
Selang beberapa hari dari malam menyakitkan itu. Kini Sari berada di butik galeri ya dengan merapikan gaun sewaan pengantin yang sedikit acak di pajangan.
Dan terdengar lagu sendu milik Acha Randongkir- Cukup.
Lebih dalam
Dari yang kemarin
S'telah ko pu cinta kandas
Di de pu pelukan
Sa bisa apa
Kalo de su bawa
Ko pergi
Kas tinggal sa
Kas tinggal sa deng luka
Sayang.
Sa korbankan s'galanya
Demi ko bisa dengannya
Walau susah sa rasa
Asal ko bisa bahagia deng dia
Sa tra menyesal tong pisah
Meski sa tapukul luar biasa
Tuhan su atur semua
Sa tra mungkin mo paksa
Hati, untuk kembali, lagi.
Bait-bait lagu itu seolah mewakili isi hati Sari saat ini.
Lisa yang baru saja kembali dari tempat laundry, mendengar lagu itu seolah merasa lama-kelamaan bosan karena terus di ulang-ulang oleh Sari.
"Sar, lagunya apa enggak ada yang lain?"protes Lisa yang baru saja meletakkan baju sewa pengantin yang baru saja ia ambil dari tempat laundry.
Sari hanya menyeringai kecil, tak menjawab protesan Lisa. Ia malah mengambil buku catatan jadwal make up pengantin.
Ia mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan, Sari bahkan rela mengambil job-job kecil dengan menjadi tukang make up untuk anak TK yang akan menggelar pentas seni.
Hingga tanpa terduga, siang itu pintu galeri terbuka.
Bunyi keras pintu terbuka paksa pun terdengar sehingga mengangetkan Sari dah Lisa yang bersamaan menoleh.
Dan keduanya terlihat kaget ketika sosok gadis kecil dengan seorang pria berpakaian safari masuk kedalam toko galeri itu.
"Sifa?" bisik Sari yang kaget melihat sosok putri kecil wakil Bupati kini hadir di toko galerinya.
"Tante Sariiiii!!" seru Sifa dengan segera berlari dan memeluk tubuh Sari.
Grep... pelukan itu membuat Sari kaget. Begitu pula dengan Lisa yang bengong.
__ADS_1
"Tanteee, akhirnya Sifa temui tante!" ujarnya Sifa dengan nada riang.
Sari masih tak bisa berkata, ia masih tak menyangka jika gadis kecil ini benar-benar mencarinya.
Perlahan Sari mererai pelukan Sifa di pinggangnya yang ramping.
"Sifa? Kamu..."
Namun tanpa terduga pria berpakaian safari itu datang menghadap Sari dengan wajah serius.
"Maaf mbak, kami sudah mencari galeri ini selama 3 hari"
Sari terkaget sehingga reflek menunduk dan menatap wajah Sifa.
"Sifa?"
"Iya tante, kan Sifa udah janji sama tante untuk bisa ketemu tante lagi" jawab bibir mungil itu polos.
Sari mendengar jadi tak enak pada pria yang menjadi penjaga Sifa.
Sifa seketika menoleh pada sang penjaga dengan melihat wajah gusar Sari.
"Pak, keluar dulu yaa, Sifa masih lama di sini" ujar perintah Sifa pada sang penjaga.
Pria berpakaian safari itu terlihat menimbang lalu sekilas melihat pada Sari.
"Baik, saya tunggu di luar ya" ujarnya dengan perlahan pergi meninggalkan ruang butik itu.
"Sar, siapa?" tanya Lisa yang jadi penasaran pada sosok yang tak pernah ia lihat tapi begitu akrab dengan Sari.
Sari menoleh pada Lisa yang akhirnya mendekat dengan memperhatikan wajah sang gadis kecil.
Sari terlihat sulit untuk menjelaskan akan sosok gadis kecil ini pada Lisa.
Sifa melihat wajah Sari dan Lisa bergantian.
"Hm, dia.." sahut Sari ragu.
"Anak cantik, nama kamu siapa?? Anak siapa sih, cantik banget?" pancing Lisa yang mencari tau sendiri.
Sifa terlihat sedikit ragu pada Lisa.
"Lisa?"seru Sari namun ucapannya terpotong dengan ucapan Sifa
"Sifa... Sifa Darisya Munandar" sahut gadis kecil itu dengan memegang jemari Sari.
Lisa kaget. Nama belakang itu seolah sedikti familyar di telinga Lisa.
"Tu-tunggu.. siapa tadi Da-dari Muuu-nandar?"ulang Lisa dengan menerka tak jelas.
Sari terlihat harap-harap cemas dengan respon Lisa.
"Ikh, tante satu ini gak denger ya, nama Sifa.. Sifa Darisya Munandar, anak dari papa Aldi Munandar"ketus Sifa jengkel pada Lisa.
Doeng.... ekspresi Lisa seketika terpaku dengan tak percaya dengan pendengarannya, seketika ia melirik wajah Sari yang tersenyum kaku.
"Gu-gue bisa jelasin Lis" tutur Sari dengan terbata.
***
Dan akhirnya, mau tak mau Sari pun menceritakan sedikit tentang perkenalkan dengan putri orang nomor 2 itu.
"Jadi??".
__ADS_1
"Yaa gitu, ta-pi.. tapi gue cuma di situ aja ketemu pak Wakil, dan gue gak tau kalau Sifa ternyata anak pak Wakil Bupati, sumpah gue kaget".
Lisa menghela nafas lega sembari melihat wajah polos Sifa yang terlihat lengket dengan Sari.
"Jadi, kamu kemari? Apa pak? Eh.. maksudnya papa kamu tau?" tanya Lisa pada Sifa yang duduk tenang di samping Sari.
Sifa refleks menggeleng.
"Papa sibuk, tapi gak papa kok, asal ada Pak Budi yang jaga.. papa enggak akan khawatir sama Sifa"
Mendengar itu nalar Sari di ajak berpikir.
"Apa ibu Sifa tidak cemas?"
"Sifa? Mama kamu?" tanya Sari ragu.
Seketika raut wajah Sifa berubah sedih. Ia hanya menggeleng pelan tanpa menjawab.
Namun seketika Lisa memukul pelan Sari dan memberi kode untuk tak bertanya.
🍃🍃🍃
Setelah hampir dua jam Sifa berada di butik galeri ya. Kini gadis kecil itu pun hendak pamit untuk pulang.
"Tante Sari, kalau Sifa sering ke sini boleh gak?"
Sari mendengar dengan menimbang.
"Hmmm, boleh, tapi... lebih Sifa kalau mau kemana pun minta ijin dulu sama orang tua"
Wajah Sifa sedikti kecewa mendengar ucapan Sari.
Namun perlahan jemari Sari membelai wajah halus itu.
"Sifa.. minta ijin itu penting, biar papa kamu enggak cemas dan pak Budi pun tugasnya enggak berat" tutur Sari memberi nasehat.
Sejenak Sifa berpikir dengan ucapan Sari. Hingga akhirnya ia mengiyakan permintaan Sari.
"Iya, tante"
"Pinter"
Sifa seketika memeluk tubuh Sari ketika menerima pujian dari Sari. Dan Sari lagi-lagi dibuat kaget dengan tingkah gadis kecil itu.
Perlahan Sifa pun mererai pelukannya dari Sari dan beranjak pergi meninggalkan Sari dengan melambaikan tangan pada sosok wanita yang ia sukai itu.
Terlihat pria berpakaian safari menuntut Sifa untuk masuk kedalam mobil cemry merah itu.
Tak lama terlihat pintu tertutup, tapi seketika jendela mobil itu terbuka dengan telihat wajah Sifa yang masih melihat Sari.
"Daaah, tante.. besok ketemu lagi yaaa?" seru Sifa seiring roda mobil itu berjalan.
Sari pun mau tak mau ikut melambaikan salam perpisahan itu.
Setelah mobil sedan itu pergi menjauh. Sari pun masuk kembali kedalam butik galerinya dengan di sambut wajah Lisa yang terdapat berjuta penasaran.
Sari hanya bisa menyeringai senyum kaku.
"Lo tau gosip tentang Wakil Bupati Aldi Munandar??" todong Lisa pada Sari.
Sari menggeleng pelan.
"Sini, gue bakal cerita sosok pak Wakil Aldi itu, pokoknya lo bakal kaget kalau tau!!" timpal Lisa dengan mimik wajah serius.
__ADS_1