
“Apa yang telah kita lakukan terhadap mereka sehingga mereka harus datang ke sini dan mengatakan pada kita bagaimana seharusnya menjalankan negara ini? Apakah kita bahkan tidak diizinkan untuk mempertahankan diri kita sendiri sekarang? meshugina! Semua mereka! meshugina!” Laki-laki tua ini menyuarakan Yediot Ahronotnya dengan penuh kemarahan, mulutnya yang berbibir tipis dan kendur mengeriput karena amarah besar, seperti siput yang telah ditaburi garam.
Ben-Roi meneguk birnya dan mengamati objek dari kemarahan laki-laki itu kisah halaman depan tentang kelompok aktivis perdamaian eropa yang datang ke Israel untuk memprotes dinding keamanan berukuran panjang tiga ratus kilometer antara Israel dan Tepi Barat yang sedang dibangun pemerintah. foto yang menyertai kisah itu adalah komedian Inggris yang tidak pernah didengar Ben-Roi memiliki hubungan dengan kelompok Palestina di depan buldozer IDf, di bawah judul SELEBRITIS MENGECAM PALANG “APARTEID”.
“Nazi!” teriak orang tua itu sembari meremas surat kabar, seolah mencoba mencekiknya. “mereka menyebut kita seperti in. Lihat ini? Saudara laki-lakiku mati di Buchenwald dan mereka menyebutku Nazi! Seharusnya mereka malu! mereka, goyim kotor tidak tahu malu!” Ia mengempas surat kabar itu ke samping dan duduk kembali ke kursinya. Untuk sesaat lamanya Ben-Roi berpikir akan mengatakan sesuatu, mengatakan pada laki-laki itu bagaimana ia juga membenci para pelaku kebaikan asing ini, cara mereka datang ke sini untuk menyerukan dan menyalahkan sebelum terbirit-birit kembali ke rumah mereka yang aman di negara mereka yang aman, memberi selamat pada diri mereka sendiri karena telah menjadi manusia peduli yang hebat sekali sementara di belakang mereka perempuan dan anak-anak dibantai menjadi sampah oleh orang Palestina sialan yang miskin dan terjajah.
Namun, ia tidak berkata apa-apa, khawatir kalau ia mulai membicarakan subjek itu akan memicu kemarahan, membuatnya berada dalam kegelapan yang membutakan sehingga sebelum ia tahu apa yang terjadi ia akan berteriak dan marah lalu menghantamkan tinjunya ke meja, mempermalukan dirinya sendiri.
Tidak, pikirnya, lebih baik ia menyimpannya untuk diri sendiri saja. Lebih aman. Ia memegang menorah yang tergantung di lehernya, memutar-mutarnya seolah mencoba dan mendorong sesuatu kembali kedalam dirinya, kemudian, teringat akan birnya, ia berdiri, menyelipkan uang senilai 20 shekel ke atas meja dan beranjak menuju jalan untuk melihat apa yang dapat ia gali tentang perempuan yang terbunuh itu untuk si polisi mesir sialan itu.
LEBIH JOROK DAN KURANG EKSKLUSIF dibandingkan blok lain di sekitarnya, Ohr Ha-Chaim adalah jalan yang redup dan terkungkung tepat di ujung atas Wilayah Yahudi, dekat sektor Armenia, dengan lantai pelataran datar yang bersinar oleh sapuan kaki yang tiada henti melewati jalan itu, dan perumahan berdinding tinggi yang mengepung dari sisi mana saja seperti dinding-dinding yang kokoh.
Nomor empat puluh enam kira-kira separuh perjalanan, gedung dengan batu keras yang bagian atasnya dibagi ke dalam beberapa kamar jalur pencuci yang kosong terkulai pada parabola dari banyak jendela yang lantai bawah tanahnya didiami yeshiva yang berdesakan dengan pintu masuk sendiri yang terpisah. Begitu sampai, Ben-Roi melihat lembaran kertas catatan yang sudah diremas yang berisi catatannya tentang detail yang diberikan oleh si mesir itu pada sore sebelumnya, kemudian naik ke pintu utama dan memencet interkom flat empat.
Ia bisa saja berada di sini lebih awal tapi tidak terjadi seolah ia memiliki begitu banyak hal yang harus dilakukan dalam dua puluh empat jam terakhir tetapi ia tidak menyukai nada suara si mesir itu dan tidak merasa ingin membantunya. Sebenarnya ia berpikiran untuk membiarkan urusan ini lebih lama lagi, khususnya setelah malam kemarin ketika, terlepas dari kenyataan bahwa Ben-Roi telah secara spesifik mengatakan padanya bahwa ia tidak menginginkannya, si jarum kecil itu telah mengirim faksimili tentang semua catatan kasus, yang dalam prosesnya memacetkan mesin faksnya yang telah memekik terhadapnya seperti anak kecil yang merengek hingga, dalam keputusasaan yang menjengkelkan, ia akhirnya mencabut kabelnya dari soket dan melemparkannya.
Tidak, ia tidak merasa adanya dorongan terjauh untuk menolong. Namun, akhirnya ia memutuskan bahwa ia juga sebaiknya menangani kasus itu, sebelum Khediva atau siapa pun namanya menelepon dan mengganggunya terus-menerus, sebagaimana hampir pasti dilakukannya. Jadi ia kini berada di sini.
Ia memencet tombol lagi, melihat ke bawah melalui jendela lantai bawah tanah ke barisan laki-laki haredi muda yang memanggul Talmud, pe’ot mereka berayun-ayun seperti ekor anjing spanil, wajah mereka pucat dan bertampang sakit di balik kacamatanya (Yerusalem, ia pernah mendengarnya, memiliki konsentrasi ahli mata tertinggi di kota mana pun di dunia). Suara parau terdengar dari mulutnya “penguin” istilah yang digunakan Galia untuk menyebut mereka dan mendongak lagi, ia memencet tombol untuk ketiga kalinya, dan yang terakhir ini akhirnya menghasilkan respons.
“Shalom?” Seorang perempuan muda melongok dari jendela di atas. Wajahnya yang gendut dibingkai rambut palsu sheitel tradisi onal yang dikenakan oleh para istri Yahudi ortodoks. Ben-Roi menjelaskan siapa dirinya dan untuk apa ia di sana.
“Kami baru saja pindah ke sini,” kata si perempuan. “Dan orang yang menempati sebelum kami hanya di sini selama beberapa tahun saja.”
“Sebelum mereka?” Perempuan itu mengangkat bahu, membalikkan badan untuk meneriakkan sesuatu kepada seseorang yang berada di belakangnya.
“Anda mau bicara dengan Nyonya Weinberg,” katanya sambal melihat ke bawah kembali. “Di apartemen nomor dua. Ia sudah tinggal di sini selama tiga puluh tahun. Ia tahu siapa saja. Juga apa
saja.” Dari nada suaranya tampak jelas bahwa ia berpikiran nyonya Weinberg adalah orang yang suka ikut campur urusan orang lain.
Ben-Roi berterima kasih padanya dan, sambil memusatkan penglihatannya pada panel interkom, menekan tombol flat nomor dua. Ia baru saja menarik tangannya ketika pintu depan mulai terbuka dan memperlihatkan perempuan tua yang mungil dan berkeriput sedikit lebih tinggi daripada anak-anak, mengenakan pakaian rumah berimpel dan sandal murah. Tangannya bergerak-gerak karena rematik.
“Nyonya Weinberg?” Ben-Roi mengeluarkan identitasnya.
“Namaku Inspektur Ben-Roi dari....” Ia mengeluarkan suara agak parau, tangannya diangkat ke dada. “oh Tuhan! Apa yang terjadi? Ini pasti tentang Samuel, ya ‘kan? Katakan padaku apa yang terjadi dengannya!” Ben-Roi meyakinkan padanya bahwa tidak ada apa pun yang terjadi pada Samuel, siapa pun dia; ia hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Tentang seorang perempuan yang pernah tinggal di flat atas. Untuk sesaat ia sepertinya tidak memercayai Ben-Roi. Dadanya menaik, matanya lembab oleh air mata ketakutan. Perlahan ia tenang kembali dan, dengan gerakan tangannya, mempersilakan Ben-Roi masuk ke apartemennya yang berada dilantai dasar gedung, ke sisi kanan aula.
“Samuel adalah cucu laki-lakiku,” jelasnya ketika mereka berjalan.
“Anak laki-laki paling baik di dunia. mereka menangkapnya di Gaza Tuhan, tolong kami dalam tugas nasionalnya. Setiap kali aku melihat berita, kapan pun telepon berdering ... aku tidak bisa tidur karena khawatir. Ia hanyalah bocah ingusan, anak-anak. mereka semua hanyalah anak-anak.”
Ibu itu membawanya ke sebuah ruang tamu kecil, sesak dan redup dengan lemari kayu besar di ujung yang satu dan dua kursi tangan yang ditata di depan pesawat televisi hitam-putih, yang di atasnya ada sangkar berisi burung kecil berwarna kuning. Banyak foto terpajang di mana-mana, dan bau sesuatu yang manis dan agak tidak mengenakkan pastinya apa, Ben-Roi tidak tahu.
Kotoran burung, mungkin, atau lemak yang dimasak. Ia mencoba untuk tidak terlalu ambil pusing. entah dari arah mana di flat itu ia dapat mendengar suara Radio militer Israel.
Perempuan tua itu memperdilahkan Ben-Roi duduk di salah satu kursi berlengan dan menghilang sebentar, mematikan radio sebelum kembali dengan segelas jus jeruk yang ia berikan pada Ben-Roi. Ia memang tidak memintanya tetapi ia terima juga, untuk bersopan-santun dan meletakkannya ke meja kecil di sebelah kursinya. Ibu itu kemudian duduk di kursi lain, mengambil benang wol biru dan putih yang seperti spaghetti dari lantai dan mulai merajut. Jarumnya dipegang di depan wajahnya dan tangannya bergerak dengan keterampilan yang menakjubkan untuk seorang nenek yang sudah bungkuk dan rematik seperti dia. Sepertinya ia sedang membuat yarmulke, sebagian dari lingkarannya telah terlihat pada ujung kedua untaian wol, dan Ben-Roi tersenyum tipis pada dirinya sendiri, mengingat kisah keluarga lama tentang neneknya, ibu dari bapaknya, yang selama perang tahun 1967 telah merajut tutup kepala merah bagi setiap laki-laki di perusahaan artileri anak laki-lakinya, lebih dari lima puluh, hasilnya perusahaan itu memeroleh julukan Blazing Yarmulkes, judul yang, sejauh ia tahu, tetap mereka gunakan sampai hari ini.
“Jadi, apa pertanyaannya?”
“hmm?”
“Kau bilang kau ingin mengajukan beberapa pertanyaan padaku. Tentang flat empat.”
“Ya, tentu saja.” Ia melihat pada lembar catatan yang tetap berada di tangannya, berusaha memusatkan pikirannya.
“Apa ini tentang perempuan Goldstein? Karena kalau aku mengatakannya sekali, aku mengatakannya seratus kali ia sedang menuju akhir yang buruk. Dia berada di sini selama tiga tahun, dan ketika dia pergi seluruh blok bertepuk tangan. Aku ingat sekali waktu itu, hari Jumat, demi Tuhan hari Shabbat....”
“Ini tentang seseorang bernama hannah Schlegel,” kata Ben- Roin menyela.
Suara klik jarum melambat dan berhenti.
“oh.”
“Nyonya di atas tadi mengatakan bahwa mungkin Anda mengenalnya.” Ia menatap rajutannya untuk sesaat, kemudian meletakkannya pada pangkuannya dan duduk kembali.
“hal yang mengerikan,” keluhnya. “mengerikan. Dibunuh, kau tahu. oleh orang Arab. Di piramid. Secara kejam. mengerikan.” Ia menyatukan kedua tangannya....
“Perempuan pendiam. menyimpan semua tentang dirinya hanya untuk dirinya sendiri. Selalu berkata selamat pagi. Ia memiliki....” Ia melepaskan kembali tangannya dan membuat gerakan mengetuk pada bagian dalam lengan kirinya.
“Kau tahu… angka itu. Auschwitz.” Burung kecil itu tiba-tiba bernyanyi, kemudian diam dan mulai mematuk dengan paruhnya, kepalanya bergerak ke atas dan ke bawah seperti sampan pemancing terapung di atas air yang berombak. Ben-Roi menyesap jus jeruknya.
“Polisi mesir sedang menyelidik ulang kasus ini,” jelasnya.
“Mereka menginginkan kami mendapatkan sedikit rincian personal tentang Nyonya Shlegel. Pekerjaan, keluarga, hal semacam itulah. Yang mendasar.” Si perempuan tua mengangkat alisnya yang pucat dan tipis, kemudian mengerjakan lagi rajutannya. Jarumnya bekerja lebih perlahan daripada sebelumnya, lingkaran wol dari yarmulke melebar di bawah jari-jarinya seperti bunga alga yang aneh.
“Aku tidak kenal baik dengannya,” katanya. “Tidak seperti orang yang berteman. hanya menyapa sekali-kali. Dia lebih suka menyimpannya untuk dirinya sendiri. hampir sepanjang waktu kau hampir tidak tahu dengan pasti apakah dia ada di sana. Tidak seperti nyonya Goldstein. Kau akan selalu tahu kalau dia ada di sana. Ribut-ribut yang biasa kau dengar. oy vey!” Ia mengerutkan wajahnya. Ben-Roi merogoh sakunya, men coba mendapatkan pulpen, dan beberapa saat kemudian menyadari bahwa ia lupa membawanya. Ada sebuah pulpen di vas gelas di lemari, tetapi ia tidak enak memintanya, khawatir hal itu akan membuatnya terlihat tidak profesional. Persetan, pikirnya, aku akan menuliskan sedikit catatan bila sudah sampai di kantor polisi.
“Dia sudah berada di sini ketika kami sampai,” kata perempuan tua ini. “Itu tahun 1969. Kami datang dari Tel Aviv, aku dan Teddy.
Agustus 1969. Ia selalu ingin tinggal di sini, Aku sendiri, tidak begitu pasti. Ketika pertama kali aku melihat tempat ini, aku pikir klogiz mir! Apa yang bisa kita lakukan di tempat seperti ini?
__ADS_1
Reruntuhan di mana-mana oleh orang Arab, separuh bangunan yang ada runtuh. Kini, tentu saja, aku tidak akan pernah tinggal di tempat lain. Itu dia, di sana.” Ia menunjuk dengan jarum rajutnya kearah foto di rak tengah pada lemari itu laki-laki pendek dan sintal sedang mengenakan trilby dan tallit, berdiri di depan Dinding Barat. “Kami menikah selama empat puluh tahun. Tidak seperti anak-anak sekarang. empat puluh tahun. Betapa aku merindukannya!” Ia mengangkat pergelangan tangannya dan menyeka matanya. Ben-Roi menunduk, menatap lantai, malu.
“Dia sudah berada di sini. Ketika kami datang. Pindah tepat setelah pembebasan.” Ben-Roi menggeser duduknya di kursi.
“Sebelum itu?” Perempuan tua ini mengangkat bahunya, kembali ke rajutannya. “Aku ingat ia pernah mengatakan dirinya hidup dengan Mea Sharim, tetapi aku tak begitu pasti. Dia berasal dari Prancis.
Sebelum perang. Kau tahu, dia biasa menggunakan kata-kata Prancis, berbicara pada dirinya sendiri sambil menuruni tangga.”
“Dan Anda mengatakan bahwa dia ada di Auschwitz.”
“Yahh, itu yang dikatakan Dr Tauber tua. Kau tahu, Dr Tauber, dari nomor enam belas.”
Ben-Roi tidak tahu sama sekali, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
“Aku melihat tatonya beberapa kali sehingga aku tahu dia pernah berada di kamp itu. Ia tidak pernah mengatakannya langsung.
Sangat pribadi. Tetapi kemudian aku berbicara dengan Dr Tauber pria yang baik, sudah meninggal sekitar empat atau lima tahun lalu, semoga Tuhan menerima jiwanya dan dia bilang ‘Kau tahu perempuan yang tinggal di atas flatmu, Nyonya Schlegel,’ dan aku jawab ’Ya,’ lalu dia melanjutkan, “Tebak coba?” dia memang seperti itu, tahu tidak, sangat baik dalam bercerita, membuatnya seru ‘Coba tebak,’ katanya. ’Kami datang bersama dalam kapal yang sama. Tahun 1946. Dari eropa.’
Pemerintah Inggris mencoba mengembalikan mereka di haifa, tetapi mereka melompat kedalam laut dan berenang sampai ke pantai. Lebih dari satu mil. malam hari. Dan lantas, dua puluh tahun kemudian mereka akhirnya tinggal di jalan yang sama! Kebetulan sekali!’”
Ada gema langkah kaki dari flat di atas, seolah seseorang sedang berlari-lari. Perempuan tua itu mendongak ke atas, ke langit-langit.
“Dan Dr Tauber ini yang mengatakan pada Anda bahwa dia pernah berada di Auschwitz?”
“hmm?”
“Hannah Schlegel.”
Untuk sesaat ia terlihat bingung, kemudian menyadari apa yang sedang dibicarakannya.
“oh... Ya, ya. Ia berkata bahwa mereka berbicara di dalam perahu itu. Aku tadi bilang bahwa mereka datang dengan kapal yang sama, bukan? Dua minggu mereka berada dalam kapal itu.
Bersama enam ratus orang. Bertumpuk seperti ikan sarden. Kau bisa bayangkan? menyelamatkan diri dari kamp dan harus menjalani pengalaman seperti itu. Ia perempuan yang cantik, katanya.
Sangat muda dan sangat cantik. Kuat. Keras. Saudara laki-lakinya tidak mengatakan sepatah kata pun pada perjalanan itu. hanya duduk memandang laut lepas. Sangat traumatis.”
Ben-Roi tidak dapat mengingat bahwa detektif mesir itu pernah menyebut-nyebut soal saudara laki-laki. Ia menggigit bibirnya sebentar, kemudian, sambil mengesampingkan gengsinya, ia pun berdiri, berjalan menuju lemari dan mengambil pulpen dari vas bunga, mengangkat alis matanya pada Nyonya Weinberg seolah berkata “Boleh ’kan?” Ia sedang hanyut pada pikirannya sendiri dan bahkan tidak menyadari Ben-Roi sudah pindah dari kursinya.
“malang sekali,” ia bergumam. “Pasti belum lebih dari lima belas atau enam belas tahun. Sudah mengalami pengalaman seperti itu. Dunia macam apa ini, aku tanya kau? Dunia macam apa ini sehingga hal seperti itu harus terjadi pada seorang anak? Pada siapa saja?”
Ben-Roi berjalan menuju kursinya kembali dan duduk, mencoretkan pulpen itu di telapak tangannya agar tintanya mengalir.
“Apa dia masih hidup?” Ben-Roi bertanya. “Saudara laki-lakinya?”
“Dan apa yang kau harapkan? membelahnya seperti ini, memasukkan sesuatu, seperti hewan saja!”
Ben-Roi mendongak. Telapak tangannya tertutupi garis-garis pulpen yang malang melintang.
“maksud Anda?”
“Yahh, mereka saudara kembar, ‘kan? Tidakkah aku mengatakannya padamu? Aku yakin sudah. Nyonya Schlegel dan saudara laki-lakinya. Dan kau tahu apa yang mereka lakukan pada orang kembar di kamp. eksperimen. Kau pasti sudah pernah mendengarnya.”
Dada Ben-Roi menegang. Ia memang sudah mendengar:
bagaimana para dokter Nazi itu telah menggunakan orang kembar sebagai kelinci percobaan, menjadikan mereka sebagai eksperimen genetik yang paling kejam dan menyakitkan, memotongnya, membuat mereka steril, mengiris-iris mereka. Penjagalan.
“oh Tuhan,” ia berusaha bergumam.
“Perlukah kita heran jika si bocah malang itu sedikit....” Lagi-lagi ia mengetuk-ngetukkan sisi kepalanya. “Tidak pada si perempuan. Dia begitu kuat, tabah. Itu yang dikatakan Dr Tauber. Tipis bagai kayu korek api, namun kuat laksana besi. merawat saudara laki-lakinya, memperhatikannya. Tidak membiarkan dia jauh sedikit pun dari pandangannya.”
Perempuan tua itu memandang Ben-Roi.
“Kau tahu apa yang dikatakannya? Ketika mereka semua berada di atas kapal. ‘Aku akan menemukan mereka.’ Itu yang dikatakan Dr Tauber padaku. Dia tidak menangis, tidak mengeluh. hanya berkata, ‘Bila hal ini harus aku alami sepanjang sisa hidupku, aku akan menemukan orang-orang yang telah melakukan ini pada kami. Dan kalau aku menemukan mereka, aku akan membunuhnya.’ Demi Tuhan, anak usia enam belas tahun. Tidak satu pun anak-anak harus merasakan perasaan seperti itu. Isaac. Itu nama saudara laki-lakinya, Isaac Schlegel.”
Ia berhenti merajut dan, sembari mendesah, meletakkan jarum dan wol di tepi, berdiri lalu mendekati sangkar burung, mengetuk-ngetuk jerujinya dengan kuku jarinya.
“Siapa yang cantik, kalau begitu?” dia berkata mengikuti suara burung. “Siapa yang cantik?”
Ben-Roi telah merentangkan halaman buku catatannya sampai ke pahanya dan sedang mencatat sesuatu di tempat
kosong yang tersedia.
“Apa Anda tahu kalau saudara laki-lakinya itu masih hidup?” ia bertanya, mengulang pertanyaan yang diucapkannya beberapa menit lalu.
“Aku tak bisa mengatakannya padamu,” katanya, sambil menggerakkan jari-jarinya pada terali sangkar itu, gerakan yang membuat suara ritmis, tang-tang-tang. “Aku bahkan tak pernah berjumpa dengan laki-laki itu.”
“Apa dia tinggal bersama saudara perempuannya?”
“oh tidak. Sakitnya terlalu parah. Terakhir aku dengar dia tinggal di Kfar Shaul. Itu yang dikatakan Dr Tauber.”
__ADS_1
Kfar Shaul adalah klinik psikiatris di tepi kota arah barat laut.
Ben-Roi menuliskan dengan cepat catatan untuk dirinya sendiri.
“Sebenarnya nyonya Schlegel biasa mengunjunginya setiap hari. Namun, tidak pernah berbicara tentang saudaranya itu.
Setidaknya, tidak padaku. Aku tak tahu apa dia masih hidup. Tak ada satu pun di antara kita yang semakin muda, ‘kan?”
Burung kecil itu melompat berayun-ayun di sudut sangkar, bergoyang sendiri kian kemari. Ia bersiul padanya tanpa nada.
“Dan tadi Anda bilang mereka berasal dari Prancis!”
“Yahh, itulah yang dikatakannya padaku. Saat itu adalah satu-satunya kesempatan untuk kami berbincang dengan enak. Dalam dua puluh tahun. Kau percaya itu? Ia datang dengan belanjaannya saat itu pasti waktu Pesah karena ia membawa tas penuh berisi kotak matzah dan kami hanya berbincang. Tepat di lorong sana itu.
Aku tak dapat mengingat bagaimana kami sampai pada pembicaraan itu, tetapi jelas sekali ia mengatakan dirinya lahir di Prancis. Dan ada sesuatu tentang daerah pertanian dan kastil yang runtuh. Atau, apa aku sedang membayangkannya? Aku benar-benar tidak dapat mengingat detailnya. Aku masih dapat melihat kotak matzah itu, begitu jelas seolah benda itu ada di sini di depanku sekarang. Lucu sekali ’kan?”
Ia bersiul pada burung kecil itu lagi, dan menyelipkan satu tangannya ke dalam saku jaketnya.
“Apa ia memiliki keluarga lain yang Anda kenal?” tanya Ben-Roi. “Suami, anak-anak, orangtua?”
“Tidak pernah aku melihatnya.” Ia merogoh saku, mencari sesuatu. “hidup hanya untuk dirinya sendiri, perempuan malang. Tidak ada keluarga, tidak ada teman. Benar-benar sendiri. Paling tidak aku memiliki Teddyku, semoga Tuhan menerima jiwanya. empat puluh empat tahun kami bersama, dan tidak pernah sekali pun bersilang kata. Aku sering berpikir bahwa dia akan ada di sana.”
Ia menjulurkan lehernya ke satu sisi, melihat ke dalam sakunya, tangan masih merogoh-rogoh.
“Bagaimana dengan pekerjaan?” tanya Ben-Roi. “Apa Nyonya Schlegel memiliki pekerjaan?”
“Aku rasa ia melakukan sesuatu di Yad Vashem. Penyimpanan arsip, atau sesuatu semacam itulah. Ia biasanya pergi pagi-pagi sekali dan pulang agak telat di sore hari dengan tangan penuh kertas dan arsip. Selebihnya hanya Tuhan yang tahu. Suatu kali, ia pernah meninggalkan beberapa arsip, di aula, dan aku membantu membawakannya. Sesuatu tentang Dachau, dengan cap Yad Vashem di atasnya. hanya Tuhan yang tahu mengapa dia mau membawa sesuatu seperti itu ke dalam rumahnya setelah semua yang dia lakukan. Ah!”
Ia menarik tangannya, sejenis biji atau kacang kecil terjepit di antara ibu jari dan jari telunjuknya. Ia menggoyang-goyangkannya di depan kandang seolah berkata, “Lihat apa yang aku punya!”
Kemudian, sembari menggenggam pergelangan tangannya dengan tangannya yang lain agar ajeg dan stabil, ia menyorongkan biji itu melalui terali. Burung kecil itu mengeluarkan kicauan gembira dan meloncat-loncat dari ayunannya.
Ben-Roi meneliti catatannya, bertanya-tanya dalam hati apakah ada hal lain yang harus ia cari tahu. Ia memerhatikan nama yang diberikan oleh detektif mesir itu.
“Apa nama Piet Jansen memiliki arti tertentu bagi Anda?” tanyanya.
Si perempuan tua itu berpikir sejenak.
“Aku kenal Renee Jansen,” katanya. “Dia tinggal di jalan berikutnya tetapi dekat kami di Tel Aviv. memiliki pangkal paha pengganti, dan punya anak laki-laki di angkatan laut.”
“Yang ini Piet Jansen.”
“O dia, aku tak kenal.” Ben-Roi mengangguk dan melirik jam tangannya. Ia mengajukan sedikit lagi pertanyaan Apa Nyonya Schlegel memiliki musuh yang ia kenal? Ada minatnya yang tidak biasa? Apa ada tetangga lain yang mengenalnya dengan baik?” tetapi perempuan itu tidak dapat lagi memberikan informasi lebih banyak.
Akhirnya, merasa bahwa ia telah melakukan sebanyak yang dapat secara nalar diharapkan, Ben-Roi pun kemudian melipat lembar catatannya, mengembalikan pulpen itu pada vasnya di lemari dan mengatakan bahwa ia tidak akan mengganggunya lebih jauh lagi.
Perempuan itu menyarankannya untuk menghabiskan jus jeruknya “Bila kau tidak minum kau akan dehidrasi.” mengantarnya pulang melalui flat dan keluar menuju aula gedung.
“Kau tahu, aku bahkan tidak dapat membayangkan di mana mereka menguburnya,” kata perempuan tua itu ketika ia mem buka pintu depan. “Selama dua puluh satu tahun kami hidup bertetangga, aku bahkan tidak tahu di mana makamnya. Bila kau mengetahuinya, maukah kau memberi tahuku? Aku hanya ingin mengucapkan kiddush untuknya pada yahrzeit-nya. Perempuan malang.”
Ben-Roi bergumam sesuatu yang tidak jelas dan, berterima kasih padanya, kemudian melangkah menuju jalan. Setelah beberapa langkah, ia membalikkan badan.
“Satu hal terakhir. Anda tidak tahu apa yang terjadi dengan harta milik Nyonya Schlegel, ’kan?”
Perempuan tua itu menengok ke arahnya. Alis matanya sedikit naik seolah ia terkejut dengan pertanyaan tersebut.
“Semuanya terbakar, tentu saja.”
“Terbakar?”
“Dalam kebakaran. Kau pasti mendengar tentang kebakaran itu.” Ben-Roi menatapnya.
“Pada hari setelah kematiannya. Atau dua hari ya? Beberapa anak-anak Arab memanjat pipa air di belakang, menuangkan minyak pada apa saja dan membakarnya. merusak lahan. Andai si tua Stern tidak menyalakan alarm, seluruh blok akan terbakar habis.” Ia menggelengkan kepalanya. “Perempuan malang. Telah berhasil menyelamatkan diri dari kamp, dan kemudian hidupnya berakhir dengan cara seperti itu, terbunuh, rumahnya dirusak. Dunia macam apa yang kita tinggali ini, aku bertanya padamu. orang-orang terbunuh, anak-anak dikirim ke militer. Dunia macam apa?”
Ia mendesah panjang dan, sembari mengangkat tangan tanda berpisah, menutup pintu, meninggalkan Ben-Roi berdiri di jalan, alisnya yang menonjol berkerut, mengernyit dalam dan tak pasti, seperti tanda kerukan yang menggores lereng bukit berbatu.
*****_____*****
Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
By the way, Enjoy it
Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta
Thanks in Advanced
__ADS_1
Best Regards
*****