Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PENGGALIAN YANG SIA-SIA


__ADS_3

Amplop itu sudah menunggu YUNIS ABU JISH Ketika terbangun pada saat subuh, diselipkan dari bawah pintu rumahnya, tanpa dia tahu siapa yang telah mengirimnya, bagaimana dan kapan. Di dalamnya terdapat catatan sederhana yang diketik, mengabarkan bahwa kesyahidannya akan terwujud dalam waktu enam hari kedepan. Pada pukul lima tepat di sore hari itu ia harus ada di luar telepon umum di sudut jalan Abu Tareb dan Ibn Khaldun di Yerusalem timur, tempat dia akan menerima perintah terakhir.


Dia membaca catatan itu tiga kali kemudian, seperti diinstruksikan, membawanya keluar menuju gang kecil dan kotor di belakang rumah dan membakarnya. Begitu kertasnya menggulung, menghitam dan menjadi abu, ia merasakan desakan yang tiba-tiba dari dalam perutnya. Terjatuh dalam posisi merangkak, ia pun muntah tak terkendali.


Tiga hari Kemudian


“APA ITU? APA YANG KAU TEMUKAN?”


Khalifa menyorongkan tubuhnya ke jeruji pagar beranda, suaranya begitu bersemangat.


“Kerangka sepeda, wahai inspektur.”


“Sialan! Kau yakin?”

__ADS_1


“Aku kira orang-orangku tahu seperti apa bentuk sepeda ketika mereka melihatnya.”


“Sialan benar!” Detektif itu membuang rokoknya yang baru separuh terbakar dan menginjaknya dengan ujung kaki, menggerutu kesal pada apa yang ditemukan terakhir ini. Di depannya, bersandar pada touria mereka di antara reruntuhan taman Dieter Hoth, rumpun bunga mawar yang tertata rapi dan halaman berumput yang halusnya kini acak-acakan dengan parit dan lubang, gundukan pasir dan lumpur di sana-sini, empat lusin kuli dalam djelabba yang penuh noda tanah. Tiga hari tiga malam mereka telah menggali, Gurnawis Fellaheen, kuli tani dari sejumlah desa di tepi barat Sungai Nil, penggali terbaik di mesir. Bila ada apa pun yang terpendam di kebun, merekalah yang mengeluarkannya. Namun kini mereka belum menemukan apa pun, hanya beberapa saluran pipa beton, sisa shaduf kayu tua, dan kini, bagian dari sepeda. Di mana pun Dieter Hoth menyembunyikan Menorah, sudah pasti tidak ada disana. Karena, jauh di lubuk hatinya, Khalifa selalu telah mengetahui akan seperti apa.


Ia mengamati kekacauan di depannya, kecewa dan lelah; kemudian, sambil menyulut rokoknya yang lain dia memberi tanda pada sang pemimpin pekerja agar mereka berhenti saja dan memberesi semua perkakas. Sang detektif kemudian berbalik dan kembali masuk ke vila. Di sini pun pemandangannya berantakan: separuh papan lantai mengelupas, tumpukan buku dan kertas tercecer di mana-mana, lubang-lubang terkelupas pada dinding dan langit-langit berplester putih sisa-sisa pencarian gencar selama tiga hari ini. Tiga hari pencarian sia-sia, karena di sini pun tidak ada yang ditemukan: tidak ada Menorah, tidak ada tanda-tanda di mana dia berada, bahkan tak seorang pun menyebut-nyebut tentang benda itu.


Berdiri di gang, dengan rokok terselip lunglai di bibirnya, dan mengamati sekeliling, Khalifa akhirnya mengakui bahwa dia telah sampai pada batas akhir. Kantor Jansen di hotel Menna-Ra yang merupakan permainan kata-kata Menorah, baru disadarinya sekarang rumahnya yang dulu di Iskandaria, bahkan Mercedes birunya: semuanya sudah diselidiki dan semuanya berbuah Mafeesh Haga nihil. Satu-satunya kemungkinan lain, yang disimpan oleh teman Hoth Inga Gratz ketika Khalifa mewawancarainya malam sebelumnya, untuk sesaat belum bisa diperjelas.


Khalifa tetap berdiam di vila itu selama dua puluh menit lagi, berjalan-jalan tanpa tujuan dari ruang ke ruang, tidak pasti apakah ia harus merasa lega bahwa ia telah mengerjakan apa yang ia bisa lakukan dan sekarang dapat meninggalkan tempat dengan kehormatan lengkap, atau kecewa karena ia belum memperoleh lebih banyak hasil. Kemudian, sambil mengamati sekeliling rumah, ia kembali ke stasiun, menelepon Ben-Roi dan melaporkan bahwa pencariannya gagal. Si Israel itu tidak merasa senang. Dari percakapan mereka selama beberapa hari terakhir kaku, kasar, monosilabel tampak jelas bahwa akhir dari penyelidikannya tidak akan lebih baik dari yang dihasilkan Khalifa. Waktu dan pilihan sudah semakin sempit, dan Lampu itu masih tersembunyi.


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"

__ADS_1


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards


*****

__ADS_1


__ADS_2