Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
RAHASIA PELARIAN


__ADS_3

“Oh, Antonku yang malang. Antonku sayang malang mengapa kau tidak membiarkan kita mati bersama? Seperti seharusnya. mengapa kau menyiksaku seperti ini?” Tangan Inga Gratz bergerak merangkak di seprai tempat tidur dan mencengkeram pergelangan tangan Khalifa. Genggamannya dingin, basah oleh keringat, dan erat. Detektif itu mengernyit, tidak nyaman dengan sentuhannya, seolah laba-laba besar berbisa telah melingkarkan kakinya di tangannya. Namun, ia tidak bergerak untuk menarik tangannya. Ia merasakan bahwa seluruh investigasinya entah bagaimana menyempit dengan sendirinya ke dalam pertemuan ini, dan bila sikapnya yang membolehkan perempuan itu memegang tangannya telah membantu perempuan tua itu untuk lebih mendekat dan informatif, katakan padanya apa yang perlu ia ketahui, maka ia bersiap untuk bertahan dengan keadaan ini, bahkan bila hal ini membuatnya merasa agak mual.


Saat itu lewat jam sebelas malam. Selama lima jam ia telah bolak-balik melewati koridor di luar kamar Inga Gratz di rumah sakit, merokok terus-menerus, mengingat berulang-ulang peristiwa di blok apartemen, sambil menunggunya siuman kembali. Ketika akhirnya ia siuman, para dokter melarangnya masuk ke kamar, sambil berkata bahwa Inga masih terlalu lemah untuk bicara, bahwa Khalifa harus menunggu sampai besok pagi. Dengan berterus terang, ia memaksa untuk dapat masuk dan melihatnya, mengancam untuk membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi, dan akhirnya mereka menyerah, mengizinkannya masuk selama lima belas menit, dengan syarat harus didampingi seorang suster.


“Hina,” ia bergumam, jari-jarinya mencekal dan melepas pergelangan tangan Khalifa, suaranya tumpul dan samar, kemungkinan besar efek samping obat-obatan yang diminumnya. “Kau harus melihat itu. hina. Setiap dari mereka. Pengisap darah. Kami melakukan kebajikan untuk dunia. Kau harus berterima kasih pada kami.” Ia menatap Khalifa, wajahnya sepucat mayat dalam kilau lembut lampu tepi tempat tidurnya. Sepasang tube plastik turun dari lubang hidungnya seperti cacing kurus melata dari lubang pada tengkoraknya. Kemudian ia berbalik dan mulai menangis. Ada juga tube intravenus lain yang dimasukkan ke lengannya, dan dengan tangan yang lain ia mulai mencakarnya, memanggil suster yang menunggu di sisi pintu untuk mendekat dan mengangkat tangannya, secara perlahan menariknya ke bawah selimut. hening untuk waktu yang lama, satu-satunya suara terhenti, deru napas tidak lancar dari perempuan tua ini dan, dari luar jendela, bunyi irama fut-fut dari tetesan air di halaman rumah sakit.


“Dieter,” ia akhirnya berkata, wajahnya masih menjauh dari Khalifa, suaranya hampir tak terdengar, hanya bisikan lemah.


“Maaf?”


“Itu adalah nama Piet yang sebenarnya. Dieter. Dieter Hoth.” Sesaat lamanya detektif itu mencoba membuat koneksi yang ada. Ketika ia melakukannya, ia pun menjatuhkan kepalanya dan mendesah, senyum tipis tersungging di ujung mulutnya, walaupun tidak ada humor dalam ekspresinya, hanya sejenis sikap mencela diri sendiri saja. Demi Tuhan! Hoth itu adalah apa yang dibisikkan Hannah Schlegel pada Jamal lima belas tahun lalu, saat ia terkulai sekarat di lantai kuil di Karnak. Hoth, bukan THoth.


Selama ini ia telah mengejar nama yang salah. Berapa banyak lagi yang salah, ia bertanya; berapa banyak lagi jalan gelap yang ia lewati?


“Ia seorang ... Nazi?” tanya Khalifa.


Inga mengangguk lemah. “Kami semua Nazi. Kami bangga mengabdi pada negeri kami, Fuhrer kami. Tidak ada yang memahaminya sekarang, tapi dia orang yang baik. Laki-laki hebat. Dia semestinya sanggup membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.”


Ia memutar kepalanya ke arah Khalifa, begitu tak berdaya, pandangan memohon tetap terpancar dari matanya, walaupun Khalifa kini melihat sesuatu yang lain juga di sana, jauh di dalam, sesuatu yang tidak ia sadari sebelumnya: kekejaman, kekerasan, seolah tubuhnya yang lemah tidaklah lebih dari sekadar bungkus luar yang di dalamnya berisi hal yang terpisah seluruhnya, semuanya merupakan makhluk yang lebih dengki. Khalifa mengencangkan giginya, lebih kuat daripada genggaman tangan perempuan itu yang basah sebelumnya.


“Dan Hannah Schlegel?” ia bertanya. “Ia membunuhnya? Piet Jansen Dieter Hoth.” Ia mengangguk lemah lagi, tidak lebih dari gerakan menaik terpatah-patah dari kepalanya. “Hannah tahu siapa dia. Datang untuk mencarinya. Mereka tak pernah berhenti mencari.” Ia mengatupkan mulutnya dan memutar matanya ke langit-langit, rasa ngeri merambat pada tubuhnya seakan-akan ia sedang menerima kejutan listrik ringan.


Kemudian diam sejenak, detak jarum jam di dinding terdengar kasar tidak seperti biasanya dalam kesunyian yang menyelimuti; kemudian secara perlahan, dengan sedikit bimbang, ia mulai bicara lagi, mengeluarkan sedikit demi sedikit, potongan demi potongan, kisah tentang kehidupannya sendiri Elsa Fauch adalah nama aslinya, istri Wolfgang Fauch, keduanya adalah penjaga di kamp konsentrasi Ravensbruck dan tentang kehidupan temannya, Dieter Hoth: siapa dia, dari mana ia berasal, kerjasamanya dengan SS. Khalifa membiarkannya bercerita dengan kecepatannya sendiri, dengan caranya sendiri, kadang-kadang mengajukan pertanyaan atau komentar ganjil ketika terlihat ia sedang kehilangan bagian dari narasinya.


Tetapi kala ia tidak mendengarkan dalam diam, semua elemen berbeda dari kasus ini, semua hal yang telah membingungkannya selama dua minggu terakhir, secara perlahan terpecahkan dalam pikirannya sampai keseluruhannya jelas dan masuk akal.


“Kami semua keluar secara bersama-sama,” katanya perlahan, sambil menatap langit-langit kamar, matanya setengah tertutup.


“Pada akhir perang. April 1945. Aku, Wolfgang, Dieter, laki-laki lain bernama Julius Schechtmann. Julius pergi ke Amerika Selatan, kami pergi ke mesir. Dieter sudah menghubungi orang-orang yang dapat menolong kami.” Dalam pikiran Khalifa potongan lain dari puzzle itu bisa disisipkan di tempatnya.


“Faruk Al-Hakim,” kata Khalifa. Perempuan tua itu mengangguk. “Dieter kenal keluarganya. Ia hanya seorang laki-laki muda, penjaga toko. Pintar, ulet, ambisius.

__ADS_1


Kami membawa uang, milyaran, apa pun sanggup kami adakan. Kami membayar Faruk, ia membantu kami untuk menghilang. Belakangan, yang lain datang; Farouk mengatur segala sesuatunya untuk mereka juga. Kami membayar gaji tahunan untuknya; ia memastikan tidak akan ada pertanyaan yang diajukan. Itu bisnis yang bagus baginya.” Pertemuan dengan Chief Mahfudz muncul lagi dalam benak Khalifa. Aku katakan pada Al-Hakim tentang Jansen, tetapi dia bilang Jansen terlarang. Dikatakan bahwa menarik dirinya ke dalam kasus ini akan membuat persoalan lebih buruk, Semakin banyak kebencian terhadap orang Yahudi. Tak heran, pikirnya.


Menyelidiki Jansen akan membawa seluruh hal tentang Nazi ke tempat terbuka; mempertontonkan mesir sebagai tempat berlindung bagi pembunuh dan penjahat perang, dan menarik Al-Hakim dari apa yang jelas-jelas menguntungkan. Jauh lebih baik meninggalkan Jansen sendiri dan meminta orang lain di dakwa sebagai pembunuh Schlegel. Bahkan bila itu adalah orang lain yang sepenuhnya tidak berdosa.


“Kami memiliki kehidupan yang baik,” perempuan itu berkata lagi. “Memulai bisnis, menjalin pertemanan baru. Ada kelompok kecil kami suatu waktu. Sekarang semua sudah pergi. Aku, Wolfgang, Dieter kami adalah yang terakhir. Dan sekarang hanya tinggal aku.” Ia mendesah, dan menggeser tubuhnya yang ringkih sedikit ke bawah selimut, tangannya masih memegang lengan Khalifa.


“Kami harus senantiasa dijaga, tentunya. Khususnya setelah apa yang terjadi pada Julius. mereka menggantungnya, kau tahu, hewan kotor itu. Secara umum, kami bisa menjalankan kehidupan seperti biasa, mengurusi bisnis kami sendiri. Berpikiran bahwa kami menikmati sisa hari kami dalam damai dan tenang.”


“Sampai Hannah Schlegel tiba,” kata Khalifa perlahan.


Ia mencibir ketika menyebut nama itu, bibirnya yang tipis dan pucat menarik ke belakang sehingga memperlihatkan giginya. Sang detektif memiliki kesan sesaat yang membingungkan bahwa ia tidak sedang melihat manusia tetapi lebih mirip hewan yang buas, anjing atau serigala.


“Tuhan tahu bagaimana ia menemukan Dieter,” katanya.


“Dieter sudah begitu berhati-hati, melakukan apa saja yang dapat dia lakukan untuk menutupi jejaknya. memalsukan kematiannya sendiri sebelum kami meninggalkan Berlin, meninggalkan sebagian dari harta pribadinya pada sesosok mayat sehingga terkesan bahwa dia telah tewas dalam penyerangan Rusia. Tetapi kemudian, begitulah Yahudi ada untukmu, ‘kan? Vampir. Selalu memburu, selalu mencari darah. Selalu, selalu, selalu.” Ia menjadi gelisah, selalu mengubah posisi di tempat tidurnya, napasnya pendek dan menghela tajam. Dengan melangkah maju lagi, suster meletakkan tangannya pada kening perempuan itu yang kelabu, mencoba menenangkannya. Khalifa mengambil kesempatan itu untuk membebaskan lengannya, tidak lagi tahan dengan sentuhan kulitnya, seolah bersentuhan kulit akan membuat infeksi pada dirinya, mengucurkan racun ke dalam aliran darahnya. Ia menggeser kursinya ke belakang, agar tak terjangkau oleh perempuan itu, menyilangkan kaki dan menunggu sampai ia pulih kembali.


“Ia tak pernah mengatakan pada kami kisah selengkapnya,” ia mulai lagi pada akhirnya, suster menenangkannya. “Sesuatu tentang Prancis, penggalian ... tak pernah seluruhnya jelas. Semua yang dikatakannya bahwa ia telah mengirim Schlegel kembali ke kamp pada 1943, dan empat puluh lima tahun kemudian, Schlegel tiba-tiba saja menelepon dari sebuah hotel di Luxor dan meminta bertemu dengannya.” Ia menggelengkan kepala. “Awalnya Dieter menyangka bahwa Schlegel hanya ingin memerasnya. Tipikal Yahudi serakah. Tetapi kemudian, ketika mereka bertemu, perempuan Wanita Sialan bodoh itu mulai meneriakkan keadilan dan balas dendam, mengatakan bahwa ia membawa pisau dan akan membunuhnya. Dieter berusia tujuh puluh tahunan ketika itu, tetapi ia masih kuat, fit. Sempat memukul Schlegel, dan menghabisinya dengan tongkatnya. Atau paling tidak ia mengira telah menghabisinya.


“Semua yang menyangkut kasus ini, kemana pun kasus ini membawanya seolah aku sedang berada di dunia alien. Tertatih-tatih berjalan di dalam ruang gelap dan hitam tempat semua insting dan kepekaanku, semua yang aku tahu dan hargai, tidak ada artinya sama sekali. Aku tak mengerti. Aku tak mengerti satu pun dari semua ini.”


“Flatnya Hannah Schlegel?” ia mencoba bertanya. “Jansenkah yang meminta Anda membakarnya?”


Perempuan tua itu mengangguk. “Ia menelepon kami, menjelaskan apa yang terjadi, mengingatkan bahwa mungkin saja Schlegel telah meninggalkan catatan, perincian tentang bagaimana ia mengikutinya. Ia mencuri dompetnya, dan karena itu memiliki alamatnya. Wolfgang menghubungi beberapa asosiasi bisnisnya di Yerusalem. mereka mengurusi segalanya.” Ia menutup matanya, jari-jarinya yang buruk dan layu mengetuk-ngetuk bagian tepi tempat tidurnya.


“Dieter yang malang. Ia berubah setelah itu. Tidak satu pun dari kami, tetapi ia yang terburuk. mengerikan. Percaya bahwa akan lebih banyak lagi dari mereka yang akan datang, bahwa mereka akan membawanya kembali ke Israel dan mengadilinya. Ia tidak mau menemui siapa pun lagi, semua jendela rumahnya selalu dikunci, tidur dengan pistol di sisi tempat tidurnya. Dan kemudian, ketika Farouk mati tahun lalu, ia semakin ketakutan karena dengan kepergian Farouk tidak ada lagi yang melindungi kami. hal itu menyebabkannya menderita kanker. Aku yakin itu. Kekhawatiran adalah sesuatu yang terus-menerus mengintainya. Ia boleh jadi telah membunuh Schlegel di Karnak, tetapi Yahudi tua itu menghabisinya juga. Pada akhirnya mendapatkan kami semua. mereka selalu begitu. mereka itu sampah. hina.” Ia sedang menuju akhir dari kekuatan yang masih tersisa padanya, dan suster, yang masih tetap berdiri di sisi tempat tidur, batuk dan melirik pada jamnya, memberi tanda bahwa sudah saatnya wawancara berakhir. Khalifa mengangguk, berdiri dan berbalik melangkah ke pintu, tetapi kemudian menengok lagi.


“Sebelum dia mati, tampaknya Tuan Jansen mencoba mengontak ******* Palestina Al - Mulatham. Katanya ia memiliki sejumlah senjata yang dapat dia gunakan untuk melawan orang Yahudi. Apa Anda tahu tentang itu?” Yang membuatnya terkejut, perempuan tua itu tertawa tertahan, dengan suara yang kejam dan kental, seperti lumpur yang menggelegak.


“Teka-teki Dieter,” katanya, sedikit kekuatan sepertinya telah mengembalikan suaranya. “Seperti itu kami biasanya menyebut hal itu, aku dan Wolfgang. Ia selalu menggunakan teka-tekinya itu, khususnya setelah dia minum satu atau dua gelas. Bagaimana dia menemukan sesuatu yang dapat membantunya merusak Yahudi. ’Aku masih bisa menyakiti mereka, Inga’. Begitulah dia biasa mengatakan. ’Aku masih bisa menyakiti Kparat itu semua’.” Ia tertawa perlahan dan, sembari merendahkan tangannya, terbenam lagi ke dalam bantal seolah masuk ke dalam salju, matanya berkedip membuka dan menutup.


“Apa dia mengatakan pada Anda mengenai hal itu?” Tanya Khalifa.

__ADS_1


“Tidak,” jawabnya, “Dia tidak pernah mengatakannya.”


“Di mana?”


Ia mengangkat bahu, lemah. “Aku pikir ia menyebutkan kotak penyimpanan yang aman. Tetapi kemudian lain waktu ia mengabarkan telah meninggalkan semua detail pada teman lamanya, jadi siapa yang tahu? Dia dapat saja begitu penuh rahasia, si Dieter itu.” Ia mendesah, sambil menatap langit-langit.


“Generasi baru, itulah yang diharapkannya. Seseorang yang kepadanya dia bisa memberikan itu, yang akan menolong Jerman menjadi kuat kembali. Tetapi tahun berlalu dan tak ada seorang pun mengambil mantel itu, kemudian ia menemukan bahwa ia mengidap kanker. maka ia pun memutuskan memberikannya kepada orang Palestina. ‘Berikan ini kepada orang-orang yang membutuhkannya’, itulah yang dikatakannya. Kami mengirim surat untuknya.”


“Surat?” mata Khalifa menyipit.


“Kepada seorang perempuan Palestina. Di Yerusalem. Dieter berpikir perempuan itu bisa menolongnya. Al-Madani, itulah namanya. Layla Al-Madani. Tidak tahu apakah perempuan itu pernah menghubunginya kembali. Aku harap dia melakukannya. Kami harus terus berjuang. memperlihatkan pada orang Yahudi bahwa mereka tidak dapat melakukan segalanya sesuai dengan cara mereka. Hina, begitulah mereka. Wabah penyakit. Kami melakukan suatu kebajikan untuk dunia. Kau harus tahu itu. Yakinkah kau bahwa kau harus tahu itu? Kami ini temanmu yang sesungguhnya. Kami selalu menjadi teman kalian.” Matanya secara perlahan menutup, suaranya semakin lemah dan menjauh. Khalifa menatapnya, mencoba, namun gagal, mengorek lagi walaupun sedikit, lalu berjalan ke pintu. Begitu ia sampai di pintu, entah bagaimana perempuan itu berusaha mengangkat dirinya sendiri di tempat tidur dan memanggilnya.


“Aku akan baik-baik saja, ’kan? Kau tidak akan mengatakannya pada orang Israel? Kau akan mengejarku? mereka adalah musuhmu juga.” Khalifa diam selama beberapa detik, lantas, tanpa menjawab, ia melangkah keluar menuju koridor dan menutup pintu di belakangnya


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards


*****

__ADS_1


__ADS_2