Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
TOKO BARANG ANTIK


__ADS_3

Toko barang-barang antik Jean-Michel Dupont berlokasi di Jalan yang tenang dan berkelok-kelok di pusat Toulouse, hanya beberapa ratus meter dari ledakan dinding merah Basilique St. Sernin yang spektakuler, yang ujung menara loncengnya dapat dilihat di atas atap yang tertutup keramik, seperti mercusuar yang menjulang di atas laut dengan gelombang oranye berombak.


Seperti telah disepakati, Layla tiba pukul 1:30 siang. Setelah berhenti sejenak di depan toko, dengan jendela yang dipenuhi berbagai objek dan tanda yang sudah memudar yang mengumumkan LA PETITE MAISON DES CURIOSITES, ia membuka pintu kaca dan melangkah ke dalam, sebuah lonceng berdenting keras di atas kepalanya.


Dari bagian dalam toko itu tercium aroma asap rokok dan semir. Keadaannya penuh sesak oleh tumpukan berbagai benda yang membingungkan, segala sesuatu mulai dari furnitur sampai buku, lukisan sampai pecah-belah, porselen sampai ornament braso, walaupun pada akhirnya tumpukan koleksi itu tampak seperti alam militer. Ada boneka penjahit dengan pakaian seragam brokat; rak berisi topi pet dan helmet; dan pada satu dinding, diapit di kedua sisinya oleh beruang isian dan panel dari jendela kaca, berdiri sebuah lemari panjang penuh bayonet dan pistol.


“Vous désirez quelque chose?”


Seorang laki-laki bertubuh tambun muncul dari bagian belakang toko, berpakaian dengan bahan korduroi dan baju luar petani Breton tradisional. Rambutnya yang sebahu dan janggutnya yang seperti kambing dihiasi beberapa helai uban. Kacamata separuh lingkaran menggantung di lehernya dengan rantai emas; rokok yang baru terisap separuh terselip di antara jari-jari tangan kanannya yang bernoda karena nikotin. Dengan lemak menggelambir di bawah dagunya dan ekspresi murung, ia seperti anjing polisi yang besar.


“Monsieur Dupont?”


“Oui.” Layla memperkenalkan diri, berbicara dalam bahasa Prancis. Ia mengangguk mengenali dan, dengan menyelipkan rokoknya di sudut mulutnya, melangkah ke depan dan menjabat tangan Layla, membawanya keliling konter dan naik melalui tangga yang sempit dan berderit-derit menuju lantai satu. Ia berhenti di sana sejenak, menyelusupkan kepalanya lewat tirai manik-manik dan melakukan pembicaraan dengan seseorang di dalam ruang sana “Ibuku,” jelasnya, “ia akan menjaga toko sementara kita bicara” kemudian menuju lantai dua, tempat ia membuka pintu kayu yang berat dan membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya yang menempati seluruh lantai gedung. Rak buku menempel pada dua dinding, konter tempat kerja di dinding ketiga, yang dipenuhi peralatan Komputer hard-drive, layar monitor, key-pad, tumpukan disket dan CD. Pada dinding keempat, yang terjauh dari Layla, ada lemari pajang besar dengan kaca di bagian depannya sama seperti yang ia lihat di toko di lantai bawah.


Dupont bertanya apakah ia mau kopi, dan ketika Layla menjawab ya, ia berjalan menuju konter kerja dan mulai menyibukkan diri dengan ketel listrik. Layla menunggu di pintu; kemudian dengan rasa ingin tahu, ia mulai berjalan-jalan di sekeliling ruang, meneliti terlebih dahulu salah satu rak buku campuran antara manual dealer barang antik dan sejarah dari Rezim Ketiga (Third Reich) dan kemudian ke lemari yang ada di dinding sebelah sana.


Pada pandangan sekilas pertama sepertinya ruang ini berisi koleksi militer yang umum seperti yang dipajang di bawah, dan hanya beberapa saat setelah itu ia menyadari, dengan sedikit gemetar, bahwa sebenarnya toko ini menyimpan secara spesifik koleksi benda-benda Militer Nazi Medali, Bayonet, foto, benda-benda yang menempel pada seragam. Dalam satu rak tersimpan barisan Salib besi dengan pita merah, putih dan hitam; pada rak lain sebaris pisau belati, masing-masing dengan lencana kembar SS yang terdapat pada gagangnya dan legenda MEIN EHRE HEISST TREUE tertera pada bilahnya.


“Pisau belati kehormatan SS,” jelas Dupont, muncul dari belakang Layla dan memberikan padanya cangkir berisi kopi.


“Kehormatanku adalah kesetiaan.”


“Anda menjual barang-barang ini?” tanya Layla sambil menerima cangkir.

__ADS_1


“Tidak, tidak. melakukan itu di Prancis adalah melanggar hukum. Ini semata hobi pribadi. Anda tidak setuju?”


Ia mengangkat bahu. “Ini bukanlah sesuatu yang aku inginkan ada di rumahku. Dengan konotasi moral yang ada.” Ia tersenyum. “Minatku, aku meyakinkan Anda, murni adalah estetika. Aku tidak lagi bersimpati pada kegiatan Rezim Ketiga (Third Reich) daripada kolektor, katakanlah Artefak Romawi yang bersimpati dengan kelemahan peradaban dalam hal perbudakan dan penyaliban. Keterampilanlah yang menarik minatku, bukan ideologinya. Itu dan konteks sejarahnya. Bagaimanapun mereka semua adalah artefak penting. Bila Anda tahu lebih banyak tentang latar belakangnya, Anda juga akan tertarik.” Ia mengangkat bahu lagi, tidak yakin.


“Kau tidak percaya padaku? mari, aku perlihatkan sesuatu.” Ia membawa Layla ke ujung lemari saat lemari aman terpasang di dinding. Dengan memutar pemutarnya, ia membuka lemari itu dan mengambil kotak bujur sangkar kecil yang terikat dalam kulit hitam, mengangkat penutupnya dan memperlihatkan isinya kepada Layla. Di dalamnya, dalam balutan beludru, ada salib metal hitam dengan pegangan dari perak yang indah sekali dalam bentuk daun oak dan pedang bersilang berada di atasnya, yang terakhir ini dilapisi lagi oleh apa yang terlihat seperti berlian mungil.


“Salib Ksatria dengan Daun oak, Pedang dan Berlian,” ia menjelaskan. “Kehormatan militer Nazi Jerman yang tertinggi. Salah satu dari hanya dua puluh tujuh buah yang pernah dianugerahkan, dan hanya satu yang dianugerahkan untuk peran nonpertempuran. Ini lebih bernilai daripada seluruh koleksiku yang lain. Lebih daripada semua yang ada pada gedung ini bila dikumpulkan jadi satu. Mungkin juga lebih daripada gedung ini sendiri.” Ia jeda sejenak, kemudian menambahkan, “Penerimanya, aku yakin, pastilah menjadi alasan Anda datang ke sini hari ini.”


Layla mendongak, matanya membesar. “Bukan ... Dieter Hoth?” Ia mengangguk.


“Bagaimana bisa Anda mendapatkan ini?” Layla bertanya, sambil melangkah maju dan melihat medali itu.


“Cerita yang panjang dan membosankan,” jawabnya, sambal menggerakkan rokoknya. “Dan aku tidak ingin membuang waktumu dengan menceritakannya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa yang terpenting adalah, kini setelah kau tahu konteksnya, kau juga akan tertarik, meskipun kau tak ingin. fakta bahwa Hoth sendiri merupakan laki-laki yang sangat tidak menyenangkan, tidaklah penting. Anda tertarik akan kisahnya, dan karena itu tak pelak lagi juga tertarik akan material yang tersisa dari kisah itu. Pertimbangan moral tidak masuk dalam persamaan ini.”


“Jadi, apa sebenarnya yang secara pasti ingin kau ketahui tentang teman kita Dr Hoth?” ia bertanya, kepala miring ke satu sisi sembari membaca judul buku.


“Pada dasarnya, apa pun yang dapat Anda katakan padaku tentang apa yang dia lakukan di Castelombres,” jawab Layla, sembari meletakkan cangkir kopinya dan merogoh tasnya. “Menurut Magnus Topping, Anda telah melakukan banyak sekali riset tentang subjek itu.” Ia menarik buku catatannya dan pulpen, kemudian duduk.


“Aku juga ingin bertanya tentang catatan kaki dalam artikel yang Anda tulis untuk web, yang mengaitkan Hoth dengan laki-laki bernama William De Relincourt.”


Dupont mengangguk, sembari melanjutkan pencariannya dengan jari-jari tangannya pada punggung buku yang ada dalam rak sebelum akhirnya menarik satu jilid buku dan meniup debu di sampul mukanya. Ia membuka-buka lembar halaman, lalu menghampiri dan memberikan buku itu pada Layla.


“Dieter Hoth,” katanya, sambil menunjuk pada foto hitam putih yang kasar. “Salah satu dari sedikit gambar yang ada tentangnya.” Seorang laki-laki tinggi dan tampan sedang menatapnya, dengan pipi kurus, mata berwarna pekat serta hidung panjang dan melengkung. Ia berpakaian seragam pejabat Nazi dengan kilat berkait kembar yang bersinar pada kerahnya.

__ADS_1


“Hoth bergabung dengan SS?” tanyanya, terkejut.


“Ahnenerbe,” jawab Dupont. “Yang mungkin bisa kau sebut sebagai otaknya SS. Ia seorang arkeolog. Sangat pintar. mengepalai departemen Ahnenerbe mesir.”


Layla semakin terkejut. “Ia seorang pakar tentang mesir?”


“Seorang arkeolog mesir mungkin lebih tepat. Tetapi, ya, mesir adalah area spesialisasinya.”


“Jadi apa yang membuatnya melakukan penggalian di selatan Prancis?” Dupont terenyak, terdengar suara tenggorokan yang dalam seperti mesin mobil yang mulai menyala.


“Pertanyaan menarik. Dan yang belum pernah, sejauh yang kutahu, dijawab secara memuaskan oleh siapa pun.” Ia mengisap rokoknya untuk terakhir kali dan, sambil berjalan ke areal kerjanya, membuang rokok ke dalam asbak dan mengangkat tubuhnya ke sebuah kursi kayu yang bergerak-gerak. Dari suatu tempat di atas mereka terdengar dekur burung dara dan gesekan cakar pada keramik. mereka diam untuk waktu yang cukup lama.


“Untuk memahami karier Hoth, Anda harus menghargai sejauh mana Nazi terobsesi pada sejarah,” kata pria Prancis ini akhirnya. “Bagi Hitler dan teman-temannya, tidaklah cukup bila Rezim Ketiga harus menjadi kekuatan militer. Seperti semua rezim otoriter, dan menekankan mereka ingin melakukan pembenaran dan validasi kekuatan mereka dengan membungkusnya dalam aura legitimasi sejarah.”


Ia menarik timah datar kecil dari sakunya, dan mengeluarkan rokok berikutnya lalu menyulutnya.


“Dari paparan ini, arkeologi dan para arkeolog, memainkan peranan penting dalam proses itu. Himmler menyadari signifikansinya. Pada 1935 ia membangun Das Ahnenerbe, masyarakat Warisan Leluhur (Ancestral Heritage Society), Departemen khusus dalam SS yang bertanggung jawab dalam menemukan material untuk menyokong cita-cita supremasi bersejarah Jerman. ekspedisi dilakukan ke seluruh dunia ke Iran, Yunani, Mesir, Tibet.”


“Untuk menggali?”


“Sebagian, ya. Himmler ditunjuk untuk membuka bukti bahwa budaya Arya Jerman bukan saja terbatas pada Eropa utara melainkan juga pada kenyataannya merupakan kekuatan penggerak utama di belakang seluruh peradaban modern. Namun, Ahnenerbe juga mencuri. merampas dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. mengapalkan ribuan, puluhan ribu artefak, kembali ke Berlin untuk kemegahan yang lebih besar dari Rezim Ketiga. Jika mereka terobsesi dengan masa lalu, Nazi juga demikian ketika sudah sampai pada sisa-sisa masa lalu. Karena, tentu saja bila kau mengontrol sisa-sisa itu, kau akan mengontrol sejarah itu sendiri.”


“Dan Hoth?” tanyanya. “Bagaimana ia masuk ke dalam semua ini?”

__ADS_1


“Yahh, seperti yang kubilang, ia seorang arkeolog brilian. Ia juga pendukung yang setia dan antusias Partai Nazi, Ayahnya, seorang industrialis, Ludwig Hoth, adalah teman dekat Goebbels. Jadi, hanya masalah waktu saja sebelum Hoth junior diminta atau secara sukarela, kami tak yakin menggunakan keahliannya bagi keuntungan mesin Nazi. Ia baru berusia dua puluh tiga tahun ketika Ahnenerbe dibentuk, tetapi Himmler secara personal telah menunjuknya menjadi kepala di unit mesir, dengan ceramah singkat untuk menggali dan merampas sebanyak mungkin artefak Mesir kuno.” Dupont menarik rokoknya, menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajahnya untuk mengusir asap tembakau yang biru kelabu.


__ADS_2