Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
54


__ADS_3

Malam harinya, di suasana kamar Sari yang tenang. Ia duduk termenung di tepi tempat tidurnya dengan masih terasa pelukan hangat sang Bupati tadi sore.


Sari memejamkan matanya sembari menghela nafas pelan.


"Apa yang sudah aku lakukan??" bisik batin Sari dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tanpa sadar Sari mengingat kembali ucapan Aldi sore tadi.


"Lusa, aku akan datang kerumah mu, meminta restu pada orang tua mu.. dan jika orang tua kamu mengizinkan maka dalam waktu dekat aku akan datang untuk melamar kamu secara resmi" ucap Aldi dengan nada serius menatap wajah Sari.


Tok..tok..


Terdengar suara pintu kamar Sari di ketuk. Sari bangun dari rebahannya.


"Ya??"


Perlahan pintu terbuka dan terlihat sang ibu masuk kedalam kamar putrinya.


"Ibu.."


Ibu tersenyum lalu berjalan menuju tempat duduk sang putri.


"Maaf yaa, ibu ganggu kamu istirahat"


"Ah, enggak bu.."


"Gimana hari ini?? banyak pelanggan?"


"Hm, yaa alhamdulillah..seperti biasa" jawab Sari biasa.


Namun dari pandangan Sari, ia merasa ibu sedikit berbeda.


"Kenapa?"


"Ehem.. gimana yaa??"


Alis Sari terangkat.


"Ada apa buk??"


Tanpa pikir panjang ibu meraih jemari Sari.


"Maafkan ibu jika.. kamu tidak setuju kamu boleh menolak"


Sari terlihat bingung dengan ucapan ibu.


"Kamu inget ibu Winda??"


Sejenak Sari mencoba membayangkan wanita paruh baya yang terlihat sedikit gemuk. Lalu tak lama ia mengangguk.


"Heem, yang dulu pernah satu rumah sakit dengan ibuk kan??"


Ibu tersenyum.


"Benar, nah beberapa waktu yang lalu ibu ketemu lagi sama ibu Winda di rumah sakit pas cek ulang.."


"Oh.. ibu Winda sehat?"


"Sehat, sehat banget malah" sahut ibu cepat dengan wajah riang. "Tapi bukan itu yang ingin ibu maksud" potong Ibu dengan nada serius.


"Sari?? ibu Winda mau menjodohkan kamu sama anaknya, Zaki yang sekarang anggota dewan itu.." jelas ibu pada inti niatnya.


Sari tercengang.


"Ibu gak memaksa, hanya saja ibu rasa putra ibu Winda orang yang baik, kamu juga pernah ketemu kan dulu waktu dirumah sakit waktu jaga ibu.."


"Ibu terlambat" jawab Sari memotong ucapan ibu yang masih berbicara.

__ADS_1


Ibu kaget.


Seketika Sari tersadar akan ucapannya.


"Ah, maaf bu..hmm" ulang Sari serba salah dengan mengigit bibir bawahnya.


"Kenapa?? kamu masih trauma yaa??" tebak ibu menatap wajah gelisah Sari.


Sari menggeleng pelan.


"Bukan.."


"Terus??"


Sari menghela nafas dengan berat.


"Sari.. sari sudah.." tergantung berat.


Ibu menunggu dengan cemas.


"Sari sudah menerima lamaran pak Bupati, bu"


Deg..


Ibu terbengong dengan wajah syok.


"Si..siapa?" tanya ibu mengulang seolah pendengarannya kurang pas.


"Pak Aldi Munandar, Bupati kita sekarang bu"


Seketika mulut ibu terbuka dan kedua matanya melebar.


Ibu benar-benar syok sehingga tak dapat menutupi keterkejutan nya itu.


"Kamu serius, nak??"


"Iya bu" jawab Sari setengah menunduk lemas.


"Bagaimana ceritanya??" tanya ibu pada Sari yang hanya bisa menghela nafas.


Pada akhirnya Sari pun menceritakan awal mula pertemuan diri ya dengan Sifa sang putri Bupati. Hingga akhirnya lamaran pak Bupati saat di bandara pun terjadi. Dan kini lamaran itu menunggu persetujuan dari ibu.


Ibu hanya bisa mendengar tanpa berkomentar. Sungguh ia tak pernah membayangkan jika akan ada seorang pria dari kedudukan tertinggi melamar putrinya.


"Mungkin dalam beberapa waktu ini, pak Bupati akan datang kerumah untuk bertemu dengan ibu" jelas Sari pelan.


Namun tak bisa di pungkiri kabar yang baru saja ia dengar dari sang putri telah sukses membuat aliran darahnya turun. Bagaimana tidak, calon menantunya adalah seorang Duda yang tak biasa. Seorang pria dengan jabatan tertinggi di daerah itu.


***


Di lain sisi, Aldi yang pulang lebih awal dari biasanya. Dan hal itu di sambut hangat oleh sang putri, Sifa.


"Papaaaa" panggil sembari memeluk pinggang sang Papa.


"Papa tumben pulang cepat"


Aldi sedikit turun sehingga ia bisa melihat sejajar dengan wajah sang putri. Namun tak lama ia mengecup pipi Sifa.


Cup.


"Papa nanti balik lagi yaa??"


"Enggak" jawab Aldi dengan wajah tersenyum. "Papa gak balik lagi kekantor kok..ini mau main sama kamu".


Wajah Sifa berkerut tak percaya.


"Main??"

__ADS_1


Aldi mengangguk.


Sifa masih tak percaya.


"Kamu mau main apa?? papa pasti akan temani kamu" ujar Aldi dengan sorot mata dalam wajah sang putri.


"Hmmm??" Sejenak Sifa berpikir.


Dan seulas senyum pun terkembang di wajah Aldi.


"Sifa??"


"Iya, pah??"


"Papa mau tanya"


"Apa?"


Aldi membenarkan rambut panjang di pundak Sifa.


"Jika.. Papa bisa membawa oleh-oleh yang pernah pala janjikan tempo hari itu kemari, apa kamu masih mau??"


Sifa berpikir.


"Oleh-oleh??"


"Iya, kemarin kan Papa bilang kalau mungkin oleh-oleh itu gak bisa Papa beri untuk kamu "


"Hmm, Sifa sih mau-mau aja kok, karena itu kan oleh-oleh dari Papa.. apa pun itu Sifa pasti mau kok" jawab Sifa polos.


Aldi tersenyum kecil lalu mengusap wajah sang anak.


"Oleh-oleh ini sang spesial Sifa, kamu pasti tidak akan menyangka" bisik batin Aldi dengan menatap wajah polos sang putri.


***


Setelah bermain 1 jam setengah bersama Sifa. Kini Aldi berada di kamar pribadinya.


Satu persatu ia membuka kancing kemeja kerjanya. Namun seulas senyum tak pernah hilang dari wajahnya.


Wajah Sari dan harum tubuh wanita itu telah membuatnya gila. Ia hampir tak bisa menahan diri ketika memeluk tubuh ramping Sari.


Wanita itu begitu mempesona, sosoknya yang tenang telah menjerat hati Aldi.


"Saya menerima lamaran Bapak" terngiang suara lembut Sari ketika menjawab lamaran dari dirinya.


"Ah, bagaimana bisa wanita itu mengantungkan jawaban lamaran selama hampir 1 minggu lebih.. dia benar-benar tega membuat aku gila" gumam batin Aldi yang masih tak percaya.


Kemeja kerja itu terlepas begitu saja, dan langkah Aldi pun berlalu menuju kamar mandi yang terhubung dengan wadrobe.


Dibawah guyuran Shower hangat Aldi memejamkan mata dengan menikmati rintih air hangat itu.


Sudah lama ia tak merasakan debaran jantung karena cinta. Ini sungguh mengelikan, di usia yang tak muda justru ia merasa seperti anak baru kemarin sore yang baru jatuh cinta.


Seringai senyum lucu menertawakan dirinya pun sesekali terdengar.


"Aldi..Aldi..kau benar-benar gila " upatnya untuk dirinya sendiri.


Rasa senangnya tak bisa ia bendung lagi karena jawaban Sari yang menerima lamaran ya.


Sejenak Aldi berpikir, ia tak akan menunda lebih lama untuk menikah dengan wanita cantik ini. Ia harus segera bisa memeluk wanita itu di tiap malamnya nanti ketika sebuah ikrar pernikahan terucap dalam waktu dekat.


Namun sesaat Aldi mengingat, ketika wajah sang ibu terlintas. Kedua mata Aldi terbuka di bawah rintik air shower itu. Wajahnya berubah datar.


Sudah lama rasanya ia tak bertemu dengan sang ibu yang sudah ia usir dari rumah dinasnya.


Aldi menghela nafas sembari menggosok rambut-rambut kepalanya.

__ADS_1


Jika tidak ada restu dari ibunya, Aldi akan tetap menikah dengan wanita itu. Dan ia akan melindungi sang calon istri agar tak terulang kembali kejadian buruk seperti istri nya yang dulu pergi.


__ADS_2