
Malam hari pun tiba. Kini mobil sedan Aldi terparkir di depan rumah Sari.
Sifa tak sabar untuk turun dan menjemput sang mama baru.
"Biar Sifa aja pah, biar Sifa yang panggil mama" Kata Sifa sembari membuka pintu mobil dan berlalu pergi meninggalkan sang Papa di dalam mobil.
Aldi hanya bisa mengalah dan menunggu dua gadisnya di dalam mobil.
Dan tak beberapa lama, Sifa pun kembali dengan membawa mama baru bersamanya. Terlihat jelas Sifa begitu senang ketika membawa mama barunya itu.
Pintu mobil pun terbuka, dan kini Aldi menyambut keduanya dengan senyum.
"Kita duduk depan ya mah" pinta Sifa.
"Hm, iya.." sahut Sari menyetujui permintaan Sifa. Aldi hendak protes, namun melihat Sari yang masuk dengan senyum, ia pun mengurungkan niatnya. Padahal Aldi ingin Sifa duduk di belakang dan memberikan calon istrinya itu duduk di samping dirinya.
Blam.. pintu mobil tertutup dan kini Sifa berada di pangkuan sang mama baru.
"Go Papa!!" seru Sifa senang.
Sari dan Aldi pun hanya bisa tersenyum melihat anak perempuan yang membawa takdir untuk mereka bersama.
Mobil sedan Aldi pun akhirnya jalan, meninggalkan rumah Sari.
***
Tujuan mereka pun tiba di salah satu Mall besar kota itu. Aldi turun dengan segala persiapan, topi dan masker yang sudah siap ia kenakan. Bagaimana tidak ia seorang Bupati di kota itu dan kini berjalan tanpa ada satu orang pengawal menjaganya ketika berada di keramaian.
Terlihat Sifa berbisik pada Sari. Aldi melirik dengan matanya yang bakal elang.
"Bisik-bisik apa sih??" tanya Aldi penasaran pada dua gadis beda usia itu.
Sifa dan Sari malah kompak tertawa bersamaan. Hingga terlihat Aldi kian penasaran.
"Apa sih??" tanya Aldi lagi.
Sifa meraih jemari Sari dengan menarik mama barunya itu.
"Rahasia dong pah.." jawab Sifa dengan tawa kecil dan membawa mama barunya itu untuk segera masuk menuju dalam mall.
Aldi merasa di kacangin oleh sang anak, Aldi pun cepat-cepat meraih tangan Sari satu lagi.
Sehingga langkah Sari pun terhenti dan sontak membuatnya menoleh pada Aldi yang menahan tangannya.
Deg..jantung Sari berdebar ketika merasakan jemarinya berada di genggaman sang Bupati.
Dibalik maskernya Aldi tersenyum.
"Aku juga harus kamu pegang dong!!" seru Aldi memandang wajah kaget Sari.
"Iikkh, Papa.. Papa kan udah besar!!" protes Sifa cemberut.
Namun Aldi tak peduli dengan protes sang putri tercinta, karena ia juga ingin lebih dekat dengan sang calon istri.
Sari hanya bisa tersenyum melihat tingkah ayah dan anak ini, yang sama-sama merebutkan perhatiannya.
Dan akhirnya ketiganya berjalan saling dengan bergandeng tangan.
Canda tawa pun bergulir, Sifa benar-benar bahagia, akhirnya yang ia impiankan selama ini terkabul. Memiliki sosok wanita yang bisa membuatnya manja dan bercanda.
Dan jalan-jalan di mall tersebut pun akhirnya berakhir di tempat permainan playground Sifa ingin sekali mandi bola dan bermain lompat-lompat seperti yang pernah di ceritakan teman-temannya di tempat les.
Awalnya Aldi gak memberi izin, karena takut Sifa aja kelelahan dan pasti akan berkeringat.
Namun Sifa terus membujuk sang Papa agar di perbolehkan bermain di playground itu.
"Boleh yaa pah.." bujuk Sifa memelas di tangan sang Papa.
Aldi masih diam dengan ekspresi wajah tertutup masker.
Sari melihat dengan kasihan pada Sifa.
"Sudah, mas.. izinkan saja"
Aldi terlihat ragu.
Namun Sari berbalik menatap Sifa.
__ADS_1
"Tapi, Sifa harus janji 1 hal.."
Sifa menatap sang mama baru.
"Apa mah??"
"Mainnya cukup satu jam aja yaa??"
"Oke!!!" seru Sifa senang.
"Sifaaa??" panggil Aldi pada sang putri.
Namun Sari menahan lengan Aldi.
"Biarkan saja mas, nanti juga dia bosan.." sela Sari menatap wajah tertutup masker Aldi.
"Horeeee, makasih mama!!" seru Sifa sumbringah dan langsung berlari menuju tempat permainan playground yang sangat ia impiankan.
Aldi menghela nafas panjang.
Namun Sari hanya tersenyum kecil.
"Biar Sari yang temani Sifa.." kata Sari sembari hendak pergi. Namun di luar dugaan, Aldi menahan lengan Sari hingga langkahnya pun berhenti.
"Tunggu di sini" kata Aldi yang akhirnya pergi menuju tempat permainan playground tersebut.
Sari pun menurut dan ia hanya berdiri di tempatnya semula dengan melihat punggung sang Bupati menuju tempat permainan anak.
Namun tak beberapa lama, Aldi kembali menuju Sari.
"Loh?? Mas gak temani Sifa didalam??" tanya Sari heran.
"Kata mbak kasih usia 1-2 tahun wajib ada pengasuh, tapi usia sifa tidak di perkenankan lagi.." jelas Aldi dengan menyimpan dompet ya kembali kedalam jam.
"Oohh.." Sari menangguk.
Aldi melihat sekitaran dan ia melihat satu tempat yang bisa ia tempati bersama Sari.
"Ayo kesana??" ajak Aldi yang lagi-lagi tanpa basa basi langsung meraih jemari Sari untuk ia gandeng.
Deg.. dan hal itu sukses membuat jantung Sari kembali bergetar.
Sari di persilahkan duduk oleh Aldi dan tak lama ia pun duduk di samping Sari.
Sesaat keduanya hanya diam menikmati suara yang hingar bingar dari musik mesin permainan yang begitu enerjik dan bising.
Aldi lebih terlihat asing di tempat itu, bisa di hitung jari jika hanya beberapa kali ia pernah menemani sang putri bermain.
Sekilas ia menatap Sari yang juga terlihat fokus pada satu permainan dance yang di mainkan oleh dua anak remaja tanggung.
"Kamu mau main itu??" tanya Aldi yang akhirnya menarik kembali perhatian Sari.
"Ah, enggak mas.. mana mungkin, itu kan permainan anak muda, lagian dulu juga udah puas main yang begituan.." jawab Sari dengan nada malu-malu.
Aldi terhenyak.
"Kamu pernah main permainan itu??"
Sari mengangguk dengan senyum.
"Dulu itu saat masih kuliah Sari punya teman kompak, terkadang jenuh dengan tumpukan tugas kuliah yang terlalu banyak, jadi.. sesekali kita suka ke tempat untuk sekedar melepas penat.." kenangan Sari mengingat masa-masa indah itu
Aldi terkesan.
"Rasanya seperti baru kemarin Sari dan teman-teman bermain mesin dance itu.. tapi kalau di ingat-ingat Sari kok gak malu yaa joget-joget seperti itu di muka umum" ujar Sari yang mengalir tanpa canggung di hadapan calon suaminya itu.
Aldi pun ikut tertawa kecil di balik maskernya.
"Ah.. semoga Sifa tidak suka permainan seperti itu.." sambung Sari sembari menggelengkan kepala.
Aldi menatap wajah teduh Sari yang membuatnya terhipnotis, bisingnya suara di area itu tak membuat dirinya pusing, ia malah merasa tenang berada di sisi wanita sederhana ini.
Tanpa sadar Sari menoleh pada Aldi yang ternyata tengah memandang dirinya dengan lekat, sehingga tatapan keduanya bertemu.
"Ah, maaf.. Sari jadi cerita aneh, sama mas.."seru Sari salah tingkah.
"Enggak kok, justru itu cukup terdengar seru.. dan mas jadi tau kamu lebih dekat" sahut Aldi dengan santai. "Tapi Sari??"
__ADS_1
"Ya??"
"Kamu kuliah jurusan apa yaa??" tanya Aldi penasaran pada calon istrinya itu.
"Ah, Teknik.. Teknik Sipil" jawab Sari santai.
Aldi terkejut.
"Apa?? jadi..jadi kamu anak teknik?"
"He-em.. kenapa, mas??" tanya Sari merasa jika Aldi begitu terkejut.
"Ah, tidak.. Mas.. Mas benar-benar kaget, karena kamu kan seorang pekerja make up, jadi mas sempat berpikir jika kamu kuliah di jurusan tata boga" jawab Aldi menjelaskan rasa terkejutannya.
Mendengarkan hal itu, Sari malah tertawa lucu. Dan akhirnya tawa itu menular pada Aldi yang ikut tertawa konyol. Bagaimana ia bisa berpikir jika Sari harus kuliah di tataboga untuk jadi tukang make up.
Kedekatan itu menbuat satu lagi jarak mereka kian dekat, rasa canggung yang dulu begitu jelas perlahan kini mulai luntur.
Hingga tanpa di sadari waktu berjalan begitu cepat. Sifa pun akhirnya puas bermain di playground dan kembali dengan wajah lapar.
Dan ketiganya pun berakhir di salah satu restoran nusantara di dalam food corner mall tersebut.
Ketika makan, terlihat Sifa sedikit rewel, ia ingin di suap oleh mama barunya itu. Bahkan karena hal itu Aldi jadi kesal dengan sikap sang anak.
Namun Sari menahan, agar Aldi membiarkan saja sifat Sifa. Sari pun akhirnya menunda makannya dan mulai menyuapi sang putri tiri.
Aldi merasa tak enak pada Sari, Sifa benar-benar terlalu manja dan ia ingin menasihati sang anak jika sudah pulang nanti.
Aldi melepaskan maskernya ketika akan mulai menyantap makanan sup buntut pesanannya.
Dan tak lama, terdengar suara seorang pria paruh baya mendekat.
"Ya Tuhan... ada pak Bupati di sini" seru pria itu senang dengan nada yang sedikit besar.
Sehingga pelanggan di sekitar meja Aldi dan Sari pun menoleh. Dan suasana ketika berubah ribut.
"Pak Bupati.. pak Bupati" seru seorang yang lain yang tiba-tiba datang mendekat.
Sari dan Sifa pun ikut terkaget. Wajah Aldi seketika gusar dan merasa tak nyaman dengan hal itu.
Suasana yang tadinya tenang pun seketika berubah sedikit rusuh.
Beberapa orang ibu-ibu mendatangi meja Aldi untuk foto bersama.
Sang Bupati yang tadinya hendak makan pun akhirnya mengurungkan niatnya dan meladeni ibu-ibu yang ingin berfoto bersama.
Sesaat Sari melihat bentangan jarak yang begitu jauh, Aldi seorang Bupati, pejabat penting di pemerintahan kota ini.
Sedangkan ia hanyalah rakyatnya yang beruntung bisa mendapatkan pria nomor 1 itu.
Suasana kerumunan itu pun mengundang pihak Mall yang akhirnya mengirim Security mereka untuk menjaga pak Bupati juga Sari dan Sifa dari kerumunan pengunjung yang menjadi fans berat sang Bupati.
Makan malam pun berlangsung singkat, Aldi tak sempat makan, begitu juga Sari dan Sifa yang akhirnya menyudah makan malam itu dengan terpaksa.
Dan akhirnya dengan kawalan dari Security Mall sang Bupati pun bergi dari kerumunan itu.
"Pak, Bupati.. itu calon istrinya yaa??" seru seorang ibu-ibu.
"Ibu Bupati???" seru yang lain menyapa.
"Ibu Bupati, liat sini dong..kami ini calon rakyatmu" sapa yang lain memanggil Sari yang berada di belakang Aldi.
Aldi yang mendengarnya menjadi risau. Hingga akhirnya Aldi berbalik lalu membuka topi dari kepalanya dan menyematkan topi itu pada sang calon istri yang terlihat gelisah didalam kerumunan itu.
Dan tanpa pikir panjang ia meraih pundak Sari yang masih memegang Sifa bersamaan.
Sontak hal romantis itu menjadi kan ibu-ibu histeris.
"Syihiiiii.. romantis pak!!" sorak para ibu-ibu yang antusias dengan kisah cinta pak Bupati.
"Nikah terus pak.. kami tunggu undangan nya" seru yang lain dengan memanasi suasana.
"Jangan lupa undang kamu pak, dan gelar pesta rakyat dong!!" sorak yang lagi dari ke jauhan.
Iringan Bupati pun berlalu pergi dengan senyum Aldi yang begitu senang mendengar ucapan dan sorakan ibu-ibu yang ternyata begitu antusias menyambut sang calon ibu Bupati.
Setiba di parkiran mobil, tak lupa Aldi menyelipkan beberapa lembar uang pada 3 Security yang menjaganya tadi sebagai ucapan terima kasih karena telah menolong dirinya.
__ADS_1
Ketika di dalam mobil ketiganya barulah bisa bernafas lega.