Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
SYEKH UMAR ABDUL KARIM


__ADS_3

Kebun pisang itu masih di selimuti embun pagi ketika Khalifa tiba di Vila Karnak milik Jansen, membuka kunci gerbang depan dan mengendap-endap di sepanjang jalur berbatu kerikil menuju gedung rendah berlantai satu di depannya, dengan serambi kayu dan jendela di sana-sini.


Ia telah menghabiskan sore dan malam itu mempelajari arsip kasus Schlegel, sambil membuat beberapa catatan, membiasakan diri lagi dengan kasus tersebut. Sebagaimana telah ia curigai, arsip itu terbukti tidak banyak membantu. Arsip itu memang memberikan beberapa detail yang terlupakan foto mayat Schlegel, pernyataan dari para saksi yang telah melihatnya sebelum ia tewas, salinan korespondensi dengan Kedutaan Besar Israel dalam pengaturan transportasi jasadnya kembali ke Israel tetapi tidak ada yang secara realistis dapat dianggap sebagai informasi baru. Ia telah mencoba membangun kontak kembali dengan dua saksi kunci pengurus rumah tangga yang mendengar Schlegel berbicara lewat telepon di kamar hotelnya dan penjaga Karnak yang telah melihat seseorang bergegas dari tempat kejadian pembunuhannya tetapi setelah menggalinya ia mendapatkan keterangan bahwa penjaga itu telah meninggal dan pengurus rumah tangga telah menikah lalu pindah dari daerah tersebut tanpa meninggalkan alamat barunya. Secara efektif, ia harus mulai dari awal lagi.


Ia sampai di pintu depan vila. Setelah beberapa kali menjajal kunci, pintu akhirnya terbuka dan ia melangkah masuk ke dalam ruang yang dingin dan teduh, kemudian menyalakan kontak lampu. Segala sesuatunya benar-benar masih sama seperti ketika ia berkunjung terakhir kali—kursi bertangan, rak kertas, lukisan cat minyak yang besar bergambar puncak gunung yang berbatu-batu, nuansa yang sama dalam kerapian yang steril dan keamanan yang obsesif. Setengah lusin surat berserakan di lantai dekat kakinya. Ia pun membungkuk, memungut surat-surat itu dan membacanya.


Lima yang pertama adalah tagihan atau surat edaran; yang keenam ada tulisan tangan di amplopnya dan cap pos Luxor. Ia membukanya dan menarik fotokopi brosur yang mengiklankan sebuah seminar untuk esok hari: “Kejahatan bangsa Yahudi”. Pembicara nya adalah Syekh Umar Abdul Karim, pekerja lokal yang terkenal dengan ajarannya yang menghasut dan anti-Barat.


Khalifa mempelajari brosur itu, terheran-heran karena hal seperti itu dikirim pada seseorang seperti Jansen, kemudian memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Lalu, sembari menutup pintu di belakangnya, ia pun mengelilingi ruang itu. Sebuah pembukaan. Itu yang sedang dicarinya. Sejenis jendela menuju dunia rahasia Jansen. Sesuatu, apa pun, yang akan memberitahukan padanya lebih banyak tentang pemilik vila yang misterius ini. Sesuatu yang dapat membantunya menerobos areal tak dapat dimasuki yang tampaknya telah dibangun pria itu di sekeliling dirinya.


Dia memulai dari ruang tengah, merasa yakin bahwa di sana akan ada petunjuk tentang kisah Jansen, meski tidak pasti bagaimana membacanya. Lukisan cat minyak yang besar, misalnya.


Lukisan itu jelas-jelas mengatakan sesuatu tentang pemiliknya, tentang kehidupan dalam dirinya. Tetapi apa? Bahwa ia sekadar menyukai gunung? Atau apakah pesannya bisa lebih spesifik?


Bahwa ini adalah lanskap dari negeri asalnya, barangkali (tetapi bukankah Belanda itu negeri yang datar)? Ia merasa seolah semua informasi yang ia perlukan untuk mendapatkan inti pencariannya ada di sini di depannya, tetapi semua dalam sandi, dan ia tidak memiliki jiplakan untuk memecah sandi itu.


Ia menghabiskan waktu setengah jam, meneliti ruang itu, kemudian pergi ke ruang tidur, ruang kerja, tempat ia agak lama berada di situ mengamati rak buku Jansen, menarik beberapa dokumen secara acak, membuka-buka halamannya: Die Sudlichen Raume des Tempels von Luxor oleh h. Brunner; The Complete Works of Josephus, diterjemahkan oleh Willian Whiston; Cathares et Templiers oleh Raimonde Reznikov; from Solon to Socrates oleh Victor ehrnberg; The Basilica of the holy Sepulchre oleh G.S.P. freeman-Grenville. Seperti pada kunjungannya dulu, ia takjub oleh keragaman subjek yang dibaca Jansen, oleh inteligensi dan pengetahuan laki-laki itu. Ada karya tulis tentang segala sesuatu dari zaman mesir Pra-dinasti ke Inkuisisi Spanyol, Perang Salib ke adat istiadat penguburan Aztec, Bizantin Yerusalem ke seni penanaman bunga mawar. Ini merupakan koleksi yang kaya, ekletik dan intelek, dan sekali lagi Khalifa merasa hal itu agak ganjil dibandingkan kehidupan luar laki-laki yang memiliki semua itu.


“Siapa kau, Piet Jansen?” ia bergumam pada dirinya sendiri.


“Siapa kau, dan mengapa kau di sini?”


Dari rak buku ia mengalihkan perhatiannya pada meja, kemudian pada lemari arsip. Yang pertama berisi folder plastik yang menyimpan dokumen bisnis, perbankan, asuransi dan legal, membuktikan tidak ada hal baru lagi yang terungkap dari situ di banding kan ketika ia memeriksanya untuk pertama kali dulu. Yang kedua, dengan kantong berisi slide fotografi, lebih menarik hanya karena slidenya adalah mengenai tempat yang diketahui atau disukai Khalifa atau selalu dikunjunginya. Giza, Saqqara, Luxor, Abu Simbel semua monumen besar ada di sana, difoto secara ahli dan diberi label dengan rapi, seperti sejumlah situs lebih kecil yang hanya sedikit wisatawan mau repot-repot mendatanginya: dinding raksasa berbata lumpur di al-Kab; perbatasan Akhenaten di Tuna al-Jabal; makam Djehutihotep di Dar al-Barsha. Sebagian situs Jabal Dosha, Kor, Qasr Dush begitu asing dan tak pernah didengar Khalifa.


Satu slide secara khusus menarik perhatiannya, karena ia satu-satunya yang menampilkan fitur Jansen sendiri. Ia kelihatan lebih muda di sini, dengan rambut tersisir rapi dan sikap tegak dengan punggung lurus, berdiri pada apa yang terlihat seperti makam SetiI di Lembah Para Raja, di depan gambar raja dengan dewa horus dan osiris. Ada sesuatu yang agak mengancam tentang gambar tersebut, cara subjek itu menatap langsung pada lensa kamera, tatapan nya kuat dan arogan, ekspresinya antara senyum dan seringai.


“Kau jahat,” Khalifa berbisik untuk dirinya sendiri. “Itu ada dalam wajahmu, sinar matamu. Kau melakukan hal tercela, hal yang kejam.” Ia menatap gambar itu cukup lama, kemudian mengembalikannya dan melanjutkan melihat-lihat sisa koleksi slidenya. Ia tidak menghabiskan waktu terlalu lama dalam meneliti setiap slide, hanya memegang dan menerawangnya, matanya bergerak kesana-sini, fokus hanya pada enam atau tujuh gambar sebelum beralih ke tumpukan file berikutnya.


Khalifa sepertinya tak akan mendapati gambar gerbang pintu masuk makam sekiranya slide itu berada dalam bingkai plastik normal seperti slide lain, karena ketika ia sampai pada slide itu ia hampir sampai pada akhir koleksi dan memberikan perhatian sedikit lebih banyak pada masing-masing gambar daripada sekadar tatapan sepintas lalu. Sebagaimana adanya, gambar itu sedikit menyembul dari slide lain di dekatnya karena lapisan kertas cokelat tebalnya yang sudah ketinggalan zaman. Ketertarikannya menggebu, Khalifa mengambilnya dan melihatnya dari jarak lebih dekat.


Gambar itu adalah salah satu dari serangkaian gambar pintu makam Kerajaan Tengah dan Baru di Dar al-Bahri, pada sisi timur Nekropolis Theban. Walaupun gambarnya hitam putih, tidak seperti gambar-gambar di sebelahnya yang penuh warna, dan agak di luar fokus untuk diperhatikan, asumsi awal yang ada padanya adalah bahwa materi utama gambar ini sama. hanya ketika ia mengangkat dan menerawangnya ia mulai ragu, bukan semata karena ia sebenarnya tidak mengenali pintu tersebut selama limabelas tahun di Luxor ia telah mengeksplorasi setiap makam disana melainkan karena dinding gelap dan menakutkan dari batu datar yang sempurna dan pada bagian dasarnya ada pintu terbuka tidak seperti formasi geologi yang pernah ia lihat di wilayah Luxor.


Khalifa membalik slide tersebut, penasaran, berharap siapa tahu ada label penjelasan seperti biasanya gambar lain dalam koleksi tersebut. Tetapi tidak ada, yang tentunya membuatnya frustrasi, karena tanpa alasan yang dapat ia jelaskan ia merasa bahwa entah bagaimana gambar itu signifikan adanya. Ia menatap terus gambar itu untuk beberapa saat lamanya “Apa yang ingin kau katakan padaku?” ia bergumam. “makam siapakah kau?” kemudian ia menyelipkannya pada saku dalamnya bersama dengan brosur dan kembali meneliti isi rumah.


Terakhir Khalifa menjajaki ruang bawah tanah, seperti saat pertama kali mengunjungi rumah ini, menuruni anak tangga yang gelap dan berderit-derit, menyalakan kontak lampu di bawah lalu melihat meja dan rak yang ditutupi barang antik hasil jarahan.


Pada titik ini, ia telah berada di rumah itu lebih dari tiga jam dan kini ia menghabiskan sembilan puluh menit berikutnya meneliti seluruh isi ruang bawah tanah, kembali mengagumi ukuran dan keberagaman koleksi di dalamnya, menemukan banyak benda yang menarik minatnya tetapi tak satu pun yang sedikitnya memberikan lampu terang mengenai laki-laki yang meletakkan semuanya secara bersamaan ini.

__ADS_1


Ia berhenti di sisi peti besi di sudut terjauh ruangan itu, sebuah peti dengan cakra angka dan gagang kuningan yang kuat. Sembari berjongkok di depannya, ia menarik cakra angka itu ke depan dan ke belakang, sistem peralatan di dalamnya mengklik dengan lembut saat ia berputar. Khalifa tidak mungkin bisa mendorong pintu kotak besi itu, dan walaupun ia telah belajar, dari hubungannya yang panjang dengan kelompok penjahat, tentang bagaimana mem bongkar kunci yang sederhana, yang ini jauh di atas keterampilan mendobrak-masuk tingkat dasar. Dia memerlukan sebuah nomor kombinasi, yang kemungkinan besar telah hilang terkubur bersama pemilik kotak besi itu, atau yang lainnya ...


Khalifa tetap berada di ruangan itu untuk sesaat lamanya, kemudian, sembari mendengus seakan berkata


“Ahh, peduli amat!” ia kembali ke ruang tengah, mengangkat gagang telepon dan memutar serangkaian nomor. Terdengar dering sebanyak enam kali, sebelum sebuah suara yang keras dan kasar menjawab.


“Aziz? Ini Inspektur Khalifa. Tidak, tidak, tidak ada kaitannya dengan itu. Aku perlu bantuanmu.”


“Jika ini semacam tipuan....”


“Ini....”


“Karena sekarang aku sudah jadi orang jujur dan lurus. Kau mengerti? Sudah sepenuhnya jujur dan taat pada hukum. Semua hal itu ... sudah jadi masa lalu. Aku orang yang berbeda sekarang.”


Aziz Ibrahim Abdul Syakir, yang terkenal sebagai “si hantu” Karena kemampuannya menerobos pintu-pintu yang bahkan paling canggih pengamanannya, membuka tasnya yang penuh perkakas kemudian mengambil tatakan gabus kecil, meletakkannya di lantai di depan kotak besi dan berlutut di atasnya, menggesernya ke depan dan ke belakang sampai ia merasa nyaman. Seorang laki-laki kecil yang sintal dengan hidung bulat seperti lobak dan ketiak yang selalu ada bekas keringat, menarik napas beberapa kali, napas perlahan seolah akan memulai meditasi, kemudian mengulurkan tangannya dan menggerakkannya secara lembut pada bagian atas, melebihi atap dan semua sisi kotak besi itu, seakan membelai hewan yang gugup, menenangkannya, mendapatkan kepercayaannya.


“Ini hanya di antara kita saja,” Khalifa meyakinkan Aziz. “Tidak seorang pun akan tahu.”


“memang lebih baik begitu,” gumam Aziz, seraya menyorongkan tubuhnya ke depan dan menekan telinganya pada pintu kotak besi tersebut, memutar dialnya ke belakang dan ke depan, sambal mendengarkan.


“Kau bisa memegang....”


“Bisakah kau membukanya?” tanya Khalifa.


Aziz tidak mengacuhkannya, merogoh tasnya.


“Selubung Chubb, mauser dial system,” ia bergumam, sembari menarik stetoskop, pensil berlampu senter dan palu kecil yang biasa digunakan ahli geologi untuk memecah batu.


“Paku yang rentan, tiga buah, atau mungkin empat; tuas ganda. ohh, ayolah kau gadis kecil yang manis!”


“Dapatkah kau....”


“Tentu saja aku bisa membukanya!” Aziz mendengus. “Aku mampu membuka apa saja. Kecuali kaki istriku.”


Ia tersenyum kecut pada candanya dan mulai meraba dial dengan palunya, mata tertutup berkonsentrasi. Aziz Abdul Syakir secara umum dihormati, oleh siapa pun termasuk dirinya sendiri, sebagai pembuka kotak pengaman terbaik di mesir Atas. Sebagai laki-laki yang telah dua kali menerobos ruang besi utama di kantor Bank Nasional mesir di Luxor, dan membongkar peti besi American express di Aswan yang mestinya tidak bisa dibongkar, ia adalah legenda di antara teman-teman penjahatnya dan mereka yang tugasnya menyeret dia ke pengadilan.


Khalifa bertemu dengannya pertama kali pada 1992 setelah ia menguras habis lemari besi di Luxor Sheraton, dan arah perjalanan mereka telah bersimpangan beberapa kali sejak saat itu, yang terbaru adalah dua tahun lalu ketika Khalifa menangkapnya untuk perampokan di toko permata setempat. Pada kesempatan khusus itu Khalifa telah menulis kepada hakim pengadilan, merekomendasikan toleransi dakwaan dengan dasar rasa kasihan karena anak laki-laki Aziz yang terkecil didiagnosa menderita leukimia. Aziz telah mendengar tentang surat itu dan, dengan ajaran moralitas yang membolehkan seseorang menafkahi hidupnya dengan mencuri dan pada saat bersamaan selalu menghormati utang-utangnya, dia menghubungi Khalifa dan mengatakan padanya bahwa kapan pun Khalifa memerlukan bantuannya, mintalah saja. Itulah sebabnya dia berada di sana sekarang.

__ADS_1


Ia menyisihkan palunya dan memasang stetoskop, menempelkan bagian cakramnya yang rata pada pintu kotak pengaman dengan satu tangan sambil secara perlahan mengklik nomornya ke depan dan ke belakang dengan tangan yang lain. Ia menggigit senter dengan mulutnya, mata tertutup saat ia mendengar dengan penuh konsentrasi pada gerakan paku di dalam. Khalifa tahu pasti bahwa Aziz berbohong saat mengatakan dirinya sudah hidup lurus dan jujur. Aziz tetap saja penjahat yang masih aktif seperti sebelumnya. Namun pada saat khusus ini, Khalifa memerlukan keahliannya dan tidak ingin memperdebatkan hal itu.


“Gadis manis.” Aziz berbisik pada dirinya sendiri, senyum tipis mengembang di wajahnya. “Jangan menyulitkan sekarang. oh, kau gadis kecil yang manis sekali. Gadis yang manis sekali.”


Akhirnya, hanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit ia berhasil menemukan kombinasi angka, sumber kepuasan karena, begitu paku terakhir berbunyi klik, ia tenggelam dalam senyum lebar dengan sebaris gigi cokelatnya. Ia pun membungkuk dan mendaratkan ciuman pada bagian atas peti besi. Bibirnya meninggal kan tanda pada logam hijau-abu-abu.


“Si hantu kembali menggebrak!” serunya dengan tergelak, sembari membuka pintu peti besi itu beberapa inci, lalu membereskan kembali barang-barangnya.


mereka naik ke atas dan Khalifa mengantarnya pergi.


“Jangan bikin masalah,” katanya ketika Aziz menuruni tangga depan.


Si pembongkar peti besi menggerutu sembari berjalan di sepanjang jalur berbatu kerikil menuju gerbang depan. Begitu sampai di situ, ia membalikkan badan.


“Kau oK, Khalifa,” serunya. Ia diam, kemudian menambahkan, “untuk seorang polisi, itu saja.”


Ia mengedipkan mata, lalu menghilang di balik pohon kelapa dan mimosa.


Khalifa memerhatikannya pergi, kemudian kembali ke lantai bawah tanah. Ia berjongkok di depan lemari besi dan membuka pintunya. hanya ada tiga benda di dalamnya: amplop manila berwarna cokelat yang terlihat resmi yang setelah diperhatikan dari dekat rupanya berisi wasiat almarhum; pistol yang tipenya belum pernah dilihat Khalifa, dengan barel tipis menonjol dari badannya yang padat berbentuk L; dan tepat di bagian bagian belakang lemari besi, objek berbentuk empat persegi panjang terbungkus dalam kain panjang hitam. Yang terakhir ini berat dan setelah melepaskan kain hitamnya Khalifa mendapati sebongkah batangan emas yang besar. Pada permukaan bagian atasnya yang mengkilap tertera cap elang dengan sayap terbentang, cakarnya mencengkeram lengan Nazi swastika yang saling mengunci. Khalifa bersiul kecil.


“Apa yang akan kau lakukan, Tuan Jansen? Apa gerangan yang akan kau lakukan?”


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards

__ADS_1


*****


__ADS_2