
Layla melintasi halaman teras di depan gereja makam suci, berhenti sejenak untuk memerhatikan pintu gerbang dengan lengkungan ganda berpilar marmer yang ramping, tegak dan berliku seperti pohon muda, sebelum menerobos masuk ke ruangan dalam yang redup dan besar. Tiga orang perempuan tua sedang berlutut di depan Stone of Unction, membuat tanda salib di dada mereka dan membungkuk ke depan untuk mencium permukaan batu yang berwarna merah jambu; di sisi kanannya, terdapat anak tangga dari batu menuju ke kapel berpenerangan lembut, situs tradisional salib Kristus. Dari dalam perut bangunan itu terdengar gema lagu, berbentrokan dan bergabung dengan himne yang sedang dinyanyikan di ruang lain dalam gereja sehingga seluruh ruang terasa berdenyut dengan hiruk-pikuk suara. Kelompok Armenia yang mengeluarkan suara gaduh lewat, dipimpin seorang pendeta dengan jubah panjang dan penutup kepala.
Untuk sesaat Layla menunggu tepat di dalam pintu masuk itu, kedua matanya menyesuaikan diri pada lampu yang samar, lubang hidung menghirup bau tajam, kemudian berbelok ke kiri dan berjalan ke ruang Rotunda dengan kubah besar yang mendominasi areal ujung barat gereja.
Pendeta ortodoks Yunani yang masih muda sedang mengepel lantai. Layla mendekatinya dan bertanya di mana ia dapat bertemu dengan Bapa Sergius, kontak yang diberikan Tom Roberts pada malam kemarin.
“Dia sedang makan,” kata pendeta itu dalam bahasa Inggris pasaran, sembari membuat gerakan makan dengan tangannya.
“Datang sepuluh jam.”
“malam ini?” Pendeta itu mengernyitkan alisnya, terlihat bingung, kemudian tiba-tiba tersenyum.
“Tidak sepuluh jam. Sepuluh....”
“menit?”
“Ya, ya. menit. Sepuluh menit.” Layla mengucapkan terima kasih dan, sambil meninggalkannya untuk melanjutkan pekerjaannya, memasuki satu tiang batu granit kokoh yang menyokong kubah Rotunda. Ia kemudian duduk di kursi batu di sebelahnya. Di depannya ada Aedicule, tempat pemujaan yang penuh ikon dan mencolok, menandai tempat dimakamkannya Kristus. Di belakangnya ada Katholicon, tempat paduan suara ortodoks Yunani yang mendominasi bagian tengah gedung, melebar ke arah timur, dikelilingi koridor, galeri, pintu dan tempat pemujaan yang bersinar redup, bebatuannya menghitam dan diperhalus oleh sentuhan pengabdian dan asap lilin selama berabad-abad.
Ia menatap sekeliling sebentar, memerhatikan arsitektur yang campur aduk dan membosankan, kerumunan turis dan jamaah, kemudian membuka tasnya dan mengambil buku catatan, menelitinya sebentar sampai ia menemukan catatan yang dia buat malam sebelumnya.
Pencariannya di internet telah menghasilkan ribuan halaman web yang memuat nama Willian de Relincourt, yang tentu saja kebanyakan tidak berkaitan dengan laki-laki yang sedang menjadi perhatiannya. Setelah menjaring sekitar seratus halaman web, barulah diperoleh bahwa, ketika ia menjadi subjek sebuah urusan spekulasi yang imajinatif, fakta keras tentang de Relincourt masih sedikit dan jauh. Yang sedikit diketahui memang, semua diketahui tampak berasal dari dua teks dari kronikel zaman pertengahan, keduanya diterjemahkan dan diproduksi kembali dalam sejumlah website.
Versi pendeknya, dari karya William dari Tyre, historian Rerum in Partibus Transmisionis Gesterum (The history of Deeds Done Beyond the Sea), ditulis kira-kira pada 1170, mencatat bagaimana
“Setelah mereka menaklukkan kota, para pejuang Perang Salib mendapati gereja (makam Suci) terlalu kecil, sehingga mereka membangun gedung tinggi yang kokoh pada bangunan gereja itu.
Awalnya William de Relincourt menangani pekerjaan ini, sampai ia berselisih dengan Raja Baldwin dan mengalami nasib yang menyedihkan. menara lonceng juga dibangun.” Teks kedua, lebih panjang dan lebih rinci daripada yang pertama, muncul dalam karya yang berjudul massoth Schel Rabbi Benjamin (The Itinerary of Rabbi Benjamin), penulisnya adalah seorang keturunan Yahudi dari kota Spanyol, Tudela yang telah mengunjungi Tanah Suci pada 1169 sebagai bagian dari perjalanannya selama sepuluh tahun di mediterania dan Timur Dekat.
Cerita itu juga berkisah tentang frenchman Gillon dari Relincar, pembangun gereja yang dikenal orang Kristen sebagai makam Suci. Dalam ajaran karya besar itu dikatakan bahwa pada zaman ketika parit sedang digali untuk menanam bebatuan, yang merupakan hal biasa untuk itu, Gillon menemukan tempat rahasia yang menyembunyikan harta karun dari kekuasaan yang besar dan indah, tidak seperti harta yang diketahui sebelumnya. Karena memiliki watak yang arif, dan sama sekali tidak menyetujui perlakuan bangsa Yahudi, ia tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini, tetapi lebih menyembunyikannya, karena memang sudah sifatnya hal itu akan dapat menimbulkan keserakahan dan iri hati di antara umat Kristen.
Kabar ini tak pelak didengar pula oleh Raja Badui yang memerintahkan agar harta itu diserahkan. Ketika Gillom menolak, matanya dicongkel dan dia dibuang ke dalam sumur yang dalam. Ia baru mati empat hari setelahnya, karena ia seorang yang kuat, baik tubuh maupun jiwanya. hanya sedikit orang yang mengetahui hal ini, yang diceritakan padaku oleh Simon si Yahudi, yang mengetahui cerita ini dari kakeknya. Di seputar teks ini seluruh semak belukar teori dan perkiraan tumbuh. Sebagian darinya relatif tak berbahaya, kebanyakan malah absurd. Satu website, misalnya, yang berisi keriuhan lagu-lagu Gregorian, mengklaim William telah menemukan tubuh Kristus yang dimumikan, sehingga meruntuhkan seluruh doktrin Kristen tentang Kebangkitan kembali. Yang lain, dihiasi symbol astrologi yang terlihat misterius dan dijuluki sebagai penjaga sakral dari Portal Kosmis, berdebat sangat serius bahwa de Relincourt telah melintasi sejenis pintu antargalaksi, yang memung kinkannya mengakses dimensi ruang dan waktu yang lebih tinggi sehingga bergabung dengan klub eksklusif penjelajah waktu, yang mengikutsertakan musa, Tutankhamun, Conficius dan Raja Arthur. Ada lebih banyak lagi dalam alur yang sama, yang meng hubung kan Relincourt dengan segala sesuatu mulai dari freemasons sampai ke holy Grail, dari Ksatria Templar sampai ke Segitiga Bermuda.
Sejauh yang dapat ditemukan Layla, tidak ada penjelas an realistis di dalamnya mengenai apa tepatnya yang ingin disampaikan kedua teks tersebut, tidak juga ada bukti independen untuk membuktikan otensitas cerita yang mereka katakan atau untuk mengonfirmasi bahwa seseorang bernama William de Relincourt benar-benar pernah ada.
Keseluruhan hal ini kelihatan sangat lemah. Namun, terlepas dari kurangnya bukti yang kuat, terlepas dari keragu-raguan yang mengganggu di balik pikirannya bahwa ia sedang diarahkan dalam pencarian sia-sia yang rumit, semakin banyak yang ia baca semakin ia merasa dirinya menjadi terikat ketat. Bahkan dengan pengetahuannya yang terbatas tentang berbagai hal dari zaman Pertengahan, Layla menyadari bahwa andaikan salinan yang dikirimkan kepadanya adalah surat yang asli dan itu menyisakan “andaikan” yang besar maka versi orisinalnya pastilah merupakan dokumen yang amat sangat penting dan penuh nilai sejarah, yang membuktikan bahwa Relincourt tidak saja orang yang benar-benar nyata ada, tetapi juga penemu harta karun tak bertuan yang tersimpan di bawah gereja.
Namun, apa yang benar-benar telah merangsang hasrat jurnalistiknya, dan terus merangsangnya, bukanlah semata prospek dari lampu temaram pada misteri berusia sembilan ratus tahun yang membuat penasaran, melainkan lebih berupa hubungan antara misteri itu dengan peristiwa sekarang. Saya memiliki informasi yang tak ternilai harganya bagi laki-laki ini dalam perjuangannya melawan zionis penindas; ... Informasi yang saya kemukakan tadi terkait erat dengan dokumen terlampir. Bagaimana ceritanya William de Relincourt bisa membantu laki-laki seperti al-mulatham? mengapa legenda zaman Pertengahan harus relevan dengan Palestina zaman kontemporer? Apa kaitan antara dahulu dan sekarang? Ini adalah pertanyaan yang memenuhi ruang pikirannya sekarang, berputar terus di dalam benaknya, seperti percikan sinar dari roda Catherine. Ini adalah hal sangat penting. Ia bisa merasakannya. Sesuatu yang besar. hanya saja ia memerlukan lebih banyak informasi, lebih banyak potongan teka-teki.
“Dia sudah di sini.” Layla mengangkat wajahnya. Pendeta ortodoks Yunani muda ini berdiri di dekatnya, masih memegang sapu.
“Bapa Sergius,” lanjutnya. “Dia datang.” Ia menunjuk sesuatu di belakang bahu Layla ke arah Katholicon, ketika seorang laki-laki gendut dalam jubah hitam, rambut abu-abunya diikat ekor kuda di bagian belakang, sedang mengatur tangga di sudut antara dinding dan pilar. Layla berterima kasih pada sang pendeta dan, sembari beranjak berdiri, berjalan melintasi tempat paduan suara mendekati laki-laki itu, lewat di bawah tempat lilin kuningan berukuran roda pedati dan mendekatinya tepat ketika ia merangkak ke anak tangga pertama.
“Bapa Sergius?” Laki-laki itu menoleh dan menatapnya.
“Namaku Layla Al-madani. Aku seorang jurnalis. Seorang temanku mengatakan barangkali bapa dapat membantuku dengan cerita yang sedang kuteliti.” Pendeta itu menatapnya sesaat, dengan mata berbinar, dan kemudian melangkah turun ke lantai pelataran. Wajahnya seperti labu yang riang, sangat kusut dan separuhnya tertutup oleh janggut berwarna kelabu. Di balik jubahnya, Layla perhatikan, ia mengenakan kaus kaki, sandal dan celana gombrong berwarna ungu.
“Rupanya Anda mengetahui segala yang perlu diketahui tentang sejarah gereja ini,” Layla menambahkan.
Laki-laki itu tersenyum. “Temanmu menilaiku lebih tinggi daripada yang selayaknya kuterima. Tidak ada yang mengetahui segala yang perlu diketahui tentang Gereja Makam Suci ini. Aku sudah berada di sini selama tiga puluh tahun dan aku bahkan belum pernah menggores permukaannya. Ini bisa menjadi... tempat yang menantang sekali.” Suaranya dalam dan berat, bahasa Inggrisnya fasih. Baunya sedikit wangi, mungkin karena parfum setelah bercukurnya atau aroma dupa dari jubahnya.
“Apa yang ingin kau ketahui?” tanyanya.
“Aku sedang mencoba menemukan seseorang bernama William de Relincourt.” Ia tertawa lebar lalu mengangkat tangan dan mengelus-elus janggutnya secara menyeluruh, untuk kemudian memainkan jemarinya pada rambut abu-abunya.
“William de Relincourt, eh? memang kenapa kau ingin tahu tentangnya?”
Layla mengangkat bahu. “hanya cerita yang sedang kuteliti. misteri Yerusalem. Yang penuh warna.”
“Bukan artikel yang biasanya kau tulis.” Ia menangkap ekspresi bertanya-tanya pada wajah Layla dan mulai tertawa geli.
“Oh, aku tahu siapa kau, Nona al-madani. Kami di sini tidak terputus dari dunia luar. Aku telah membaca banyak artikel yang kau tulis selama bertahun-tahun. Sangat blak-blakan. Kau tidak membiarkan orang-orang Israel membuka apa pun. Seingatku kau tidak pernah menunjukkan minat pada sejarah zaman Pertengahan.”
“Ya, ini pengecualian,” katanya, tidak ingin memberikan lebih banyak informasi, sembari mencoba membuatnya tetap samar.
“Aku akan menampar muka Israel lagi nanti, secepatnya kalau ini sudah selesai.” Pendeta itu tertawa lebih lama, matanya bersinar karena senang, seolah ia betul-betul sadar bahwa Layla tidak memberikan seluruh cerita tetapi tidak terlalu bingung dengan kenyataan yang ada.
“Dalam hal ini,” katanya, sambil menurunkan tangan dan meletakkannya pada perutnya yang buncit, “kami harus membantumu agar artikel yang kau tulis selesai sesegera mungkin. Kita tidak boleh membuat orang Israel puas dengan dirinya sendiri, ‘kan? Kalau tidak berkeberatan, aku ingin meminta imbalan.”
“Apa itu?”
“memegang tangga ini sementara aku mencoba mengusir burung-burung sialan di atas.” Ia mengangguk ke arah atas, tempat sepasang burung merpati putih sedang berputar-putar menghantamkan diri berulang-ulang ke jendela yang tinggi pada dinding gereja.
“Aku harus membuka satu jendela,” jelasnya. “membiarkan mereka keluar. Kalau tidak, mereka akan mengotori semua turis.” Seakan mengonfirmasi kata-katanya, suatu gumpalan besar seperti cat jatuh dari ketinggian, mengotori tempat lilin dari kuningan. Bapa Sergius menggerutu dan, berbalik, kembali merangkak naik melalui tangga.
__ADS_1
“Pastikan kau pegang dengan kuat dan ajeg,” katanya. “Kadang terpeleset.” Layla melangkah maju dan menahan tangga dengan kakinya saat sang pendeta mulai memanjat, bergerak dengan tangkas secara mengejutkan untuk laki-laki dengan ukuran dan berat tubuh seperti dia. Setelah empat anak tangga terlewati, ia pun berhenti dan meraih tiang kayu panjang yang tersandar miring di dinding, memegangnya dengan satu tangan, sementara menggunakan tangan lain untuk menjaga tubuhnya tetap ajeg dan seimbang sambil ia meneruskan memanjat, jubahnya yang menggelembung membuat Layla dapat melihat dengan jelas kakinya yang ditutupi pantalon dan bagian belakangnya. Sekelompok turis memasuki gereja, membentuk lingkaran di sekitar omphalos, sebuah baskom marmer yang diukir dengan penuh hiasan di tengah-tengah lantai, yang menurut tradisi Yunani menandai titik tengah bumi.
“Ia menarik semua orang yang tampaknya tak percaya, kau tahu?” Ungkap Bapa Sergius begitu ia sampai pada bagian atas tangga. “William de Relincourt. Tahun lalu ada ilmuwan Italia yang ingin menyelidiki seluruh gereja dengan ... apa nama benda yang dipakai untuk mengukur radiasi itu?”
“Geiger counter?”
“Tepat. Ia yakin bahwa William telah membuka sisa-sisa kapal ruang angkasa alien dan bahwa benda itu masih terkubur di bawah lantai entah di mana. Benar-benar orang gila.” Sang pendeta mulai menjulurkan tiang sembari berpegangan pada permukaan pelataran dengan tangan kirinya sementara ia terus naik ke arah jendela terdekat yang berjarak tiga meter di atasnya. “Dan kemudian ada kelompok orang Amerika yang berpikir bahwa ia telah menemukan pintu menuju dunia lain.”
“Penjaga Suci dari Portal Kosmis,” tambah Layla sembari tersenyum.
“Kau pernah mendengar tentang mereka?”
“Aku berkunjung ke website-nya.”
“Gila. Benar-benar gila. Kami bahkan pernah kedatangan seorang Yahudi tua setiap hari karena dia pikir de Relincourt menemukan Sepuluh Perintah Tuhan atau sejenisnya. hanya orang Yahudi yang pernah kulihat di sini. Berdiri di luar Aedicule sambal berdoa seolah-olah itu Dinding Ratapan. orang tua malang yang bodoh. Setiap hari.”
Ia hampir menggapainya sekarang, bergoyang-goyang penuh bahaya pada anak tangga kedua dari atas, mendorong jendela dengan tiang, mencoba membukanya. Tiga kali tiang itu meleset sebelum akhirnya bisa didesak langsung ke bawah penjepit jendela.
Pendeta itu mendorong daun jendela keluar dan terbuka, dalam prosesnya ia memiringkan badannya terlalu jauh ke belakang sehingga Layla merasa was-was dia akan jatuh menimpa tubuhnya.
Sang Bapa berusaha agar dirinya tetap ajeg seimbang dan, sembari berpegangan pada pelataran, ia menunggu sampai burung dara itu menemukan jendelanya dan terbang keluar. Segera setelah burung-burung itu pergi, dia mengangkat tiang lagi dan, dengan menggunakan pengait yang ada di ujungnya, ia menarik dan menutup jendela lalu menuruni tangga sembari bernapas berat.
“Kami harus memiliki tangga yang lebih besar,” Katanya terengah-engah, sambil meletakkan tiang di lantai dan membersihkan jubahnya.
“Aku terus-menerus mengatakan pada mereka. Tetapi kemudian kelompok Katolik berkata, kita tidak memerlukannya. Kelompok Syrian bilang, kita tidak dapat mengusahakannya. Lalu kelompok Armenia dan Copts mengatakan tidak bisa menyetujui yang terbuat dari kayu atau metal. Jadi tidak pernah selesai.
Percayalah padaku, dibandingkan dengan sebagian orang di tempat ini, kelompok de Relincourt adalah model dari nalar dan kepekaan yang baik. Teh?” Layla menolak tawarannya lalu, sambil meninggalkan tongkat dan tangga, keduanya berjalan kembali ke Rotunda. Dua orang perempuan, yang satu lebih tua, yang lainnya muda, sama-sama berbaju hitam, sedang berlutut di dalam ruang dalam Aedicule yang padat, sembari memegang lilin dan berdoa. Pendeta ortodoks Yunani yang masih muda itu menghilang.
“Jadi,” kata Bapa Sergius memulai, membawanya kebangku batu yang tadi diduduki Layla dan merendahkan dirinya di sisi Layla, “Itu sesuai dengan yang telah kau sepakati. Sekarang kau ingin tahu tentang William de Relincourt. Aku tidak yakin akan banyak yang dapat kuceritakan padamu, tetapi silakan bertanya. Aku akan membantu sebisanya.” Layla menarik keluar buku catatan dan penanya. Lalu, sembari menyilangkan kakinya, ia meletakkan buku di pangkuannya. Alat tulisnya telah siap di atas halaman kosong.
“Hal pertama yang ingin kutanyakan adalah tentang sumber,” kata Layla. “Aku telah mencarinya di internet, dan sejauh penemuanku de Relincourt hanya disebut oleh dua penulis abad pertengahan, William dari Tyre dan....” Ia membuka halaman bukunya, mencoba mendapatkan nama petualang Yahudi tersebut.
“Benjamin dari Tudela,” kata Bapa Sergius.
“Nah, itu dia. Anda tahu teks itu?”
“Tidak hapal di luar kepala, tetapi ya, aku telah membacanya. Beberapa waktu lalu.” Layla membungkuk dan menarik setumpukan lembar kertas dari tasnya.
“Sejauh yang bisa kujelaskan,” kata Layla, “Baldwin, atau Badui sebagaimana Benjamin menyebutnya, adalah Raja Yerusalem pada 1100–1118.” Bapa Sergius mengangguk.
“Yang artinya bahwa keduanya, Benjamin dan William dari Tyre menulis, sekitar 60 atau 70 tahun setelah peristiwa yang mereka uraikan berlalu.” Sang pendeta termenung sejenak, kemudian mengangguk.
“Benar.”
“Ada yang lain lagi?” tanya Layla. “Apa ada kronikel lain yang menyebut de Relincourt memberi lebih banyak informasi? Apa pun yang memperkuat cerita ini?” Pendeta menyatukan kedua tangannya di atas perut, terlihat seperti kepiting besar berwarna merah jambu yang membakar diri mereka sendiri di atas batu di terik matahari.
“Aku tidak pernah mendengar perihal ini. Pastinya tidak ada kronikel perang salib awal menyebut namanya. ekkehard dari Aura, Albert dari Aachen, dan ... oh, apa nama yang satunya lagi? .. fulcher dari Chartres, itu saja selain itu semuanya benar-benar tak diceritakan. William dari Tyre dan Benjamin dari Tudela, sepertinya hanya dua itu yang kami ketahui.”
“Dan hanya Benjamin yang mengatakan banyak hal tentang harta tersembunyi,” kata Layla. “William dari Tyre hanya menyebutkan bahwa de Relincourt dan Raja Baldwin sedikit berselisih paham.”
“Aku perkirakan mereka mungkin saja mendengar versi berbeda dari kisah ini,” katanya. “Kau akan kerap menemukan itu dengan kronikel zaman pertengahan. Khususnya ketika mereka menulis bertahun-tahun setelah peristiwa tertentu lewat, menjelaskannya pada tangan kedua atau ketiga. mereka memiliki sumber berbeda, memungut rincian berbeda. Ini semata masalah penekanan.”
“Jadi, versi mana yang lebih andal dan tepercaya dalam kasus ini?” Bapa menaikkan alis matanya. “Sulit dipastikan, walau pun secara seimbang aku akan mengatakan bahwa kemungkinan besar Benjamin dari Tudela. Diakui bahwa ia hanya lewat Tanah Suci, tidak seperti William dari Tyre, yang memang tinggal menetap di sini.
Tetapi rincian yang lebih banyak mengemukakan bahwa ia sangat mungkin mendengar versi cerita yang lebih lengkap lagi.” Penjelasan William terdengar seperti ia hanya mengulangi rumor lama.
Layla mencoret sesuatu pada bukunya.
“Dan menurut Anda, cerita ini benar?”
Bapa Sergius mengangkat bahu. “Siapa tahu? Tidak ada bukti fisik untuk mendukung hal itu, tetapi tidak ada alasan untuk tidak memperhitungkannya. Benjamin adalah kronikel yang paling cermat. Tidak terbawa pada legenda atau cerita lama para istri atau apa pun yang sejenis itu. Selalu memeriksa sumbernya. Aku percaya dia.” Tiba-tiba, sekelebat cahaya menyambar saat sekelompok turis dari Jepang memasuki Rotunda dan mengambil gambar kubah dan Aedicule. Layla melipat satu kaki di bawah kaki yang lain dan meletakkan bukunya di atas lutut.
“Pertanyaan yang lebih jelas,” katanya. “Bila kisah Benjamin benar, apa yang sebenarnya ditemukan William? Apa ini....” Layla memandang sekilas pada lembar cetak. “harta karun dari kekuasaan besar dan keindahan ini, tidak seperti harta yang diketahui sebelumnya.” Bapa Sergius tersenyum dan menyentuh bagian belakang kepalanya, mulai bermain-main dengan ikatan ekor kudanya.
“Sebagaimana katamu, pertanyaan yang jelas. Dan satu yang tidak dapat kujawab, aku khawatir seperti itu. Walaupun kupikir pada akhirnya kau akan tahu bahwa itu bukan kapal ruang angkasa.”
Ia tertawa geli pada dirinya sendiri, jari-jarinya memainkan ikat rambut, mencoba merapikan rambutnya. Di depan mereka, dua orang perempuan keluar dari Aedicule, selesai sembahyang. Para turis Jepang mulai mengisi bagian dalam. Ruangan tempat pemujaan itu penuh sesak, hanya cukup untuk menerima empat orang sekali jalan. Lagu dan senandung yang didengar Layla saat pertama kali masuk ke dalam gedung sudah selesai, hanya meninggalkan gema suara gemerincing, seolah batu gereja sedang berbisik satu sama lain.
“Tidak,” ulang Bapa Sergius, setelah menyesuaikan ikatan dengan kehendaknya dan menempatkan kembali tangannya di atas perut.
“Aku tidak tahu lagi apa yang ditemukan William de Relincourt daripada ribuan orang lain yang telah berspekulasi terhadap subjek itu lebih dari sembilan ratus tahun terakhir. Barangkali relik kuno, mungkin juga tulang belulang orang Suci, atau barangkali harta karun dari basilika Byzantin yang asli apa sajalah. Kami tidak tahu.”
Layla sedang mengetuk-ngetukkan pulpen pada pahanya.
__ADS_1
“Dan kau bilang tidak ada bukti fisik. Tidak ada satu pun di dalam gereja itu sendiri?”
Ia menggelengkan kepalanya. “Kalaupun William de Relincourt pernah ada di sini, dia tidak meninggalkan jejak apa-apa.”
Layla mengangkat pulpen dan menggarukkannya pada alis.
“Ada apa di bawah kita? Apa yang mungkin ada di sana ketika de Relincourt sedang bekerja?”
Sesaat Bapa menatap langit-langit kubah, jari-jarinya mengetuk perut kemudian bangkit, memberi isyarat agar Layla mengikutinya, berjalan bergoyang-goyang menuju pintu masuk ke Rotunda tempat mereka memiliki pandangan jernih tentang Aedicule dan pintu utama gereja.
“Sebuah tur cepat,” katanya. “hanya untuk memberimu latar sejarah.”
Ia merentangkan kedua tangannya, seakan berusaha mencakup seluruh ruangan.
“Pada masa penyaliban, sebagaimana yang kita ketahui, seluruh area ini berada di luar tembok kota, sekitar seratus meter atau lebih ke arah selatan.”
Ia menganggukkan kepala untuk mengindikasikan arah.
“menurut Kitab Injil dan penulis Kristen awal Golgotha, bukit tempat dilangsungkannya penyaliban berdiri di sana.” Ia menunjuk ke arah kapel di atas yang telah dilalui Layla dalam perjalanannya ke sini tadi.
“Sementara di sebelah sana,” ia menunjuk kembali ke arah Aedicule “ada tambang penggalian yang telah ditinggalkan, tempat berbagai orang Yahudi kaya telah memotong makam untuk diri mereka sendiri. Di dalam salah satu makam inilah Joseph dari Arimathea, tubuh Tuhan kita, dibaringkan untuk beristirahat.”
Turis Jepang terakhir muncul dari Aedicule dan berbaris ke dalam Katholicon, dengan kamera tetap menyala.
“Selama seratus tahun setelah penyaliban, semua area ini adalah tempat berkumpulnya jamaah dan pendoa untuk orang-orang Kristen dahulu,” ia melanjutkan. “Pada 135 masehi, kaisar hadrian meninggikannya dan membangun kuil bagi dewa Juno, Jupiter, dan minerva. Kuil itu berdiri di sini selama dua ratus tahun berikutnya sampai Konstantin Agung, kaisar Kristen pertama, merobohkan kuil hadrian dan membangun gereja sangat megah di tempatnya yang menggabungkan semua tempat suci.”
Sekali lagi ia menunjuk ke kapel dan Aedicule di tempat yang tinggi itu.
“Gereja Konstantin pada gilirannya dirusak dalam invasi bangsa Persia pada 614. Setelah dua tahun kemudian dibangun kembali, gereja tersebut roboh akibat gempa. Kemudian dibangun kembali dan dirobohkan lagi oleh Khalifa fatimid Al hakim.
Sempat dibangun dan roboh beberapa kali lagi sebelum akhirnya para aktivis perang salib datang dan membangun struktur yang kita lihat sekarang ini, yang diselesaikan pada 1149. Bahkan, bangunan ini telah mengalami penggantian ekstensif selama tahun-tahun peralihan. Kubah Rotunda, misalnya, dan Aedicule keduanya berasal dari abad kesembilan belas.”
Layla dengan tergesa-gesa menulis dalam bukunya, berusaha tidak ketinggalan.
“hal penting yang coba kukemukakan,” katanya, sembari melangkah, “adalah bahwa di bawah kita ada sisa-sisa bangunan yang dibangun dan dibangun kembali selama lebih dari seribu tahun, tepat di jalan menuju lapisan tanah keras. Siapa yang tahu apa yang telah ditemukan de Relincourt saat ia mulai menggali?
orang Yahudi, Romawi, Kristen awal, Bizantin, Persia, Islam siapa pun mereka mungkin saja telah mengubur sesuatu di sini yang selanjutnya digali oleh William. Dan tentu saja sebelum itu ada orang Kanaan, Jebusites, mesir, Suriah, Babilonia, dan Yunani.
Mereka semua pernah berada di Yerusalem pada satu titik ter tentu.
Kenyataannya adalah kita dengan mudahnya tidak tahu apa yang ada di bawah ini atau siapa yang telah menyimpannya di sini. Dan jujur saja aku ragu kalau kita akan mengetahuinya. Dan tentu saja, itu merupakan bagian dari daya tarik kisah ini.”
Ia terdiam, memainkan kancing jubahnya. Sepasang pendeta Coptik lewat dengan terburu-buru, mengenakan penutup kepala berwarna hitam dan salib kayu berukir. Layla selesai menulis dan melihat pada tulisannya, penasaran sekaligus frustrasi.
“Ini seperti mencoba menyusun puzzle yang separuh potongannya hilang dan kita bahkan tidak tahu seperti apa gambar keseluruhannya,” gumamnya. “Dan melakukannya dengan mata ditutup.” Bapa Sergius tersenyum. “Itulah sejarah. Sebuah puzzle raksasa.”
Dari belakang mereka terdengar bunyi klik tongkat pada batu, suara yang semakin keras sampai akhirnya seorang laki-laki tua lewat menuju Rotunda dan kemudian menuju Aedicule. Punggungnya bongkok, kulit wajahnya mengendur dan tertutup bintik. Ia berhenti di depan tempat pemujaan, mengeluarkan yarmulke dan buku hitam kecil lalu mulai berdoa, membungkuk berulang-ulang, bergumam, bertelekan pada tongkatnya. “Itu orang yang kuceritakan padamu,” kata Bapa Sergius perlahan. “Setiap hari dia datang ke sini, rutin seperti jam kerja. Percaya bahwa de Relincourt telah menemukan Sepuluh Perintah Tuhan, atau Ark of the Covenant, atau pedang Raja Daud aku lupa yang mana. Pokoknya hal kuno yang berkaitan dengan Yahudi. Seperti itulah, akhirnya mengisi kebutuhan jiwa, harapan yang tidak dapat diselesaikan di dunia nyata.”
mereka berdiri memerhatikan laki-laki itu sebentar, kemudian Layla melihat kembali ke dalam catatannya, membalik-balikkan halaman.
“Benjamin dari Tudela mengatakan bahwa de Relincourt adalah yang ‘sama sekali tidak menyetujui perlakuan dari bangsa Yahudi’,” kata Layla. “Apa artinya itu?” Bapa Sergius tersenyum sedih, sembari memandang kubah di atas.
“Para pelaku perang salib memperlakukan orang-orang Yahudi secara mengerikan,” ujarnya sembari mendesah panjang, “membantai ribuan orang saat mereka menuju eropa. Puluhan ribu.
Ketika mereka merebut Yerusalem, mereka menggiring seluruh penduduk Yahudi yang ada di kota ke dalam sinagog utama dan membakar mereka hidup-hidup. Laki-laki, perempuan, anak-anak. Semuanya.”
Ia menggelengkan kepalanya. “hal yang sama juga dilakukan terhadap kaum muslim. Konon, mesjid-mesjid tergenang darah setinggi mata kaki. Kau pasti berpikiran bahwa kengerian yang sama akan mempersatukan dua agama besar itu. Tetapi kau lihat sendiri apa yang terjadi sekarang ini....” Ia mengangkat tangan dan meraba pelipisnya. “Tanah Suci milik Tuhan, dan begitu banyak kepedihan. Kepedihan demi kepedihan terus terjadi.”
Ia terus-menerus meraba keningnya untuk beberapa saat, kemudian menurunkan tangannya dan berbalik kepada Layla.
“Sudah waktunya aku bersiap untuk ibadah tengah hari.”
“Tentu saja,” kata Layla. “Terima kasih atas waktu Anda.”
“Aku tak yakin aku telah membantumu.”
“Tentu saja Anda sudah membantuku,” kata Layla. “Banyak sekali.” Ia memasukkan buku catatannya ke dalam tas dan menelempangkan tasnya ke bahu.
“Teruskan tulisannya,” katanya. “Itu akan membuat sesuatu yang berbeda.” Ia tersenyum dan, sambil mengangkat tangannya untuk pamitan, ia berbalik dan melangkah pergi.
“Satu kenyataan menarik untuk artikelmu,” serunya berteriak.
“Ternyata, hitler terobsesi dengannya. William de Relincourt. Dia punya tim akademis yang meneliti kisah itu, mencoba mencari tahu apa yang ditemukan Relincourt dan apa yang terjadi pada temuan itu. Dia yakin ada sejenis senjata rahasia yang dapat dia gunakan untuk melawan Yahudi. Begitulah menurut cerita ini. Seperti kataku, de Relincourt menarik semua orang asing. Aku mendoakan semua yang terbaik untukmu, Nona al-madani.” Ia mengangguk ke arah Layla dan, dengan meletakkan tangandi belakang punggungnya, berjalan menuju Katholicon.
__ADS_1