Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
SEMENANJUNG SINAI


__ADS_3

Ada sebuah misteri, itulah hal yang dapat dikatakan Orang Tua tentangnya. Seperti begitu banyak hal lain di padang pasir. Sinar ketika semestinya tidak ada sinar, sosok bayangan yang datang dan pergi bersama kegelapan, ruang yang berfurnitur rapi di tengah-tengah keliaran. Dalam tujuh puluh tahun, ia tidak pernah melihat hal seperti ini. misteri yang sangat besar.


Dimulai setahun lalu, ketika ia mencari salah satu kambingnya di tengah-tengah lembah dangkal dan berkelok yang terbentang di sepanjang batas dengan Israel. malam telah tiba, dan ia baru saja akan meninggalkan perburuannya ketika, di bagian atas punggung bukit yang suram, ia menangkap adanya sinar redup di dalam pos perbatasan tentara yang telah ditinggalkan. Tidak ada serdadu di bagian padang pasir ini selama beberapa dekade, tidak ada orang sama sekali selain warga suku Badui yang kadang datang seperti dirinya sekadar untuk lewat saja karena area itu adalah tempat yang sunyi, tandus, tidak ramah, bahkan bagi mereka yang terbiasa dengan kekerasan di padang pasir. Namun kini ada sinar di tempat yang tidak pernah ada sinar sebelumnya, dan orang juga, tampak ada di dalam bangunan batu yang rendah itu.

__ADS_1


Ia merayap, lupa akan kambingnya, mendekati bangunan dan berjingkat untuk mengintip melalui jendela. Di dalam, di bawah sinar lampu minyak tanah, ada dua laki-laki; satu dengan cerutu yang terselip di ujung bibirnya, dengan codet panjang di pipi kanan nya dan penutup kepala berwarna putih seperti yang di kenakan orang Yahudi; yang lain lebih muda, tampan, dengan rambut hitam lebat dan keffiyeh tersilang di bahunya. mereka membungkuk ke arah meja tenda yang dapat dilipat, membaca pada sebuah peta dan berbicara dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Jari-jari mereka mengikuti pola yang ada dalam kertas di meja tersebut. Di sisi kanan mereka, dua kursi tangan yang nyaman bersisian menempel di dinding; pada meja lain tampak sebotol termos dan sepiring roti tangkup yang sebagiannya sudah dimakan.


Ia menyaksikan semua itu selama beberapa menit. Kemudian, takut akan ketahuan, ia menjauhi bangunan, menyelimuti dirinya agar tidak kedinginan dan menyelinap di balik batu cadas sembari menanti apa yang akan terjadi. Pada suatu saat ia mendengar teriakan marah; sesaat kemudian laki-laki yang lebih muda keluar dan kencing di balik dinding. Ia berdiam di situ sepanjang malam, mengamati, mendengarkan, sampai saat sebelum subuh datang, sinar lampu padam dan kedua laki-laki itu muncul dalam malam, bergerak mengelilingi sisi bangunan. Ia menghitung sampai lima puluh dan menyelinap di antara batu-batu besar, menjaga jarak, akhirnya sampai pada batu tinggi, dan melihat sebuah helikopter besar mengudara. Aliran udara di bawah helikopter telah menyebabkan debu beterbangan sehingga membuatnya tersedak. heli itu berada di atasnya sebentar, kemudian terbang ke langit timur yang kelabu.

__ADS_1


Setelah itu ia melihat dua sosok misterius itu beberapa kali.


Kadang paling lama dua bulan sekali. Namun, mereka selalu datang di tengah malam buta, dan selalu pergi di awal hari, seolah takut akan sinar matahari. Ia menceritakan hal ini pada beberapa teman Baduinya, tetapi mereka tertawa dan mengatakan bahwa otaknya telah dibuat lembek oleh sinar matahari. Setelah itu ia tidak pernah bercerita lagi, yang dirasa baik olehnya, karena ia lebih menyukai gagasan tentang kerahasiaan yang tidak seorang lain pun tahu.

__ADS_1


“Suatu hari kelak kau akan terlibat dalam sejumlah peristiwa besar,” sekali waktu neneknya pernah berkata ketika ia masih kanak-kanak, sebelum orang-orang Yahudi datang dan perang berkobar.


“Peristiwa yang akan mengubah dunia.” Sambil berjongkok di balik batu, mengamati lampu yang berkedip dan mendengarkan suara laki-laki itu, ia merasa yakin inilah yang dimaksud nenek dulu. Dan ia begitu bahagia karenanya, karena entah bagaimana, jauh di dalam hatinya ia selalu tahu hidupnya akan lebih dari sekadar mengawasi sekumpulan kambing padang pasir yang kurus kering.

__ADS_1


__ADS_2