
Tubuh Khalifa menggantung dari bahunya seperti boneka raksasa. Di belakangnya Har - Zion berteriak, sambil mengacungkan senjatanya.
“Kita harus menyelamatkannya! Tidakkah kau mengerti? Ini keimananmu! Keimananmu!” Ben-Roi terus saja naik, seluruh perhatiannya terfokus pada tugas di tangan, menaiki anak tangga besi satu persatu, berusaha kuat, bara api beterbangan di sekitarnya, membakar lengan dan pipinya. Seperempat perjalanan berjalan dengan baik, tetapi di tengah-tengah ia mengendur kelelahan. Rasa sakit menyerang otot kaki dan lengannya, langkahnya semakin perlahan karena beban semakin menguras kekuatannya. Ia mulai berpikir tentang Galia, keluarganya, Al Pacino apa saja untuk melepaskan pikirannya dari rasa sakit yang menyiksa anggota tubuhnya, agar tubuhnya berpikir bahwa hal ini tidaklah separah adanya. Ia berusaha menarik dirinya ke atas, tiga perempat perjalanan, tiga meter di bawah pelataran, tetapi di sana ia terhenti dan tahu bahwa ia tidak dapat melangkah lebih jauh lagi, bahwa tidak ada lagi gas di dalam tangki, bahkan tidak cukup untuk membuatnya turun lagi.
“Aku akan menurunkannya,” pikirnya, dengan tangan gemetar, berusaha tetap berpegangan pada jalur, dengan kaki tertekuk. “Aku terpaksa harus menurunkannya atau aku akan jatuh.” mengapa, dalam situasi putus asa yang sangat seperti itu, ia tiba-tiba mulai membaca shema, ia tak tahu. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia sedang melakukannya sampai ia menyelesaikan beberapa baris. Sepertinya hadir begitu saja dari suatu tempat di dalam dirinya, seperti air dari di mata air yang kering. Sebelum kematian Galia, Ben-Roi biasa membacanya setiap hari. Ini tahun terakhir ayat itu tak pernah keluar dari bibirnya. Namun kini ia tengah mengucapkannya untuk dirinya sendiri lagi, doa agung bagi orang-orang Yahudi, bangsanya, Proklamasi keimanan mereka kepada Tuhan.
Dengar, o Israel, Tuhan adalah Tuhan kita, Tuhan adalah satu.... Suaranya semakin keras, gumaman membesar menjadi nyanyian, dan nyanyian menjadi lagu, seperti yang diajarkan oleh Rabbi Gishman dalam kelas bahasa Ibrani beberapa tahun lalu. Dan kau harus mencintai Tuhan, Tuhanmu, Dengan sepenuh hatimu, dengan sepenuh jiwamu, dan dengan semua kekuatanmu.
Dan kata-kata ini yang aku perintahkan kepadamu hari ini harus tetap berada dalam hatimu. Dan ketika ia bernyanyi, ia merasakan adanya kekuatan kembali pada anggota tubuhnya, mulanya perlahan, tetapi kemudian semakin menguat. Tenaga membesar dan menjalar ke seluruh tubuhnya, sehingga tanpa menyadari bahwa ia tengah melakukannya ia telah bergerak naik kembali, anak tangga besi berikutnya dan berikutnya dan kemudian tiba-tiba ia sudah berada di pelataran dan berlari benar-benar berlari di lorong pertama kembali ke dunia terbuka. Ia mencapai celah di dinding, merangkak, melintasi sepanjang terowongan utama, Khalifa bergejolak di bahunya, gema ledakan di kejauhan menyeruak dibelakangnya, terus-menerus sampai akhirnya ia melintasi pintu pertambangan dan keluar menemui malam. Kakinya melesak kedalam salju yang putih jernih, langit di atas kepalanya bertebaran bintang.
Ia berdiri di sana menghirup udara dingin dan bersih setelah bagian dalam gua yang penuh asap kemudian membawa Khalifa melintasi tumpukan batu kecil di bagian tepi tempat terbuka dan membaringkannya di tanah di sisinya. Ia bergumam sesuatu, tetapi Ben-Roi tidak memiliki waktu untuk menyimaknya, hanya membersihkan salju yang ada di wajah si mesir untuk memulihkan keadaannya dan, berbalik lalu berlari ke dalam pertambangan lagi.
Saat ia berada di pelataran batu lagi seluruh gua terlihat dipenuhi api yang membubung dan berkobar-kobar dan beterbangan ke mana pun ia memandang, menjilati rak peti, mencakar dinding dan langit-langit. Dalam ketidakhadiran Ben-Roi, Har - Zion sepertinya terpaksa memanjat ke atas untuk sampai di pelataran dan meninggalkan ujung tali di sana untuk digunakan saat turun lagi. Ia kini sedang berdiri di bawah pada platform elevator seperti berada di pulau kecil dalam lautan api, melihat dengan liar pada gumpalan api yang semakin cepat mendekat. Ben-Roi memanggilnya.
“Aku mencoba menaikkannya sendiri tetapi terlalu berat!” pekik Har - Zion segera setelah ia mendengar suara detektif. “Ayo tarik! Aku akan mendorongnya dari bawah.”
Dengan melindungi wajahnya dari panas yang ditimbulkan api, yang sekarang tinggi tak tertahankan, Ben-Roi meraih tali dan, sambil mundur beberapa meter, mulai menarik, perlahan, Menorah dari platform, sementara Har - Zion meraih dasarnya dan mengangkatnya. Ketika sudah cukup tinggi, ia kini sepenuhnya ada di bawahnya dan mendukungnya dengan bahunya, mulai naik melalui jalur elevator, besi demi besi sambil meratap kesakitan karena di balik jaketnya kulitnya retak, membelah, dan sobek seperti kertas tisu, dan darah mengalir di lengan dan kakinya, ke dalam sarung tangan dan sepatunya.
“Oh Tuhan,” teriaknya, “Oh Tuhan, tolong!” Mereka telah menaikkan Lampu sekitar tiga meter dari lantai gua sebelum ledakan besar mengirim panas yang menerpa muka Ben-Roi, membuatnya terjatuh ke belakang. Tali terlepas dari genggamannya dan Menorah jatuh ke platform lagi. Ia berbaring di tempat ia berada untuk sesaat lamanya, terhuyung-huyung, kemudian berdiri lagi dan berjalan sempoyongan ke tepi gua.
“Oy vey,” ia berbisik. Di bawahnya, Har - Zion sedang terbaring di bawah batang Lampu, memandang ke atas melalui cabangnya seakan-akan melalui jeruji sangkar, tetesan darah mengalir dari sudut mulutnya, walaupun jelas ia masih hidup karena bibirnya masih bergerak, tangannya yang tertutup sarung mengencang dan mengendur disekitar lengan melengkung terluar dari Menorah itu. Api kini menjalar ke platform, dan ketika Ben-Roi melihatnya dengan perasaan takut, api secara perlahan menggulung ke atas dan melahapnya.
Menorah pun roboh dan berputar dalam panas, lengannya meliuk ke segala arah, emasnya terlihat mengisut seperti kulit yang mengelupas dan memperlihatkan sesuatu yang suram dan hitam dibawahnya sampai akhirnya seluruhnya lumer mencair, roboh dan melebur mengenai tubuh Har - Zion. Ben-Roi memperhatikan hal itu sampai semuanya berlalu, kemudian tak tahan dengan panasnya, ia berbalik dan kembali memasuki lorong. Ketika ia melakukannya ledakan besar lainnya menggoyang gua di belakangnya. Ledakan berikutnya terdengar, secara bertahap menjadi sebuah ledakan dahsyat yang memekakkan telinga, serpihan api tebal menjilati koridor di belakangnya. Ia berlari kencang, merangkak dalam lubang yang ada di dinding, melintasi terowongan utama pertambangan dan sampai di luar bertemu malam lagi. Ia hanya memiliki waktu untuk kembali ke Khalifa lagi dan menariknya menjauh dari tumpukan batu kecil sebelum terjadi ledakan dahsyat dan, seperti kereta api cepat keluar dari terowongan, api menyembur dari pintu masuk terowongan dan membakar semua yang ada di areal terbuka, melahap pohon pada tepi hutan pinus dan membuatnya terang benderang.
Sepertinya akan berlangsung selamanya, tanah di bawah mereka bergetar, serpihan api berjatuhan di mana-mana, sebelum akhirnya mereda. Api perlahan menarik diri dengan sendirinya sampai tak lebih dari sekadar kerlap-kerlip meragukan di sekitar pintu gerbang pertambangan yang hancur berserakan.
__ADS_1
Di belakang tumpukan batu, Khalifa, yang telah siuman, menjulurkan tangannya dan meraih lengan Ben-Roi.
“Terima kasih,” ia berkata dengan suara parau. “Terima kasih.” Si Israel menggelengkan kepala, lengannya terjuntai lemas pada kedua sisi tubuhnya seolah ia sedang mengapung di kolam.
“Benda itu adalah petunjuk,” ia berbisik. “Benda itu dibuat dari petunjuk. emas hanya melapisi saja, petunjuk ada di baliknya.” Ia mendesah dan, sambil menyiduk salju, menempelkannya pada telinganya yang terluka.
“Ciri khas orang Yahudi, eh? Tidak pernah mengabaikan peluang untuk menghemat uang.” Mereka berpikir bahwa hal terbaik saat ini adalah keluar dari Jerman secepat mungkin. Ben-Roi membuat beberapa panggilan telepon melalui telepon genggamnya, tidak dapat memeroleh penerbangan ke Israel tetapi mendapatkan penerbangan ke Kairo pesawat carter dari Salzburg, langsung, berangkat pukul 6 pagi. Ia pun memesan tiket.
“Aku akan mencoba mencari penerbangan koneksi ke Ben-Gurion dari sana,” katanya. “Ini lebih baik daripada menunggu di sini.” mereka mengendarai kendaraan dengan berkonvoi ke bandara, turun dari mobil, membersihkan diri dan tidur beberapa jam, berangkat sesuai jadwal. Begitu mereka di udara, Ben-Roi ambruk lagi, tidur lelap. Khalifa mencoba melakukan hal yang sama, tetapi ia terlalu lelah sehingga malah tidak dapat melakukannya. Jadi ia hanya duduk, menikmati kopi dan memandang keluar jendela, mengamati sejauh mungkin ke arah timur, semburat warna merah perlahan merembet di langit, semakin lama semakin kuat dan menyebar sampai seluruh cakrawala terang benderang dalam cahaya. Sesuatu sedang mengganggu pikirannya. mestinya tidak terjadi.
Peristiwa tadi malam nyaris membawa keseluruhan kasus Schlegel mencapai kesimpulan yang pasti dan mungkin bagi sebuah investigasi. Terlepas dari itu, ia tidak dapat menghapus perasaaan yang mengganggunya, bahkan bukan perasaan, sungguh, lebih sebagai semacam kerlip samar yang tepat berada di belakang kepalanya bahwa masih ada ujung terbuka yang masih harus dikaitkan, sejenis detail kecil terakhir untuk diisi sebelum gambar itu benar-benar dinyatakan lengkap.
Ia menghabiskan kopinya, melawan dorongan untuk menyelinap ke toilet agar bisa merokok, dan menatap keluar jendela pada subuh yang semakin meluas. Pikirannya larut ke berbagai hal yang telah terjadi dalam beberapa minggu terakhir, berganti-ganti ke dan dari orang, tempat, serta peristiwa yang membingungkan sebelum akhirnya berakhir di Lembah Para Raja, tempat dimulainya segala urusan ini.
Ginger, Amenhotep II, Ali kecil yang berceloteh tentang Firaun dan harta karun serta jebakan. Apa nama yang telah dikemukakannya? Inkyman yang mengerikan. Ia tersenyum. Inkyman yang mengerikan. Tak ternilai.
Ia meniup kopinya dan melihat ke arah luar jendela seluruh langit kini bagaikan hamparan warna merah dan keemasan pikirannya melanglang kian kemari sebelum akhirnya terpaku pada pertemuan penting di Kairo Lama, di Sinagog Ben ezra. Siapa nama laki-laki itu? Shobu Ha-Or. Shobu? Bukan, Shomu. Shomer.
Itu dia. Shomer Ha-Or. Laki-laki yang aneh, ganjil. Bagaimana ia sepertinya telah menantikan kedatangan Khalifa, telah menceritakan padanya semua tentang Menorah sinagog.
Seperti semua barang yang direproduksi kembali, seperti itulah adanya, kecuali bayangannya, dibandingkan dengan yang asli... sangat indah. Tujuh cabang, bentuk kapital yang seperti bunga, kuncupnya seperti kacang kenari, keseluruhannya dibuat dari balik emas padat tunggal benda paling indah yang pernah ada.
Ia dapat dengan pasti membuktikannya. memang indah. hasil karya yang mengagumkan, walaupun ia diletakkan di bawah Di Babilon, itulah yang dikatakan oleh warisan pada kita. Di Babilonia Menorah yang sejati akan ditemukan, di dalam rumah Abner. Di belakangnya, awak kabin mulai menyuguhkan sarapan. Suara pramugari terdengar di gang saat ia menanyakan pada penumpang apakah mereka menginginkan masakan matang atau kontinental.
Babilon. Balok emas padat tunggal. Sesuatu mengusiknya.
__ADS_1
Hor-Ankh-Amun. Ruang palsu. mengecoh para pencuri. Benar-benar mengusiknya.
Kereta makanan sudah sejajar dengan posisi mereka dan perempuan itu mulai melayani. Ben-Roi bangun dari tidurnya, meminta sarapan yang dimasak matang. Khalifa memesan menu kontinental.
“Shomer Ha-Or.”
“Apa?”
“Namanya Shomer Ha-Or,” ujar Khalifa. “Apakah berarti sesuatu dalam bahasa Ibrani?” Ben-Roi sedang merobek kemasan foil berisi piring plastik, mengambil peralatan makan dari kemasan selofannya.
“Penjaga sinar,” ia menjawab. “Penjaga, pelindung, seperti itulah. Kenapa?” Si mesir tidak menjawab, hanya menatap bakinya. Beberapa waktu lalu ia begitu lapar. Kini, tiba-tiba saja, ***** makannya menghilang.
*****_____*****
Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
By the way, Enjoy it
Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta
Thanks in Advanced
__ADS_1
Best Regards
*****