Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PERTEMUAN RAHASIA I


__ADS_3

Khalifa mengedipkan matanya. Ia sedang berdiri di ruang sederhana yang rendah dinding batu, lantai beton kosong, atap seng bergelombang dengan meja kamp yang dapat dilipat, dan pada meja, sepasang lampu minyak, yang terakhir ini menyinari ruang dengan sinar oranye berat, tebal dan menyala terang. Di depannya tiga orang laki-laki sedang duduk di kursi berlengan yang buruk. Orang keempat sedang berdiri di sudut yang jauh dari ruang, bersandar pada dinding, wajahnya tertutup bayangan. Udara begitu lembab dengan bau obor kerosin dan asap rokok.


Lega itu adalah reaksi spontannya. Rasa gembira yang menggelora bahwa apa pun tujuan dirinya dibawa ke sini, jelas tidak untuk dibunuh. Hampir secara instan ia juga terkejut, karena orang yang telah memanggilnya, salah satu laki-laki yang duduk di kursi berlengan, tidak salah lagi dengan kacamata tebal persegi dan rambut abu-abu perak, tidak lain adalah Ahmad Gulami, Menteri luar negeri negaranya. Khalifa membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, bertanya tentang apa yang sedang terjadi, tetapi saking terkejutnya, dan terpesona, sehingga tidak ada kata yang keluar, dan setelah sesaat ia menutupnya lagi. Keheningan di antara mereka semakin lama. Keempat laki-laki itu memandanginya. Satu-satunya suara adalah desis lembut dari lampu dan, di luar, suara derik daun jendela dari besi. Kemudian Gulami menggerakkan tangannya ke arah termos yang terletak di meja di dekatnya.


“Mari silakan, inspektur, nikmati tehnya,” ia mengulang. “Aku menduga kau pasti membutuhkannya setelah perjalanan jauh ini. Dan bila kau dapat menutup pintu itu ... ini malam yang dingin.” Dalam keadaan ling-lung, Khalifa mendorong pintu kemudian berjalan mendekati meja dan mengisi cangkir Styrofoam dengan air dari termos. Begitu ia selesai, Gulami memberi isyarat padanya untuk duduk di kursi kanvas yang rendah di sisinya. Laki-laki yang berdiri tetap berada di tempatnya; dua yang lain menggeser kursi mereka sehingga berhadapan dengan Khalifa secara langsung.


Yang termuda di antara mereka laki-laki tampan dalam usia akhir tiga puluhan, dengan rambut hitam dan Keffiyeh merah putih menyilang di bahunya telah dikenal oleh si Detektif: Sa’eb Marsudi, aktivis Palestina yang kemudian menjadi politikus, seorang pahlawan yang tidak untuk orang-orangnya saja tetapi, setelah kepemimpinannya pada Intifada Pertama kembali pada akhir 1980-an, untuk kebanyakan dari dunia Arab juga (Khalifa tetap ingat citra televisi seorang Marsudi yang menjadi ikon, terbungkus dalam bendera Palestina, berlutut dan berdoa di depan barisan Tank canggih Israel). Yang lain, laki-laki yang lebih tua tinggi badan sedang, kurus jangkung, dengan tutup kepala putih, rokok terjepit di antara giginya, pada pipi kanannya ada codet berbentuk sabit melengkung mulai dari matanya sampai ke dagu laki-laki ini juga pernah dilihat Khalifa, walaupun awalnya dia tidak ingat di mana tepatnya. Hanya setelah beberapa detik ia ingat bahwa dia melihat wajahnya di Vila Piet Jansen, pada malam pertama ia mengunjungi rumah itu, dalam gambar di sampul depan majalah Time. Masan, Maban? Yang seperti itulah. Seorang politikus.


Ataukah seorang serdadu? orang Israel, pastinya. Sosok keempat, yang sedang berdiri, dia tidak dapat mengenalinya, walaupun ada sesuatu tentang dirinya garis tubuh yang seperti beruang dan bergerak lambat, wajah dengan tulang menonjol, cara dia meneguk minuman dari botol perak yang dia pegang yang Khalifa tidak suka. Kejam, begitulah kesan awalnya. Dan mabuk pula, dari tampangnya. menjijikkan. Ia menatapnya untuk sesaat, kemudian mengalihkan pandangan dan meneguk tehnya.


“Jadi,” kata Gulami, sambil menarik Tasbih berwarna kekuningan dari saku jaketnya dan mulai berkata pada mereka....


“Sekarang kita semua ada di sini. mari kita mulai.” Ia menoleh pada Khalifa.


“Pertama, inspektur, aku harus menekankan kerahasiaan absolut dari apa yang akan kau dengar malam ini. Kerahasiaan absolut. Anggap kau tidak pernah dibawa ke tempat ini. Kau tidak melihat orang-orang ini. Pertemuan ini tidak pernah terjadi. Apa cukup jelas?” Kepala sang detektif penuh dengan pertanyaan yang ingin diajukan, dan beberapa komentar tentang bagaimana ia diperlakukan. Namun dia tidak ingin mengeluh tentang mereka di depan seseorang yang begitu berkuasa seperti Menteri luar negeri negaranya, dan hanya bergumam sederhana “Ya, Pak”. Gulami menatapnya tajam, tasbih yang digerakkan oleh jari-jarinya menimbulkan suara klik lembut, kemudian, dengan anggukan, ia menyandarkan punggung dan menyilangkan kakinya.


“Sa’ib Marsudi, aku yakin, tak perlu kuperkenalkan lagi.” Ia menunjuk laki-laki dengan Keffiyeh menyilang di bahunya, yang kemudian menganggukkan kepala pada Khalifa. Tangannya, Khalifa perhatikan, menutup begitu kuat sehingga buku-buku jarinya terlihat seperti akan pecah melalui kulitnya.

__ADS_1


“Mayor Jenderal Yehuda Milan,” Gulami melanjutkan, mengangguk ke arah si perokok cerutu, “Adalah salah seorang serdadu terkemuka di negerinya, sekarang salah seorang politikus yang paling dihormati di sana. Salah seorang politikus cerdas dan juga berani.” Milan juga mengangguk kecil ke arah Khalifa, sembari mengisap rokoknya perlahan.


“Detektif-Inspektur Arieh Ben-Roi” Gulami menjentikkan tasbihnya ke arah sosok yang sedang berdiri di sudut ruang “Aku yakin kau sudah tahu.” Agak kurang sopan, Khalifa separuh mengangkat tangan dalam memberi salam, sebal dengan dirinya sendiri karena tidak menerka identitas laki-laki itu lebih dahulu. Ben-Roi tidak bereaksi untuk membalas gerakan Khalifa, hanya memandangnya dari balik bayangan, ekspresinya jelas bermusuhan.


“Biarkan aku mengulangnya, inspektur,” Gulami melanjutkan,


“Apa yang kau dengar malam ini tidak akan keluar lebih jauh dari empat dinding ini dan di dalam kepalamu. Ada urusan yang sangat besar, lebih daripada yang mungkin kau sadari, dan aku tak akan membuatnya terancam bahaya dengan pembicaraan yang bebas. Apa ini dimengerti?”


Khafila menggumam “Ya, Pak” lagi, tidak sabar untuk mengetahui inti semua ini. Namun dia menyadari bahwa ini bukan saatnya bertanya, bahwa apa pun alasan untuk kehadirannya di sini itu akan terungkap sesuai kehendak Gulami, bukan kehendaknya.


Menteri luar negeri ini memandangnya melalui kacamata berbingkai hitam dan berat, kemudian menoleh pada Milan dan Marsoudi, yang keduanya menggerakkan kepalanya ke atas secara tipis seolah berkata, “Ok, ceritakan saja padanya.”


Dia masih selalu khawatir akan dicuri dengar. “Selama empat belas bulan terakhir Pemerintah Republik Arab Mesir telah menyediakan bangunan ini untuk Sa’id Marsudi dan Mayor Jenderal Milan sebagai lingkungan yang aman dan netral, tempat mereka bertemu dan berbicara, jauh dari sorotan media dan tekanan situasi politik domestik mereka. Keduanya telah menghabiskan hidup mereka berjuang untuk bangsanya masing-masing, keduanya telah menderita kehilangan personal demi untuk orang-orang itu” Milan menggeser duduknya, melempar pandangan ke arah Ben-Roi” keduanya telah, secara independen, mencapai kesimpulan bahwa orang-orang yang sama itu mengalami katastrofa kecuali mereka dapat menemukan cara yang sama sekali baru dalam berinteraksi dengan sesamanya, jalur yang berbeda untuk ditapaki. Tujuan mereka di sini adalah: mencoba menempa jalur yang berbeda itu; Mengembangkan proposal untuk tetap bersemangat dan, Insya Allah, penyelesaian abadi atas konflik yang telah merusak tanah mereka sekian lamanya.” Apa pun yang telah diharapkan Khalifa, yang jelas bukan ini. Ia menggigit bibirnya, mata berpindah dari Gulami ke Marsudi ke Milan dan kembali ke Gulami, sensasi ketakutan yang samar terasa di belakang tulang rusuknya, seperti perenang yang telah menyadari bahwa ia terlalu jauh dari pantai, mulai menyadari bahwa ia bahkan sudah berada di kedalaman yang jauh dari yang dia bayangkan sebelumnya.


Mereka diam, kata-kata Gulami mengawang-awang di udara seperti gema yang terus ada di dalam gua yang dalam dan sangat jauh, kemudian Menteri luar negeri membuka tangannya ke arah Marsudi, mengundangnya untuk bicara. orang Palestina ini bergeser ke depan pada kursi kayunya.


“Aku tak ingin menghabiskan waktumu dengan menceritakan terlalu detail, inspektur,” katanya mengawali, matanya yang cokelat berkilat dalam kilau lampu kerosin. “Yang perlu kau tahu dalam misi ini adalah, bahwa dalam sejumlah pertemuan kami di sini lebih dari empat belas bulan terakhir kami, dan bukan tanpa kata-kata pahit aku pastikan itu ia melempar pandangan pada Milan menghasilkan sekumpulan proposal yang bertujuan lebih jauh untuk perdamaian, bersiap menerima risiko lebih besar, berkorban lebih banyak daripada yang pernah diperkirakan sebelumnya oleh masing-masing pihak kita.” Ada secangkir air di lantai di sebelahnya dan, ia mengangkatnya dan meneguk singkat.

__ADS_1


“Pahamilah, kita di sini hanya sebagai individu. Kita tidak mewakili pemerintahan, kita tidak memiliki pendukung resmi untuk pembicaraan ini, kita tidak memiliki otoritas legislatif untuk mengimplementasi proposal yang telah kita kembangkan. Yang benar-benar kita miliki tepatnya dikarenakan, seperti telah dijelaskan Tuan Gulami, kita telah menghabiskan perjuangan yang begitu lama untuk masing-masing alasan” lagi-lagi ia menjentikkan matanya pada si Israel “adalah keimanan dan kepercayaan mayoritas bangsa kita. Aku percaya, keimanan dan kepercayaan yang cukup bagi mereka untuk patuh dan mendukung gagasan-gagasan dari rekan sebangsa kita yang mana pun akan ditolak sebagai idealisme tanpa harapan atau pengkhianatan.” Di sebelahnya, Milan mengisap rokok cerutu, codet di pipinya terlihat semakin berkilau dalam keremangan seperti kristal tipis.


“Kita tidak memiliki ilusi,” kata si Isreal, melanjutkan wacana. Suaranya dalam, parau dan pelan bagai serangkaian not yang dimainkan pada kunci-kunci paling rendah dalam alat musik obo.


“Proposal yang kita rumuskan sangat kontroversial, akan menuntut pengorbanan besar sekali dari kedua pihak. Implementasinya akan penuh dengan penderitaan, konflik dan kecurigaan. Satu, dua, atau mungkin juga tiga generasi, adalah lamanya waktu yang diperlukan untuk menyembuhkan luka itu. Di samping itu, akan banyak pihak di kedua sisi yang menolak untuk bergabung dengan kita.”


“Namun demikian,” Marsudi menambahkan, mengambil alih pembicaraan, “Kita tetap berkeyakinan bahwa, bila kita dapat membujuk mayoritas masyarakat kita untuk menerimanya, maka proposal ini menawarkan yang terbaik, barangkali satu-satunya peluang solusi yang realistis dan tahan lama di tanah kita. Dan kita pun berkeyakinan bahwa ketika mereka melihat masing-masing kita berdiri bersisian bersama-sama, musuh bebuyutan yang sudah sekian lama sekarang bersatu demi perdamaian, maka mayoritas masyarakat kita akan terbujuk. harus dapat terbujuk, kasarnya. Karena dengan apa yang ada sekarang....” Ia mengangkat bahu dan diam. Milan mengisap rokoknya; Gulami menggerakkan butir tasbihnya; di sudut, Ben-Roi asyik dengan botolnya, kerut dalam menghiasi dahinya, entah karena ketidaksetujuan pada apa yang baru saja didengarnya atau karena pikiran lain di dalam kepalanya yang besar, Khalifa tidak tahu. Ia meneguk tehnya lagi, yang mulai mendingin, mengambil rokok dan menyulutnya. Lima belas detik berlalu, dua puluh.


“Aku tak mengerti,” katanya. Suaranya terdengar lemah, takut, seperti suara anak-anak yang ada di ruang yang penuh dengan orang dewasa. “Apa urusannya dengan Al-Hakim?” Untuk sesaat Gulami kelihatan bingung dengan komentar ini, kemudian mendengus, menyadari apa yang ada dalam pikiran Khalifa.


“Kau pikir....” Ia menggelengkan kepalanya. “Faruk Al-Hakim hanya kotoran tak beguna. Aib yang memalukan profesi dan negaranya. Kau telah banyak membantu kami dengan mengungkapkan apa yang telah dilakukannya. Kami tidak membawamu ke sini sebagai hukuman karena menyingkap rahasia kecilnya yang kotor.” Khalifa mengisap lagi rokoknya dengan gugup, mengembuskan asap hampir sebelum asap itu sempat masuk ke dalam paru-parunya.


“Jadi mengapa? mengapa Anda menceritakan semua ini padaku?” Gulami menatap matanya untuk sesaat, kemudian beralih ke Milan. Si Israel ini duduk pada kursinya, sambil menatap Khalifa. Ada jeda tak berkesudahan.


“Apa yang kau ketahui tentang Menorah, Inspektur?” akhirnya ia bertanya.


Lagi-lagi, ini mengagetkan sang detektif. Ia ragu, bingung, tatapan Milan tampak membakarnya.

__ADS_1


“Aku tak melihat apa....” Tangan Gulami menyentuh lengan, lembut tapi mantap, tekanannya mengindikasikan bahwa ia harus menjawab pertanyaan. Khalifa mengangkat bahu tak berdaya.


“Aku tak tahu. Itu ... ada di Kuil Yerusalem; hilang saat kota jatuh ke tangan bangsa Romawi....”


__ADS_2