
Mobil Camry itu berjalan mulus menuju kantor Bupati. Seiring senyum Sifa yang terus terkembang.
Namun pria berpakaian safari itu terus melirik gusar pada sosok gadis kecil itu.
"Pak Budi?"
"I-ya Sifa"
"Ulang tahun Sifa kapan ya?"
Pria berpakaian safari itu sejenak berpikir dengan pandangan fokus pada jalan raya yang dilewati.
"Hmm, 3 minggu lagi, insyaAllah"
"Ohh, 3 minggu lagi yaa" sahur Sifa senang. Seolah ia tengah merencanakan sesuatu dengan tak sabar.
Namun sesaat Sifa terlihat sedih.
"Pak Budi?"
"Ya"
"Nanti jangan kasih tau nenek ya"
Pak Budi sesaat terkaget dengan permintaan nona kecilnya itu.
Namun terlihat Sifa hanyut dalam lamunnya yang memandang nanar luar kaca jendela mobil.
FLASH BACK ON
Di satu kediaman rumah dinas. Terlihat Sifa yang baru saja selesai mandi dan berpakaian bersama seorang pengasuh wanita paruh baya keluar dari kamarnya.
"Kita sarapan dulu ya non Sifa"
__ADS_1
"Iya" sahut Sifa dengan berjalan membawa bawa tas dan satu paperbag kecil di tangannya.
Namun perlahan langkah Sifa berhenti dengan terpaku melihat meja makan yang terlihat ada sang nenek disana.
Pengasuh Sifa bingung melihat gadis kecil itu berhenti tiba-tiba.
"Ayo, non.. kita sarapan dulu"
Wajah Sifa terlihat enggan.
"Si-fa bawa ketempat les aja ya" pintanya pelan pada sang pelayan.
Tapi tanpa disangka suara khas sang nenek memanggil dengan tatapan yang tak menyenangkan pada Sifa kecil.
"Oh, anak malas sudah bangun rupanya.. ayo sini makan, jangan bikin susah bik Nur" sindir sang nenek.
Jemari Sifa terkepal dengan kesal. Namun bikin Nur langsung memegangi Sifa agar tak melawan.
"Ayo, bibik kawanin non" bisik sang pengasuh dengan wajah kasian.
Di atas meja terhidang makanan yang cukup lezat, namun tak satu pun menarik di mata Sifa. Ia ingin cepat-cepat pergi dari hadapan sang nenek yang menatapnya dengan sinis. Bik Nur melakukan tugasnya dengan menaruh nasi goreng dan sepotong ayam goreng di piring Sifa.
"Ayo, non dimakan" bisik bik Nur dengan memberikan sendok di jemari nona kecilnya itu.
"Makan yang habis, jangan mubazir.. kamu harus tau Sifa, papa kamu sudah kerja banting tulang buat penuhi semua ini.. jadi jangan milih-milih" tutur sang nenek menyindir.
Sifa yang hendak menyuap sendok kedalam mulutnya seketika terhenti dengan rasa kesal. Tatapannya begitu marah pada sang nenek yang selalu, selalu memperlakukan dengan tidak baik.
"Siapa?? Siapa yang suruh papa kerja banting tulang? Siapa yang dulu berkeinginan papa untuk jadi orang terkenal, bukan kah nenek yang paling ingin papa jadi seperti sekarang?" ucap Sifa dengan nada marah.
Sang nenek kaget mendengar ucapan sang cucu.
"Kamu bilang apa??"sahut sang nenek dengan nada tajam dan mimik wajah yang tegas.
__ADS_1
"Berani kamu yaa??"timpal sang nenek dengan tatapan tajam.
Bik Nur seketika takut melihat hal tersebut, sehingga ia memegang jemari sang majikan kecil untuk menyudahi hal tersebut.
"Sifa bakal bilang sama papa untuk berhenti jadi orang terkenal, Sifa gak butuh ini semua" balas Sifa kesal.
BRAAAAK..terdengar suara pukulan keras di atas meja makan dengan mengangetkan Sifa yang terkesiap.
"DIAM kamu Sifa!!"bentak sang nenek meradang.
"Kamu sama saja dengan mama bodoh mu itu, yang selalu merusak keberhasilan putra nenek!! Kalian itu PENGHALANG!!" cecar sang nenek yang terlihat marah.
Sifa terkesiap menerima cecaran kemarahan sang nenek. Ia tak menyangka jika nenek sangat tega mengatakan hal yang menyakitkan itu.
"Bukan kah mama bodoh mu itu pergi karena tidak siap mental?? Dia terlalu sombong dengan meninggalkan papa kamu yang sekarang sukses" tutur sang nenek dengan wajah kesal.
Sifa mematung dengan hati hancur berkeping-keping.
"Dan sialnya, dia gak bawa kamu yang sekarang menjadi beban hidup putra nenek!! Kamu itu adalah beban!! Beban di keluarga ini!!"
Linangan air mata Sifa pun tumpah dalam diamnya. Ucapan yang sering kali di ucapan kan sang nenek dengan penuh kebencian pada dirinya.
"Nangis??" celetuk sang nenek dengan nada sinis.
"Pergi!! Cari mama bodoh mu itu dan minta dia untuk membawa kamu sekalian, biar papa mu itu bisa bebas dan menikah dengan wanita lain yang lebih baik!!" ucap sang nenek dengan nada sombongnya.
Bik Nur terlihat khawatir dengan majikan kecilnya yang terlihat sang terguncang.
Sifa pun bangkit dengan cepat berlari meninggalkan meja makan dan sang nenek.
Bik Nur berlari kecil mengikuti sang majikan yang keluar rumah.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
Dan kini mobil Camry hitam itu pun berhenti pada parkiran dengan papan spesial bertuliskan "Nomor 2".
Sifa pun turun dengan riang. Pak Budi terlihat memperhatikan tingkah laku sang nona kecil yang perlahan masuk kedalam gedung Bupati.