
Setelah perbincangan tentang dua keluarga itu, akhirnya di putuskan. Jika pernikahan Aldi dan Sari akan di gelar 3 bulan ke depan.
Sebenarnya Aldi ingin segera mengelar acara sakral itu. Namun dari jadwal yang sudah ia lihat, maka di bulan ke tiga barulah ada rentan waktu 1 minggu jadwal Aldi yang kosong.
Pertimbangan itu pun di setujui oleh keluarga Sari. Sari tak banyak berkomentar, ia hanya mengikuti saja hal-hal yang telah di putuskan Aldi bersama keluarganya.
Setelah obrolan yang panjang hingga makan siang bersama. Akhirnya Aldi meminta izin untuk berpamitan pada keluarga Sari.
Namun terlihat Sifa malah tak ingin pulang. Ia masih ingin berlama-lama dengan calon mama barunya itu.
"Ayo sayang, kita harus pulang.."
Sifa cemberut dengan berpegang manja pada lengan Sari.
"Ayo sayang.." bujuk Papa Aldi lagi.
Semua yang melihat dapat menilai jika putri Bupati sangat menyukai mama tirinya itu.
Sari turun dengan bersejajar pada wajah sang putri tiri.
"Mau mama Sari gendong, sampai mobil?" ujar Sari membujuk dengan cara berbeda.
Sifa menimbang.
Sari menatap manik mata hitam Sifa. Dan gadis kecil itu akhirnya mengangguk mengalah, ia seperti terhipnotis oleh tatapan ibu tirinya itu yang membuatnya patuh.
Sari tersenyum, lalu dengan segera mengendong tubuh Sifa yang sebenarnya sudah besar.
Aldi terlihat kasihan pada Sari, mengingat berat badan Sifa sudah cukup berat.
"Sini biar Papa gendong saja" pinta Aldi uang akhirnya turun tangan.
Namun Sari menggeleng, Aldi pun mundur. Lalu Sari berjalan dengan wajah Sifa yang terlihat senang.
"Berat ya mah?"
"Sedikit..hehe" jawab Sari tersenyum pada putri tirinya.
Sifa pun ikut tertawa kecil.
Aldi akhirnya berpamitan pada keluarga Sari, lalu tak lama ikut keluar dari rumah sederhana itu mengikuti langkah calon istrinya.
Setiba di parkiran mobil sedan milik Aldi. Sari masih mengendong Sifa.
"Mama Sari?"
"Hm??"
"Mama Sari??"
"Ya, sayang?" jawab Sari sembari memandang wajah Sifa.
__ADS_1
"Makasih ya mah" ucap Sifa tulus lalu memeluk erat pundak Sari.
Sari terpaku, hati kecilnya seperti ada yang hangat. Ucapan gadis kecil ini benar-benar menyentuh rasa ke ibuannya.
Sari membelai dengan penuh sayang lalu mencium pundak Sifa.
"Mama Sari juga mau berterima kasih sama kamu, karena kamu anak yang sangat baik.."
Sifa mererai pelukannya lalu turun.
"Mama nanti main kerumah yaa???" pinta Sifa.
Tanpa di duga Aldi berdiri di belakang Sari.
"Gak hanya main, mama Sari juga akan tinggal bareng kita.." jawab Aldi dengan mengagetkan Sari yang seketika canggung.
Sifa kegiranan.
"Bener mah???"
Sari mengangguk pelan menjawab pertanyaan Sifa.
"Iyeeee" sorak Sifa gembira.
"Tapiii..." sela Papa Aldi yang seketika menghentikan sorak riang Sifa. " Tapi, kamu harus sabar dulu.. 3 bulan lagi, kita bisa tinggal bareng sama mama Sari" sambung Aldi sembari melirik wajah sang calon istri.
Deg.. jantung Sari berdebar tak kala pandangan itu bertemu dengan matanya.
Aldi dan Sari pun sama-sama tersenyum lucu melihat ekspresi Sifa yang kecewa.
"Yuk, kita pulang.." ajak Papa Aldi sembari membuka pintu mobil depan untuk sang putri.
Sifa pun akhirnya masuk kedalam mobil dengan wajah murung.
Sari memberi kecupan di kening Sifa.
"Titip salam untuk bibik yaa.."
Sifa mengangguk.
"Dah.." ucap Sari sembari menutup pintu mobil Sifa.
Blam..
Sari menghela nafas lega.
"Sari??" panggil Aldi yang membuat Sari tersadar jika pria ini masih berada di sana.
Sari setengah berbalik dan terlihat Aldi memberi senyum mematikannya.
"Terima kasih untuk hari ini.."
__ADS_1
"Ah, sama-sama pak.."
Aldi seketika terjengah, lalu kembali tertawa lucu. Sari pun sadar jika ia masih saja tak bisa mengubah panggil pria nomor 1 ini.
"Ya sudah lah, tapi seiring waktu kamu pasti akan mengubah panggilan itu kan??"
Sari tersenyum kecil.
"Hmm, ya.. mungkin" jawab Sari sekilas.
Aldi menghela nafas pelan dan memandang wajah Sari sekilas.
"Tunggu sebentar yaa" ucap Aldi dengan segera meninggalkan Sari, dan ia berjalan menuju bagasi mobil belakang lalu membuka bagasi mobilnya itu dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Sari menunggu dengan bingung. Namun tak lama Aldi kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.
Dan Sari pun terpanah, ketika melihat sang Bupati membawa satu buket bunga berwarna Pink di tangannya.
Aldi datang dan memberikannya pada Sari yang tak berkutik.
"Dari kemarin, mas sudah berpikir hadiah apa yang akan mas berikan untuk kamu, dan akhirnya jatuh pada bunga ini.. terima lah.."
Bibir Sari terkatup rapat, ia tak menyangka jika pria ini begitu perhatian.
Sari menerima dengan senang pemberian pertama dari Aldi.
Ia menyentuh satu kuntum bunga berwarna Pink itu.
"Terimakasih.. ma-s Aldi" ucap Sari ragu sembari menatap wajah pria yang akan menjadi suami ya itu.
Aldi tersenyum, setidaknya ia sudah sangat lega ketika bunganya itu membuat sang calon istri terkesan.
"Kalau begitu, mas pergi dulu.. untuk urusan pernikahan, kamu bisa kabari mas kapan pun"
Sari menjawab dengan senyum.
Tanpa di duga jendela kaca mobil Aldi terbuka dan terlihat wajah Sifa sudah bete di dalam mobil.
"Papaaaa, curaang.!!" protes Sifa yang merasa di kacangin di dalam mobil.
Sari dan Aldi pun terkager bersama, lalu keduanya kompak menoleh pada Sifa dan tertawa lucu bersama.
"Kalau begitu, mas pergi dulu.." ujar Aldi pamit.
Sari menoleh dan hanya tersenyum.
Namun tanpa terduga Aldi menyentuh jemari Sari.
Sari mematung. Hangat dan penuh harap, begitulah kesan yang dapat Sari rasakan dari sentuhan jemari Aldi.
"Sekali lagi, terima kasih Sari.." ucap Aldi lalu perlahan melepaskan jemari Sari dan pergi menuju sisi samping pintu mobilnya.
__ADS_1