Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
GOA TAMBANG GARAM TUA II


__ADS_3

Ben-Roi mendekatinya, menyentuh permukaannya, menonjokkan kepalan tangannya pada permukaan itu.


“Ini beton!” ia mendesis. “Ada pintu di sini. Seseorang menutupnya, mencoba membuatnya terlihat seperti bagian lorong yang lain.”


“Kau pikir ...?” Ia tidak menjawab, hanya menonjoknya lagi, dan lebih keras. Layla tidak yakin, tapi dia merasa dirinya menangkap suara gaung sayup-sayup. Sebuah kepala kampak tua tergeletak di lantai di dekatnya. Dia memungutnya dan memukulkannya pada dinding.


Lagi-lagi, suara gaung semakin terdengar keras. mereka saling menatap, kemudian Ben-Roi meraih kepala kampak itu, memberikan senternya pada Layla dan mulai memukul-mukul dinding.


Satu, dua, tiga dan retakan kecil pun terbuka. Ben-Roi menyesuaikan posisinya, membuat ruang lebih leluasa bagi dirinya untuk mengayun kampak dan memulai lagi pukulannya pada permukaan dinding itu. Retakan itu semakin melebar dan menyebar, retakan tambahan merambat darinya seperti jari-jari roda, suara gaung semakin terdengar keras pada setiap hantaman sampai akhirnya sepotong lembaran beton terlepas dan jatuh ke lantai, memperlihatkan dinding balok di belakangnya. Pada permukaannya, dalam cat putih, tertulis kata MEIN EHRE...


“Heisst Treue,” bisik Layla, melengkapi legenda, bagian terakhirnya terhalang di bawah beton. Ia memandang Ben-Roi.


“Semboyan SS.”


“Kau memang Kparat, Hoth,” ia bergumam. “Kau memang Nazi Kparat!” Ia memukul-mukul balok-balok untuk menimbang-nimbang berapa padatnya mereka, kemudian, dengan menggunakan ujung kampak, mulai menggores-gores salah satunya, menghilangkan semen penempel yang ada di tempatnya. Sudah lebih jelas sekarang, terlihat dengan mudah, remuk hampir bersamaan dengan saat ujung kampak itu dihantamkan pada mereka. Dalam semenit Ben-Roi telah membebaskan balok itu dari potongan lain di sebelahnya. Ia menjatuhkan kapak dan menendang dinding itu.


Balok itu bergetar, tetapi masih utuh. Ia menendang lagi, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghantam. Kali ini balok itu terlepas, jatuh ke belakang dan menghilang dengan suara gedebuk seperti gabus penyumbat botol terlempar dari botol, meninggalkan gua yang gelap. Ia mengambil senternya lagi dari Layla dan, sambil menyorongkan badannya ke depan, menyinari lubang itu.


“Oy vey!”


“Apa yang kau lihat?”


“Oy vey!”


“Apa?”


Ben-Roi mundur, memberikan kesempatan pada Layla untuk berdiri di tempatnya. Layla mengangkat senternya dan, sambil menjulurkan wajahnya ke gua, melihat ke dalam kegelapan, uap dari napasnya melayang-layang dan berputar dalam cahaya lampu. Lorong lain terbentang di depannya, lebih sempit daripada lorong utama dan ada sisi kanannya. Sepanjang dinding, terlihat sekilas dalam cahaya lampu sebelum kembali gelap lagi karena ia mengayunkan lampunya dari satu sisi ke sisi lain, adalah berlusin-lusin kotak dan peti, sebagian terbuat dari kayu, sebagiannya logam, ada yang besar, kecil. Dan kebanyakan, sejauh yang dapat ia amati, bercap swastika dan lencana dua kilat kembar SS.


“Tuhan yang Kuasa,” Layla berbisik. Ia mengamati pemandangan ini selama tiga puluh detik, terpaku. Kemudian, tiba-tiba perasaan tidak nyaman menyergapnya karena membelakangi Ben-Roi, ia pun berbalik. Si Israel tepat berdiri di belakangnya, dengan tangan menggenggam pahat besi berkarat yang pasti telah ia pungut ketika Layla sedang mengamati isi gua. Untuk sesaat ia merasa tegang, mengira laki-laki ini akan menyerangnya. Tetapi ia malah memberikan pahat itu pada Layla dan, sambil membungkuk, mengangkat kapak dari lantai tempat ia membuangnya.


“Ayo kita runtuhkan,” katanya. Kurang dari lima menit waktu yang mereka perlukan untuk memperluas pintu gua sampai terbuka sepenuhnya. Segera setelah mereka membuat lubang yang cukup besar, mereka menyingkirkan peralatan ke tepi dan, Ben-Roi yang pertama, merangkak dalam lorong itu, embusan kasar napas mereka tampak mengisi seluruh terowongan seolah mereka sedang berdiri di dalam paru-paru batu yang besar.

__ADS_1


Mereka mengarahkan sinar senter ke sana-sini, mencoba melihat berapa jauh koridor itu terbuka, kemudian melangkah mendekati kotak terdekat dan berjongkok di depannya. Kotak itu berbentuk bujur sangkar, terbuat dari logam, dengan penutup yang padanya tertera gambar tengkorak dan tulang bersilang yang telah disemprotkan dalam warna hitam. Ben-Roi menjentikkan pengaitnya dan membukanya.


“Chara!” ia terperanjat. “Sialan!”


Di dalam kotak itu, terbungkus dalam kertas lilin seperti potongan keju, ada dua lusin kotak bom plastik. mereka memperhatikan isi kotak itu dengan gugup, kemudian beralih ke kotak berikutnya, yang terbuat dari kayu. Ada linggis tergeletak di atas kotak dan, dengan menggunakan linggis itu, Ben-Roi membuka penutup, mengesampingkan lapisan jerami yang menutupi. Dan tampaklah sebuah pistol mauser yang terkemas dalam kotak kayu. Ruang di ujung peti dipenuhi klip amunisi.


“Ini gudang senjata,” kata Layla. “Ini gudang senjata!”


Mereka mengangkat salah satu pistol dan memeriksanya terlihat begitu rapi, tidak rusak setelah enam puluh tahun tersimpan dalam kegelapan pertambangan kemudian meletakkan lagi ke tempatnya dan mulai masuk lebih jauh ke dalam lorong. mereka berhenti setiap beberapa meter untuk membuka kotak dan peti.


Kebanyakan berisi senjata dan peralatan penghancur. Ada benda lain juga. Salah satu kotak penuh sesak berisi ratusan Salib Besi, yang lain berisi bundel banknotes yang terbungkus rapi, dan yang lain berisi botol anggur yang telah berdebu. Sebuah peti datar kecil yang menempel pada dinding sekitar dua puluh meter ke dalam lorong memiliki penanda yang tertempel padanya bertuliskan “1 Vermeer, 1 Breughel (Altere), 2 Rembrandt.”


“Tuhan yang Kuasa,” kata Layla terus bergumam pada dirinya sendiri. “Mahabesar Tuhan.” Dengan semua koleksi yang spektakuler itu, mereka belum menemukan tanda apa pun tentang Menorah. Mereka pun terus berjalan di sepanjang lorong, lebih dalam dan lebih dalam lagi ke pegunungan sampai akhirnya, setelah hampir lima puluh meter, melihat bahwa di depannya lorong sepertinya semakin melebar.


Mulut lorong sangat gelap bahkan lebih tidak terpenetrasi daripada yang telah mereka temukan di tempat lain. mereka menyorotkan lampu ke berbagai arah untuk melihat apa yang terjadi, kemudian terus berjalan, sejauh dua puluh meter lagi sebelum dinding lorong tiba-tiba menghilang dan tahu-tahu mereka sedang berdiri di pelataran datar yang luas, memandangi kekosongan.


“Ini gua yang sangat besar,” Layla berbisik.


Mereka bergerak menuju bagian depan pelataran. Di sana terdapat sesuatu yang tampaknya berupa sistem elevator dasar yang memberi akses menuju lantai gua di bawah hanya berupa platform atau lantai kayu persegi dengan rel tangan pada masing-masing ujungnya, berjalan di dua jalur vertikal yang melekat pada permukaan dinding batu. mereka mencobanya dengan kaki, dengan hati-hati sekali, memastikan bahwa kayunya tidak rapuh, kemudian melangkah ke atasnya dan menyorotkan lampu maglites kekekosongan.


“Berapa banyak benda ini di sana?” kata Ben-Roi. Mereka menyorotkan maglite ke sekeliling selama hampir satu menit, mencoba mencermati bersama gambaran tentang sekeliling, kemudian mulai mencari cara agar elevator ini berjalan. Sebuah kotak pengendali menempel pada salah satu rel tangan dengan kabel listrik panjang menggantung dari sisi bawahnya dan tuas pada permukaannya. Ben-Roi menarik tuas itu. Tidak terjadi apa-apa.


“Tak ada tenaganya,” katanya.


Ia meletakkan linggis yang masih dipegangnya dan kemudian memegang rel, menyorotkan senternya ke kegelapan, mencoba menemukan sumber listrik bagi lift ini. Ada banyak gulungan kabel di lantai gua, satu yang paling tebal ada di sepanjang permukaan batu di samping elevator. Ia menelusurinya dengan sinar lampunya, mengikutinya ke atas sampai pada tepi pelataran, pada balkon batu dan melintasi pintu rendah beberapa meter di sisi kiri pintu lorong. Mereka mendekatinya dan masuk ke dalam ruang kecil tempat kabel masuk ke dalam generator besar, mekanisme engkol berkarat bergantung dari sisinya seperti lengan yang layu.


“Menurutmu ini masih bekerja?” tanya Layla. “Setelah sekian lama?”


“Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya,” kata Ben-Roi, sambil memberikan lampunya pada Layla.


Ia meraih engkol dengan kedua tangannya dan menariknya, memutarnya separuh lingkaran. Tidak bereaksi. Ia mencoba lagi. Masih tetap tak bereaksi. Ia membentangkan bahunya, jongkok untuk membuat dirinya lebih banyak ruang dan mengangkat. Generator mengeluarkan suara lemah, badannya agak merasa ngeri.

__ADS_1


“Ayo,” desis Layla.


Ben-Roi menarik handel itu lagi, dan lagi, dan lagi. masing-masing gerakan itu menghasilkan suara rentetan berlarut-larut yang lebih keras sampai akhirnya, pada usaha yang kesembilan, mesin itu tiba-tiba hidup. Sinar yang terang benderang mengejutkan membanjiri gua di belakang mereka. mereka bergegas kembali ke pelataran.


“Sialan,” kata Layla. Begitu mereka berhasil, ternyata mereka sedang berdiri di balkoni alamiah pada ujung gua yang besar seperti hangar, tiga puluh meter tingginya, lebar empat puluh meter, panjang tujuh puluh meter, dinding dan langit-langitnya berselang-seling dengan garis bergelombang batu oranye dan abu-abu. Namun, bukan gua itu sendiri yang membuat mereka tetap berdiri dengan mulut terbuka, tetapi isinya, karena bila pada lorong di sebelah sana ada lusinan peti dan kotak, di sini dengan sinar berkilau dari delapan lampu raksasa ada ratusan, garis demi garis, baris demi baris, rak demi rak, yang terbagi ke dalam blok-blok yang rapi dengan jalur sempit di antaranya yang sesak dengan barang-barang lain patung, senjata mesin, lukisan, drum minyak, bahkan sepasang sepeda motor tua. Tergantung dari langit-langitnya pada bagian belakang gua, menutupi hampir seluruh dinding belakang, sebuah bendera besar merah, putih dan hitam dengan bagian tengahnya swastika berlengan miring.


“Sialan,” ulang Layla. Mereka melangkah ke tataran elevator lagi, generator menderu di belakang mereka, maglites ada dalam genggaman mereka.


“Kita tidak akan pernah menemukannya,” gumam Layla. “Tidak mungkin. Ini akan memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu.” Ben-Roi tidak mengatakan apa-apa, hanya melihat sekeliling gua dengan penuh perhatian. Sepuluh detik berlalu, kemudian ia mengangkat senternya, menunjuk ke satu arah.


“Tidak, tidak akan memakan waktu sebanyak itu.” Di bawah mereka, sepanjang gua mulai dari elevator ke dinding belakang, ada gang sentral yang luas, satu-satunya bagian lantai yang bersih dari kekacauan. Pada ujungnya di sebelah sana, berdiri sendiri langsung di bawah bendera Nazi seolah memang sengaja dibuat terpisah, ada satu peti besar, berbentuk bujur sangkar, kira-kira setinggi seorang laki-laki.


“Itu dia,” katanya.


“Ya,” bisik Layla. “Ya.” Mereka menatap benda itu, kemudian, sambil mengambil linggis lagi, Ben-Roi menggeser tungkai kontrol elevator ke depan.


Terdengar suara klik yang keras, dan dengan getaran platform kayu itu secara perlahan mulai turun, bergemuruh dengan suara derit mesin sebelum berhenti beberapa sentimeter di atas lantai gua. mereka melompat ke lantai dan berjalan, langkah kaki mereka tak terdengar pada permukaan batu yang rata. Rak peti itu menjulang seperti dinding pada sisi mereka, gua itu terasa lebih besar dan mengesankan karena sekarang mereka melihatnya dari lantai dasar.


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced

__ADS_1


Best Regards


*****


__ADS_2