Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
CANDELABRUM IUDAEOURUM


__ADS_3

“YALLA, YALLA. AYOLAH. DI MANA KAU?” Layla melirik jam tangannya, menyadari bahwa setiap menit akan membawa si Israel itu semakin dekat. Ia kemudian melangkah kembali ke dalam kabut bayangan di tepi Gereja Makam Suci, denyut jantungnya terasa memberi getaran ke seluruh gedung seolah seseorang menghantam landasannya dengan palu besi yang berat.


Layla tak habis pikir bagaimana detektif itu bisa mengetahui tentang surat yang dikirim kepadanya, yang berisi permintaan bantuan untuk mengontak Al - Mulatham, Dieter Hoth, siapa pun. Pada saat ini hal itu tidak relevan. Yang dia tahu dia tahu sejak pertama melihat laki-laki itu dia berbahaya, lebih berbahaya daripada orang Israel mana pun yang pernah dia temui, kecuali mungkin Har - Zion. Itulah sebabnya Layla berbohong padanya. Itu sebabnya dia lari (ketika itu, Layla melihat BMW yang terparkir di luar, mobil yang sama dengan yang dia lihat beberapa kali sebelumnya mengawasi apartemennya larut malam). Itu pula sebabnya dia datang kemari untuk menemui laki-laki Yahudi itu, yang kali ini merupakan kesempatan melelahkan terakhir untuk menyibak sinar terang pada apa yang telah ditemukan William Relincourt di bawah lantai gereja. memang kemungkinannya kecil. Laki-laki tua itu hampir saja gila atau pikun. Bisa jadi juga kedua nya. Ini satu-satunya kesempatan yang tersisa. Dia harus menemukan apa yang dicarinya disini. Paling tidak berikan sedikit petunjuk untuk dirinya....


“Ayolah,” ia mendesis, menghantamkan kepalan tangannya pada pilar gelap di sebelahnya. “Ayolah! Di mana sih kau?” Dua puluh menit berikutnya telah berlalu menit-menit yang amat pelan dan menyakitkan, pengharapan menggelisahkan penuh penyiksaan. Dia sudah melakukan apa saja kecuali menyerah pasrah, yakin bahwa laki-laki tua itu tidak akan datang, ketika akhirnya, dari sisi ujung gereja, sepertinya dia mendengar suara yang sudah ditunggunya dengan penuh harap irama klak tongkat dari kejauhan.


Laki-laki tua itu memasuki Rotunda dan, seperti yang sudah dia mulai sebelum Layla melihatnya, berjalan menuju kubus Aedicule yang tertutup. Ia mengeluarkan Yarmulke dan kitab Taurat kecil dari jaketnya dan mulai berdoa, tubuhnya bergoyang, suaranya yang lembut dan terputus-putus mengambang ke kubah di atas seperti suara dedaunan yang berbisik dalam embusan angin. Layla tetap berada di tempatnya sampai pak tua itu selesai sembahyang, memerhatikan dan menunggunya; kemudian, ketika ia kembali mengenakan topi kepalanya dan memasukkan buku doa ke dalam sakunya, Layla melangkah dari bayangan itu dan, sembari melihat gerbang gereja dengan tatapan gugup, berjalan menuju laki-laki tua kemudian dengan lembut menyentuh sikutnya.


“Permisi.” Laki-laki tua itu menoleh dengan goyah seperti mainan jam yang mekanismenya masih lengkap tetapi tak berfungsi.


“Aku ingin bertanya apakah aku bisa berbicara denganmu perihal laki-laki bernama William De Relincourt. Salah satu pendeta di sini mengatakan Anda mungkin mengetahui sesuatu tentang dirinya.” Dari dekat, orang tua itu tampak lebih renta daripada kelihatannya dari jauh. Tubuhnya bungkuk, wajahnya begitu kisut sehingga tampak seolah satu sentakan kecil saja akan menyebabkannya terburai dan hancur. Bau tidak menyenangkan dan sedikit membuat mual tercium dari dirinya, baju yang tidak dicuci bercampur dengan sesuatu yang lebih pekat, lebih elemental bau kemiskinan, kegagalan, kerusakan. hanya matanya yang terlihat ingin mengatakan kisah berbeda, karena walaupun tampak layu dan merah karena sakit, mata itu juga peka, mengesankan bahwa jika pun tubuhnya mengembara entah kemana, tapi pikirannya tidak.


“Tidak lama,” Layla menambahkan, sambil mengamati pintu masuk dengan cemas. “Hanya beberapa menit saja. Lima menit paling lama.” Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa, hanya memandangnya, dengan mulut terbuka separuh seperti sobekan pada kulit yang sudah terpakai. Ada suasana diam yang menggelisahkan, satu-satunya suara adalah bunyi desis dan kepakan sayap burung karena jauh di atas mereka seekor burung dara terbang berputar di dalam kubah Rotunda yang bercat putih dan emas; kemudian, dengan dengusan dan gelengan kepala, laki-laki tua itu berbalik dan menjauh. Layla menduga laki-laki itu tidak mau berbicara padanya dan hatinya remuk. Tetapi ia terkejut dan lega, alih-alih berjalan menuju gerbang gereja, ia malah melangkah mendekati kursi tempat Layla duduk dengan Bapak Sergius empat hari lalu. Ia duduk di situ, dan memberi tanda agar Layla mendekat padanya. Layla melihat ke pintu masuk, kemudian duduk di sebelahnya.


“Kau perempuan Arab itu, ’kan?” tanyanya begitu ia duduk dengan tenang, bertumpu pada tongkatnya. Suaranya pecah dan bimbang, seolah-oleh terdengar dari percakapan sambungan telepon yang kurang sinyal. “Si Jurnalis.” Layla mengakui bahwa, ya, ia memang seorang jurnalis.


orang tua itu mengangguk. “Aku tahu pekerjaanmu.” Sejenak kemudian, “Omong kosong. Dusta, Pengkhianatan, Antisemit. membuatku muak. Kau membuatku muak.” Ia menengok ke arah Layla, kemudian melengos lagi, menjatuhkan tatapannya di lantai.


“Walaupun sebenarnya, tidak sebanyak aku muak pada diriku sendiri. Onesh Olamku, hukuman abadiku: hidup di dunia ketika satu-satunya orang yang mau mendengarkan apa yang harus kukatakan adalah dia yang kepadanya aku justru tidak ingin mengatakan hal itu.” Laki-laki itu tersenyum tipis, ekspresi yang entah bagaimana menggambarkan ketidaksenangan, dan sambil membungkuk ke depan, memukulkan tongkatnya pada barisan semut yang berjajar di sepanjang ujung patahan pada batu lantai.


“Selama enam puluh tahun aku mencoba mengatakan pada mereka. menulis surat, membuat perjanjian. Tetapi mereka tidak mau mendengarkan. mengapa mereka harus mau, setelah apa yang kulakukan? Barangkali bila aku memiliki sesuatu aku dapat memperlihatkan pada mereka ... tetapi aku tak punya. hanya kata-kataku saja. Dan mereka tidak mau dengar. Tidak setelah apa yang kulakukan. Jadi mungkin aku harus bersyukur dengan minatmu, walaupun aku ragu apakah kau akan memercayainya. Tidak tanpa bukti. Dan memang tidak ada bukti. Tidak ada foto, tidak ada jejak, tidak ada apa-apa. Sesuatu yang tak berdaya. Hoth merahasiakan mengenai tanah itu.” Layla sudah sampai pada titik untuk menginterupsi monolog yang bertele-tele ini, ingin membawa percakapan kembali ke William De Relincourt, sambil ketakutan bahwa kapan saja si polisi Israel itu akan datang ke gereja dan menahannya. Komentar terakhir ini menghentikannya dari jalurnya. Ia memutar duduknya, ketakutannya menghilang begitu perhatiannya terfokus lagi, seperti laser, pada apa yang baru saja dikatakan laki-laki tua ini.


“Kau kenal Dieter Hoth?”


“Hmmm?” laki-laki itu masih asyik memukul-mukulkan tongkatnya pada barisan semut. “Oh, ya. Aku pernah bekerja untuknya. Di mesir. Iskandaria. Aku adalah ahli prasastinya.” Sesaat Hoth dan timnya sedang menggali di mesir, di situs di luar Iskandaria; saat berikutnya ia tergesa terbang ke Berlin untuk sebuah pertemuan penting dengan Himmler. Perut Layla mengencang begitu ia mengingat kata-kata Jean-Michel Dupont. Laki-laki ini pasti mengetahui sesuatu. Tuhanku, ia mengetahui sesuatu. Kecuali ...


“Aku pikir Hoth itu antisemit. mengapa dia mau....”


“Mempekerjakan seseorang seperti aku?” lagi-lagi mulut laki-laki tua ini menyeringai, jari-jarinya mengatup dan membuka pada ujung tongkatnya. “Karena dia tidak tahu aku Yahudi, tentu saja. Tidak satu pun yang tahu Jankuhn, Von Sievers, Reinerth. Tidak satu pun dari mereka. Tidak pernah curiga. mengapa mereka harus tahu aku adalah pembenci Yahudi terbesar di areal itu?” Ia mendesah, suara tipis dan putus asa keluar dari dalam dirinya seperti udara yang keluar dari balon, dan duduk sambil bersandar pada pilar di belakangnya, menatap kubah itu lagi.

__ADS_1


“Aku mengelabui mereka semua. Setiap dari mereka. Cerdik sekali. Pergi ke rapat umum, menyanyikan beberapa lagu, ikut-ikutan membakar buku. Nazi kecil yang sempurna. Dan kau tahu kenapa? Ia mengernyit. “Karena aku senang sejarah. Ingin menjadi arkeolog. Kau percaya itu? Belah dadaku karena aku ingin menggali lubang di tanah. Dan sebagai seorang Yahudi aku tak memperoleh kualifikasi yang diperlukan, tidak seperti yang berlaku pada masa itu. Jadi aku berhenti menjadi seorang Yahudi dan menjadi salah satu dari mereka. mengubah namaku, membuat dokumen palsu, bergabung dalam partai Nazi. mengkhianati semuanya. Karena aku ingin menggali lubang di tanah. Apa mengherankan kalau mereka tidak mau mendengarkanku? Seorang Yahudi yang membalikkan punggungnya untuk orang-orangnya sendiri. Seorang Moser. heran?” Ia menatap Layla, matanya lembab, kemudian kembali mengalihkan pandangan. Layla melihat laki-laki itu begitu marah, sadar bahwa seharusnya dia melangkah secara hati-hati. “Bukan saatnya; memang bukan saatnya.”


“Apa yang terjadi di Iskandaria?” tanyanya, mencoba namun gagal menyembunyikan kegentingan yang terdengar dalam suaranya. “Apa maksud Anda ketika Anda mengatakan bahwa Anda tidak memiliki foto atau jejak?” Dia tidak menjawab, hanya menatap pada sinar terang matahari yang menyorot dari langit pada sumbu kubah di atas, seperti tali emas yang tebal.


Layla diam sejenak, kemudian, lebih berasal dari insting daripada dari pikiran jernih yang mungkin dapat menolong situasi, ia menambahkan, “Aku tahu seperti apa. Bohong itu. Kesendirian. Aku mengerti. Kita sama dalam hal ini. Tolong bantu aku. Tolong.” Dari belakang mereka terdengar teriakan dan suara langkah kaki bergegas yang membuat Layla menoleh. Ternyata hanya beberapa pendeta Jacobit Suriah yang sedang bergegas untuk bersembahyang, jubah hitamnya berkibar di sekitar mereka seperti sayap, dan Layla segera membalikkan badannya lagi. Si laki-laki tua itu sedang memandangnya langsung. Ia terus menatap, matanya seperti mendorong mata Layla, bibir bawahnya agak bergetar sedikit. Kemudian keheningan yang hampir tak tertahankan.


“Empat November.” Nyaris tidak terdengar.


“Maaf?”


“Itulah saat kami menemukannya. Inskripsi itu.” Suaranya begitu rendah sehingga Layla harus memajukan tubuh nya ke depan agar bisa mendengar apa yang dia katakan.


“Enam belas tahun pada hari setelah Carter menemukan Tutankhamun. Ironis, bila kau memikirkan hal ini dalam-dalam: dua temuan terbesar dalam sejarah arkeologi terjadi pada tanggal yang sama. Walaupun penemuan kami adalah yang terpenting dari keduanya. Jauh lebih penting. hampir membuat semua kebohongan dan penghianatan sepadan, ada di sana.” Kemudian ada keriuhan lagi di belakang mereka, suara manusia, langkah kaki pada batu dan sekelompok turis memasuki Rotunda, semua berpakaian Kaos warna kuning yang sama. Layla hampir tak memerhatikan mereka.


“Ya,” laki-laki tua itu bergumam, “Hampir membuat kebohongan itu setimpal. hampir. Tidak cukup.”


Ia bergumam dan, sambil mengangkat tangannya yang gemetar, menghapus sudut mulutnya tempat sekumpulan kecil air ludah berkumpul di sudut antara bibir atas dan bawah.


“Ia menandai penyempurnaan dan pengabdian terhadap Gereja makam Suci,” lanjutnya. “Gereja ini. menggambarkan peralihan Konstantin memeluk agama Kristen, persembahan darinya untuk Tuhan yang sejati, penolakannya atas semua keimanan yang lain. hal yang biasa. Tidak ada yang luar biasa. Kecuali untuk bagian terakhir. Bagian terakhirnyalah yang penting.”


Turis dalam seragam Kaos kuning telah berkumpul di depan Aedicule tempat pemandu wisatanya sedang menjelaskan sejarah gereja itu. Salah satu dari mereka, seorang laki-laki muda dengan rambut gondrong sebahu, sedang memotret dengan telepon genggamnya, yang mengeluarkan suara denging setiap kali ia memotret.


“Awalnya kita tidak akan percaya,” laki-laki tua itu berbisik, kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan. “Lukhnos megas, candelabrum iudaeorum. Kita pikir kita pasti salah menerimanya, bahwa itu merujuk pada sesuatu yang lain. Terlalu sulit dipercaya. Semua orang mengira benda itu disimpan di Roma. Gaiseric dan para perusak itu telah membawanya pergi pada 455 ketika mereka merampok kota.” Layla menggigit bibirnya, bingung. “Aku tak mengerti. membawa apa? Apa maksud Anda?” Tampaknya laki-laki itu tak mendengar apa kata Layla.


“Dua ratus lima puluh tahun ia ada di sana, dalam Templum Pacis, atau Kuil Perdamaian. Sejak Titus membawanya kembali dari reruntuhan Yerusalem. Titus mengambilnya dari Yerusalem, dan dua setengah abad kemudian Konstantin mengembalikannya.


Itulah yang dikatakan dalam inskripsi itu. Itulah sebabnya ia begitu luar biasa. Inskripsi itu mencatat bagaimana ia dibawa dari Roma dan dipendam dalam kamar rahasia di bawah lantai gereja Konstantin yang baru, sebagai persembahan bagi Tuhan yang sejati, simbol sinar Abadi Kristus.” Ia menjulurkan tangannya yang gemetar.


“Tepat di sana, terletak di sana. Di sana di depan kita. Selama delapan ratus tahun. Tersembunyi. Terlupakan. Sampai William De Relincourt menemukannya. Aku telah mencoba mengatakan pada mereka. mengatakan pada mereka ketika aku mengubah diriku lagi di akhir perang, mengatakan pada mereka selama interogasi, dan terus mengatakan pada mereka. Tetapi mereka tidak akan memercayaiku, tidak setelah apa yang kulakukan, tidak tanpa bukti apapun. Dan memang tidak ada bukti. Hoth menyimpan semuanya. Ia di sana, tepat di depan kita.”

__ADS_1


Layla hampir tidak dapat mengendalikan rasa putus asanya. orang tua ini sangat berbelit-belit.


“Ada apa?” ia mendesis. “Apa yang tersimpan di sana di depan kita? Apa yang dipendam oleh Konstantin di bawah gereja?” Laki-laki itu membuka matanya dan memandang Layla.


Terdengar suara denging ketika si turis berambut gondrong mengambil gambar dengan telepon genggamnya.


“Aku sudah katakan. Candelabrum iudaeourum. Lukhnos megas. Lukhnos iudieown.”


“Tapi aku tak mengerti!” Suaranya seperti mengisi seluruh Rotunda, menyebabkan beberapa turis menengok ke arahnya.


“Apa sih itu? Aku tak mengerti!” Si laki-laki tua itu tampak terkejut oleh semangatnya yang berapi-api. Kemudian diam sesaat. Lalu secara perlahan ia menjelaskan.


“Oh Tuhan,” ia berbisik ketika laki-laki itu selesai bercerita. Ia tetap pada posisinya untuk sesaat lamanya, terlalu terkejut untuk dapat bergerak. Kemudian, matanya terpaku pada seorang laki-laki dengan telepon genggam, ia segera bangkit dan bergerak cepat menuju ke arah laki-laki itu.


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards

__ADS_1


*****


__ADS_2