Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
71


__ADS_3

Dan hari bahagia pun tiba.


Terlihat di kediaman Bupati begitu tenang dari luar namun begitu sibuk di dalamnya.


Bibik tengah membantu sang Nona kecil berpakaian cantik hari ini.


"Bibik.. tolong buat kepang yang cantik yaa" pinta Sifa.


Bibik hanya mangut-mangut.


"Nanti, Sifa bakal bobok bareng sama papa dan mama Sari" ucapnya bersemangat.


Sang Bibik langsung kaget.


"Gak bisa non, non tetap harus tidur dikamar sendiri.."


"Loh? kenapa??" tanya Sifa cemberut.


"Iya, Non Sifa kan udah besar lagian kan udah ada kamar sendiri.."jawab bibik apa adanya.


Namun Sifa tak mudah menerima hal itu.


"Ikh, biarin aja.. kan Papa mama sendiri, pasti gak papa kok kalau Sifa bobok bareng dikamar papa" sahutnya acuh.


"Eh, gak bisa Non.. Non Sifa tidur di kamar sendiri aja, tar bibik temenin kalau non sudah tidur.."


Bibir Sifa kian manyun, tak mengerti dengan larangan bibik.


"Gak mau ah, Sifa tetap mau tidur sama papa mama, lagian kan tempat tidur papa luas kok, jadi Sifa bisa dong tidur disana.."


"Jangan non, jangan.. gak muat nanti" potong Bibik kekeh.


"Kok gak muat?? Sifa kan kecil?? Papa di sebelah kiri, Sifa di tengah dan mama Sari di Kanan.. ya kan muat Bik.."terang Sifa sembari mengambarkan susunan posisi tidur nanti malam.


Bibik kembali berpikir keras untuk menjelaskan pada Sifa jika nona kecilnya ini tidak bisa tidur disana.


"Gak bisa non, lebih baik jangan deh.."


"Ck.. bibik gitu banget sih" rutu Sifa kesal"


"Iya, percaya sama bibik deh, kalau non gak tidur bareng Bapak dan Ibu Sari, nanti non bakal dapat hadiah loh!!" seru Bibik bernada serius.


"Hadiah?? hadiah apa?"


Bibik tersenyum kecil, lalu dengan wajah polos ia turun untuk membisikkan sesuatu di telinga majikan kecilnya. Dan tak lama Sifa pun terkaget.


"Hah?? adik bayi?" seru Sifa sumbringah.


Dan si bibik hanya tersenyum lalu memberikan tanda jempol pada nona kecilnya


***


Sedang kan di ruangan lain terlihat Aldi berada di meja makan dengan berdiri sang ajudan yang masih membawa pekerjaan di sela-sela waktu spesial itu.


Rio sempat khawatir jika sang Bupati menolak untuk menandatangani surat tersebut. Namun di luar dugaan Aldi malah melayani tugas itu dengan senyum.


"Bawa kemari.." ujar Aldi. Rio memberikan kertas dan juga pulpen pada sang Bupati.


"Setelah ini kita harus cuti 1 minggu.." seru Aldi dengan tetap fokus pada tulisannya.


Rio terkaget.


"1 minggu pak??"


"Ya, kenapa?? kamu gak mau?" tanya Aldi dengan menoleh pada Rio.


"Ah, buka begitu pak.. tapi 1 minggu.."


"Oh, ya sudah kalau kamu mau, kamu masuk saja sendiri" tukas Aldi santai.


Rio cemberut.


"Gak ah, pak.. saya juga mau libur 1 minggu.."


Aldi seketika relfek tertawa kecil.


"Baguslah.. setelah itu kita baru bekerja lagi.." seru Aldi dengan kembali fokus pada tulisannya.


"


***


Di tempat lain, terlihat di salah satu kamar hotel yang mewah.


Sari tengah di dandani oleh sang sahabat. Ini adalah moment sekali seumur hidup sang teman. Sehingga Lisa berusaha melakukan teknik make up terbaik.


Tak lupa, ibu Sari juga ikut di dandani agar telihat lebih segar.


Sedangkan Sari sendiri begitu gugup. Itu dapat di rasakan oleh ujung jari sampai ujung kaki Sari terasa dingin.


Waktu berjalan begitu cepat, setelah selesai make up ia pun bergegas untuk berpakaian yang sangat spesial.


Dan moment foto-foto pun terjadi. Ibu memantap Sari dengan wajah kagum.


Putri kecilnya kini akan membuka lembaran baru dengan status baru.


"Sari.. kamu cantik sekali, nak" puji ibu.


Sari tersipu malu.

__ADS_1


"Ibu juga cantik.." balas Sari dengan sedikit membenarkan aksesori di kerudung ibu.


"Ayo..ayo siap-siap, Pak Bupati 3 menit lagi sampai.." ujar seorang crew WO memberi aba-aba.


Sari terkaget dan kembali berubah gugup. Lisa mendekat dan mengandeng temannya itu.


"Kurang dari 30 menit lagi, lo bakal jadi Nyonya Aldi Munandar.." ujar Lisa.


Sari tersenyum kecil dengan wajah terharu.


"Lisa.."


"Stop.. kalau lo mau nangis dan menghancurkan mahakarya gue mending gak usah, lo harus tampil cantik sepanjang hari dengan make up cetar gue.. karena lo adalah Ratu hari ini.."


Sari nyaris tertawa lucu.


"Dasar, Terimakasih ya"


Lisa hanya mengangguk sembari mengangkat alisnya dengan wajah senang.


"Jangan lupa, gue butuh testimoni lo ibu Bupati.."


Sari mengangguk senang namun juga gugup, ia tak bisa menjelaskan debaran yang ia rasakan saat ini. Mungkin sama dengan debaran para pengantin yang pernah ia sulap menjadi Ratu tercantik hari indahnya.


"Ayo, mbak Sari..kita harus ke aula" seru crew WO.


Sari mematung dan kemudian menarik nafas untuk mempersiapkan dirinya melangkah menuju lembaran barunya bersama pria yang akan menjadi suaminya.


***


Diruangan Aula yang telah di dekorasi sedemikian indah, terlihat Aldi berada di antara para pemuka agama yang akan menjadi saksi nikahnya.


Tak lupa para pejabat penting pun ikut ambil andil menghadiri pernikahan Bupati kota mereka.


Dan tak lama acara sakral itu pun tiba. Aldi berada di posisi yang telah di siapkan.


Walau ia pernah menikah, namun hal ini tetap membuatnya gugup.


Dihadapan wali nikah Sari, Aldi dengan yakin menyambut jabat tangan itu.


Sebuah kalimat yang begitu indah terlontar dengan suara tegas dan jelas oleh Aldi.


Dan hati Sari berdebar ketika mendengar nama dirinya telah di sebut dengan suara Aldi.


Tak lama terdengar suara sahut yang memperjelas moment itu Sah.


"Sah.. Barakallahu lakuma wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fii khoir" sahut para tamu undangan memberi doa terbaik pagi kedua pasangan yang baru saja di satukan dalam ikatan suci pernikahan.


Aldi pun seketika lega luar biasa, ketika ia mampu menyelesaikan satu tugas yang begitu besar tanggung jawabnya.


"Nah gimana pak Aldi, lebih berat mana tugas ini dengan tugas daerah??" guyon seorang tetua yang menjadi tamu undangan khusus.


Tak lama, MC mengambil alih acara dengan acara berikutnya. Yaitu sang pengantin wanita memasuki ruang aula.


Sari yang berada di ruangannya pun seketika gugup luar biasa. Saat yang akhirnya tiba di masanya.


Dengan bantuan Lisa, Sari berjalan meninggalkan ruang persembuyiannya.


Pintu Aula di buka, dan semua mata tertuju pada sang pengantin wanita yang mengenakan gaun putih.


Aldi yang kini berada di atas pelaminan menunggu kehadiran sang istri.


"Mamaaa!!" seru Sifa yang kegirangan melihat mama barunya itu.


Seiring langkah Sari yang anggun berjalan pelan menuju Aldi, tatapan Aldi tak lepas dari Sari. Hingga akhirnya Lisa membawa Sari pada Aldi.


"Semoga Anda dan teman saya bahagia" ucap Lisa lalu ia meninggalkan sang teman pada suaminya.


Aldi tersenyum kecil.


Sari terlihat tertunduk malu di hadapan Aldi yang kini menjadi suaminya.


Moment yang sangat spesial itu pun terjadi, ketika untuk pertama kali ya Sari menyambut jemari Aldi untuk ia beri rasa hormat dan patuhmya pas sang suami.


Sang fotografer pun tak hanya mengabadikan 1 moment saja, ia mengarahkan sang pengantin untuk berpose terbaik.


Tak lama, proses berikutnya pun di lakukan, yaitu pemakaian cincin nikah.


"Aku, memilihmu.. bukan karena kau adalah orang terbaik di antara yang pernah ada, namun aku memilihmu, karena aku sadar..bahwa tidak ada manusia yang sempurna, cukuplah kebaikan yang ada kita pupuk bersama sebagai bekal untuk sehidup sesurga.." ucap Aldi seiring cincin pernikahan itu tersemat dijemari indah Sari.


Sari tersenyum penuh arti, ucapan Aldi begitu mengena di hatinya.


Hingga tak lama, secara instingnya Aldi memberikan satu kecupan sayang di kening sang istri.


Dan hal itu menjadi hal ter uwu bagi para tamu undangan.


Di sisi lain, terlihat tatapan ibu Aldi yang bersedih. Namun tak lama, seorang wanita paruh baya pun berdiri di hadapan ibu Aldi dengan wajah ragu.


Ibu Aldi melihat dengan seksama.


"Assalamualaikum.. maaf jika saya sedikit menganggu.. saya ibu Sari.." ujar ibu Sari pelan.


Namun dari tatapan ibu Aldi ia melihat mata tulus ibu Sari yang menyampa dirinya.


"Wa'alaikumsalam.." jawab ibu Aldi dengan sedikit ramah.


***


Dan acara pernikahan itu tergelar santai dan hikmat. Karena tamu undangan yang di batasi oleh sang Bupati.

__ADS_1


Sari duduk di meja makan sang pengantin. Sedangkan Aldi tengah berbincang dengan beberapa tamu undangan yang penting.


Kini terlihat sifa ikut bahagia bersama mama barunya.


"Mama, cantik.." puji Sifa dengan menyentuh wajah mama barunya itu.


Sari tersenyum.


"Sifa juga cantik.. siapa yang kepang rambutnya??"


"Bibik.." jawab Sifa dengan menoleh pada sang bibik pengasuh yang setia mengekori dirinya.


Sari menatap sang bibik pengasuh.


"Ibu Sari cantik.." puji bibik spontan.


"Makasih ya bik, eh, bibik sudah makan? kalau belum bibik makan dulu, biar Sifa sama saya di sini" tawar Sari.


"Iyeee" seru Sida girang.


"Udah bu, udah..saya sudah makan.. gak papa ibu dan bapak masih banyak tamu.. ayo non, kita milih jajanan disana yuk.." ajak Bibik pada nona kecilnya itu.


Sifa terlihat berat.


Namun benar seperti ucapan sang bibi, tanpa di duga ada tamu yang tak di sangka hadapi diantara pernikahan Sari, Bayu.


Sari terpaku. Dan sang bibik langsung menarik sang nona kecil untuk menjauh dan mencari hal yang mungkin akan di sukai sang majikan.


Keduanya terlihat canggung satu sama lain.


"Selamat.." ucap Bayu dengan berat. "Selamat atas pernikahan kamu dengan mas Aldi.."


Sari melihat wajah datar.


"Terima kasih, mas Bayu.." jawab Sari enggan.


"Aku tidak menyangka jika kau akan menikah dengan Bupati.."


Sari menatap bias pada Bayu.


"Bukankah ini doa mas waktu??"


Bayu berpikir.


"Ketika mas menikah dan pada saat itu, bukan kah mas mendoakan Sari agar bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari mas???" tukas Sari tengan.


Bayu mematung, ia sama sekali tak mengingat pernah mengucapkan doa seperti itu pada mantan kekasihnya.


"Sari rasa mungkin itu doa yang tulus mas ucapankan.." sambung Sari.


Bayu menyeringai kecil, sungguh ia tidak menyangka telah mendoakan Sari.


"Dan kali ini, tolong mas doakan semoga pernikahan Sari dan mas Aldi bahagia.."


Nyuut.. ada rasa nyeri yang Bayu rasakan dari perkataan Sari.


Sekilas wajah penyesalan Bayu pun terlihat. Namun ia berusaha tegar di hadapan mantan kekasihnya itu.


"Baiklah.. Mas akan doakan semoga pernikahan kamu bahagia.. tapi.. apa kamu mencintai Aldi?" tanya Bayu yang tiba-tiba.


Deg.. Sari terpaku.


Namun belum sempat Sari menjawab, terlihat dari belakang Aldi datang dengan gagah ya memeluk pinggang Sari.


Sari terkaget dengan sentuhan spontan itu.


"Jika ia tak mencintai ku, itu tidak lah masalah, karena aku telah menjadi suami SariSartika.. apa itu tidak cukup membuktikan cinta kami?" tanya Aldi memotong pertanyaan Bayu.


Bayu terjegat kaget mendengar jawaban lugas Aldi, tersidrat ketegasan di tiap kalimatnya.


Dengan rasa canggung Bayu mengangguk.


"Sekali lagi, selamat untuk pernikahan kalian mas Aldi" ujar Bayu sembari mengulurkan tangannya di hadapan kedua pengantin baru itu.


Aldi melihat dengan tajam, lalu dengan cepat menyambut jabat tangan Bayu lalu mendekat pada Bayu.


"Jika masih ingin melihat kebaikan ku, maka menjauhlah dari istri ku.. jika kau patuh, maka aku masih bisa memberikan mu proyek yang dapat membahagiakan Liana dan calon anak mu!!" ancam Aldi dengan nada penuh penekanan pada Bayu.


Bayu menyeringai kecil, sungguh hidupnya kini dibawah tekanan karena kesalahan di masalalu.


"Titip salam ku pada Liana, dan semoga calon bayi sehat.." ujar Aldi tenang.


Sari terkaget mendengar hal itu lalu menoleh pada Bayu.


Bayu hanya mengangguk pelan.


"Baiklah, terima kasih perhatiannya mas Aldi.. semoga kalian bahagia.."


"Pasti.." jawab Aldi.


Perlahan Bayu berlalu pergi dari hadapan Aldi san Sari.


Sari menatap Aldi.


Aldi menatap Sari.


"Apa mau menyapa rekan kerja mas?" tanya Aldi.


Sari tersenyum tipis menandakan ia setuju.

__ADS_1


Lalu keduanya pun bergandengan tangan menemui para tamu khusus itu.


__ADS_2