Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
TAMBANG GARAM TUA


__ADS_3

“Hmm, minta dia meneleponku, bisa ya? Khalifa. Khalifa! Kal-ee-fa. Ya, tentu saja ia tahu.... Apa? Ya, ini penting sekali. Sangat mendesak. maaf? ok, baiklah, terima kasih, terima kasih.” Khalifa meletakkan gagang telepon. Untuk sesaat ia duduk di tempatnya, menggosok-gosok pelipisnya; kemudian ia berdiri dan keluar kantor melintasi koridor menuju ruang lain, mengambil atlas dari rak buku di dinding. Ia kembali ke mejanya, kemudian membuka dengan cepat indeksnya, lalu membuka halaman yang relevan dan mulai menelusuri garis latitude dan longitude dengan jari-jarinya sampai ia dapat menemukan lokasi nama tempat yang ia inginkan: Salzburg. Ia menyalakan rokoknya dan mulai melihat dengan teliti.


Sudah satu jam lewat setelah ia terakhir kali berbicara dengan Ben-Roi. Sebagaimana disepakati, ia harus menunggu si Israel untuk meneleponnya kembali; kemudian, karena tidak mendengar apa-apa darinya dan tidak sabar untuk mengetahui apa, bila ada, yang mereka temukan dari saudara laki-laki Schlegel, Khalifa mengontak telepon genggamnya. Sibuk. Ia menunggu lima menit, kemudian menelepon kembali. masih sibuk. Ia menelepon untuk ketiga kalinya, sepuluh menit setelah itu, tapi kini nomor itu dimatikan.


Tanpa alasan yang dapat dia jelaskan, dia mulai merasakan perasaan tak enak di bagian perutnya, pertanda samar adanya masalah yang tumbuh semakin kuat seiring berlalunya waktu dan keadaan telepon itu yang tetap mati, sampai akhirnya, dia yakin pasti ada yang salah. maka dia pun menelepon Kantor Kepolisian David.


Karena itu pertemuan pertama kalinya dengan birokrasi polisi Israel, dia harus membangun kesepakatan dengan dinding penghalang sebelum akhirnya disambungkan ke sekretaris yang dalam bahasa Inggris yang gagap, memberitahu bahwa Detektif Inspektur Ben-Roi dan rekannya kini sedang dalam perjalanan ke Austria. Ke Salzburg. mengapa dan kapan mereka kembali, dia tidak tahu.


Kalaupun dia tahu, dia juga tidak berhak mengungkapkan keterangan itu. Khalifa ingin mendesaknya, ingin berbicara dengan seseorang yang lebih tinggi, tetapi itu akan berarti mengungkapkan mengapa dia begitu bersemangat ingin menghubungi sang detektif; dan karena seluruh urusan yang berkaitan dengan Menorah ini harus diperlakukan rahasia, ia tidak punya pilihan lain kecuali mundur, setelah meminta sang sekretaris menyampaikan pesan pada Ben-Roi untuk meneleponnya kembali bila dia melakukan kontak dengannya.


“Apa yang sedang dilakukannya?” ia bergumam pada dirinya sendiri, sembari menatap atlas yang terbuka di bawahnya. “Apa yang ...?” Pintu ruangannya terbuka dan Muhammad Sariya menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan.


“Tidak sekarang, Muhammad.”


“Aku dapat....”


“Aku bilang tidak sekarang! Aku sibuk!” Nada suaranya lebih tajam dari yang dia maksudkan, tetapi kabar tentang Ben-Roi telah membingungkannya dan ia tidak dalam suasana hati yang nyaman untuk bersenda gurau. Sariya terlihat agak terkejut dengan sikapnya yang kasar, tetapi tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat bahu, mengangkat tangannya seolah meminta maaf dan menarik diri lagi, menutup pintu di belakangnya. Khalifa berpikir untuk mengejarnya dia tidak pernah kasar pada deputinya, tidak pernah tetapi dia terlalu tegang sekarang, dan sebagai gantinya ia mengisap dalam-dalam apa yang masih tersisa pada rokoknya, melempar ujungnya keluar jendela dan menenggelamkan kepalanya dalam kedua tangannya.


Mereka menemukan sesuatu, begitu rupa, paling tidak cukup jelas. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang memerlukan mereka sampai pergi jauh-jauh ke Austria untuk mengejarnya. Untuk sesaat ia bertanya-tanya apakah ia bereaksi berlebihan, apakah ada penjelasan tak bersalah dari diamnya Ben-Roi, seperti ia terlupa untuk meneleponnya karena semangat untuk menggali temuan baru, atau tidak dapat memperoleh sinyal pada telepon genggamnya dan ia begitu tergesa-gesa mengejar pesawat sehingga tidak ada waktu untuk berhenti dan menggunakan telepon koin.


Tetapi tidak. Semakin ia memikirkan hal itu, memikirkan kembali semua hal yang terjadi selama beberapa hari terakhir, semua yang dia lihat dan dengar dari Ben-Roi, semakin membuatnya merasa pasti bahwa ini tidak sekadar kasus kealpaan tak sengaja dari sisi si Israel, tetapi gerakan yang disengaja untuk memotong jalannya, Khalifa, keluar dari skenario gambar pada momen yang genting ini. mengapa? masalah pribadi? Karena Ben-Roi tidak menyukainya? Ingin mengklaim semua penghargaan telah menemukan Menorah untuk dirinya sendiri? Atau, adakah permainan yang lebih besar dan busuk sedang dimainkan di sini, agenda yang lebih luas lagi? Dia tidak tahu. Satu-satunya yang dia tahu adalah bahwa si Israel ini sungguh-sungguh tidak boleh dipercaya.


Khalifa menyulut rokok lagi, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, dan akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon dan memutar nomor telepon genggam pribadi yang diberikan Gulami malam sebelumnya, bila dia sedang dalam keadaan darurat. Lima kali dering, kemudian mesin penjawab. Ia mematikan dan memulai menelepon kembali. Sama saja. Pak Menteri sedang mengadakan pertemuan dengan Presiden Mubarak, tidak akan bisa dihubungi sampai malam, tidak bisa diganggu, dalam situasi apa pun. Sial.


Ia berdiri, mendekati jendela, mengetuk-ngetukkan jarinya pada bingkai jendela dengan tidak sabar, kemudian kembali ke mejanya dan menelepon seorang kenalan di Al-Ahram, bertanya bagaimana caranya ia dapat berkomunikasi dengan Sa’ib Marsudi.


Temannya ini memberikan nomor seseorang di Ramallah, yang kemudian memberinya kontak di Yerusalem, yang memberinya kontak lagi di Ramallah dan kemudian memberinya nomor sebuah kantor di Gaza, yang mengatakan padanya bahwa mereka tidak tahu di mana keberadaan Marsudi. Sialan betul!


Ia menelepon siapa saja untuk beberapa lama, kemudian, karena tidak tahu mau ke mana, ia pun turun ke koridor untuk membasuh muka, dan mencoba mendinginkan kepalanya. Begitu ia melewati ruang kerja terakhir sebelum toilet, ia memperhatikan Muhammad Sariya sedang duduk sendiri di mejanya, menikmati makan siangnya. merasa sedikit bersalah untuk perilakunya tadi, ia pun berhenti dan melongokkan kepalanya di pintu.


“Muhammad.” Sariya mengangkat wajahnya.

__ADS_1


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu seperti tadi. Aku agak sedikit....” Deputinya ini melambaikan daun bawang padanya, mengabaikan permohonan maafnya. “Lupakan saja!”


“Tak ada yang penting, ’kan?” Sariya menggigit bawangnya.


“Hanya tentang pintu, kok.” Khalifa menggelengkan kepalanya, tak mengerti.


“Kau tahu, gambar yang kau berikan padaku, slide itu. Yang kau temukan di vilanya Jansen.” Dengan begitu banyak hal dalam pikirannya, Khalifa benar-benar telah lupa dengan benda itu.


“Dengar, dapatkah kita lakukan ini lain waktu saja, Muhammad? Saat ini makam sedang tidak menjadi prioritasku.”


“Tentu,” kata Sariya. “Walaupun itu sebabnya aku pikir kau akan tertarik dengannya.” Lagi-lagi Khalifa menggelengkan kepalanya. “Maksudmu apa?”


“Yahh, ini bukan makam.”


“Bukan ... jadi apa?”


“Pertambangan,” kata Sariya. “Di Jerman. Pertambangan garam, persisnya.” Untuk sesaat Khalifa terdiam di pintu; kemudian tergoda juga, ia pun masuk ke dalam ruangan.


“Aku dapat ukuran enam kali empat yang seperti biasanya,” Sariya memulai, sambil menunjuk pada slide,


“Tetapi tidak memperlihatkan apa pun sehingga kau tidak dapat melihatnya. hanya setelah aku meminta anak-anak di bagian fotografi untuk membesar kan gambar, aku pun menemukan sesuatu yang menarik.”


Ia memegang foto besar yang pertama. Itu adalah pintu yang sama dengan yang diingat Khalifa: gelap, terlarang, membuka ke atas di dasar dinding tinggi dari batu datar abu-abu. Kini, tepat di atas bingkai pintu itu, ia dapat memperjelas huruf-huruf yang secara kasar dituliskan pada permukaan batu kasar, begitu halus sehingga tak terlihat pada slide aslinya. Ia membungkuk, memerhatikan kata-kata yang tertulis.


“Glück Auf,” ia membaca, terbata-bata dalam pengucapannya.


“Artinya semoga berhasil,” jelas Sariya. “Bahasa Jerman. Aku berbicara dengan Kedubesnya.”


“Dan mereka dapat mengidentifikasi makam tersebut hanya dari itu?”


“Pertambangan,” kata Sariya mengoreksi. “Dan tidak, mereka tidak bisa. Ini adalah ucapan salam para penambang tradisional, sebenarnya. Digunakan di seluruh Jerman.”

__ADS_1


“Jadi bagaimana?”


“Well, untuk hal itu, aku minta orang-orang fotografi memperbesar bagian atas pintu dan memperbesar gambar itu lagi, benar-benar membesarkannya, dan....” Ia pun mengangkat cetakan berikutnya.


“Menangkap sesuatu?” Khalifa menyapukan pandangan pada seluruh permukaan foto.


Terlihat sama persis dengan gambar terakhir tadi, kecuali sesuatu yang seperti percikan putih kecil di atas sudut kanan pintu, di bawah huruf “f” dari GLÜCK AUF.


“Apa itu?”


“Bagus!” kata Sariya dengan tersenyum lebar. “Kita akan membuat deteksinya.”


Ia mengangkat foto ketiga dan terakhir, sangat jelas, hanya segmen kecil dari bingkai pintu, kata AUf di bawahnya telah samar tetapi dapat dibaca, yang dituliskan pada batu di area yang tidak lebih besar daripada ukuran koin, legenda SW16.


“Awalnya aku mengira itu grafiti,” katanya. “Aku mengirimnya ke Kedutaan Besar, siapa tahu bisa memberikan tanda. mereka berhubungan dengan ahli pertambangan di Jerman, dan akhirnya menghubungiku pagi ini. Terungkap bahwa itu sebenarnya adalah....”


“Bagian dari sistem penomoran?”


“Tepat sekali. Biasa ada di seputar kota yang bernama…” ia melihat dulu pada lembar A4 yang penuh catatan “Berchtesgaden. Untuk mengidentifikasi pertambangan garam tua. Pertambangan khusus ini bernama...” Ia melihat lagi pada catatannya “Berg-Ulmewerk. Ditinggalkan sejak akhir abad kesembilan belas. mereka bahkan mengirimiku peta dan beberapa hal tentang sejarahnya. Sangat efisien orang-orang Jerman ini.” Ia merogoh folder lagi dan mengambil kertas faksimili, kemudian memberikannya pada Khalifa, yang duduk di ujung mejanya.


Ada beberapa halaman dengan tulisan dalam bahasa Jerman tak berguna, karena dia tidak dapat menggunakan bahasa itu sebuah peta, dan juga gambar sebuah gunung. Ia tidak dapat memastikan, tetapi dengan puncaknya yang datar dan berbatu terjal itu secara berbeda terlihat seperti lukisan minyak yang tergantung di ruang depan rumah Hoth. Ia merasa dadanya sedikit mengencang, sebuah rangsangan pada adrenalinnya.


“Kota ini, Berder apalah itu. Di mana tepatnya?”


“Berchtesgaden,” deputinya mengoreksi. “Jerman selatan. Dekat perbatasan dengan Austria.” Ada jeda sesaat, kemudian Khalifa berdiri dan melangkah cepat ke ruang kerjanya. Peta masih terbuka di mejanya dan meraihnya, ia mulai memusatkan matanya pada setiap halaman.


Tepat lima detik baginya untuk menemukan apa yang diinginkannya. Berchtesgaden. Kurang dari dua puluh kilometer dari Salzburg, yang merupakan bandara terdekat. Ia mengangkat telepon dan memutar nomornya. Tiga kali dering, kemudian suara Chief Hasani terdengar di jalur telepon.


“Pak? Khalifa. Aku ingin mengajukan biaya perjalanan.” Terdengar gumaman kecil.


“Aku khawatir sedikit lebih tinggi dari itu, Pak.” Ia menggigit bibirnya. “Austria.” Gumaman itu pun tiba-tiba menjadi lebih keras.

__ADS_1


__ADS_2