Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
40


__ADS_3

"Gak.. gak mau.." rancau Sifa dalam tidurnya.


Dari kejauhan Aldi kasihan melihat sang putri terkulai lemas di bad pasien dengan terus mengingau.


"Sifa kenapa dokter??" tanya Aldi gusar.


"Putri bapak demam tinggi, dan tubuhnya sepertinya.. dehidrasi.."


Aldi mendengar dengan bingung.


"Dehidrasi??"


"Sepertinya dia sudah beberapa hari tidak makan, perutnya penuh dengan angin" timpal dokter.


Lagi, Aldi di buat terhenyak, lalu dengan cepat menatap sang ibu.


"Apa Sifa tidak makan?" tanya Aldi marah.


Ibu bingung.


"Ya makan kok, tiap hari sama Alia di suapin nasi, ya kan Alia???" tanya ibu pada wanita muda yang terlihat gusar.


Alia mengangguk cepat.


Aldi merasa tak yakin.


Dan dokter merasa tersudutkan.


"Ya.. tapi dari analisa saya, putri Bapak dehidrasi karena tidak makan.."


"Dokter mau menuduh saya tidak beri makan cucu!!" potong ibu Aldi marah.


Dokter kaget.


"Bukan begitu buk, tapi ini hasil yang kami dapat setelah memeriksa putri Pak Aldi.."


Ibu Aldi kian berang.


"Dokter!!" seru ibu dengan nada kesalnya.


"Ibu CUKUP!!" hardik Aldi yang lagi-lagi tak dapat menahan amarahnya.


Ibu Aldi, dokter dan juga Alia terkaget.


Wajah Aldi terlihat kejam, sorot matanya tajam melihat sang ibu.


Lalu tak lama ia menoleh pada Dokter.


"Tolong dokter, lakukan apapun untuk kesembuhan Sifa" pinta Aldi.


Dokter mengangguk dan seketika berlalu pergi dari hadapan sang Bupati.


"Lebih baik ibu pulang!!" perintah Aldi.


Ibu tak terima.


"Aldi??? kamu.."


"Ini yang terbaik, dan bawa pulang wanita ini sekalian.." ujar Aldi berlalu tanpa menoleh sedikit pun pada wanita muda yang cantik itu.


Wanita muda itu merenggut, wajahnya kecewa ketika mendengar ucapan pria yang pergi bahkan tak menatapnya.


Aldi mendekat pada sang Ajudan.


"Maaf pak, mbak Sari belum juga mengangkat telfonnya..."


Aldi menghela nafas gusar.


"Sarii???" ujar Aldi geram pada wanita yang benar-benar telah membuatnya frustasi.


Tak lama terlihat seorang suster keluar dari ruangan pasien.


"Bapak?? Sifa memanggil.." serunya.


Aldi segera pergi mengikuti suster yang kembali kedalam ruang pasien itu.


Aldi berjalan menuju tempat tidur pasien Sifa. Ia meraih jemari sang putri.

__ADS_1


"Pa.. pa-pa"


"Ya sayang, Papa disini.." sahut Aldi sembari mengecup punggung tangan sang anak.


Ia dapat merasakan suhu tubuh yang masih panas, Aldi mengusap lembut lengan Sifa. Dan tanpa sengaja ia melihat beberapa bekas biru-biru di lengan sang anak.


Wajah Aldi terkaget. Ia dengan cepat memeriksa lengan Sifa yang lain. Dan ia kembali mendapatkan beberapa bekas biru.


Hati Aldi mendidih, siapa yang berani menyiksa putrinya hingga separah ini.


Dan ingatannya tertuju pada wanita muda yang dibawakan oleh ibu.


Lalu dengan tanpa pikir panjang ia pergi dengan marah untuk mencari wanita yang berani menyiksa putrinya itu.


Pintu ruangan pasien terbuka kasar, sorot mata Aldi mencari dengan cepat wanita yang dipilihkan sang ibu.


Dan benar wanita itu masih bersama sang ibu. Aldi berjalan dengan langkah cepat.


Ibu dan Alia terkaget ketika Aldi kembali dengan wajah marah.


Aldi meraih lengan Alia dengan kasar.


"Kau!! apa kau sudah menyiksa putri ku??" tanya Aldi dengan nada penuh penekanan dan matanya tajam menatap Alia.


Alia terjegat kaget dan ia merasa kesakitan ketika lengannya di raih paksa.


"Ma..maksud mas???"


"Kau masih bertanya??? sini!!" ujar Aldi dingin, lalu dengan kasar menarik paksa Alia untuk masuk kedalam ruang pasien.


Terlihat Alia tersentak kasar.


Ibu Aldi panik melihat perlakuan kasar Aldi pada wanita muda itu.


"Aldi??" seru ibu hendak mencegah, namun tampaknya kemarahan Aldi tak bisa di bendung lagi.


Para suster dan dokter terkaget ketika melihat sang Bupati masuk dengan menarik paksa seorang wanita muda yang terlihat takut.


Aldi menarik lengan Sifa.


"Apa kau yang melakukan ini??"


Alia terpaku, seketika tubuhnya bergetar ketika melihat bekas biru-biru pada lengan Sifa.


"Eng..enggak.. bu-kan.." jawab Alia tergagap.


"Lalu siapa yang berani menyakiti Sifa?? apa IBU??" tanya Aldi marah.


Ibu yang berada di sana pun ikut terkaget mendengar ucapan Aldi.


"Alia??" serunya bingung.


"JAWAB?? APA KAMU MENYIKSA SIFA??" tanya Aldi dengan nada tinggi.


Alia terkesiap, cucuran airmata takutnya pun tumpah.


Wajah Aldi berubah kejam.


"Kau menyiksa putri ku??"


Alia kian gugup ketakutan.


"PERGI!!" hardik Aldi bernada tinggi sehingga seisi ruangan itu terkejut melihat sosok arogan seorang Bupati Aldi.


Alia pergi dengan ketakutan, ibu Aldi menghampiri Alia dengan wajah kasihan.


"Aldi?? kamu jangan menuduh seperti itu, Alia tidak mungkin menyiksa Sifa.. ia baik dan menyayangi Sifa.."


Aldi menyeringai mendengar ucapan ibu yang membela wanita muda itu.


"Jadi ibu tak percaya??? lalu ini apa?" tunjuk Aldi pada lengan Sifa.


"Apa mungkin ibu melakukannya?? apa mungkin bibik pengasuh yang sudah bertahun-tahun merawat Sifa?? coba ibu pikir?? siapa yang tega menyakiti Sifa!!!" cecar Aldi.


Ibu Aldi menatap Alia yang ketakutan.


"Apa kamu??"

__ADS_1


Alia hanya diam membisu dengan wajah ketakutannya.


Aldi menyeringai benci.


"Bawa pergi wanita itu, jika ia masih berani muncul di hadapan Sifa maka jangan salahkan Aldi jika akan menyeret ya ke kantor polisi.." ancam Aldi.


Alia terlonjak kaget, lalu dengan terburu langsung berlari meninggalkan ruangan itu.


Ibu benar-benar terkaget dengan Alia yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


"Liat!! liat wanita-wanita yang sudah ibu bawa?? untuk apa berpendidikan jika sifat aslinya jauh lebih berbahaya untuk Sifa.." sindir Aldi.


Ibu Aldi terpaku tanpa bisa membantah.


"Lebih baik sekarang ibu pergi.. pergi dan jangan coba untuk mengusik Sifa dengan mendatangkan wanita-wanita berhati iblis seperti itu.."


"Aldiii" lirih ibu sedih.


"Pergi buk.. Aldi tak ingin lebih membenci ibu.."


Deg.. ucapan Aldi sudah melukai perasaan sang ibu.


Aldi memalingkan mukanya.


"Baik.. kamu boleh membenci ibu.. tapi ibu tetap ibumu yang akan berpikir untuk kebahagiaan mu.." ucapan ibu sembari pergi dari ruangan itu.


Aldi mengepalkan jemari tangannya dengan kuat, di sudut hati yang ia merasa bersalah pada ibu. Namun ia tak bisa mengabaikan sang putri yang kian terkikis mentalnya.


***


Hening, Aldi menatap lama wajah Sifa.


Ia terus berpikir, mengapa kehidupan begitu kacau. Apa salahnya sehingga Sifa kian terus menjadi korban.


Ia memejamkan mata dengan nafas berat. Dosa apa yang sudah ia perbuat sehingga semua menjadi begitu menyedihkan.


Sifa bergerak gelisah dengan tangan yang kian mencari.


Aldi sontak terkaget lalu dengan cepat mengapai jemari Sifa.


"Sayang??"


"ma..mah.." lirihnya.


Deg..


Aldi mengusap kepala Sifa.


"Sayang.." bisiknya mendekat.


Kedua mata Sifa terbuka lalu menoleh pada sang Papa.


Dengan keringat bercucuran Sifa menatap wajah sang Papa.


"Pa-pah.."


"Ya sayang, Papa disini.."


"Pa-pah.. Papa mau menikah sama mama Alia ya??"


Deg.. Aldi terkaget.


"Gak papa.. pah.. Si-fa gak papa.."


Aldi bingung.


"Ta-pi.. to-long Papa ijinin Sifa jadi anak mama Sari.. "


Deg... Aldi terhenyak.


"Sifa mau mamah.. sifa mau mamah Sari..." tangisnya pecah..


Dan Aldi diam seribu kata di hadapan sang putri yang terlihat kian frustasi dan putus asa.


Seketika Aldi memeluk tubuh Sifa erat.


"Gak sayang, Papa enggak akan menikah dengan mama Alia, atau siapa pun itu..." ujar Aldi dengan perasaan yang luluh lantak mendengar tangisan sang putri.

__ADS_1


__ADS_2