pada kedua sisi, alam di sekelilingnya kelabu dan tenang, tidak lagi gelap tetapi belum juga terang, tanah bukan milik siapa-siapa antara malam dan subuh.


Ia telah menelepon Jean-Michel Dupont, kenalan Topping di Toulouse, malam sebelumnya, menjelaskan bahwa ia tertarik pada Dieter Hoth dan penggalian yang dilakukannya di Castelombres.


Mereka setuju bertemu di toko antiknya pada 1:30 siang dan ia kini memesan penerbangan BA pukul 10 pagi, dari Heathrow. Secara singkat sebuah pikiran menyentaknya bahwa dengan begitu banyak waktu luang yang tersedia, ia dapat berjalan ke Grantchester, melihat rumah tua tempat ia tinggal setelah kematian ayahnya. Walaupun kedua kakek-neneknya telah lama meninggal dunia, ibunya, sejauh yang ia ketahui, tetap tinggal di sana dengan suami keduanya. Seorang aparat hukum di pengadilan yang lebih tinggi. Atau apakah ia seorang pejabat bank? Layla tak pasti. Ia belum berbicara lagi dengannya sejak sang ibu menikah lagi enam tahun lalu, tidak mampu memaafkan apa yang ia anggap sebagai pengkhianatan yang buruk terhadap kenangan akan ayahnya.


Ya, pikirnya, sesuatu yang menyenangkan bila ia melihat rumah tua itu lagi, dengan atapnya yang tertutup lumut dan kebun penuh pohon plum dan apel, jauh dari debu dan horor Palestina yang mungkin ditemui. Ia mulai melintasi jalan, ke arah jalur jalan kaki umum yang, bila ingatannya masih tepat, akan mengarah kepadang rumput yang terbentang di tepi kota sebelah timur. Setelah beberapa meter, ia berhenti dan, dengan gelengan kepala seolah mengatakan “Untuk apa?” ia berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan, menuju stasiun.


Air mata menggenang di pelupuk matanya karena merasa betapa ia sama sekali seorang diri di dunia ini, merasa bahwa di terlantarkan dan tidak ada seseorang lagi di Dunia ini yang dia merasa untuk berhubungan darah yang di sebut Keluarga.

__ADS_1


__ADS_2