
Suasana pesta terus berjalan dengan sangat lancar. Terlihat kedua mempelai kini turun dari pelaminannya.
Sari seketika merasa lapar, matanya pun melihat kesekeliling ruangan pesta yang tertuju pada meja hidangan.
Namun Sari merasa tak ingin makan makanan berat, ia ingin sesuatu yang ringan namun sedikit manis. Dan langkahnya pun tertuju pada meja dessert.
Dengan berjalan pelan Sari berjalan dengan melihat sekilas pada meja dessert tersebut dan ketika hendak mengambil piring. Tanpa sengaja Sari menabrak seseorang.
"Aduh..." pekik suara anak kecil yang seketika jatuh.
Sari pun terkaget ketika mendengar suara anak perempuan itu.
"Ya ampun maaf, nak!!" ucap Sari dengan bersegera menolong anak perempuan itu untuk bangun.
Wajah anak perempuan itu terlihat kesal namun sedetik kemudian ia terpaku ketika melihat dari jarak dekat wajah wanita yang menolong dirinya untuk bangun.
"Kamu gak papa nak?? Maafin tante yaa, tante gak liat!" ujar Sari dengan wajah merasa bersalah ketika melihat gaun cantik anak perempuan itu jadi kotor karena terkena cake.
"Tante" seru anak perempuan itu pelan. Sehingga Sari tertegun lalu melihat pada wajah anak perempuan itu.
"Sifa?" seru Sari dengan wajah kaget dan seketika Sari tersenyum simpul.
"Maaf yaa tante jadi nabrak kamu sampai jatuh" tutur Sari sembari membantu Sifa untuk bangun.
Wajah Sifa seketika berubah senyum.
"Gak papa tante, Sifa yang salah" balas Sifa tersenyum.
"Enggak, tante yang salah karena terlalu fokus sama cake sampai gak liat kamu jalan, maaf yaa Sifa" tutur Sari kembali dengan mata masih tertuju pada noda kotor di gaun cantik anak perempuan.
"Kita kesana yuk, biar tante bisa bersihin baju kamu" tawar Sari.
Sifa mengangguk tanpa menolak. Lalu keduanya pun berjalan bersama menuju satu meja yang terdapat kursi kosong di sana.
Sari pun mengeluarkan tisu basah dari tas pestanya lalu menyeka noda kotor di gaun Sifa.
"Tante cantik banget hari ini" puji Sifa dengan tak lepas menatap wajah Sari.
Sari tersenyum tipis namun ia masih terus fokus pada noda kotor yang sedikit susah hilang jika hanya di seka.
"Maaf yaa Sifa, nanti tante minta maaf sama mama kamu yaa, gara-gara tante baju kamu sampai kotor begini"
Sifa menahan tangan Sari yang masih berusaha menyeka noda kotor itu. Sari terkaget. Terlihat wajah anak perempuan itu berubah sendu.
"Tante kok bisa ada disini?" tanya Sifa.
Sari sedikit terkejut kaku ketika mendengar pertanyaan Sifa.
"Tante saudaranya siapa yaa??"
"Saudara?"
__ADS_1
"Hm, iya.. Sifa saudara dengan oma Dwi mamanya tante Liana"
Sari terkaget.
"Oh, jadi kamu saudara tante Liana" ujar Sari mengulang dengan wajah kaget.
"Pantes nie anak ada disini"bisik batin Sari.
"Kalau tanteee?? saudara juga..." jawab Sari asal.
"Saudara dari siapa?"
Otak Sari diajak berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan anak kecil ini.
"Ah, yaa saudara dari Adam dan Hawa" jawab Sari dengan wajah polos.
Sifa sejenak mencerna jawaban Sari.
"Oooh, Adam Hawa siapa? Oma dan oppa siapa?? Apa Sifa kenal?"
"Ya Salam" rutu batin Sari kelipungan mendapat pertanyaan Sifa.
"Hmm, yaa enggak, tapi kita memang benar saudara kok" jawab Sari dengan memasang senyum terpaksa agar terlihat meyakinkan.
"Ooh" sahut Sifa polos.
"Kamu keliling sendirian apa enggak papa?" tanya Sari.
"Tante"
"Hm?"
"Tante boleh gak Sifa tau nama tante, tante baik banget udah beberapa kali bantu Sifa"
Sari tersenyum simpul lalu jemarinya merapikan rambut Sifa yang panjang tergerai.
"Sari.. nama tante Sari Sartika"
Seketika wajah Sifa terpaku menatap dengan wajah syok. Namun tanpa terduga ia bersegera memeluk erat tubuh Sari.
Sari yang kaget terlihat bingung dengan perlakuan Sifa yang tiba-tiba memeluknya.
Dengan canggung dan bingung Sari membalas pelukan Sifa yang spontan itu. Beberapa orang yang berada di sekitar keduannya melihat dengan wajah aneh.
Sari yang ingin mererai pelukan Sifa kaget ketika merasa jika tubuh anak perempuan ini bergetar seperti menangis.
Perlahan secara naluri ia pun membelai lembut punggung Sifa yang memeluknya dengan erat dan membiarkan gadis kecil itu memeluknya lebih lama.
🍃🍃🍃
Disisi lain, terlihat dua orang pria berseragam safari berwajah panik menghadap Aldi yang dibuat kaget ketika mendengar kabar jika putrinya hilang di tengah kerumunan tamu undangan.
__ADS_1
"Pak, kami akan cari diluar, mungkin Sifa bersama sepupu yang lain bermain di taman belakang"
"Cari cepat" perintah Aldi khawatir.
"Saya akan coba memanggil teman yang lain" tawar seorang pria berseragam safari.
"Tidak" tolak Aldi tegas.
"Jangan membuat kegaduhan, cari berpencar, kamu cari di depan Lobby, saya akan mencari di dalam ballroom" perintah Aldi memberi tugas.
"Baik pak" sahut keduanya bersamaan lalu seketika berpencar seperti tugas pak wakil Bupati.
Aldi pun bersegera masuk kembali kedalam Ballroom acara. Terlihat beberapa tamu menyapa Aldi yang hanya membalas sekilas. Ia mencari dari sudut-sudut ruangan.
Ia berputar dengan membagi info pada WO yang menjadi penyelenggara pernikahan sepupunya itu.
Para crew WO pun akhirnya membantu mencari sosok gadis kecil yang hilang di tengah acara.
Hingga sekitar 30 menit lamanya Aldi berputar seketika langkahnya terhenti. Tatapan terpaku pada satu meja yang terlihat Sifa tengah tersenyum bahagia di hadapan seorang wanita yang tengah memakainya lipstik berwarna merah di bibir mungil putrinya.
"Coba liat ini" ujar Sari sembari memperlihatkan sebuah cermin kecil yang ia berikan pada Sifa.
Wajah gadis itu terlihat takjub ketika melihat wajahnya sendiri di cermin dengan bibirnya yang sudah berubah berwarna merah seperti Sari.
"Cantik" puji Sari menghibur Sifa yang sempat menangis memeluknya tadi.
Sifa memegang bibir merasa tak percaya jika kini ia sedang memakai lipstik.
"Warnanya bagus banget tante" ujar Sifa sembari menatap kembali wajah Sari dengan seutas senyum terkembang.
"Tante kayak peri yang bisa kasih magic"
Sari tertawa kecil mendengar ucapan Sifa.
"Kamu bisa tante sulap lebih cantik lagi, kalau datang ke butik galery tante"
"Butik Galery??"
"Iya, tante kerja disana sebagai tukang rias.. nah kalau kamu mau jadi lebih cantik lagi, kamu bisa datang kesana" jelas Sari sembari membenarkan bando di kepala Sifa.
Sifa memandang dalam wajah Sari dengan berbinar-binar.
Dan tanpa terduga terlihat sosok yang tiba-tiba menatap keduanya dengan dingin.
"Sifa" terdengar nama gadis kecil itu di panggil oleh seorang pria yang tiba-tiba datang dengan wajah cemas mendekat pada keduanya.
"Papa" seru Sifa yang seketika bangkit dari duduknya lalu berlari kecil memeluk tubuh pria yang merentangkan tangan dihadapan gadis kecil itu.
Sontak Sari terkaget dan dengan reflek bangun dari kursinya.
Sosok yang membuatnya tercengang dan menjadi pusat perhatian.
__ADS_1