
Dalam perjalanan ke rumah dari kota tua, Layla berhenti di Hotel Yerusalem untuk sekadar minum dan sedikit makan makanan kecil dengan temannya, Nuha. Sebuah gedung dengan gaya Utsmaniyah yang manis dekat ujung bawah jalan Nablus, dimiliki dan dikelola oleh orang Palestina, dengan interior berlantai batu yang dingin dan teras depan yang ditutupi tanaman anggur, hotel ini merupakan bagian kehidupannya karena sejauh yang diingatnya, di sinilah ia bertemu Nizar Sulaiman, editor Al-Ayyam yang telah memberinya pekerjaan menulis pertamanya, di sini ia telah mengambil beberapa poin cerita terbaiknya, di sinilah ia kehilangan keperawanannya (usia 19 tahun, menyerahkan diri kepada jurnalis Prancis yang perokok berat, hubungan yang menggelisahkan dan gagal, meninggalkan perasaan ternoda dan bingung).
Dan tentu saja, di hotel Yerusalem itulah kedua orangtuanya pertama kali bertemu. Dan kalau percaya pada cerita ibu, keberadaan Layla sendiri juga sudah direncanakan.
“Malam itu banyak petir yang menakutkan,” ibunya pernah bercerita padanya. “Petir, kilat, hujan yang belum pernah kau lihat. Seluruh dunia sepertinya terpisah-pisah dengan sendirinya. Kadang aku berpikir itulah sebabnya kau seperti apa adanya sekarang ini.”
“Seperti apa, Bu?” Ibunya tersenyum, tetapi tidak berkata apa-apa.
Mereka, orangtuanya, merupakan pasangan yang tidak biasa, seorang perempuan Inggris yang senang tertawa dari keluarga Cambridgeshire kelas menengah dan seorang dokter introvert sepuluh tahun lebih tua yang setiap jam bermerknya didedikasikan untuk perawatan dan kesejahteraan teman - teman Palestina nya. Mereka bertemu pada 1972, di sebuah acara pertemuan untuk merayakan pernikahan seorang teman. Alexandra Bale, demikian ibu Layla dikenal saat itu, baru saja meninggalkan universitasnya dan bekerja sebagai guru sukarela di sekolah putri Yerusalem Timur, tidak pasti tentang apa yang ingin ia lakukan dalam kehidupannya. Muhammad faisal madani tinggal di Jalur Gaza, mengelola klinik medis di tenda pengungsi Jabaliya, yang bekerja 14 jam per hari, 7 hari seminggu, merawat penghuni perkemahan.
Terlepas, atau mungkin dikarenakan, latar belakang yang sangat berbeda, mereka cepat akrab. Ayah Layla terpukau oleh kecantikan perempuan muda itu; ibunya terhipnotis oleh intensitas laki-laki yang sudah lebih tua itu, juga ketenangan, dan kekuatannya. mereka mulai pergi bersama tak lama setelah berkenalan. Dan, setelah membuat ngeri kedua orangtua Alexandra, mereka menikah enam bulan kemudian, menikmati bulan madu satu malam di hotel Yerusalem sebelum membangun rumah di wilayah padat kota Gaza. Layla lahir 6 oktober 1973, hari ketika perang Ramadhan pecah.
“Suatu hari nanti anak ini akan melakukan hal besar,” ayahnya telah meramalkan, menggendong bayi perempuan yang baru saja lahir dengan dia sendiri yang membantu proses kelahirannya.
“Masa depannya dan masa depan bangsa kita akan terikat secara utuh. Suatu hari nanti setiap orang Palestina akan mengenal nama Layla Hanan Al-madani.” Sejak semula ia telah begitu mencintai ayahnya. mencintainya dengan sepenuh hati hingga nyaris menyakitkan saking dalamnya. Sementara itu, kenangan lain dari masa muda awalnya terfragmentasi dan membingungkan, kilasan buram dari orang-orang dan tempat serta bunyi-bunyian, perasaannya tentang ayahnya tetap cemerlang. Ia juga mencintai ibunya tentu saja rambut merahnya yang tidak teratur, matanya yang ceria, caranya yang tiba-tiba bernyanyi atau menari, membuat Layla tertawa geli. Bersama ibunya terjalin cinta yang lembut, hangat, sederhana, seperti sinar matahari musim semi, seperti belaian yang lembut. Dengan ayahnya, hubungan yang terjalin lebih dahsyat dan mendasar, dengan api afeksi pijar putih, tercurah padanya, emosi kehadirannya yang lebih jelas, membuat selain darinya emosi lain menjadi tidak signifikan.
Dia laki-laki yang baik, tampan, sabar, cerdas, dan kuat. Dia selalu ada untuknya, selalu membuatnya tenang dan aman. Ketika tank Israel melintas di jalan pada malam hari, Layla akan berlari menghambur kepada ayah dan dia akan memeluknya, mengelus dengan gerakan lembut pada rambutnya, mendendangkan lagu nina bobo dari bahasa Arab tua dalam suaranya yang dalam dan agak sumbang. Ketika anak lain mengejek warna kulitnya yang pucat dan matanya yang hijau, memanggilnya mongrel dan separuh kasta, ayah akan memeluknya dan menyeka air matanya sambil menjelaskan bahwa teman-teman sekelilingnya cemburu terhadapnya karena ia begitu cantik dan juga pintar.
“Kau gadis paling cantik di dunia, Laylaku. Jangan pernah lupakan itu. Dan aku laki-laki paling bahagia di dunia, karena kau putriku.” Begitu ia tumbuh dewasa, perasaannya tentang ayahnya semakin menguat. Pada tahun-tahun awal, Layla mencintainya semata karena ia adalah ayahnya, sosok yang selalu hadir menyanyikan lagu untuknya, membacakan dongeng dan mendandani mainannya. Namun, seiring berlalunya waktu dan perhatiannya yang meluas, ia mulai menghargai laki-laki itu dalam konteks yang lebih luas. Tidak hanya sebagai orangtua tetapi sebagai manusia, laki-laki yang tidak mementingkan diri sendiri, bersemangat, berani, yang telah mengabdikan diri untuk membantu orang lain.
Ia akan mengunjungi ayahnya di klinik ruang kecil dengan dinding berwarna putih dan lantai beton duduk di beranda ketika satu per satu pasien datang untuk menemui “el-dokter”. Sambil berpikir betapa istimewanya sang ayah, betapa pintar dan ajaibnya ia yang mampu membuat semua orang sembuh dan baik kembali.
“Dia laki-laki paling hebat di dunia,” begitu Layla menulis dalam buku harian pribadinya yang ia simpan saat itu, “karena ia selalu menolong orang lain dan tidak pernah takut. Dia juga hebat dalam memulihkan dan menyembuhkan orang. Dia pernah memberi Nyonya faluji obat cuma-cuma karena dia tidak punya uang, suatu perbuatan yang mulia.” Jika cintanya telah tumbuh dan semakin mendalam seiring berlalunya waktu, setiap hari terasa membawa aspek baru tentang ayahnya untuk dikagumi dan disegani, maka begitupun dengan sikap protektifnya terhadap sang ayah.
Dengan radar emosional intuitif dari masa kanak-kanaknya, ia telah merasakan bahwa terlepas dari senyumnya yang lebar serta memperlihatkan barisan gigi putih, dan cara tertawanya ayah adalah seorang yang tidak bahagia, terbebani tidak hanya oleh tekanan pekerjaan yang membuatnya terkuras, letih dan lebih cepat beruban, tetapi juga oleh tidak adanya harapan atas pendudukan, ketidakmampuan yang memalukan dengan hanya menonton kampung halamannya diambil sedikit demi sedikit dari bawah kakinya dan menjadi tak berdaya melakukan apa pun terhadapnya.
“Ayahmu adalah orang yang membanggakan,” suatu kali ibunya pernah berkata padanya. “Sangat menyakitkan baginya melihat masyarakat atau bangsanya menderita seperti ini. Teramat membuatnya sedih.” Sejak pertama kali dia menyadari rasa sakit ini, Layla memutuskan bahwa misinya adalah untuk membantu ayahnya. Sebagai anak-anak, ia bermain bersamanya, menggambar, menulis cerita tentang dokter yang menyelamatkan putri cantik dari serdadu Israel dengan senjata m16 (sudah lazim bagi anak-anak Palestina untuk mengetahui jenis senjata apa yang dibawa orang Israel bahkan sebelum mereka dapat mengetahui lokasi negeri mereka di peta). Kelak, ketika memasuki masa remaja, Layla mulai membantu nya melakukan pembedahan, membuatkan teh, membantu mengantar pasien keluar-masuk ruangan, menjalankan perintah-perintah bantuan, bahkan melakukan pekerjaan dasar medis.
“Mengapa ayah menjadi dokter?” begitu Layla pernah bertanya, ketika ia dan kedua orangtuanya makan siang bersama. Ayahnya berpikir cukup lama.
“Karena itu adalah cara terbaik menurutku untuk dapat melayani orang-orang kita,” akhirnya ia menjawab. “Tetapi, pernahkah ayah berkeinginan untuk bertempur melawan orang-orang Israel? Untuk membunuh mereka?” Ayah memegang tangannya.
“Bila orang Israel pernah mengancam orang yang kucintai maka ya, aku akan melawan. Akan ku lawan dengan segenap kekuatan yang ada padaku, sampai titik darah penghabisan. Tapi, aku tidak percaya bahwa kekerasan itu satu-satunya jalan, Layla, makanya aku membenci apa yang telah dilakukan Israel. Aku ingin menyelamatkan hidup, bukan mengambilnya.” Itu adalah sore hari di hari ulang tahunnya yang ke-15.
Beberapa saat kemudian, di malam yang sama, ia melihat orang yang paling dicintainya di dunia ini, manusia terbaik yang pernah ia kenal, diseret keluar dari dalam mobilnya dan dihajar dengan pemukul baseball hingga tewas. Makan siang itu tentu saja berlangsung di hotel Yerusalem.
__ADS_1
Sahabatnya Nuha sudah ada di sana ketika Layla tiba, duduk di meja di depan teras. Wajahnya terbenam ke dalam lembaran herald Tribune. Perempuan sintal dengan rambut tebal, sedikit lebih tua dari Layla, mengenakan kacamata berbingkai kawat dan kaus lengan pendek yang sangat ketat bertuliskan ‘HAK ORANG PALESTINA UNTUK PULANG’ TIDAK PULANG, TIDAK ADA PERDAMAIAN.
Layla muncul dari belakangnya dan membungkuk, mencium pipinya. Nuha menoleh ke samping, memegang lengan Layla dan menariknya untuk duduk di kursi, lalu memberinya surat kabar itu.
“Sudah lihat sampah ini?” Ia menunjuk pada berita utama, AS mengutuk pengiriman senjata untuk Palestina. Lawannya adalah berita: KONGRES MENYETUJUI 1 MILIAR DOLAR PENJUALAN SENJATA UNTUK ISRAEL
“Kemunafikan orang-orang kparat ini! Seperti lawakan garing.
Bir?” Layla mengangguk dan Nuha melambaikan tangan pada Sani si petugas bar.
“Jadi, bagaimana kabar di bawah sana?” tanyanya, mengangguk ke arah Kota Tua.
Layla mengangkat bahu. “Tegang, seperti yang kau perkirakan.
Har-zion mengadakan jumpa pers, semua omong kosong yang biasa tentang Tuhan dan Ibrahim dan betapa setiap orang yang mengritik Israel adalah pembenci Yahudi, Anti-Semit. omongannya bagus, kau harus memuji dia.”
“Begitu juga hitler,” kata Nuha, sambil menyalakan sebatang marlboro. “Apa mereka akan mengusirnya?”
“Tentu,” kata Layla. “Dan Sharon akan berdansa dengan laki-laki Bolshoi. Tentu saja mereka tidak akan mengusirnya.” Ada gelak tawa dari meja lain tempat sekelompok laki-laki dan perempuan bertampang Skandinavia pekerja NGO mungkin, atau diplomat muda sedang makan bersama. Di luar sana terdengar raungan mesin jip tentara Izuzu milik Israel yang sedang berjalan perlahan, seperti reptil raksasa. Sami datang dengan dua gelas Taybeh dan sepiring zaitun.
“oh, Tuhan,” kata Nuha “Jangan yang baru lagi. Di mana?”
“haifa. Baru saja ada dalam berita.”
“Al-mulatham?”
“Sepertinya begitu. Dua orang tewas.” Layla menggelengkan kepala.
“Antara dia dan Har-zion, mereka akan memulai Perang Dunia III.” Nuha menghabiskan birnya dengan satu tegukan panjang.
“Kau tahu yang kupikirkan,” katanya, sambil meletakkan kembali gelasnya di meja dan mengisap rokoknya.
“Aku rasa mereka bekerja sama. Lihat ini, semakin banyak orang di Al-mulatham yang membunuh, semakin besar dukungan yang diperloleh Har-zion. Semakin banyak Har-zion mendapat dukungan, semakin banyak alasan bagi Al-mulatham untuk membunuh. mereka saling membantu.”
“Kau tahu, kau mungkin memiliki sesuatu di sana,” kata Layla dengan tawa. “Barangkali aku akan menulis artikel.”
__ADS_1
“Yahh, tolong diingat saja di mana kau mendengar itu pertama kali, Nona. Aku tahu seperti apa kalian para jurnalis. Berita pertama terbesar dalam karirmu dan kau akan mengklaim semua kebanggaan itu untuk dirimu sendiri.” Lagi-lagi Layla tertawa. Ketika kebahagiaan terpancar di wajahnya, matanya tiba-tiba terlihat beralih entah ke mana, ke suatu lingkaran pikiran yang lain. “Laporan ekslusif terbesar dalam karir Anda.” Di mana ia mendengar frase itu baru-baru ini. Diperlukan waktu beberapa saat sebelum ia teringat bahwa itu adalah surat yang ia terima beberapa saat sebelumnya siang itu. Bagaimana bunyinya? Saya memiliki informasi yang dapat membantu Al-mulatham dalam perjuangannya melawan zionis penindas, dan berkeinginan mengontaknya. Saya yakin Anda dapat membantu saya.
Sebagai imbalannya, saya dapat menawarkan hal yang, sayayakin, akan menjadi laporan ekslusif terbesar dalam karir Anda. Semacam itulah. Ia telah mengabaikannya seperti lelucon atau tipu muslihat Shin Bet, dan hal itu tetap menyentaknya bahwa ini adalah penjelasan yang paling mungkin. Tetapi, kini setelah beberapa jam berlalu....
“Apakah inisial GR memiliki arti bagimu?” Layla tiba-tiba bertanya.
“maaf?”
“GR. Ada artinya inisial ini bagimu?” Temannya berpikir selama beberapa saat.
“Greg Rickman? Laki-laki dari Save the Children, yang naksir kamu?”
Layla menggelengkan kepala. “Dia tidak naksir aku. Ini menyangkut seseorang yang sudah tua, seseorang dari masa lalu.” Nuha kelihatan bingung.
“Lupakanlah,” kata Layla setelah beberapa saat, mengangkat gelas bir dan meneguknya. “Tidak ada yang penting. Bagaimana harimu?”
Temannya bekerja untuk organisasi yang memonitor pengambil-alihan tanah Israel di sekitar Yerusalem, dan dia tidak perlu di pancing lebih jauh untuk menceritakan dengan panjang lebar kisah petani tua yang kebun zaitunnya baru saja di buldozer IDf. Layla mencoba mendengarkan, tetapi pikirannya menggelana. Surat itu, Al-mulatham, ayahnya, makan siang terakhir yang mereka lakukan di hotel Yerusalem. Waktu itu benar-benar sore yang membahagiakan, hanya dia dan orangtuanya, semua tertawa bersama, berbincang, bertutur cerita. hanya beberapa jam kemudian ayahnya tewas.
“oh Tuhan, ayahku!” ia berteriak. Rambutnya berlumuran darah ayahnya. “oh Tuhan, ayahku yang malang!” Dan sejak itu segalanya berkembang dengan cepat.
*****_____*****
Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
By the way, Enjoy it
Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta
Thanks in Advanced
Best Regards
__ADS_1
*****