
🍃🍃🍃
Keesokan paginya.
Sari bangun dengan tubuh yang terasa kaku, dan perlahan ia baru menyadari jika semalam ia berada di rumah sakit bersama Sifa.
Sari menatap Sifa dengan wajah lega, terlihat jika wajah gadis kecil itu tidak pucat seperti kemarin. Suhu tubuhnya juga tak begitu panas.
Perlahan Sari mencoba menarik jemarinya dari genggaman tangan Sifa. Dan ketika jemari itu terlepas, Sari pun mencoba untuk merenggangkan otot lengannya yang terasa kaku.
Sari mencari handphonenya yang ternyata berada di meja dekat ranjang pasien. Dan terkaget ketika melihat jam menunjukkan pukul 5 pagi.
"Ya Allah" bisik Sari yang tersadar jika sudah memasuki waktu subuh. Sari pun bergegas untuk pergi. Namun raut wajahnya merasa ragu ketika melihat Sifa yang jadi tinggal sendiri.
"Duuh, gimana nie??" serunya bimbang.
Lalu ia mengingat jika ia bisa memanggil suster untuk menjaga Sifa.
"Yaa, panggil suster saja" ujar Sari lagi dengan berbisik.
Lalu dengan berjalan mengendap-ngendap Sari pun berjalan menuju pintu dan membukanya dengan sangat berhati-hati.
Lega telah keluar dari ruang rawat Sifa, namun sedetik kemudian Sari kembali terkaget ketika mendapati wajah pria menatapnya dengan tajam.
"Mau kemana??" tanya Aldi dengan suara berat.
Sari seketika menjadi takut dan jadi salah tingkah di hadapan orang nomor 2 ini.
"Sa.. sa-ya mau sholat Subuh pak" sahut Sari terbatah.
"Oh, udah subuh ya??" tanya Aldi yang seketika bangun dari posisi tidurnya di sofa.
"Ii-iya, pak udah su-buh" sahut Sari takut.
Lama Aldi terdiam begitu pun dengan Sari yang jadi tak berani beranjak pergi.
"Bagaimana Sifa??" tanya Aldi tiba-tiba.
"Ba-baik.. suhu tubuhnya juga tidak terlalu panas lagi"
"Alhamdulillah" seru Aldi dengan wajah lega. Namun seketika Aldi menatap Sari dengan kening berkerut.
"Kamu mau sholat Subuh??"
"Ya" jawab Sari cepat.
Dan jawaban itu ternyata membuat Aldi gusar.
"Terus?? Sifa siapa ya jaga??"
"Hah??" Sari reflek berseru bingung dengan pertanyaan Aldi.
"Siapa yang jaga Sifa kalau kamu sholat?"
__ADS_1
"Ah, i-itu saya pikir, saya mau panggil suster saja biar mereka yang jaga" jawab Sari.
"Kamu percaya suster??" tanya Aldi dengan nada sedikit tinggi.
Sehingga Sari terkaget.
"Sudah.. sudah kamu di sini saja, kamu sholat di sini saja..bisa saja Sifa bangun dan cari kamu lagi, dan saya gak mau Sifa sampai drop lagi" cecar Aldi panjang lebar pada Sari yang terlihat bengong mendengar perintah orang nomor 2 ini.
"Hallo, apa gak salah denger ini?? kan lo bapaknya" seru batin Sari mengupat.
"Kamu sholat di sini saja"
"Gak bisa pak, saya gak ada mukena disini dan cuma ada di mushola rumah sakit" seru Sari menolak.
Aldi meradang dan terlihat dengan tatapan tajam pada Sari.
Hingga nyali Sari pun ciut.
"Kamu sholat di sini, mukena akan saya bawa, titik" ujar Aldi dengan penuh penekanan.
"Jadi, sekarang kamu masuk dan tolong temani Sifa.. saya akan ambil mukena, oke!!"
Sari terjekat kaget mendengar perintah pak Wakil Bupati. Hingga pada akhirnya Sari tak mungkin membantah perintah itu.
"Ba-ik, pak" sahur Sari pelan, lalu perlahan berbalik badan untuk masuk keruang rawat Sifa.
Aldi pun menghela nafas kasar, ia sudah benar-benar menjadi pemimpin yang kejam dengan memberi perintah tanpa pandang bulu.
🍃🍃🍃
Sari pun akhirnya melaksanakan ibadah subuhnya di ruang rawat Sifa.
Dan tak lama, terlihat seorang dokter jaga masuk untuk visit kondisi Sifa pagi ini bersama seorang suster.
Aldi pun mengikuti sang dokter dan berdiri di sisi ranjang putrinya dengan wajah cemas.
Sari yang masih dengan menggunakan mukenanya terlihat ikut menunggu hasil pemeriksaan sang dokter akan kondisi Sifa.
"Suhu tubuhnya sudah turun, tapi dari pernafasan Sifa masih harus terus diberikan antibiotik karena nafasnya masih berat" ujar sang dokter dengan membuka stetoskopnya.
"Dan sebentar lagi akan kita beri obat yang di suntik langsung melalui infus agar obat cepat larut di tubuh Sifa" jelas dokter pada Aldi.
Aldi mengangguk tiap info yang diberikan dokter.
"Hanya itu saja, pak.. dan hasil rongsen sudah berada di tangan dokter paru, pagi nanti dokter paru akan masuk dan memberi tau lebih detail lagi kondisi Sifa" sambung dokter.
"Terima kasih dokter" seru Aldi sopan.
"Sama-sama pak" balas dokter, namun sorot mata dokter melihat pada sosok Sari yang masih menggunakan mukena.
"Oia, buk.." seru dokter itu memanggil Sari.
"Tolong bujuk Sifa untuk makan dan minum lebih banyak, karena ia hampir masuk dalam anak yang gizi buruk"
__ADS_1
Sari terkaget begitu juga Aldi.
"Ah, ya.. baik terimakasih dokter" seru Sari canggung.
Ia merasa dokter salah mengira, jika ia adalah ibu Sifa.
Sepeninggalan Dokter dan suster itu, Aldi dan Sari di hingapi rasa canggung.
"Maaf, mungkin mereka salah sangka" ujar Aldi pada Sari.
Sari hanya mengangguk kecil, lalu dengan cepat berganti mukena di dalam ruangan lain.
Setelah melipat mukena, Sari kembali keruangan rawat Sifa dan melihat jika Aldi tengah memandang wajah putrinya dengan sangat dalam.
"Pak??" seru Sari sopan memanggil orang nomor 2 itu.
Aldi menoleh dan menatap Sari yang kini berdiri sedikit jauh dari ranjang Sifa.
"Sa-ya izin untuk pamit pulang" ujar Sari.
Aldi sedikit kaget.
"Hm, ya.. terima kasih, dan ... saya minta maaf akan kejadian semalam, maaf karena menuduh kamu dengan hal penculikan"
Sari hanya mengangguk pelan.
"Ya, pak.. saya mengerti, hal yang wajar karena anda panik Sifa hilang" tutur Sari pelan.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, dan saya sangat berhutang budi" ujar Aldi lagi.
Sari hanya tersenyum simpul.
"Kalau begitu saya permisi pak, saya doakan semoga Sifa cepat sembuh" ujar Sari dengan pamit lalu berbalik badan.
Namun Aldi dengan cepat menahan langkah Sari.
"Tunggu!!"
Sari terkaget lalu reflek berbalik.
"Nama kamu siapa??"
Sari tersenyum tipis.
"Sari.." ucap Sari tergantung.
Deg...jantung Aldi bergetar.
"Sari Sartika" sambung Sari dan perlahan ia berlalu pergi meninggalkan Aldi yang terjegat kaget ketika mendengar wanita itu menyebut namanya.
Sehingga reflek Aldi menatap wajah sang putri.
"Apa karena nama, kamu menganggap dia mama kamu, Sifa???" bisik Aldi yang tak percaya.
__ADS_1