Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PENANGKAPAN LAYLA


__ADS_3

Sudah lebih dari jam sebelas pagi ketika Layla akhirnya kembali ke flatnya di Yerusalem Timur. Pagi yang panas tidak biasanya dalam setahun ini dengan langit berawan dan atmosfer berat yang membuat mengantuk membungkus kota seperti kabut tipis yang menempel. Ia melemparkan telepon genggam dan tas ranselnya ke sofa, mendengarkan beberapa pesan dalam mesin penjawab penghinaan yang seperti biasanya, ancaman kematian dan permintaan tentang kopi yang terakhir kemudian melepas bajunya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Apa yang aku lakukan sekarang? pikirnya, sementara air memerciki kepala dan wajahnya. harus ke mana aku setelah ini? Apa pun yang telah ditemukan Hoth di Castelombres dan terlepas dari keraguan perempuan Prancis tua dengan keranjang jamurnya itu, Layla merasa pasti bahwa Hoth telah menemukan sesuatu sepertinya telah menghilang lagi selama kekacauan pada akhir Perang Dunia II. Bila ada catatan yang telah ditinggalkannya mengenai asal-usulnya, pastilah itu belum dipublikasikan. Dan walaupun ada, menurut Jean-Michel Dupont, masih ada ribuan halaman berkas dan dokumen tentang Nazi yang belum diteliti dengan saksama puluhan ribu sehingga akan memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menggali informasi yang sedang dicarinya. Andainya memang informasi itu benar-benar ada, yang belum tentu kepastiannya.


Apa lagi? Ada anak Palestina, yang telah mengantarkan surat misterius kepadanya dahulu. Kiranya ia bisa membuat lebih banyak lagi pertanyaan mengenai identitasnya, mencoba menelusuri keberadaannya, meneliti kembali siapa pembuat surat itu. Atau, kembali ke Gereja makam Suci dan berbicara dengan Bapak Sergius lagi, siapa tahu ada sesuatu yang luput darinya selama pertemuan pertama, isyarat kecil mengenai apa yang telah digali William De Relincourt di bawah lantai batu gereja?


Lagi-lagi, kedua pilihan itu seperti tak ada gunanya. Bapak Sergius telah bersikukuh bahwa tidak ada bukti tentang apa yang telah ditemukan De Relincourt, sementara mencoba menemukan anak Palestina akan seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.


Dalam lapangan jerami. Negeri ini penuh oleh benda sialan. Dengan cara apa pun ia melihat pada kasus ini, ia seperti sedang menghadapi jalan buntu. Dengan ******* sedih Layla mematikan keran air panas dan memutar yang dingin sampai yang paling maksimal, membiarkan air sedingin es membasuh kepala dan dadanya. Saat ia tengah melakukan itu, sesuatu melintas di bagian tepi pikirannya, sekilas pintas, sebuah kenangan, sesuatu yang dalam beberapa hal relevan dengan masalah yang sedang dihadapinya. hal itu terjadi begitu tiba-tiba, seperti bintang jatuh yang menghilang segera setelah ia muncul, meninggalkannya dengan perasaan frustrasi karena telah kehilangan sesuatu yang penting, seberkas sinar yang sesaat. Ia mematikan kran air dan menutup matanya, mencoba mengikuti jalan pikirannya ke belakang: Anak Palestina, Bapak Sergius, Gereja, lantai batu. Lantai, ya itu dia. Lantai batu di dalam gereja. mengapa begitu penting? Apa yang sedang diingatnya?


“Yalla,” ia bergumam pada dirinya sendiri. “Ayo. Apa yang sedang aku pikirkan? Apa sih? Apa?”


Untuk sesaat lamanya pikirannya tetap kosong. Kemudian, sangat perlahan, ia mendengar suara. Detak. Detak yang terdengar aneh, seperti sesuatu yang mengetuk-ngetuk pada batu. Klak, klak, klak. Suara apa itu? Palu? Pahat? Ia tidak dapat mengenalinya. Ia membuka matanya, menutupnya kembali, memaksa dirinya mengingat hal ini, kemudian memutar pikirannya kembali, seolah mencoba mengintip suara itu dari belakang, menangkapnya sebelum ia melarikan diri. Berhasil. Tentu saja. Itu suara tongkat, yang dimiliki laki-laki tua Yahudi seperti yang dikatakan Bapak Sergius. Setiap hari dia datang ke sini, rutin seperti jam kerja.


Percaya bahwa De Relincourt telah menemukan Sepuluh Perintah Tuhan, atau Ark of the Covenant, atau Pedang Raja Daud aku lupa yang mana. Semacam benda Yahudi kuno. Saat itu dia dengan enteng melupakan laki-laki itu karena sekelompok orang aneh yang terpedaya tampak mengelilingi dongeng De Relincourt seperti laron di sekitar api lilin. Kemungkinannya, adalah bahwa ini adalah dia adanya. Setelah apa yang ia temukan tentang Rahasia Castelombres, dan khususnya bagaimana ia kelihatannya terkait dengan kisah Judaisme dan Yahudi, sebagian dari dirinya tidak tahan untuk bertanya apa mungkin laki-laki itu mengetahui sesuatu yang dapat membantunya? Ini bagaikan usaha keras untuk menemukan sesuatu yang belum tentu ada. Dengan keadaan bahwa setiap pertanyaan tampak semakin lama semakin melemah, maka kemauan adalah apa yang tertinggal darinya. Paling sedikit hal itu layak ditindaklanjuti, bahkan bila hal itu beralih menjadi bukan apa-apa, yang sepertinya hampir pasti.


Ia kemudian melangkah keluar dari tempat mandinya, meraih handuk, mengeringkan tubuhnya dan mengenakan ****** *****, BH dan baju atasan sebelum ia terganggu oleh suara keras yang tiba-tiba terdengar di pintu depan.


“Tunggu,” katanya. Siapa pun di luar sana, entah karena tidak mendengar atau apa, pastilah tidak siap untuk menunggu karena suara itu kembali terdengar, semakin keras dan lebih memaksa dengan bunyi gedebuk, seluruh flat seperti bergetar dengan suara hantaman itu. menjengkelkan, dan tiba-tiba saja mencurigakan bunyi itu terasa terlalu memaksa bagi Fathi si pengurus flat, atau siapa pun yang dia kenal ia mengenakan jins dan sepasang sepatu karet, meraih handuk tangan untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah lalu bergegas menuju pintu, berjingkat dan mengintip dari lubang yang ada pada permukaan kayu pintu.


Seorang laki-laki besar, berbahu lebar sedang berdiri di luar dalam temaram koridor di depan pintu apartemennya, seorang Israel, dengan wajah berhidung besar dan pistol Jericho yang menakutkan terselip pada ikat pinggang jinsnya. Untuk alasan tertentu ia serta-merta memiliki perasaan tidak baik tentangnya, pertanda ada bahaya.


“Ya?” Laki-laki itu diam, satu tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, kemudian menyorongkan tubuhnya ke depan sehingga matanya menutupi lubang intip.


“Polisi Yerusalem,” ia berkata. “Buka pintu.” Ben-Roi Segera memacu kendaraannya begitu ia mendapat telepon dari Khalifa, melalui jalan dari kantor polisi ke Jalan Nablus kurang dari tiga menit, karena berusaha melewati dua lampu merah dan menghindari bentrokan dengan laki-laki tua Haredi yang telah berjalan di jalan setapak tanpa mau repot memerhatikan lalu lintas yang datang.


Hoth, Gratz, Schlegel, masyarakat buronan Nazi telah menjadi kisah luar biasa, mengagumkan. Juga mengecewakan, dalam hal, bahwa pada akhirnya orang mesir itu tampak telah memecahkan masalah ini sendiri; bahwa input darinya, selain mengisi beberapa detail, pada akhirnya tidak membuktikan hal mendasar untuk resolusi kasus itu.


Namun, bukan kekaguman dan juga bukan kekecewaan yang membakarnya sekarang. Tidak setelah apa yang Khalifa katakan padanya tepat di ujung pembicaraan, hampir sebagai salam perpisahan: tentang Layla Al-Madani dan surat yang dikirim Hoth kepadanya yang meminta bantuannya dalam menghubungi Al - Mulatham. Ia kini begitu bersemangat, semangat murni seorang petinju yang setelah berbulan-bulan latihan akhirnya melangkah juga ke arena untuk berhadapan dengan lawan yang sudah lama ditunggu.


Dia selalu tahu bahwa pada akhirnya dia akan berhadapan dengan Layla. Atau paling tidak selama tahun lalu, sejak membaca artikel yang ditulisnya. Ia tidak dapat mengemukakan alasan untuk obsesinya terhadap perempuan ini, tidak ada penjelasan rasional mengenai mengapa perempuan ini harus memberinya rasa sakit di dalam perut seperti ini. Tentu, bila kau melihat dari dekat, benar-benar dekat dan dia telah melakukan hal lain selama dua belas bulan terakhir kau dapat menangkap firasat, kesalahan samar dalam kehidupan dan pekerjaannya, seperti wawancara yang dilakukannya (hampir setiap pembom, demi Tuhan, hampir setiap pembom sialan itu).


Namun, tidak ada yang jelas. Tidak ada yang konklusif. Tidak ada, pasti, yang menjamin derajat kecurigaan dan kebencian yang ia munculkan di dalam diri Ben-Roi. Satu-satunya yang dia tahu, bahwa dengan artikel itu Layla telah menancapkan dirinya dalam pikiran Ben-Roi sebagai seseorang yang nyata, manusia yang terkait dengan laki-laki yang telah menghabisi kekasihnya, Galia, dan dengan demikian dia tidak pernah ragu sesaat pun bahwa pada titik tertentu jalur hidup mereka pasti akan bertemu. Bahwa kemudian itu terjadi sebagai hasil dari kasus ini, itu tidak diperkirakan sebelumnya. Atau, mungkin juga tidak seperti itu. mungkin itu alasan yang ia tarik untuk menyelidiki pertama kali kesadaran di alam bawah sadarnya bahwa hal itu entah bagaimana akan menjadi pemicu, hal yang akhirnya membuat mereka bersama.


Dia tak dapat mengatakannya, juga tak begitu peduli. Semua yang terjadi adalah setelah setahun mengamati dan menunggu, meneliti, mengikuti, menetapkan dan merasakan rasa sakit dalam perutnya. Dan sekarang, akhirnya, saatnya tiba untuk berhadapan muka dengannya, untuk menatap matanya dan melihat apa yang dapat dilihatnya di sana.


“Ayo,” Ben-Roi mengulang, mengetuk pintu lebih keras lagi dengan kepalan tangannya. “Buka pintu.”


“Lencanamu dulu,” suara Layla dari dalam. Sambil menggerutu, Ben-Roi merogoh sakunya dan mengeluarkan identitas polisinya, menempelkannya pada lubang intip.


Diam yang cukup lama, lebih lama daripada yang diperlukan perempuan itu untuk membaca detail yang ada pada kartu identitasnya, seolah dia dengan sengaja membuat Ben-Roi menunggu, menekankan kenyataan bahwa dia tidak bisa diintimidasi Ben-Roi, sebelum akhirnya terdengar bunyi klik dan pintu terbuka.


“Selalu dengan senang hati menyambut Polisi Nasional Israel,” Sambut Layla, sambil menggosok-gosokkan handuk pada rambutnya.


Layla lebih pendek dari yang dia bayangkan, lebih ramping, seperti remaja saja dengan dada yang kecil dan ketat, pinggulnya yang sempit, detail yang tidak akan kau temui dalam foto yang diambil dengan duduk bermalam-malam di seberang apartemennya sambil melihat ke jendela apartemennya. Ada kekokohan di dalamnya, kuat, keras, khususnya dalam sorot matanya yang hijau jamrud; cara Layla menatap Ben-Roi tanpa berkedip; tidak gelisah oleh ukuran tubuh Ben-Roi, oleh kenyataan bahwa ia dapat menggendongnya dan mengayunnya hanya dengan satu tangan.

__ADS_1


“Ya?” Layla bertanya.


Ben-Roi begitu tertarik dengan hal kecil dalam penampilannya sehingga pertanyaan tidak segera keluar dan ia harus mengulang.


“Ya?” Ben-Roi menggelengkan kepala. “Aku punya beberapa pertanyaan,” ia menjawab, selangkah maju, seolah mau masuk ke dalam flat.


Layla mengangkat tangannya dan menyilangkannya pada celah yang terbuka sehingga ia menghalangi jalan masuk ke dalam apartemennya.


“Tidak boleh tanpa jaminan. Kau punya jaminan?” Ben-Roi tidak punya.


“Bisa kuusahakan,” katanya. “Dan ketika aku kembali aku tidak akan ramah.”


Layla mengeluarkan dengusan sinis. “Aku gemetar. Sekarang, perlihatkan jaminan, atau kau bertanya apa pun sesukamu dari situ saja. Dan harus kau lakukan dengan cepat. Aku terlambat, ada janji.” Tindak-tanduk Layla begitu tenang, meyakinkan, meremehkan, dan dalam waktu yang sangat singkat terlintas dalam pikiran Ben-Roi saat pertama kali bertemu dengan Galia, ketika ia menahannya pada demonstrasi antipendudukan dan telah diperlakukan dengan sikap merendahkan yang sama. Ia menyeringai, seolah terkejut oleh analogi itu, dan maju setengah langkah sehingga tubuhnya memenuhi seluruh bingkai pintu.


“Kau dikirimi surat baru-baru ini. Surat yang meminta pertolonganmu untuk menghubungi Al - Mulatham.”


Layla diam saja.


“Kau pasti tahu apa yang aku bicarakan?”


Diam sejenak, seolah ia sedang menimbang bagaimana harus menjawabnya; kemudian menarik handuk dan menyampirkannya di bahu, ia mengakui bahwa ia memang menerima surat itu.


“Dan?” Diam lagi, menimbang pilihan lain.


“Tidak ada apa-apa. Aku membacanya, aku merobeknya, membuang ke tempat sampah. Seperti yang aku lakukan pada semua e-mail sampahku.”


“Aku tak percaya,” katanya, menguji. Layla tertawa, matanya tidak pernah lepas dari mata Ben-Roi.


“Aku tidak memberikan apa yang kau percaya. Aku menerima surat itu, aku membacanya, dan aku buang. Dan sebelum kau bertanya, tidak ada, surat itu sudah tidak ada lagi dalam keranjang sampahku. Walaupun aku yakin kalau kau akan pergi ke tempat pembuangan sampah kota, maka akan makan waktu beberapa minggu untuk menemukannya.”


Ben-Roi mengeraskan kepalan tangannya, mencoba menahan dorongan untuk menyerangnya.


“Apa isinya, surat itu?”


“Sepertinya kau sudah tahu,” ia menjawab.


“Apa isinya yang pasti?” Layla menyilangkan tangannya dan mendesah, seperti seorang guru yang sedang menangani muridnya yang terbelakang.


“Pastinya aku tak bisa mengatakannya padamu, karena aku tak mau repot mengingatnya. ‘Aku mencoba menghubungi Al - Mulatham, mungkin kau dapat menolongku, aku akan membayarmu berapa pun yang kau inginkan seperti itulah. omong kosong, pokoknya. Aku hanya membacanya sekilas. Kalau kau ingin versi lengkapnya, kau harus berhubungan dengan temanmu di Shin Bet. Aku duga merekalah yang mengirim surat itu.”


Lagi-lagi, walaupun mata Ben-Roi menatap mata Layla, telinganya menegang, ia gagal menangkap petunjuk bahwa ia sedang dibohongi, kilau paling tipis dari penyembunyian diri pada fitur wajah atau suaranya. Yang membingungkan, setiap insting dalam tubuhnya mengatakan padanya bahwa ia sedang dibohongi, Layla sedang menyembunyikan diri, sehingga apakah instingnya yang salah semua, radarnya kacau, atau Layla yang memang memiliki tingkat kontrol diri yang hampir seperti manusia super dalam kemampuannya bertahan. hanya pada matanya, jauh di dalam, ada rumor tentang sesuatu selain dari apa yang ia ekspresikan secara terbuka, semacam kesuraman yang samar, seperti endapan lumpur yang terganggu jauh di bawah permukaan air. Apakah hal itu menyiratkan kebiasaan berdusta atau aspek yang sepenuhnya berbeda dari sisi psikologisnya, Ben-Roi tidak tahu. Barangkali ini hanyalah tipuan cahaya.


“Apa disebutkan soal senjata, dalam surat itu?” Ben-Roi mendesak. “Sesuatu yang dapat digunakan untuk merusak negara Israel?” Tidak sejauh itu ia mengingatnya, jawab Layla. Kalau ada, barang kali ia sudah memerhatikannya.


“Apa nama Dieter Hoth punya arti bagimu?” Tidak.

__ADS_1


“Piet Jansen?” Jawaban yang sama.


“Aku pernah mendengar nama David Beckham, kalau itu membantumu.” Begitulah percakapan itu berlangsung. Ben-Roi menghujani pertanyaan pada Layla, dan Layla mengembalikannya dengan sikap mencemooh, merendahkan, sampai akhirnya ia kehabisan pertanyaan dan keduanya diam.


“Sudah cukup?” Layla bertanya, menempatkan tangannya pada pinggulnya dan memandang Ben-Roi. “Karena, terutama ingin menyenangkan diriku sendiri, aku pun punya banyak hal untuk dilakukan.” Di belakangnya, telepon berdering.


“Cukup?” ia mengulang. Ben-Roi menatap Layla, kepalan tangan mengencang, sadar bahwa apa pun yang ia harapkan dari pertemuan ini, apa pun pengungkapan yang ia inginkan darinya, tidak akan terjadi. Dia menang. Paling tidak, kali ini.


“Untuk saat ini,” jawab Ben-Roi


“Yahh, kau tahu di mana aku berada. Seperti kataku, sangat menyenangkan menerima tamu dari Kepolisian Nasional Israel.” Layla menganggukkan kepala kepada Ben-Roi, memberi tanda bahwa ia harus mundur dari pintu dan mulai menutupnya. Ketika pintu sudah separuh tertutup, Layla memiringkan badannya dan melihat Ben-Roi dari ruang pemisah yang ada, sementara telepon masih terus berdering.


“Asal kau tahu, aku tidak tahu-menahu siapa Al - Mulatham itu, di mana dia berada, atau bagaimana menemukannya. Aku yakin ini tidak akan menghentikanmu untuk datang lagi dan mengejarku, tetapi kupikir aku telah mengatakannya, pada kesempatan yang sempit tapi akhirnya menjadi jelas.” Di ruang kerjanya, mesin penjawab bekerja, rekaman suaranya yang kecil menggema di ruang itu: Aku tak bisa mengangkat telepon saat ini. mohon tinggalkan pesan dan aku akan menghubungi Anda kembali.


“Dan untuk catatan pribadi saja,” Layla menambahkan, “Aku tak tahu parfum apa yang kau gunakan setelah bercukur, tapi ini sungguh menyengat. Kau harus mencoba merek lain.” Mata Ben-Roi menyipit. Di belakangnya, terdengar suara biiiip panjang dan suara lain terdengar di ruang itu, berat dan payah.


“Layla! Ini Magnus Topping. Sekadar terpikir meneleponmu untuk mengetahui apakah kau kembali dengan selamat, ... umh ... yahh, senang sekali bertemu denganmu. Juga, sesuatu yang aku lupa mengatakannya ketika kau di sini, fakta menarik untuk artikel yang sedang kau kerjakan. Sebenarnya, arkeolog Jerman itu, seseorang yang menggali Castelombres, Dieter Hoth dia punya kaki yang mirip jaring. mungkin saja kau menyukai hal itu, sekadar menambah warna. Ngomong-ngomong, telepon aku kalau kau mau. Salam.” Bip berikutnya, kemudian diam.


Layla mendongak, menatap Ben-Roi. Ben-Roi melihat ke bawah, menatap Layla. Ada sedikit jeda, kemudian, dengan kasar si Israel ini menghantamkan tangannya untuk mendorong mencari jalan masuk ke dalam flat. Layla terlalu cepat bergerak. Pintu terempas di wajahnya; terdengar klik kunci dan suara kaki berlari.


“Kau pembohong!” ia berteriak. Ia mengambil Jericho dari sakunya dan, sambil mundur beberapa langkah, ia menendang pintu. Pintu tetap ajeg. Ia mencoba lagi, bersiap-siap. Terdengar suara berderak, tetapi pintu masih kuat.


“Kau Arab pembohong!” Ia mencoba untuk ketiga kalinya, mendengus seperti banteng terluka. Kali ini pintu terbuka. Ia melesak masuk, melihat ke sekeliling dengan liar. Tas dan telepon genggamnya tergeletak di sofa.


Tidak ada tanda-tanda keberadaan Layla. Ia berlari ke ruang belakang, tempat tidur kosong. Di kamar mandi ia melihat tangga mengarah ke atas, pintunya terbuka ke atas. Ia melompati tiga anak tangga sekali melangkah, mendesak keluar ke teras atap, langit begitu luas dan putih di atasnya, kota begitu luas. Tidak ada. Ia berbalik, kembali melewati jalan yang sama, sambil berpikir barangkali ia kehilangan Layla di dalam flat; kemudian, karena mendengar klakson mobil dari arah jalan di bawah, ia menghambur ke pinggir atap, meraih rel besi berkarat yang ada di sepanjang tembok sandaran dan melihat Jalan Nablus di bawah. Ia segera dapat melihat Layla yang menerobos lalu lintas, terlalu jauh baginya untuk mendapatkan peluang menangkapnya.


“Dasar sialan!” ia berteriak tak mampu berbuat apa-apa.


“Dasar pembohong sialan!” Jika Layla mendengarnya ia tidak akan memberi tanda apa-apa, terus saja bergegas secepatnya, melintasi Jalan Sultan Sulaiman dan menghilang dalam keramaian orang di pintu menuju Gerbang Damaskus. Ben-Roi memandang arah yang dilewati Layla, mengutuknya, kemudian mengangkat telepon genggamnya, menekan nomor di dalam keypad dan mendekatkan pesawat itu ke telinganya.


“Meja petugas? Ben-Roi. Aku perlu pengawasan segera pada Layla Al-Madani. Layla Al-Madani. Ya, jurnalis itu. Prioritas teratas. Dia ada di suatu tempat di Kota Tua. Aku ulang prioritas teratas.”


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced

__ADS_1


Best Regards


*****


__ADS_2